Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 140


__ADS_3

1 minggu setelah pertemuan Alexio dan Dira, mereka cukup intens berpapasan di rumah sakit, akan tetapi tetap dengan sikap canggung, belum santai satu sama lainnya.


“Alexio rutin terapi ya dokter?” tanya Dira pada dokter Doni yang tengah membaca file pada ipadnya


“Hmm iya, bahkan terkadang Alexio menghubungi saya untuk bertanya perihal yang dirasakannya.” Jawab Dokter Doni


“Mengenai kehadiran Xia, apa Alexio masih melihatnya?” ujar Dira penasaran, karena ia belum cukup percaya jika makhluk jadi-jadian itu sudah menghilang sepenuhnya.


“Baru-baru ini Alexio memberi tahu jika ia sesekali melihatnya, padahal waktu itu ia meyakinkan kita semua bahwa sosok Xia sudah tidak terlihat lagi.” Dokter Doni menatap Dira, tidak ada rasa kesal dirinya ditipu oleh pasiennya yang tidak jujur.


“Lalu bagaimana dok jika menurut dokter.” Tanya Dira


“Hanya Alexio yang bisa membuat Xia pergi, Dira. Karena sampai detik ini, Alexio tidak merasakan ada dorongan melakukan tindakan mencelakakan dirinya meskipun sosok Xia masih terlihat olehnya.” Jawab dokter Doni


“Maksudnya dokter?”


“Kehadiran Xia hanya sisa rasa bersalah Alexio saja, bukan lagi ketakutan atau trauma mendalam seperti dulu.”


“Artinya dokter?”


“Artinya, kehadiran Xia tidak membahayakan bagi Alexio, Dira.”


Satu jam setelah Dira berdiskusi dengan Dokter Doni, gantian Alexio yang kini duduk di hadapan psikiater tampan itu.


“Wah pasien tampan saya selalu tepat waktu sekarang.” Puji dokter Doni menyambut kehadiran Alexio di ruangannya, beberapa perawat memang cukup mendapat penyegaran setiap pasien seperti Alexio berkunjung.


“Bagaimana perasaanmu, Alexio?” tanya dokter Doni saat Alexio sudah duduk.


“Baik dokter, sangat baik.” Jawab Alexio sudah ramah.

__ADS_1


Seperti biasa, dokter Doni membuka lembaran catatan riwayat medis Alexio dalam jurnal serta berkas miliknya. Saling bertanya untuk mengetahui perkembangan pasiennya sejauh ini sudah sampai kemana.


“Jadi apa yang harus aku lakukan agar Xia pergi dokter.” Tanya Alexio di sela konselingnya.


“Kunjungi tempat di mana kau bertemu dengan Xia, Alexio.” jawab dokter Doni


“Tempat kami bertemu?” ujar Alexio bertanya


“Iya, di lokasi kejadian itu, rumah lama kalian dan juga danau. Ajak Xia berbincang, dan lepaskan semua kesedihanmu, rasa bersalahmu di hadapan Xia.” Dokter Doni menjelaskan panjang lebar solusi yang bisa dilakukan oleh Alexio.


“Dan setelah itu....?” Alexio ragu melanjutkan kalimatnya.


“Kau akan melihatnya Alexio, jika kau benar-benar merelakan semua rasa lukamu pergi dan menggantinya dengan menghadapi hal itu bersama kenangan terbaikmu, Xia akan mengerti ketulusanmu.” Jawab Dokter Doni meyakinkan keraguan Alexio yang diam mencerna kalimat psikiaternya.


“Bukankah kau ingin memulai hidupmu bersama orang-orang yang kau cintai, kan?” pungkas dokter Doni yang dibalas Alexio dengan tatapan berisi jawaban tegas berupa iya.


.


.


.


“Kau tahu Xia, aku sungguh sangat berterima kasih Tuhan mempertemukan kita meskipun hanya aku yang bisa melihatmu.” Seloroh Alexio memulai percakapannya.


Alexio menatap Xia yang juga tengah melihatnya, tapi bocah usia 11 tahun itu tak menanggapi satu kalimat pun walau Alexio bertanya padanya.


“Kau menemani kesendirianku, masa-masa aku sedih, dan juga menjadi teman bicara dikala aku menahan luka yang begitu perih.” Kembali Alexio berucap.


