Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 102


__ADS_3

FLASHBACK ON


“Kau tahu apa yang harus dilakukan, bukan?” Inda, alias Linda memberikan instruksi di sebuah ruangan tertutup pada seorang pria yang mengenakan setelan rapi dan tampak tegas itu.


“Iya nona.” Sahut pria itu, yang kini bisa terlihat ia adalah I Gede Roni alias Roni, sosok pelaku atau tersangka utama dari tragedi 14 tahun yang lalu.


“Masuk ke rumahku dan menjadi guru les untuk puteriku yang malang itu.” Ucap Linda dengan wajah sendunya. Terlihat sekali jika saat ini ia tengah menahan isak yang nyaris terjun bebas dari mata indahnya.


“Baik nona.” Kembali Roni menyanggupi. Ia diberi misi rahasia oleh atasannya untuk menjadi salah satu pengajar di rumah besar itu, dengan resiko nyawanya akan terancam jika berani menyetujui perintah Linda.


“Terima kasih Roni, kau adalah orang yang selama ini menjaga kami dulu saat masih kecil. Dan kini kau kembali harus direpotkan dengan permintaanku ini.” Linda jelas merasa bersalah meminta bantuan pada Roni, keluarga pria itu satu-satunya yang membantu kehidupannya bersama Andriana dulu saat masih kecil. Dan saat mereka masih berusia 8 tahun, Linda diadopsi oleh seorang keluarga pengusaha yang tinggal di Prancis dan meninggalkan Andriana bersama keluarga Roni.


Tumbuh terpisah, tidak membuat komunikasi keduanya terputus begitu saja, meski jarak begitu membentang, baik Andriana dan Linda masih bisa berkomunikasi. Bahkan saat saudari kembarnya itu bercerita tengah merasakan kasmaran dengan seorang pemuda yang merupakan seniornya saat berkuliah. Bisma Suprapto, begitu nama yang selalu disebutkan Andriana dengan sumringah setiap sesi curcol berdua dengannya.


Beberapa tahun mereka tidak bisa bertemu karena terhalang kondisi Linda yang mengalami kejadian memilukan, terlibat kecelakaan parah bersama keluarga angkatnya, mobil terbakar dan menyisakan dirinya yang hidup seorang diri dengan luka bakar nyaris 80% dan merusak wajahnya. Perlu waktu lama untuk mengembalikan dirinya bisa beraktifitas normal seperti biasa, namun harus terpaksa dengan wujud yang baru. Ya, Linda menjalani operasi wajah hingga ia tidak bisa memiliki wajah serupa dengan Andriana lagi pasca kejadian itu.


Lepas dari keadaannya yang tragis dan butuh penyembuhan, rupanya justru menghadirkan masalah di Indonesia sana. Andriana menanggung pilu, ia digembor-gemborkan sebagai wanita penggoda oleh keluarga Suprapto. Roni sebagai penghubung keduanya pun memberi tahu akan kondisi itu.


“Apa? Maksudmu, saudariku dihina oleh keluarga kekasihnya?” dari bangsal rumah sakit, Linda hanya bisa kesal mendengar informasi itu.


“Iya nona, dan nona Andriana juga.....” Roni terdiam akan ucapannya, seolah ragu untuk mengatakannya atau tidak.


“Apa, ada apalagi dengannya, katakan!” Tuntut Linda memaksa, Andriana boleh merahasiakan kesedihannya, tapi ia lupa jika Linda punya mata-mata di sana.


“Nona Andriana tengah hamil dari kekasihnya itu, nona.” Bagai tersambar petir, Linda hanya bisa terperanjat di atas brangkar, ia tidak berdaya, bahkan jarum infus yang menacap di kulit putihnya itu sudah terlepas dan meninggalkan jejak darah dipermukaan.


“APA!!!” jerit Linda memantik perhatian dari petugas medis yang mendengar teriakan itu. Dan akibatnya, Linda harus diberi obat penenang meski ia memberontak.


“Aku tidak apa-apa, lepas, aku mau menghubungi saudaraku.” Ia memelas meminta petugas medis tidak menghalangi komunikasinya yang diputus sepihak.

__ADS_1


“Tenang nona, anda jangan memikirkan banyak hal, akan menghambat kesembuhan anda.” Saran seorang dokter menenangkan pasiennya.


“Tidak, lepas, aku perlu bicara dengan sauda....” belum selesai ia berucap, Linda sudah menutup matanya, kalah oleh reaksi obat penenang yang merasuk dalam tubuhnya.


Keesokan harinya, Linda tak mau menunda lagi. Ia segera menghubungi Andriana dan bertanya mengenai masalah besar saudarinya itu.


“Kenapa kau tidak menceritakan masalahmu, Andriana?” Baru saja panggilan itu diangkat, belum terucap halo dari sana, Linda segera mencecar Andriana dengan kalimat tanyanya.


