
“Alexio.” Dokter Doni menyentuh pundak Alexio pelan.
“Iya, dokter.” Sahut Alexio menatap dokter Doni.
“Alexio ada pacar?” random, pertanyaan itu malah melesak ke sana.
Alexio mengerutkan dahinya.
Maksud dokter ini apa? Kenapa malah ke sana pertanyaannya.
“Gak ada dokter, saya gak ada pacar.” Jawab Alexio.
Dokter Doni mengangguk pelan., “Hmm begitu.” Ucapnya
“Kalo gebetan?”
Alexio membuang nafas berat dan menggeleng.
“Yang Alexio suka?”
Ini dokter kenapa sih, kepo banget ya?
Tapi jawaban Alexio yang diam membuat dokter Doni berkesimpulan, “Oooh ada ya.” Putusnya.
“Apakah yang bernama Xia? Yang Alexio suka?” duga dokter Doni
Ada beberapa orang yang membuat daya hayal atau melihat sesuatu atas dasar orang yang ia suka.
Mungkin saja Alexio begitu.
“Bukan.” Jawab Alexio singkat.
“Oo, kirain Xia itu yang kamu suka.” Kekeh dokter Doni, mulai menggunakan bahasa informal kepada Alexio.
“Umur berapa sih Xia. Cantik banget kayaknya.” Asumsi dokter Doni. Ia mengira jika Xia adalah ukuran penampakan Alexio, yang sama-sama berusia 18 tahun tentunya.
“11 tahun dok, dan dia memang cantik, sangat.” Sahut Alexio, membuat ketiga pendengar menatapnya iba.
“Begitu. Ya, dokter pun melihat yang sama” timpal dokter Doni, berbohong.
Alexio menatap dokter dengan tatapan sumringah.
“Betul kan. Xia memang cantik. Hanya dia suka sekali menghilang tiba-tiba.” Gerutu Alexio memberengut.
Dokter Doni melirik pada sepasang suami isteri yang masih saling mendekap.
Memberi isyarat, ia akan menunggu mereka di ruang kerjanya saja.
“Baiklah Alexio, kamu baik-baik saja sepertinya., kalau begitu dokter mau pamit dulu ya.” Ucap dokter Doni, seraya menepuk pundak Alexio layaknya para pemuda usia pasiennya.
“Terima kasih dokter.” Itu Bisma yang berucap. Karena Alexio hanya membalas dengan anggukan saja.
Tinggal-lah Alexio kembali. Berbaring di ranjang pasien dengan wajah memberengut.
“Hei. Kenapa sih?” Xia, duduk di kursi samping brangkar Alexio.
“Kamu yang kenapa.?” Balas Alexio bertanya balik.
“Emang aku kenapa?” Xia membalas serupa.
“Ck. Kamu itu, gak suka sama Dira?” tanya Alexio akhirnya
“Gak, aku suka, dia baik kayaknya. Tapi....” ucapan Xia menggantung
“Tapi???” beo Alexio menunggu
__ADS_1
“Kalo kamu sering sama dia, nanti aku sama siapa.” Keluh Xia
“Kamu tetap ada aku, Xia.” Balas Alexio meyakinkan
“Gak, kamu bakalan ninggalin aku.” Elak Xia
“Gak, aku akan tetap ada di samping kamu.” Sahut Alexio
“Bohong.” Ketus Xia
Alexio terkekeh.
“Kamu ini. sampai kapan pun aku gak akan bisa menyingkirkan kamu gitu aja.” Jelas Alexio.
“Inget kan pertemuan kita 3 tahun yang lalu?” Alexio mengajak Xia kembali ke masa itu.
Masa ketika mereka pertama kali bertemu.....
FLASHBACK ON.....
Brak!!!!
Suara tabrakan menggema di tengah larut malam.
Alexio yang baru sadar, segera keluar dari dalam mobilnya.
Panik pastinya
Ia merasa menabrak sesuatu.
Bumppppp, saking kerasnya ia menutup pintu mobil.
“Oh God!!!!” teriaknya frustas. Melihat wujud yang ia tabrak
“Hei bangun.... bangun....” pintanya, mengguncang tubuh itu cukup kencang, memastikan jika yang ia tabrak masih bernyawa.
Walau mata itumasih tertutup, setidaknya ia masih hidup. Begitu harap Alexio yang masih panik
“Bangun.” Alexio menepuk pipi itu pelan, agar si empunya membuka mata.
“Syukurlah...” tak lama dari itu, mata indah yang sejak tadi terpejam akhirnya terbuka.
“Hai.” Malah itu yang terucap saat gadis itu melihat Alexio.
“Hai juga.” Balas Alexio, mendudukan korban tabraknya yang masih ada di aspal.
