Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 136


__ADS_3

Ceklek


Bunyi handel di tarik mengawali suara keras setelahnya.


Brak!


Pintu dibuka oleh seorang pria bertato disekujur tubuhnya. Wajah seram, penuh goresan dan juga tak menampilkan mimik ramah sedikitpun.


“Itu, untukmu!” ujarnya menyodorkan ponsel yang tadi disuruh Dome agar dinyalakan recorder di dalamnya.


Bunyi tap pelan di layar tak menarik wajah Suprapto untuk tegak sedikitpun. Ia tetap menunduk meskipun pria sangar tadi sempat menariknya ke atas.


Perlahan, suara kosong yang diperdengarkan oleh ponsel keluaran terbaru milik Dome, namun detik berikutnya sudah memasuki percakapan....


“Apa yang harus kita lakukan padanya, aku belum mau melemparnya ke ikan hiu.” Itu suara milik Dome, Suprapto hapal betul bocah yang kerap julid padanya itu.


“Tidak semudah itu mengakhiri begitu saja. Aku akan menyiksanya sampai dia menginginkan mati lebih baik.” Dan ini Alexio, ia sangat mengenali juga.


“Betul. Bagaimana jika kita melakukan yang sering dilakukan oleh pada psiko, seperti memotong jemarinya, mengulitinya lalu memberi garam dan cuka, terus memberi jalapeno pada kemaluannyaa, membolongi kepalanya lalu diisi air la.....” mendengar kalimat panjang yang diutarakan Dome cukup menarik kepala Suprapto tertegak mantap.


“Kenapa? Bukankah asik. Ayolah, aku selalu ingin mencoba teknik para serial killer itu. Kapan lagi ada percobaan seperti ini.” dan ia mulai bergidik


“Tidak, aku harus keluar dari sini. Bocah gila itu benar-benar akan melakukan hal itu padaku.” Gurat cemas dan keringat dingin sudah mengucur deras di wajah bahkan sudah ikut keluar di sela pori tubuh Suprapto juga.


“Mereka adalah mafia kejam, aku harus... aku harus bisa keluar dari sini, atau aku.. aku minta dibunuh saja.” Ucapnya lagi sudah panik luar biasa.


Siapa tak kenal Yakuza, rela memotong jemari anggotanya yang ketahuan melakukan kesalahan, lalu bagaimana jika pada musuh mereka? Tentu akan lebih kejam lagi, bukan?


Dasar tidak tahu diri, sudahlah kejam juga pada orang-orang, manusia abal-abal berjiwa iblis bernama Suprapto ini rupanya memiliki rasa takut juga dalam dirinya ketika mendengar kalimat siksa seperti itu.


Sepertinya ia kejedot sesuatu, melupa pernah melakukan kekejaman terhadap orang lain, bahkan bocah pun ia tega.


Rekaman yang di perdengarkan melalui ponsel itu rupanya sudah di setel oleh Dome untuk 10 kali pengulangan, maka sudah pasti ketakutan yang menghantui Suprapto merasuki sampai jiwanya.

__ADS_1


Lihatlah, sudah sepanik dan setakut apa dirinya sekarang, decitan pelan dan deburan ombak saja sudah mengacaukan akal sehatnya.


Ceklek!


30 menit setelah acara mendengar alunan rekaman suara Dome selesai, kini si pemilik suara muncul dengan gaya tengilnya.


“Wah, kau tidak tidur rupanya. Aku kira suaraku tadi bisa mengantarkanmu tidur dengan nyenyak siang ini, pak tua!” Ucap Dome, ia bersama-sama Alexio, tapi pria di sebelahnya tetap mencerminkan pria dingin tak tersentuh.


“Bunuh saja aku, bunuh saja aku!!!” teriak Suprapto kesetanan, ia memberontak dalam ikatan tali di kedua tangannya. Ia pernah berniat bunuh diri, makanya tangannya diikat untuk mencegah hal itu terjadi.


“Membunuhmu? Secepat itu? Oh tidak pak tua gila. Aku tak mau pestaku berakhir cepat.” Dome menggelengkan kepalanya.


“Al, bunuh saja aku, bukankah kau sangat marah karena aku pernah mencelakai Alexia. Ah iya, Alexia, ayolah bunuh aku, aku sudah melakukan banyak hal buruk pada kembaranmu itu.”


