Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 80


__ADS_3

“Bukankah puteri pasien.....?” salah satu dokter muda yang mengikuti iringan dokter Doni bergumam sendiri.


“Apa?” salah satu dokter yang ada di sebelahnya melirik selintas.


“Kenapa kalian mengakui apa yang tidak terlihat tadi? Bukankah...” kembali ia bergumam tapi terdengar sampai ke dokter Doni, ada 3 dokter muda yang ikut dalam barisan itu, sementara Dira melangkah di sebelah dokter Doni.


“Kau tidak melihatnya?” Dira yang berceletuk, semua kompak berhenti dan menatap dokter yang menggumamkan pendapatnya.


“Hmm, memang tidak ada, kan?” ucapnya


“Hffft. Dokter Doni, bagaimana ini, hanya dia yang tidak melihat puteri pasien tadi? Wahhh kau masih perlu sekolah lagi sepertinya.” Dira menggelengkan kepala lalu berlalu bersama dokter Doni.


Pletak.


Salah satu dokter menyentil kepala rekannya yang dikritik Dira barusan. “Dengar ini, apapun yang dikatakan pasien kita, itu benar semua. Karena posisi kita memahami apa yang mereka rasakan, bukan menentangnya. Bagaimana bisa mengobati, jika kepercayaan pasien saja tidak bisa kau dapatkan.” Jelas rekannya lalu berlalu bersama dokter lainnya.


Langkah mereka kini menuju ruang VVIP, tetap Dira ikut serta di sana.


Ceklek.


Seorang pasien yang berjenis kelamin laki-laki tengah berdiri menatap pemandangan di luar sana.


“Morning.” Sapaan dokter Doni ketika pintu sudah terbuka.


“Morning.” Suara berat yang berasal dari pasien membalas sapaan dokter Doni.


Mendengar interaksi tersebut, bisa Dira nilai jika pasien adalah warga negara asing. Karena semua komunikasi tidak melibatkan bahasa Indonesia sama sekali.


“Pagi dokter Dira.” Pasien yang sedari tadi menjawab melalui belakang tubuh saja, kini berbalik dan menyapa Dira langsung.


“Dome?” Dira terbelalak melihat pasien yang harusnya berada di Jepang, malah mengungsi ke rumah sakit ayahnya.


Lihatlah, ia melambaikan tangan sembari mengumbar senyum tengilnya tapi tidak meninggalkan pesonanya di sana.


Bahkan perawat dan dokter perempuan yang menyaksikan juga meleleh akan hal itu. Tidak untuk Dira tentunya. Bocah itu, aishhhhhh.


“Kamu kenal., Dira?” tanya dokter Doni pelan sementara matanya melihat riwayat pasien dari berkas yang diangsurkan perawat padanya.


“Sangat dokter, sangat.” Sahut Dira berbisik


“Bocah nakal ini, kenapa malah nyasar kemari.” Lanjutnya berbicara pelan, hanya dokter Doni yang mendengarnya.


“Berarti kau yang paham seperti apa dia, Dira. Juga neurosisnya, bukan?” tanya dokter Doni, yang mengerutkan dahinya ketika membaca kelainan pasien yang sering melukis kelamin siapapun yang tertangkap netranya.

__ADS_1


“Asal dokter tahu, aku itu langganan lukisannya, dokter, merinding aku.” Jawab Dira pelan, lalu kakinya melangkah pasti menuju pasien tengil itu.


Plak!!!


Pukulan keras yang mengenai pundak pemuda itu menyentak perhatian semuanya, “Kau, kenapa kemari, kabur?” tanya Dira menatap penuh selidik. Ia menggunakan bahasa Jepang untuk komunikasi keduanya, sehingga tidak ada yang akan mengerti kecuali mereka juga paham.


“Aku merindukanmu, Dokter Dira.” Jawabnya santai dan mengerlingkan matanya genit.


Plak


“Balik sana, pengobatanmu belum selesai, Dome.” Ujar Dira menggelengkan kepala.


“No, ini juga rumah sakit, aku akan dirawat di sini. Titik.” Balas Dome dan menuju brangkarnya lalu berbaring mantap di sana.


“Gila bocah tengil.” Umpat Dira menggunakan bahasa Indonesia


“Dira. Jangan seperti itu.” Nasihat dokter Doni yang menangkap nada kesal dari Dira.


“Wah.. dokter tidak tahu tingkah tengilnya selama di Jepang bagaimana.” Sahut Dira menatap Dome yang sibuk mengotak-atik ponsel pintarnya.


“Periksa saja aku, dokter Dira, jangan cerewet, apalagi mengumpat.” Timpal Dome


“Jangan lupa Dome, aku belum jadi dokter, aku hanya asisten dokter senior saja. Jangan memerintahku seperti itu.” Jawab Dira mencebikkan bibirnya.


