Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 101


__ADS_3

“Apa kau sudah mendapatkan apa yang ku butuhkan?” Dome tampak menikmati alunan musik beat dari girlband idolanya, Blackpink, di sisi brankarnya ada 2 orang pria berpakaian santai terkesan seperti pengunjung pada umumnya membawa ipad berikut berkas dalam satu file map.


“Ini tuan.” Salah satu pria bertubuh kekar itu mengulurkan dua benda tadi ke hadapan Dome dan tetap saja bocah itu hanya meraihnya tanpa berniat sama sekali untuk mengalihkan pandangannya dari layar televisi.


“Kau tunggu dulu di sofa itu, aku sedang sibuk sekarang, kau lihatkan kan?” kesibukan apa yang pas untuk aktifitas Dome saat ini. Selain hanya menggerakkan tubuh mengiringi idolanya berlenggak lenggok di layar sana.


“Baik tuan.” Menurut saja, meski jawaban anak bos mereka sebenarnya konyol tapi sebagai bawahan tidak boleh membantah, bukan?


Dome menaruh 2 benda tadi di atas pahanya yang terlipat. Ia benar-benar akan menghabiskan waktunya dengan menikmati lagu Blackpink satu album penuh. Setelah hampir satu jam lebih, akhirnya Dome mematikan layar televisi besar itu dan membuka menghidupkan layar ipad berikut map yang berisi data yang ia perlukan.


Matanya fokus pada beberapa tulisan yang terpampang di layar ipad, bergerak seirama dengan susunan baris kalimat. Sesekali ia menganggukkan kepalanya, lalu menyipitkan mata seolah informasi yang disampaikan di sana menyita kerja keras otaknya.


“Lacak dan retas semua perangkat yang ada pada Alexio. aku penasaran siapa yang ia cari hingga Dira saja ia intai seharian.” Titah Dome lalu menutup dua benda tadi dan memberikannya pada suruhannya.


“Siap tuan.” Tidak sulit bagi dua mafia di bawah naungan Hiro Taoka untuk mengakses perangkat lawannya, dan Dome sebagai keturunan satu-satunya Hiro mendapatkan fasilitas yang sama ketika membutuhkan informasi terkait lawannya.


Dan selepas kepergian dua orang tadi, Dome melirik pergerakan Dira melalui GPS yang tertanam di ponsel gadis itu yang entah kapan berada di dalam sana, masih di kampus rupanya, memang setelah mengantarnya ke kelas gadis itu, ia segera kembali ke rumah sakit karena ayahnya, Hiro Taoka dan istrinya ingin bertemu puteranya membahas perkembangan kesembuhan bocah itu yang bersikeras ingin di rawat di Indonesia. Padahal Jepang lebih menjanjikan untuk perawatannya.


“Maaf dokter, karena aku suka, setidaknya kau harus siap dengan fasilitas mewah dariku, salah satunya adalah pengawalan dari orang-orang terbaikku.” Ucap Dome memandang gerak Dira dengan senyum terukir.


.


.

__ADS_1


.


Kali ini Alexio tengah berada di balik kemudi mobilnya, jemarinya sudah menekan layar ponsel, memasukkan beberapa digit angka di dalamnya. Sudah 1 kali panggilan yang ia lakukan dan tertolak, kini ia mengulangi kembali.


Dan....


“Halo.” Jawab si penerima telpon.


“Apa benar ini dengan nyonya Inda?” tanya Alexio menimpali sambutan wanita di seberang sana.


“Iya, saya sendiri.” Sahut yang bernama Inda.


“Boleh saya meminta izin bertemu dengan anda, nyonya?” pinta Alexio


“Saya ingin bertanya tentang salah satu kenalan anda yang bernama I Gede Roni.” Langsung saja Alexio mengungkap nama yang begitu menjijikkan itu. Jika bukan untuk mencari pelaku utama dari tragedi Alexia, tidak akan mau ia bersinggungan dengan orang itu lagi.


“Tidak bisa, saya tidak mau membahas apapun tentang orang itu. Selamat siang.” Dan kalimat itu sekaligus menjadi penutup percakapan keduanya.


“Sialan!” umpat Alexio saat mendapat penolakan yang begitu tegas dari wanita tadi. Padahal ia sangat bersemangat untuk menggali informasi dari orang tersebut yang diyakininya memiliki keterkaitan dengan pelaku lainnya.