Suprapto memancing amarah Alexio dengan mengungkit keberadaan Alexia yang pernah mendapatkan perlakuan buruk darinya.


“Al, ayo. Ambil pistol atau pisau dan tebas leherku saja. Ayo Al, kau pasti ingat apa yang pernah ku lakukan pada kembaranmu, bukan. Hahahha” Mengakhiri dengan tawa setannya, Suprapto tetap memantik Alexio menuruti kehendaknya.


Yaitu, membunuhnya.


“Tahan Al, jangan biarkan tanganmu menggandeng malaikat maut. Ku tendang kau nanti.” Ancam Dome memberi ultimatum pelan.


Alexio menutup matanya, menarik nafas yang terasa berat dan sesak lalu menghembuskannya. “Bawakan aku pisau bedah yang paling kecil bersama jeruk nipis serta garam.” Pinta Alexio


“Kau menyuruhku?” Dome menggaruk kepalanya, melirik sekitar karena hanya ada mereka berdua saja.


“Siapa lagi. Cepat!” ucap Alexio


“Ck, kau ini, baiklah. Kalau tidak mengingat rekan party-ku ma....” belum selesai mulut bocah itu mengomel, Alexio sudah mendorongnya keluar.


“Turuti saja.” Ucap Alexio sudah kesal


“Al, apa yang mau kau lakukan, kau mau membunuhku kan, iya kan, kan.” Ujar Suprapto sudah bersemangat, meski dalam relung hatinya sudah panik saat mendengar ada benda lain yang disebutkan Alexio diakhir kalimatnya tadi.

__ADS_1


Apakah membunuh juga menyertai garam dan jeruk nipis?


“Aku harap kau membunuhku, Al. Aku sudah capek kalian siksa dengan gila.” Pinta Suprapto dengan raut gusarnya.


Tubuhnya sudah penuh luka lebam, belum lagi beberapa sayatan dan darah kering menempel di beberapa bagian tubuhnya.


“Tutup mulutmu.” Sergah Alexio enggan diajak berdebat.


“Nah, harusnya aku bawa anak buah memang.” Seloroh Dome dengan benda yang diminta Alexio dibawa anak buahnya.


Alexio maju membawa pisau kecil, berkilau terkena siluet cahaya mentari yang menelusuk melalui celah jendela kapal.


“Kau.... mau mati, bukan?” tanya Alexio dan diangguki Suprapto dengan cepat.


“Iya, lakukan Al, bunuh aku, bunuh aku.” Sahut Suprapto berharap Alexio menuruti permintaannya.


Setidaknya ia tidak akan merasakan siksaan berkepanjangan jika pisau itu menghantam kulitnya dibagian vitalnya.


“Dalam mimpimu saja, dasar iblis!” desis Alexio menyapa kulit Suprapto dengan benda kecil yang dibawanya tadi.


“Arghhhhhhhh” pekikan keras keluar dari mulut Suprapto. Alexio mengoyak kulit leher Suprapto dengan pisau tipis itu, setengah leher tua renta itu sudah mengelupas tapi tidak mengenai nadinya.


“Eshhhhh.” Saliva Dome keluar melihat aksi Alexio. ia saja bergidik, padahal tadi rencana yang disusunnya tak kalah kejam.


“Kenapa aku merinding melihatnya, apa kau juga merasakan hal yang sama?” tanyanya pada pria bertato yang berdiri di belakangnya.


“Tidak bos. Karena saya adalah Yakuza, tidak boleh memiliki ketakutan akan hal itu.” Jawab anak buahnya.


“Aishhh kau ini.” kesal Dome tak satu frekuensi.


Setelah menyayat, kini Alexio membelah jeruk menjadi 4 bagian dan menjepitnya dengan jari telunjuk serta jari tengah dan jempol agar air yang ada dalam buah itu terciprat ke leher Suprapto.


“Arghhhhhh hentikannnnn” raungan Suprapto semakin menyayat siapapun yang mendengarnya.

__ADS_1


Tak berhenti sampai di sana, seolah tak puas, Alexio menabur garam 2 genggam tangannya ke tempat di mana luka tadi ia buat.


“Gila itu orang. Wahhhh, apakah dia mau aku rekrut menjadi bagian Yakuza?” suara komen yang keluar dari mulut Dome diniatkan sebagai bentuk pujian atau kerjasama dengan Alexio setelah melihat betapa liarnya pria itu menyiksa musuhnya.


__ADS_2