“Aishhh seksi sekali kau seperti itu, dokter Dira. Mau jadi kekasihku?” tanpa diduga, ketengilan Dome bertambah jadi, dengar saja sendiri, bocah yang baru lulus SMA itu memintanya menjadi kekasih.


“Gila.” Sahut Dira hendak keluar, gerah sekali menghadapi bocah tengil itu.


“Eihh jangan pergi, aku tidak mau diobati dokter lain.” Teriaknya menahan langkah Dira.


“Aku bukan dokter, mau membuatku masuk penjara, huh?” balas Dira mencibir dan tetap melanjutkan menarik handel pintu.


Baik dokter Doni, dokter muda dan perawat hanya menggelengkan kepala, jika Dira seusia pasien itu, akan terlihat mirip pertengkaran sepasang kekasih.


“Sus, dan kalian para dokter, silahkan observasi pasien atas nama Dome Taoka.” Perintah dokter Doni pada semua bawahannya.


“Baik dokter.” Sahut mereka bersamaan.


“Aihh malas sekali aku.” Decih Dome, melirik perawat yang melempar senyum padanya.


“Mana peralatan menggambar yang ku minta?” tanya Dome pada dokter Doni.


Salah satu perawat menyerahkan box yang berisi benda-benda permintaan Dome. Dan pemuda itu meraihnya tanpa mengucapkan terima kasih sedikitpun, sombong sekali, bukan?

__ADS_1


Sesaat junior dokter Doni mengobservasi Dome Taoka, pemuda itu sudah menyibukkan dirinya, menggores pensil di atas lembaran kertas ukuran A3. Tak butuh waktu lama, ia mengangkat hasil gambaran kasarnya.


“Bagaimana? Baguskan suster?” tunjukknya pada perawat yang tadi melempar senyum menggoda padanya.


Semua mata terbelalak menahan malu satu sama lain, canggung sudah ketika melihat gambaran pasien mereka. Memang semua tim medis sudah tahu neurosis apa yang diidap Dome Taoka, tapi melihat langsung hal itu rupanya melemahkan fokus, dan konsentrasi serta kewarasan mereka.


Canggung!


Apalagi perawat yang langsung dituju Dome.


Raut wajahnya jelas risih, tak nyaman sama sekali, mau marah ia tidak berani. Dan akhirnya memilih membuang muka saja daripada menilai gambaran vulgar yang mirip kelamin perempuan itu.


“Heh, makanya jangan kalian yang merawatku kalau kalian sendiri takut dengan karyaku ini.” sentak Dome, melempar gambarannya asal hingga jatuh menyentuh lantai.


“Panggil dokter Dira, cepat!!!” titahnya tegas, bahkan matanya menyorot tajam seolah itu adalah perintah tak jangan dibantah, yang anehnya mereka terindimidasi oleh bocah itu, kecuali dokter Doni.


“Dome, Dira bukan bagian dokter di sini. Ia hanya assisten saya saja.” Dokter Doni menjelaskan agar tidak ada kesalahpahaman di sini.


“Heh, ini rumah sakit milik ayahnya, harusnya izin itu tidak sulit ia dapatkan.” Balas Dome yang memandang KKN harusnya bisa dilakukan Dira.


“Dira dalam proses mengikuti ujian lisensi kedokterannya, ia juga menempuh pendidikan lanjutan agar mengukuhkan dirinya sebagai dokter nanti.” Sambung dokter Doni menjelaskan.


“Aku tidak mau tahu, panggil dia kemari, atau kalian aku buat keluar dari jabatan sebagai tim medis.” Ancamnya tak terbantah.


Dokter Doni memberi isyarat pada semua bawahannya, mencatat yang sudah mereka dapat lalu bergegas meninggalkan pasien.


“Jangan sampai aku menunggu lama!!!” teriak Dome saat para dokter sudah mencapai pintu keluar.


.


.


.


“Cih, jadi bocah yang menculik Dira waktu itu, mengikutinya sampai kemari?” tanya Alexio saat pengawalnya memberikan laporan keseharian Dira.


“Iya, tuan.” Sahut Jo, pengawalnya.


“Dia salah sasaran, gadis itu, tidak boleh dimiliki siapapun, tidak ada yang boleh menyentuhnya.” Kecam Alexio menatap Dome yang tengah duduk bersama Dira di taman rumah sakit.


“Hei bangsat. Buruan tarik gas, gue capek daritadi gak kelar, otak gue mumet ngurusin posisi lo.” Andi, menggeplak bahu Alexio yang masih santai di atas jog motor.


“Belum mulai sialan!!” balas Alexio, melirik barisan motor yang masih menunggu waktu sebelum si penyeru ajang balap itu membunyikan tanda.

__ADS_1


“Woyy buruan mulai balapnya, gue ngantuk!!!!” teriak Andi yang diharapkan bisa menjangkau telinga yang mengelola balap liar itu.


“Hai Alexio.” Suara lembut menyapa pendengaran Alexio, melirik ke samping, Xia, berdiri manis menatapnya malam itu.


__ADS_2