
Entah kekuatan karena dirinya terpicu emosi yang terpendam begitu lama dan dalam, Andriana bangkit dari posisi duduknya.
“Aku akan membunuhnya!!!” langkahnya memburu disertai hembusan nafas tak sabaran menuju Suprapto.
“Lindungi aku!!” teriak Suprapto melihat Andriana menghampirinya tidak dengan tangan kosong.
Sigap, anak buahnya masih memiliki loyalitas pada sang majikan, mereka mengerubungi tubuh renta itu agar tidak terkena amukan wanita sandera mereka.
“Minggir, atau kalian juga aku bunuh!” Ancam Andriana, matanya berkilat penuh marah melihat tengik-tengik pasukan Suprapto melindungi.
“Tetap berjaga, jangan pergi. Awas kalian.” Balik Suprapto mengancam anak buahnya.
“Andriana, hentikan, jangan.” Linda berlari menuju Andriana. Dan Bisma juga mengikuti, sementara Hiro mendekati puteranya yang terduduk bersandar anak buahnya.
“Kau tidak apa-apa, Dome?” tanya Hiro terlihat khawatir dengan putera semata wayangnya.
“Hmm, pewaris Yakuza tidak akan mudah mati begitu saja.” Jawab Dome angkuh.
Hiro terkekeh mendengar pernyataan puteranya, “Bagus, memang seperti inilah seharusnya kau, nak.” Hiro menepuk pundak Dome dengan rasa bangga. Mau menangis haru tidak mungkin, banyak pasang mata apalagi anak buahnya yang menyaksikan hal itu.
“Lama sekali sih acara drama ini. kalau aku, sudah aku tembak saja kakek-kakek tua itu.” Gemas Dome melihat Suprapto masih bernafas sejak tadi.
“Tunggu dulu, keluarga Bisma memang lemah sepertinya, lebih banyak menangis daripada bertindak membalas.” Timpal Hiro
“Betul itu. Sini aku gantikan, tak perlu membalas, asal bisa cepat pergi dari sini. Bosan.” Keluh Dome kemudian.
“Haruskah kita ambil alih?” Hiro terlihat tertarik akan ide Dome.
Ayah dan anak itu memang terlihat menatap layaknya orang lain pada drama keluarga di hadapannya, namun siapa sangka, apa yang tersembunyi di dalam otak mereka berdua.
“Linda, kau tidak akan mengerti apa yang aku rasakan, karena kehidupanmu damai saat kau mendapatkan orang tua angkat, kan?” Andriana mencibir upaya Linda yang ingin mencegah dirinya melayangkan balok kayu yang memiliki paku berkarat di ujungnya.
Linda menggeleng, “Bukan begitu, Andriana.” Ujar Linda lirih.
“Jika kau melakukannya, maka sama saja kau sepertinya.” Lanjut Linda mengingatkan tindakan Andriana yang tak ubahnya Suprapto.
Andriana mendengus mendengar kalimat bijaksana Linda, “Aku tidak peduli, mau aku berubah menjadi iblis pun, aku tidak peduli, asal dia mati ditanganku.” Tolak Andriana masih enggan menuruti kehendak kembarannya.
“Andriana, dengarkan Linda.” Kali ini Bisma yang mencoba mengambil alih perhatian Andriana yang masih diliputi emosi itu.
Wanita yang pernah menjadi masa lalu Bisma itu menoleh ketika namanya disebut, “Kau jangan ikut campur.” Andriana mengangkat telapak tangan kanannya mencegah Bisma yang ingin menghalangi.
__ADS_1
Bugh
Bugh
Bak kesetanan, Andriana tak mau tanggung, ia libaskan balok kayu yang dibawanya ke bagian kepala anak buah Suprapto yang menghalanginya.
Tidak hanya lebam yang mereka dapat, tapi luka yang mengeluarkan rembesan darah menciprat akibat sudut balok serta paku berkarat mengenai mereka.
“Tahan wanitaa gila itu!!!” teriak Suprapto, matanya membelalak hebat melihat aksi liar Andriana menghajar anak buahnya yang tak berdaya dihadapan wanita itu.
Padahal sebelumnya, Andriana tak ubahnya wanita lemah, tapi kini ia menjelma menjadi wanita super dengan tenaga tak habisnya.
“Minggir jika kalian tidak mau mati!!!” Ancam Andriana memberikan peringatan kembali pada anak buah Suprapto.
Merasakan ancaman melebihi yang awal, gerombolan pria yang menjadi barikade Suprapto sontak berhamburan mencari keselamatan masing-masing.
“Sialan, kembali kalian!!!” teriak Suprapto memberikan perintah pada mereka. Tapi hanya udara kosong yang menjawab ketidakberdayaan kakek tua tak waras itu.
Glek
Saliva Suprapto mendadak tersangkut enggan turun membasahi tenggorokan. Matanya terkunci oleh Andriana yang masih betah dengan tatapan tajamnya.
