
“Ada yang mau kamu bicarakan pada papa, Dira?” makan malam yang hening tadinya harus siap bercengkrama karena Ladh sudah mulai mengeluarkan pertanyaan yang tertuju pada anak gadisnya yang masih menyuapkan makan malam.
Dira menoleh pada ayahnya.
“Maksudnya pa?” jawab Dira balik bertanya.
Paul yang juga sibuk menyantap hidangan akhirnya ikut-ikutan mendongakkan kepalanya. Menatap serius pada ayah dan adiknya bergantian.
“Kamu, ada hubungan apa sama Alexio anaknya Bisma?” tanya Ladh langsung pada intinya.
Ia mendengar penjabaran permohonan langsung dari Bisma yang menginginkan puterinya mendampingi Alexio untuk melakukan terapi.
Terapi?
Ya, sebagai dokter senior dan pemilik rumah sakit, tentu tak ada yang tidak diketahui oleh seorang Kairan Ladh Junior. Apalagi Bisma adalah sahabatnya.
“Gak ada hubungan apa-apa kok.” Bantah Dira, memang dia belum jelas hilalnya bersama Alexio, kan?
Baru dipeluk dan cium belum membuktikan hubungan. Jangan kepedean!
“Lalu, kenapa Bisma memintamu mendampingi puteranya terapi?” pertanyaan Ladh jelas mendorong asumsi bahwa yang ada sesuatu antara puterinya dan putera dari Bisma itu.
“Kami hanya berteman pa, kebetulan aja keluarganya meminta Dira waktu itu.” Lagi-lagi Dira hanya mampu menjawab sekedarnya.
“Ooh hanya teman, sampai berpeluk dan berciuman?” tembak Ladh langsung
Uhuk uhuk uhuk
Yang ditembak siapa yang memuncratkan makannya siapa
“What!!!! Kamu berciuman dek!!!!??” pekik Paul yang baru saja mengelap mulutnya yang belepotan makanan yang baru disembur.
“Jorok banget sih, udah tua juga.” Cibir Dira tak menjawab tanya abangnya.
“Papa tanya sekali lagi, Dira. Apa kamu ada hubungan khusus dengan Alexio?” tanya Ladh serius dan dijawab Dira dengan gelengan kepala.
“Papa hanya mau menegaskan saja, jika kamu memang menjalin hubungan dengan Alexio, maka yang sedang kamu lakukan bersama Jonathan harus kamu akhiri nak. Jangan sampai melukai orang lain yang tidak bersalah.” Tutur Ladh bijaksana.
Dira menatap ayahnya lekat.
Benar. Memang dirinya belum mampu mengusir nama Alexio di sana dan Jonathan belum mampu mengisi barang sedikitpun di hati Dira.
“Baiklah pa.” Jawab Dira pelan
“Pa.” Panggilnya kemudian.
“Hmm, ada apa?” sahut Ladh
__ADS_1
“Boleh Dira mengetahui cerita sebenarnya mengenai kembaran Alexio yang meninggal itu?” Dira memang sempat menolak penjelasan ayahnya, karena dari yang dibacanya dari diary merah muda itu, terpampang jelas bahwa ada campur tangan ayahnya dalam merenggut nyawa bocah 11 tahun itu.
Dan saat ia mendapat kenyataan Alexio menderita seperti ini, ia harus mengetahui lebih dalam, mana yang benar, apakah yang tertulis di sana memang kenyataannya atau justru itu tulisan hayalan Alexio saja.
Di sinilah Dira saat ini.
Di ruang kerja ayahnya.
Dira duduk tepat di sofa ruangan itu, sementara ayahna berdiri di sudut rak buku, sepertinya ada yang diambilnya dari sana.
“Apa yang mau kamu tanyakan tentang Alexia Bisma, Dira?” Ladh bertanya dari posisinya saat ini.
Dira yang membaca majalah di atas meja menoleh.
“Alexia Bisma?” beonya saat mendengar nama itu
“Ya, itu nama kembaran Alexio Bisma, gadis malang yang meninggal karena kecelakaan dan tidak bisa diselamatkan.” Jawab Ladh
“Papa tentu tahu kan, kesalahpahaman apa yang tercipta karena kematian Alexia Bisma?” Dira penasaran dengan cerita versi ayahnya.
Benar atau salahnya, jujur atau tidaknya ia akan mengetahui dengan menilanya langsung.
“Alexia Bisma, saat itu menjadi korban kecelakaan, tubuhnya banyak luka, karena benturan yang cukup keras, jantung dan otak Alexia pecah, berbagai cara sudah diupayakan. Tapi takdir berkata lain, nyawanya tidak terselamatkan.” Jelas Ladh gamblang
Tidak!! Bukan ini yang Dira harapkan, penjelasan ayahnya terlalu singkat dan tak detail.