Kini, ia harus bekerja keras lagi mencari orang ini, ia sangat yakin akan intuisinya. “Jika kau menolak bertemu denganku, maka aku yang akan mencarimu sendiri.” Alexio mengepalkan tangannya, tampak kesal dengan penolakan tadi.


Sebelumnya, Alexio sempat bertanya pada ayahnya perihal keberadaan jenazah Roni sesaat setelah peristiwa mengerikan itu terjadi. Dan jawaban ayahnya pun cukup membuat Alexio berkerut bingung.

__ADS_1


“Papa tidak tahu siapa yang membawa jasad bajingan itu, Alexio. saat papa mau melihat wajah pelakunya, semua sudah hilang.” Jawab Bisma kala itu.


“Bagaimana bisa pa, kita kan keluarga korban, dan pihak kepolisian dan rumah sakit harus memberi tahu kita dulu jika ada pihak yang ingin mengambil jenazah pelaku.” Ucap Alexio tidak menerima akan fakta itu.


“Papa juga saat itu tidak bisa fokus dengan pelaku, ada kamu dan juga Alexia yang saat itu butuh dengan keberadaan papa. Jadi, papa percaya dengan hasil yang di berikan kepolisian jika pelakunya hanya pria bajingan itu saja.” Jawab Bisma, sebenarnya ia memang terlalu bodoh saat itu, menerima begitu saja dan tidak menginginkan peninjauan ulang, tapi ayahnya Suprapto mengurus semua itu dan membiarkan Bisma melakukan tugasnya sebagai ayah dari cucu-cucunya.


“Roy, kau cari siapapun yang bernama Inda di seluruh penjuru dunia ini. kalau perlu lacak berdasarkan kontak ini.” titah Alexio, perintah yang ia berikan memang tidak masuk akal, karena mencari hanya berdasarkan nama saja ibarat menyelam di dalam samudera untuk mencari butiran pasir di sana. Jika saja ditunjang poto, alamat, mungkin masih bisa diharapkan hasilnya. Tapi hanya nama awal saja, mustahil untuk ditemukan.


“Siap bos.” Untuk melegakan majikannya, Roy menerima perintah itu dengan patuh.


Sedangkan di tempat lain....


Setelah menutup panggilan tadi, Inda yang dimaksud Alexio kini menarik handel pintu berwarna coklat tua, dan terpampanglah ruangan dengan aroma obat-obatan di dalamnya. Lengang, namun juga sejuk serta nyaman. Sebisa mungkin penataannya dibuat untuk memberikan kenyamanan bagi yang dirawat di dalamnya.


Sepatu heels berwarna hitam itu beradu dengan lantai ruangan itu, tampak angkuh sekaligus anggun. Tubuh proporsionalnya sebagai seorang wanita menunjang itu, jelas terlihat dari arah belakang. Perlahan ia mendekat pada sebuah tempat tidur yang berada di tengah-tengah ruangan, memperlihatkan sosok yang terbaring di atas sana dengan perlengkapan medis membalut tubuh.


“Kau mau bertemu denganku, Alexio? tidak semudah itu.” Cetus wanita yang digambarkan hanya terlihat dalam siluet bibir merahnya. Tampak seringai ia sunggingkan sebagai bukti betapa puasnya ia menolak langsung Alexio tadi.


“Lihatlah adikku yang malang, siapa yang mendatangi kita.” Ia mengelus pipi seorang wanita yang terbujur kaku di atas pembaringan. Tampak pucat, berikut selang mengelilingi wajah yang tirus dengan mata terpejam. Suara yang berasal dari mesin di sisi brangkar itu menjadi penanda, wanita itu masih bernyawa.


“Andriana. Dengar, mari kita berpesta setelah ini. membalas dendam kita yang mengurungmu dalam kegelapan selama ini.” lanjutnya tersenyum.


Andriana, adalah nama pasien yang terbaring kaku di brangkar, kini jelas wajahnya terlihat, dan wajah pasien itu harusnya adalah cermin dari si wanita yang berdiri di sisinya. Mereka berdua adalah saudari kembar, tapi karena sebuah insiden akhirnya mereka tidak mirip lagi.

__ADS_1


Inda.... alias Linda Suprapto, istri dari Bisma Suprapto sekaligus Ibu dari Alexio Bisma dan Alexia Bisma.


__ADS_2