“Jika diulang sekali lagi, aku tidak tetap akan mensyukuri kehadiranmu, Xia.” Alexio menyentuh jemari Xia dan menggenggamnya erat serta lembut.

__ADS_1


“Terima kasih sudah menjadi temanku, tapi kau tentu tahu jika aku harus melanjutkan hidupku setelah ini bersama seseorang yang sudah menungguku lama.” Tatapan sendu dilayangkan Alexio untuk Xia yang tetap berekspresi lembut.


“Kau adalah perwujudan rasa luka, bersalah dan ketakutanku akan masa lalu kelamku, sementara seseorang yang sudah menungguku adalah sosok nyata yang juga memberiku kekuatan menghadapi masa laluku.” Harap Alexio, setiap penggalan katanya bisa tersampaikan pada Xia.


“Maka dari itu, terima kasih untuk kehadiranmu Xia, dan mari kita akhiri pertemuan kita agar aku bisa melanjutkan hidupku yang baru bersama sosok yang nyata untukku.” Pinta Alexio dengan senyum teduhnya.


Pelan, potongan-potongan kata Alexio hanya ditanggapi buliran air mata dari sosok bernama Xia, bocah yang ditemuinya beberapa tahun lalu setelah ia pulang dari Australia di jalan tempat kejadian perkara Alexia bersama dirinya serta ibunya mendapat kecelakaan.


Di sana pula, Alexio memulai hubungan tak masuk akal, menjalin pertemanan dengan Xia yang hanya dirinya bisa melihat bocah itu. Dan selama beberapa tahun pula akalnya menjadi buta karena kondisi mentalnya mendukung keberadaan Xia atas dasar masa lalu kelamnya.


Tapi, mengenal Dira, menjalani beberapa terapi, Alexio menyadari jika Xia, bocah yang dikenalnya yang tidak pernah bertambah usia itu mulai menumbuhkan kepercayaan pria itu bila Xia tidaklah nyata.


Dan kini, keberaniannya, ia melepas Xia agar bisa mengejar mimpinya yang sempat tertunda, bersama orang yang sudah lama menunggunya dalam jalinan rindu, Dira Kairan Ladh.


Dan Alexio tidak mau waktunya tersia-siakan, dan wanitanya tercuri oleh pria lain dan justru membuatnya menyesal karena terlambat.


“Terima kasih Xia. Aku harap setelah ini, bisa menata hidupku yang baru dengan warna lebih cerah lagi.” Alexio berharap penuh ketika perlahan-lahan bayang bocah cantik itu mulai menghilang dari pandangannya.


Tanpa disadari Alexio, titik air mata sudah melalui pipinya dengan kurang ajarnya. Tapi ia tak malu sama sekali, selain sekitar sepi, ia memaklumi itu adalah momen hidupnya.


“Aku.... aku membuat Xia.... membuat Xia pergi...” Alexio kesulitan mengatur nafasnya, jika saja ia perempuan tentu akan mengganti hal itu dengan isak tangis. Tapi tidak mungkin karena ia tengah berbincang dengan seseorang diseberang telepon.


“Iya, baik dokter, baiklah.” Ia menarik nafas atas perintah seseorang yang tak lain dokter Doni, psikiaternya selama ini.


Tak mudah bagi Alexio melakukan perbincangan dengan Xia yang menempel padanya, karena sosok itu dibuat oleh Alexio sendiri, bukan makhluk tak kasat mata seperti hantu.


Maka dari itu, Alexio kesulitan mengusir makhluk buatannya sendiri ketika luka, sedihnya masih belum hilang semuanya. Tapi karena ia ingin melanjutkan hidup, maka dengan kemauan dan kesadarannya, ia harus bisa menyadarkan akal sehatnya jika Xia adalah ciptaannya yang tak boleh diberikan ruang dalam hidupnya lagi.


Jika membiarkan hal itu terjadi maka selamanya ia tak akan bisa menjalani kehidupan yang normal layaknya orang lain, dan dicap sebagai orang dengan mental tak sehat selamanya. Dan Alexio enggan hal itu menjadi cap dirinya.

__ADS_1


“Setelah ini, aku harap bisa dengan percaya diri menemuimu lagi, Dira.” Ucap Alexio pelan dan masih tersisa kesedihan di wajahnya.


“Aku tidak mau seumur hidupku melihat rasa kasihan dimatamu, selain cinta.” lanjutnya


__ADS_2