“Lalu Alexio? Apakah dia juga korban kecelakaan juga?” tanya Dira
Kairan Ladh menoleh pada Dira, berjalan pelan, membawa sebuah map berwarna hijau yang sudah usang kelihatannya.
Mendaratkan pantatnya di sofa tunggal.
“Yang mengantarkan Alexia saat itu adalah Alexio, pemuda itu juga terluka saat itu, tapi tidak tahu apakah sama-sama korban tabrakan atau bukan. Karena setelah kematian Alexia, mendadak Alexio membisu dan koma selama beberapa bulan.” Jelas Ladh
“Orang tuanya saat itu baru saja dari perjalanan dinas, jadi mereka tidak tahu insiden apa yang membuat kedua anaknya itu bisa terluka bersamaan. Bedanya Alexia harus miris dengan banyak luka dalam, sedangkan Alexio luka luar.” Lanjut Ladh menjelaskan.
“Tapi.....” Dira menyela tapi ia berpikir keras.
Yang dibacanya di diary itu berbeda dari yang dijelaskan ayahnya.
Di sana tertulis bahwa Alexio dan Alexia sama-sama menjadi korban tabrakan, dan ketika dirinya hendak melihat kembarannya yang tengah ditangani tim medis, ia mendengar kenyataan bahwa kembarannya harus dipaksa meninggal untuk mengambil organ penting untuk menunjang kehidupan Alexio saat itu yang mengalami pecah bagian ginjalnya.
Alexio yang mendengar itu tentu saja tak terima, tapi terlambat karena otaknya justru merespon lemah dan membuat tubuhnya ambruk saat itu.
“Tidak,, bukan begini harusnya.” Dira menggelengkan kepalanya keras.
“Hei kamu kenapa??” Ladh menahan tubuh Dira yang linglung,
__ADS_1
“Pa, pasien yang mengalami pecah organ, bukannya harus terbaring dan tidak bisa keluyuran, bukan?” tanya Dira memastikan yang diangguki oleh Ladh.
“Apakah saat itu, Alexio menderita pecah organ ginjalnya karena kecelakaan itu?” Dira menuntut jawaban segera.
“Tidak, Alexio sama sekali tidak mengalami kerusakan organ dalam.” Jawab Ladh yakin.
“Lalu apa yang membuat Alexio koma padahal dirinya tidak apa-apa?” Dira tergesa-gesa, tak sabar.
“Dari hasil medis. Alexio menderita shock berat, itu justeru hal aneh ketika pasien mengalami koma karena faktor shock.” Jelas Ladh pasti.
“Pa...” Dira ragu melanjutkan.
“Iya.” Sahut Ladh
“Apa mungkin kecelakaan itu tunggal? Hanya dua beradik itu saja yang mengalaminya?” tanya Dira memastikan
“Iya, hanya saja ada yang aneh.” Jawab Ladh
“Apa?” tanya Dira.
“Posisi korban yang tidak seimbang. Alexio yang saat itu berada di kursi penumpang bersama Alexia tapi justru tubuh Alexia ada di luar dan Alexio di dalam.” Papar Ladh menopang dagu dengan kepalan satu tangannya.
“Apa mungkin, saat itu Alexio bukan penumpang, tapi pengemudi dan menabrak kembarannya pa?” duga Dira, ia tak percaya otaknya berpikir liar seperti itu, tapi nalurinya mengarahkan ke sana.
“Tidak mungkin, mereka masih anak-anak, dan ada sopir waktu itu.” Jawab Ladh membantah asumsi konyol puterinya.
“Tapi pa.” Dira masih belum puas.
“Begitulah yang diucapkan oleh orang tua Alexio, Dira, mana mau mereka membiarkan anak-anaknya mengendalikan mobil begitu saja tanpa pengawasan.” Pungkas Ladh menutup pembicaraan.
.
.
.
“Hai semuanya!!! Selamat pagi!!.” Suara itu membuat semua mata tertegun.
Semua siswa kelas 12 A unggulan mendadak dibuat heran saat Alexio datang dengan senyum riangnya dan sapaan ramahnya.
Dan lebih anehnya lagi, pemuda itu menyapa satu persatu siswa dengan menjabat tangan mereka bahkan menyebut nama mereka.
“Hai juga Al.” Balas mereka
Pemuda dingin, minim ekspresi itu.........
Pagi ini, ramah, murah senyum, dan penampilannya rapi, harum vanila, mint dan mawar segar.
__ADS_1