“Ayo ke rumah sakit. Aku obati lukamu.” Alexio bersiap bangkit, namun gerakannya tertahan karena gadis itu menahan lengan Alexio.
“Aku baik-baik aja.” Gadis itu bangkit duluan, menepuk bajunya yang kotor karena terkena tanah atau debu jalanan.
“Yakin?” tanya Alexio seolah ragu.
Jelas sekali tadi suara benturan itu keras. Tapi yang ia tangkap dari korbannya memang baik-baik saja. Tak ada cidera sama sekali.
“Iya. Aku baik-baik saja. Lihat aja sendiri.” Ia memutarkan tubuhnya agar bisa dilihat Alexio bahwa ia baik-baik saja.
“Baiklah kalo begitu.” Lega nafas Alexio melihat korbannya tak cidera sama sekali.
“Kamu mau kemana?” tanya Alexio melihat gadis itu sepertinya sendiri tanpa transportasi dan malam pula.
“Mau pulang.” Sahutnya.
“Ooh. Mau aku antar?” tawar Alexio yang langsung diangguki gadis itu.
“Ayo.” Berjalan menuju pintu penumpang, Alexio mengarahkan gadis itu untuk masuk
__ADS_1
“Terima kasih.” Balas gadis itu saat ia sudah duduk manis di mobil.
Alexio memutar depan mobil dan segera duduk di kursi pengemudi.
“Seatbeltmu, “ tunjuk Alexio saat melihat sabuk pengaman yang dipakai gadis itu tak benar.
“Heheh.” Kekeh si gadis kembali membenahi seatbeltnya, tapi lagi-lagi belum benar menurut Alexio hingga pemuda itu inisiatif membantu.
“Maaf.” Ucap Alexio saat ia mengencangkan sabuk pengaman milik gadis yang baru dikenalnya itu.
“Ya.”
Hening, mesin mobil mulai berderu. Tanda mobil siap untuk berjalan.
“Siapa nama kamu?” tanya Alexio membuka percakapan.
“Xia.” Sahutnya
“Aku Alexio.” Balas Alexio memperkenalkan dirinya sendiri.
“Rumah kamu di mana?” tanya Alexio lagi.
“Perumahan Grand Jasmine blok E nomor 10 warna putih pagar cokelat.” Jawab Xia dengan sangat detail memberi tahu alamatnya.
“Hmmm, ya ya ya. Aku tahu.” Sahut Alexio tersenyum.
Sejak perkenalan itu, mereka berdua semakin akrab. Bahkan Alexio sering datang mengunjungi Xia ke kediaman gadis itu. Bahkan tak jarang mereka piknik berdua ke danau.
Yang semuanya dilakukan setiap malam.
FLASHBACK OFF
Tapi... akhir-akhir ini, hubungan keduanya seolah sering berjarak.
Entah sebab apa, Xia sering pergi begitu saja, dan kembali pun tanpa ada pemberitahuan.
Seperti saat ini, ia muncul dengan wajah sebal. Hanya karena takut Alexio enggan berteman dengannya lagi.
“Aku tidak akan pernah meninggalkan dan menggantikan kamu dengan siapapun, Xia.” Ucap Alexio membujuk gadis berusia 11 tahun itu.
“Janji.” Bahkan Alexio mengulurkan jari kelingkingnya sebagai bentuk janji atas ucapannya tadi.
“Jangan tinggalin aku ya.” Xia mengaitkan jari kelingkingnya dengan mata berkaca penuh harap pada Alexio yang mengangguk setuju.
Di lain tempat......
“Bagaimana, bapak Bisma dan ibu Linda?” suara dokter Doni memecah keheningan di ruang kerjanya.
“Kalian tentu bisa menilai sendiri, apa yang terjadi dengan putera anda, kan?” tanya dokter Doni menatap kedua suami isteri itu yang pasrah sepertinya.
“Iya dokter, saya sudah siap dengan kemungkinan yang akan dokter jelaskan.” Sahut Bisma pelan.
Tangannya tak henti mengelus bahu isterinya, menguatkan sepenuh hati.
Mereka bertiga, dari ruang kerja dokter Doni, bersama-sama melihat aktifitas yang baru saja berlangsung di ruang rawat VVIP itu,... tempat Alexio saat ini berada.
Dari CCTV yang dipasang khusus atas persetujuan Bisma, mereka memantau semua aktifitas Alexio, termasuk yang barusan mereka lihat.
“Baiklah pak Bisma...” dokter Doni menarik nafas dulu.
Ia yakin, penjelasannya kali ini akan menjadi bom luar biasa bagi orang tua Alexio Bisma.
“Putera anda, Alexio Bisma. Sepertinya mengidap Skizofrenia.”
Duar!!!!!!!!!
__ADS_1
SKIZOFRENIA!!!!!!!!!