Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 94


__ADS_3

Alexio tidak berbicara sama sekali sepanjang menggendong tubuh Dira, jaketnya disampirkan pada tubuh Dira karena blouse yang dikenakan gadis itu basah hingga mencetak **********. Pun celana panjang putih itu juga melekat karena basah.


“Dasar cewek gatel, semua diembat.”


“Ihh gak bener ini cewek.”


“Iya, anak siapa sih.”


“Pakek pelet apa coba bisa gaet banyak cogan di kampus.”


“Dih, mahasiswi baru sok kecantikan.”


“Ya Tuhannn itu si Alexio kan, salut sama tuh cewek.”


Dan plesiran suara itu merangsek ke telinga Dira, gatal sekali rasanya mendengar ucapan tak masuk akal itu. Namun lucunya adalah, hanya tertuju pada Dira saja, dan itu konteksnya tidak ada yang baik semua.


“Siapa juga yang mau gini.” Gumam Dira begitu lirih bahkan Alexio saja tidak mendengar ucapannya.


“Awas saja kalo tahu pelaku yang ngurung aku di kamar mandi, aku sleding mereka.” Lanjutnya, mendendam.


Dira lega saat matanya menangkap area parkir di depannya, maka tubuhnya sudah menggeliat minta diturunkan tapi Alexio sama sekali tidak berniat melepas tubuh Dira, ia bahkan melawan dan menahan gadis itu agar tidak turun.


“Turunin Alexio.” pinta Dira yang merasa tangan Alexio enggan melepasnya.


Gadis itu semakin membulatkan matanya saat arah yang dituju Alexio bertolak dengan letak mobilnya.


Alexio menurunkannya di depan mobil berwarna merah, mercedes benz SLS AMG menyambut Dira di sebelahnya.


“Eh, ini bukan mobil aku.” Keluh Dira saat kakinya menapak di aspal parkiran.


“Masuk.” Suara bernada perintah dikeluarkan Alexio, dan lucunya Dira malah menurut dan masuk begitu saja ke dalam mobil pria itu.


Ia memperhatikan langkah Alexio yang memutari mobil sampai duduk di balik kemudi. Matanya tak lepas memperhatikan perbuatan pria tampan itu sedari tadi.


“Aku antar pulang.” Ucapnya datar dan dingin tanpa menatap Dira lalu mulai menjalankan mobilnya keluar dari pelataran kampus.


‘Dia kenapa sih.’ Batin Dira


“Ahhh tasku tinggal di kelas.” Dira berteriak heboh saat teringat barang-barangnya masih teronggok di dalam kelas


“Sudah di bawa suruhanku.” Sahut Alexio menjawab. Ia tadi sudah memberikan perintah kepada Roy untuk membawa barang Dira yang tertinggal di kelas sebelum sampai ke toilet.


Dira melihat pada jaket Alexio yang masih menyelimuti tubuhnya, ada rasa hangat di hatinya mendapati perhatian dari pria pujaannya. Sejak terakhir di Jepang, tidak ada komunikasi di antara keduanya, makanya Dira cukup kaget saat melihat Alexio menolongnya dan kini mengantarnya pulang. Meskipun tidak ada adegan romantis, senyum atau sapaan selama perjalanan, tapi Dira menganggap ini sudah lebih dari cukup bahwa Alexio masih menganggapnya ada.


Tiba di area perumahan keluarga Dira, Alexio menepikan di depan gerbang untuk meminta izin masuk.

__ADS_1


“Terima kasih Alexio.” ucap Dira saat keduanya turun dari mobil.


“Nih.” Dira mengulurkan jaket milik Alexio tapi ia sadar setelahnya dan menariknya kembali, “Eh, aku cuci dulu deh sebelum dikemba...” kalimatnya sudah lebih dulu disambar Alexio.


“Tidak usah.” Dengan dinginnya Alexio merespon, pun tak ada kata pamit ia sudah melesak pergi bersama mobilnya meninggalkan Dira yang tercengang selama beberapa detik.


“Ck.. tambah dingin aja itu anak pak Bisma.” Ia mencebikkan bibirnya melihat kepergian Alexio dari rumahnya.


“Kenapa dah pulang!?” Paul yang baru saja mau berangkat kuliah dikagetkan dengan kepulangan adiknya, karena biasanya Dira selalu pergi pagi dan pulang malam, selepas kuliah ia akan menyambangi rumah sakit sampai malam.


“Sttt gak usah nanya-nanya.” Dira menjawab ketus, melewati abangnya agar pria itu tidak akan banyak menyadari ada yang berbeda dengan dirinya. Tapi itu hanya harapannya saja, karena Paul menangkap pakaian adiknya tampak basah.


“Itu baju kenapa?” tanyanya menahan lengan Dira untuk tidak kabur


“Keujanan.” Dira menjawab enteng dengan cengirannya.


“Ujan? Mana ada.” Ujar Paul merasa sedari tadi langit cerah, lalu langkahnya bergegas keluar.. “Jangan geser, mantep di sana.” Titahnya selagi langkahnya diayun menuju pintu.


Benar! Adiknya memang aneh.


“Tas kamu mana, trus mobil mana?” desak Paul menyeruduk pertanyaan pada adik tersayangnya.


“Aihhhhss bawel banget sih.” Sahut Dira sebal, ia juga bingung bagaimana menjelaskannya.


“Lihat abang, Dira.!” Paul mengeluarkan nada perintah pada Dira untuk menatapnya.