“Kau, urusan kita akan berakhir malam ini.” Seringai puas tersungging di sudut bibir Andriana. Rasanya ia akan memakan Suprapto hidup-hidup tanpa sisa.
Dor!!!
Semua mata terbelalak, termasuk Andriana sendiri yang sudah sedikit lagi menjangkau tubuh Suprapto.
“Syuh.... kalian terlalu lama memainkan drama. Aku bosan.” Suara keluhan itu keluar dari mulut putera semata wayang Hiro. Dome. Ia yang melayangkan peluru kearah Suprapto. Tepatnya mengenai pundak kakek itu.
“Kau ini,.... tapi, bagus, papa suka caramu.” Tanggap Hiro, tak ada sedikitpun raut marah yang muncul dari wajahnya akan tindakan main hakim sendiri dari Dome.
“Jangan terlalu lama dengan drama, atau setidaknya jangan ada aku di sini. Memalukan sekali seorang mafia kejam harus terlibat dalam tontonan kalian.” Decak Dome merasa geli dengan tingkah keluarga Alexio yang main tarik ulur sedari tadi.
“Bocah sialan!!!!” maki Suprapto dengan suara kerasnya.
“Hei kau yang sialan kakek tua. Nikmati dulu rasa sakitmu itu, sebelum aku dor kepalamu.” Jawab Dome songong dan angkuh.
“Kau diam, jangan ikut campur.” Tahan Alexio, ia memang tidak menyukai drama orang tuanya, tapi ia juga tidak menyukai aksi koboy Dome tadi.
Sejenis Suprapto harusnya tidak dibiarkan mati cepat, lebih pantas dibiarkan tersiksa hingga mati lebih menarik bagi pria itu ketimbang hidup.
__ADS_1
“Aku tidak tahan woy! Makanya aku memilih begitu.” Balas Dome sebal.
“Aku tidak mau iblis tua itu mati cepat.” Sahut Alexio dingin.
Mendengar ucapan Alexio, pikiran Dome melesak terkoneksi cepat jika berkaitan dengan yang namanya menyiksa. Toh Yakuza identik dengan hal seperti itu.
“Kau mau ku ambil alih pria itu? Sini biar Yakuza saja yang menyiksanya.” Tawar Dome dengan wajah malaikatnya.
Namun penuh rayuan iblis di dalamnya.
Alexio menoleh. “Maksudmu?”
“Biar aku yang menyiksa tua bangka itu. Kau pasti senang dengan jasa yang kami berikan.” Ucap Dome penuh jaminan.
Di saat mereka melakukan transaksi gila tersebut, Andriana kembali liar, ia menyentak balok kayu tadi tepat ke arah kepala Suprapto.
Brak!!!
Suara keras memenuhi telinga orang di sana, “Andriana!!!” pekikan dari Linda menjadi pusat perhatian semua orang.
Darah mengucur disertai teriakan kesakitan dari mulut Suprapto membuat ringisan dirasakan siapapun di sana.
“Lepas, sudah, biar kami saja yang melenyapkan nyawa orang ini.” ucap Linda memeluk tubuh Andriana.
“Tidak, kau tidak tahu seberapa banyak luka yang ia torehkan padaku. Anakku, hidupku, dan kita serta orang-orang yang sayang padaku semuanya hilang karena ulahnya.” Teriak Andriana memberontak dalam rengkuhan Linda.
“Jangan kau kotori tanganmu untuk pria iblis ini.” Linda memohon kembali.
Andriana menggeleng, “Aku tidak sudi jika kalian menyerahkan pada pihak berwajib.”
“Siapa bilang ia akan di penjara, akan kita lenyapkan hidupnya bahkan namanya pun tidak akan ada yang mengingatnya lagi.” Jawab Linda memberikan solusi yang membuat Andriana menjatuhkan balok kayunya.
“Ia akan dibunuh juga kan?” tanya Andriana yang dijawab anggukan kepala oleh Linda penuh keyakinan.
Tapi lagi-lagi, inilah yang paling dibenci Dome, drama, kelamaan ngobrol gak jelas yang memicu Suprapto mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk membalas.
Brak!!!
Balok kayu yang tadi terlepas dari genggaman Andriana kini bersarang ke punggung wanita itu, dan pelakunya adalah Suprapto.
“Arghhhh.” Bergantian Andriana yang menjerit kesakitan, dan Suprapto berusaha terseok-seok menggeret tubuh yang tadi dipeluk Linda sudah dalam tarikan Suprapto.
__ADS_1
“Jangan mendekat.. atau kepalanya ku hancurkan dengan kayu ini.” ancam Suprapto menggarang
“Kan, itulah kenapa aku menembaknya tadi, kalian terlalu suka dengan adegan drama televisi sih!” sindir Dome kemudian.