
“Bos, nyonya Linda bertemu dengan bos mafia Yakuza di Hotel xx malam ini.” Leo, asisten Alexio mengabarkan kabar tersebut.
“Mamaku? Dengan Hiro Taoka maksudnya?” tanya Alexio.
“Iya, bersama putera pria itu juga.” Tambah Leo
“Puteranya? Yang satu kampus denganku itu?” ujar Alexio yang diangguki Leo.
“Kabarkan lagi apa hasil pertemuan itu.” Titah Alexio
“Siap bos.” Sahut Leo mematuhi.
Alexio menatap poto yang memperlihatkan potret antara ibunya tengah berbincang bersama Hiro Taoka dan Dome di sebuah restauran. Terbersit rasa penasaran besar, bagaimana bisa ibunya terlibat dengan seorang bos mafia terkenal di Jepang itu. Apalagi ibunya datang tanpa ditemani ayahnya.
“Apa ini ada hubungannya dengan kehancuran bisnis kakek?” gumam Alexio memikirkan keterkaitan tersebut.
Sementara di tempat lain....
“Apa? Isteriku bertemu Hiro Taoka? Malam ini?” Giliran Bisma yang kaget mendengar laporan dari salah satu anak buahnya perihal pertemuan itu.
Seorang bos mafia kejam yang tidak kasian dengan nyawa seseorang kini tengah makan malam dan berbicang bersama isterinya. Ada urusan apa sampai seorang Linda bisa duduk di sana dengan Hiro Taoka.
“Apa ada yang kau ketahui dari perbincangan itu?” tanya Bisma dan diangguki anak buahnya.
“Ini ada hubungannya dengan penculikan kembarannya nyonya, tuan.” Sahut anak buahnya.
“Lalu kenapa Linda malah ke sana dan tidak memutuskan penyelesaiannya bersamaku?” Bisma tak habis pikir dengan jalan pikiran Linda.
“Apa karena aku anak seorang Suprapto, yang menculik Andriana makanya Linda tidak percaya padaku.” Lirih Bisma bermonolog sendiri dengan dugaan liarnya itu.
Keesokan harinya....
“Baby, maaf aku tidak bisa mengantarmu nanti pas pulang, kau bersama salah satu pengawalku, okeh?” ucap Dome saat tiba di depan kelas Dira.
“Aish tidak perlu, aku bisa sendiri. Lagian ada Jo juga.” Kekeh Dira
“No, kau kekasihku, tidak ku izinkan bersama pria lain, apalagi itu mantanmu.” Sungut Dome tidak terima akan saran Dira.
__ADS_1
“Kau ini, dia itu sahabatku. Yaa walau pernah jadi mantan sih.” Sahut Dira merasa lucu akan sikap posesif Dome yang terlihat menggemaskan menurutnya.
“Tetap saja aku tidak terima, jadi turuti ucapanku, oke baby.” Mohon Dome walau ucapannya mengandung perintah di dalamnya.
“Ya, siap pak.” Dira memberi hormat saat menjawab ucapan Dome.
“Belajar yang rajin dan jadi dokter yang hebat, bye.” Dome melambaikan tangan lalu pergi meninggalkan kelas itu.
“Wahhh, kau memang hebat, bahkan berondong pun terpikat akan pesonamu.” Seorang mahasiswi mengeluarkan suara sumbang di saat Dira melangkah menuju kursinya.
“Iya, pakai pelet kali.” Sambung satunya lagi bernada sinis lalu terkikik setelah itu.
Tapi Dira menulikan telinganya, ia tidak merasa akan tuduhan tak berdasar itu, ia adalah seorang berpendidikan, calon dokter sekaligus anak Ladh Kairan yang menjunjung kehormatan dan martabat diri. Jadi ucapan bising itu, ia anggap angin kentut saja.
“Aku penasaran, apakah pria yang hilir mudik mendekatinya sudah dipastikan mencicipi tubuh itu. Di saat sudah puas, mereka mencampakkan begitu saja.” Semakin tajam saja fitnah yang dilayangkan mereka pada Dira, dan gadis itu masih bisa berusaha menyabarkan diri, batasnya masih diambang normal.
“Tarik nafas, hembuskan.” Lirihnya agar bisa tetap tenang, walau emosinya sudah mulai tersulut.
“Mahasiswi baru belagu, sok kecantikan, semua cowok populer di embat semua, modal wajah sama selingkingan doang, ya gitu.” Tambah mereka lagi, riuh suara itu semakin memanaskan telinga Dira yang semakin pecah rasahnya.
“Kalian, ada masalah denganku?” akhirnya suara Dira keluar juga, tapi masih dalam nada yang diusahakan setenang mungkin, tidak ada acara gebrak-gebrakan meja atau jerit-jeritan suara, apalagi jambak-jambakkan.