“Ck abang nih, please deh gak usah banyak tanya, aku sibuk.” Kilah Dira masih menghindari perintah Paul.


“Hei, jangan membantah kata abang.” Paul menjepit dagu Dira untuk menatap padanya secara paksa.


Melihat adiknya masih menolak menatapnya walau wajahnya sudah lurus menghadapnya, Paul menduga pasti penyebabnya.


“Kamu, dibully di kampus?” tebaknya, kondisi tubuh basah, terus aroma cairan pembersih dan kilauan minyak dibeberapa bagian kulitnya menjelaskan jika kejadian yang menimpa adiknya bukan hal sepele.


Dira diam, tapi kepalanya menggeleng, “Kamu bohong, tatap abang kalo memang jujur.” Paul tidak semerta-merta mengiyakan jawaban adiknya.


“Di mana kamu diganggu, di kelas? Kantin? Toilet?” rentet kalimat tanya Paul kembali dilayangkan pada


“Ah udah bang, aku mau ganti pakaian, dingin.” Sebisa mungkin Dira mengelak untuk menjawab semua tanya Paul. Bukannya ia ingin menjadi sok kuat, tapi ia tidak mau Paul terlalu ikut campur hal yang dirinya masih belum tahu letak masalahnya di mana, jika memang kesalahan itu berakar akibatnya maka ia tinggal meminta maaf, akan tetapi apabila orang itu menyerang tanpa sebab, maka ia akan membalas.


“Ya sudah, sana ganti baju dulu.” Melihat adiknya tampak kedinginan, Paul menahan diri untuk tidak menyerang Dira dengan tanya darinya.


“Masih mau ke kampus?” saat Dira menaiki undakan tangga, Paul terlebih dahulu bertanya pada Dira.


“Hmm.” Sahut Dira tetap berjalan.

__ADS_1


“Abang tunggu ya. Bareng kita, abang tunggu di mobil. Jangan nolak” Paul segera menuju mobilnya untuk menunggu Dira menjawab.


“Dasar abang posesif.” Cetusnya


Dira tidak berniat sama sekali untuk bolos kuliah. Ia masih punya waktu untuk berganti pakaian yang tidak memakan waktu banyak, cukup 15 menit dan kini Dira sudah duduk manis di kursi penumpang mobil Paul.


“Bang buruan, aku ada ujian nih.” Burunya pada Paul yang mengendarai mobil santai.


“Iya bawel.” Sahutnya, meningkatkan kecepatan agar sampai ke kampus.


“Makasih abang sayang.” Ucap Dira saat mobil Paul terparkir sempurna.


“Eh tunggu!!” Paul gegas menahan Dira yang sudah membuka pintu membuat gadis itu menoleh segera.


“Paan.” Sahutnya menahan pintu yang sudah terbuka dan kakinya sudah turun satu menjejaki parkiran


“Tunggu.” Mengambil beberapa barang miliknya dan mengikuti Dira yang sudah menutup pintu mobil.


“Ayo.” Dengan posesifnya, Paul merangkul pundak sang adik dan menyeret langkah bersama.


“Bang, lepas deh. Risih tahu.” Protes Dira menggerakan pundaknya agar tangan Paul turun segera.


“Dih risih, sama abang sendiri juga. Ayo abang anterin sampe kelas.” Tak mengindahkan permintaan Dira, Paul tetap mendaratkan tangan kekarnya dan semakin erat merangkul hingga decakan terdengar dari adiknya.


Di manapun Dira berkeliaran di kampus, pasti semua mata akan melirik padanya, meski sendirian sekalipun. Dan kini, mereka menangkap Dira lagi-lagi bersama pria yang merupakan most-wanted dan terkenal ke-playboy-annya untuk jurusan bisnis, dari awal masih menempuh S1 sampai S2 tetap menahan gelar pria itu.


“Gila, semua diembat.”


“Gue perlu tahu ilmu dia gaet cogan di kampus ini apa.”


Dira malas menajamkan matanya, karena tanpa itupun dia sudah tahu bibir julid itu pasti mengincar dirinya lagi, dan Paul paham, adiknya tak baik-baik saja berada di kampus. Apalagi mendengar gosip jika bukan dirinya saja yang pernah bersama sang adik, tentu membuat Paul ekstra pada Dira untuk dijaga dari sifat iri para mahasiswi.


Sampai tiba di kelas, Paul mengantar Dira sampai kursi gadis itu, mengelus puncak kepalanya, lalu melabuhkan kecupan di kening adiknya.


“Bilang abang kalo ada yang ganggu, paham.” Titahnya yang dijawab dehaman singkat oleh Dira.


“Bang, bagi kertas sama pulpen dong. Aku lupa sama peralatanku.” Ujar Dira meminta.


“Nih.” Paul menyerahkan tasnya sekaligus agar Dira bisa mengambil apapun di sana. Lalu setelah itu ia membalikan tubuh saat memastikan sudah banyak yang berkumpul di dalam ruangan itu.


Ia sadar dari awal masuk kelas banyak yang berbisik menggosipkan adiknya, mungkin setelah ini bisa menjadi tamparan bagi semua para gosipers di sekeliling itu.


“Dengar!!!!” ia berteriak untuk memancing perhatian, padahal dia diam saja orang sudah memusatkan perhatian.


“Dia adik gue, kalo sampe gue denger dia kenapa-kenapa karena kalian, maka gue akan langsung ngehajar kalian, siapapun itu.” Ia menekan kalimatnya, menyorot semua isi kelas itu dengan mata tajam dan suara tegas.

__ADS_1


__ADS_2