“A—aku...” hanya satu kata itu yang keluar sebagai jawaban tanya Linda yang harusnya terangkai dalam kalimat.


“Aku bingung Linda.” Sambung Andriana, setelah mengucapkan hal itu, yang terdengar selanjutnya adalah isak tangis dari kembarannya. Linda sesak mendengarnya, sebagai saudara kembar, hal itu sudah biasa jika jalinan mereka tentu sangat kuat, wajar Linda merasakan hal yang tidak enak dan kerap memimpikan Andriana di sana. Rupanya kembarannya sedang tertimpa masalah besar dan berat di negerinya itu.


“Katakan padaku, ceritakan. Aku akan membantumu, Andriana.” Bujuk Linda, berusaha meresapi dan ikut menanggung rasa sakit itu, meski hanya berupa cerita dan tidak 100% merasakan penderitaan Linda.


“Aku...aku hamil.” Itu kejujuran pertama dari masalah ini, dan untungnya Linda tidak kaget lagi, ia sudah tahu dari Roni.


“Tidak apa Andriana, ada aku yang akan membantumu merawatnya.” Sahut Linda dari tempat tidurnya, tak tahu saja jika ia sedari tadi meremas sprai kuat menahan marah sendiri.


“Bisma? Dirinya sudah dikirim keluarganya ke Prancis untuk melanjutkan kuliah di sana... hiks.” Jawab Andriana tergugu.


“Kuliah di Prancis? Dan dia tahu tidak kalau kau hamil?” tanya Linda geram mendengarnya.


Andriana menggeleng, meski tahu Linda tidak bisa melihatnya, “Ta-tahu.” Sahut Andriana


“Lalu kenapa ia justru melarikan diri jika tahu kau tengah hamil anaknya!” sergah Linda tak sabar, bertambah kesal saja ia mendengar Bisma kabur dari tanggung jawab itu.


“Bisma... Bisma percaya jika aku hamil anak orang lain, Linda.” Sahut Andriana dan tangis kembarannya semakin keras, Linda yang mendengar semakin mengepalkan tangannya.


“Siapa yang bilang kau hamil dengan pria lain!” Linda tak sabar, menuntut Andriana untuk menjawab.

__ADS_1


“Keluarganya yang mengatakan hal itu, bahkan mendatangkan seorang pria yang mengaku pernah tidur denganku. Padahal hanya Bisma yang menyentuhku pertama kali, Linda.” Andriana semakin berteriak frustasi. Linda menyayangkan mereka tengah berjauhan, jadi ia tidak bisa membagi peluk untuk kembarannya itu.


“Bagaimana bisa, Andriana.” Lirih, Linda tak kuasa melanjutkan ucapannya.


“Aku tidak tahu, saat pulang kerja, keesokan harinya aku berada di sebuah penginapan, Linda.” Jawab Andriana semakin menyesakan Linda saja.


“Kau..” Tidak sanggup Linda meneruskan.


“Tidak ada yang terjadi, karena saat bangun hanya tubuh bagian atasku saja yang nyaris telanjjang. Tapi celanaku masih lengkap di bawah sana.” Jelas Andriana semakin mengerang


“Lalu setelah itu.” Tanya Linda


“Bisma berani meninggalkanku hanya karena selembar foto itu, foto yang memperlihatkan aku dalam satu selimut bersama pria itu, Linda.” Tangis Andriana lagi-lagi harus mengalir deras, dan Linda ikut terisak di tempatnya.


“Apa kau sering diancam keluarga Bisma?” duga Linda pada intuisnya.


“Ayahnya yang sering mendatangi tempat tinggalku. Dan mengatakan jika aku tak layak hidup menjadi menantunya dan memberikan cap hina padaku, Linda.” Cerita Andriana semakin pilu.


“Andriana... dengarkan ucapanku.” Linda berusaha menenangkan Andriana.


“Iya.” Sahut Andriana menurut.


“Apapun yang ku lakukan, percaya, jika aku ingin kau bahagia, paham.” Ucap Linda


“Iya.” Sahut Andriana serupa.


“Aku akan mencari kekasihmu itu, dan meminta pertanggung jawaban padanya.” Linda menawarkan bantuan pada Andriana.


“Tidak, semua sudah berakhir Linda. Karena sampai kapanpun, Bisma tidak akan pernah mau kembali padaku, ia sendiri yang sudah mengatakannya bahkan ikut mencela perbuatanku. Jadi, itu akan sia-sia.” Isak Andriana yang mengingat perlakuan Bisma padanya terakhir kali.

__ADS_1


“Oh ya? kalau begitu, aku akan masuk ke dalam hidup pria itu, dan menghancurkannya bersama keluarganya.” Ucap Linda mendendam.


__ADS_2