“Oke kalau begitu, silahkan lanjutkan acara gosip bodoh kalian. Memang pantas untuk orang seperti kalian yang kadar kualitas dirinya hanya....” Dira menggerakan telunjuk dan jempolnya mendekat, lalu menempelkan keduanya.
“Segini, bahkan tidak ada sela sama sekali.” Lanjut Dira sarkas, lalu dengan masa’ bodohnya Dira membuka tas dan mengeluarkan buku-bukunya lalu buds kemudian mendengarkan lagu ketimbang suara sumbang dari mahasiswi itu.
“Sialan!” maki mereka merasa tersindir keras dari ucapan Dira
“Iya, beri dia pelajaran.” Timpal salah satu dari mereka.
“Hei kalian lupa jika dia adalah adiknya Paul, senior kita. Dia sudah mengancam akan membalas atas perlakuan kalian.” Seorang mahasiswa memperingatkan pembully itu yang sudah siap akan melabrak Dira.
“Masa bodoh. Kami tidak peduli.” Sahut mereka sudah kepalang emosi.
“Ya sudah, itu pilihan kalian, kami sudah mengingatkan.” Sambung yang lainnya, dan sibuk dengan urusan masing-masing sembari tetap memantau pergerakan, kalau-kalau sampai terjadi hal yang berbahaya di luar perkiraan.
Brak!!!
__ADS_1
Yang disulut siapa, yang terbakar siapa. Kini 3 gadis yang tadi memprovokasi Dira malah balik menyerang gadis itu yang sibuk membaca buku.
“Kenapa? Apa kini kalian ingin bicara padaku?” tanya Dira melepas buds dari telinganya dan melihat satu persatu wajah judes mereka.
Brak!!
Kembali suara keras dari telapak tangan yang beradu dengan meja memekakan telinga Dira, hingga ia otomatis memundurkan tubuhnya namun dengan mencebikkan bibirnya.
“Sialan! Dasar jalaang.!” Maki salah satu dari mereka, mata nyalang penuh rasa dengki itu menyala menatap Dira.
“Ya Tuhan, sudah menyebutku sialan, kau juga memakiku jalangg. Ckckc. Padahal kita masih dalam area kampus.” Cibir Dira menggelengkan kepalanya.
“Aku dibuat atas cinta kasih orang tuaku, dan aku masih menjaga kesucianku dengan baik. Ayolah, jangan membuatku seolah melihat kalian bercermin atas ucapan sendiri.” Gantian Dira yang balik menyerang. Kata-katanya penuh makna sindiran keras. Ia tidak mau menggunakan kata-kata kasar.
“Apa kau bilang, beri dia pelajaran.” Kedua mahasiswi memegang masing-masing lengan Dira.
“Lepas, wah kalian main keroyokan, dan kalian yang lain seolah tuli dengan pembullyan ini.” Dira berdecak dengan situasi konyol ini.
Tinggal satu lagi mahasiswi yang tersisa dan sepertinya itu bagongnya alias ketuanya, entah apa yang dilakukannya karena ia berbalik dan menuju sebuah meja, tampak sibuk sendiri.
Dan mata Dira membelalak saat melihat sebuah gunting tergantung di salah satu jemarinya, “Ap-apa yang a-akan kau lakukan?” tanya Dira merasa ada bahaya yang mengancamnya saat ini.
“Kenapa? Kau takut, huh? Cibirnya mendapat raut gusar yang ditunjukkan oleh Dira.
“Ini tidak lucu, kau tau kita di mana.” Ucap Dira berusaha menyadarkan tindakan gila yang akan dilakukan gadis itu.
“Hei, kami tidak segila itu tahu, hanya.....” menggigit bibirnya sembari mengulas senyum iblis, gadis itu menggerakkan gunting dan mengarahkan pada tubuh Dira.
Sret!!!!
Suara sobekan terdengar akibat gesekan gunting dengan baju Dira, “Apa yang kau lakukan!!!” pekik Dira melihat bajunya sudah mulai digunting.
“Kau akan tahu nanti.” Ucapnya tersenyum penuh kemenangan, lalu kembali menggerakkan tangannya pada sisi baju Dira yang lain.
“Sialan!!” umpat Dira tak berdaya, ia merasa miris melihat kondisinya saat ini, hanya tinggal satu robekan lagi, maka bajunya akan tertanggal sempurna dan braanya bisa dipastikan akan terlihat oleh semua mata di dalam kelas ini.
“Siap untuk pesta, Dira?” tanyanya menarik gunting.
__ADS_1
“Hentikan!!!!”