Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 19


__ADS_3

“Bar.”


“Hmm, paan.” Mengunyah bakwan berikut rawit, Barry dan Andi santai di kantin belakang sekolah, terlihat beberapa anggota geng mereka namun jarak duduknya cukup jauh.


“Lo,,, lo ngerasa ada yang aneh gak kalo berdua aja sama Alexio.?” Tanya Andi


“Aneh? Aneh gimana? Jelas-jelas, Andi..... wahhhh pedes banget.” Pekik Barry saat dirinya diserang sensasi pedas di dinding mulut dalamnya.


Meraih es segar sarX yang ada di atas meja,,,, meringankan rasa pedas yang tadi menyerangnya.


“Dudil deh, makan cabe ya jelas pedes lah.” Cibir Andi menggelengkan kepala melihat tingkah Barry.


“Hwahhh, pedes.... eh, tadi ngomong apaan sih, lupa gue.” Mengelap liur yang sempat menetes diujung bibirnya, Barry lupa akan tanya Andi tadi.


“Selama lo berduaan sama Alexio, atau pas sama Alexio, ada yang aneh gak sama tuh bocah, kayak ngomong sendiri.” Tanya Andi lebih jelas.


Barry mengerucutkan bibirnya dan matanya berputar, sementara otaknya lagi diajak jalan, mengingat-ingat maksud Andi.


Menggeleng, “’Gak ada tuh.” Jawabnya


“Lah, terus kata lo waktu itu yang ngasih tau Alexio telponan padahal hpnya lowbate.??” Andi mengingatkan Barry akan cerita pemuda itu tempo hari.


“Oh iya, nah itu, ya ampun gue lupa ya.. hehehe.” Kekehnya.


“Lo itu salah kelas deh, bisa-bisanya masuk kelas unggulan.” Decih Andi menggelengkan kepala melihat kekuatan otak Barry yang standar harusnya tapi kenyataannya masuk 10 besar.


“Jadi gimana waktu itu, kok bisa lo cerita kayak gitu.?” Ulang Andi


“Gini nih, kan harian itu gue ikut Alexio balik balapan. Gue kan mau pinjem hapenya buat ngegame karena gue sayang baterai gue dong, maklum gak bawa charger.” Barry mulai bercerita.


“Terus.” Timpal Andi sabar.


“Kata Alexio hapenya mati, dia gak bawak charger juga katanya. Ya udah gue bengong aja, untuk mobil doi bagus jadi musiknya uptodate semua, bosen tapi gak terlalu jadinya.” Lanjut Barry panjang lebar.


“Ya terus gimana, bisa gak sih rangkum aja, gak usah masukin kisah lo.” Andi mulai bersungut.


“Sabar.” Cibir Barry.


“Ya ya ya. Terus.” Tahan Andi bersabar


“Gue kan lihat sendiri tuh hape beneran mati. Eh gak lama, si Alexio angkat telpon.” Lanjut Barry dengan raut gusar.


“Terus terus.” Sahut Andi.


“Ya dia ngobrol ketawa-ketawa gitu.” Heboh Barry namun nada bicaranya pelan. Hanya ekspresi wajahnya saja yang di tekannya.


“Gak lama itu, ya gue ambil lagi hapenya. Mastiin tuh bocah pelit banget sama gue timbang pinjem hape doang, kan?” sambung Barry.


“Hah, iya, terus.” Tuntut Andi


“Nah itu dia masalahnya.” Raut horor pun ditampakkan oleh Barry, mencondongkan wajahnya lebih mendekat ke Andi, lalu menoleh ke kiri kanan terlebih dahulu memastikan tidak ada yang akan mencuri dengar.

__ADS_1


“Hapenya mati cuy.” Lanjut Barry pelan.


“Udah di cek bener-bener?” tanya Andi


“Iya, gue malahan tanya ke Alexio, dia ngapain tadi, eh dijawabnya telponan. Ya gue tanya bukannya hp dia mati, eh dia malah jawab mungkin.” Lanjut Barry.


“Padahal gue cek sebelumnya kan mati, pas di udah telponan ya cek lagi, itu hape masih dingin, karena gak ada tanda-tanda energi baterai.” Ujar Barry.


“Selaen itu ada lagi gak?” sahut Andi


Barry memikirkan lagi...


“Ah ada. Masjh di hari yang sama.” Sambungnya.


“Hari yang sama? Apa?” tuntut Andi mulai tak sabar


“Jadi malem itu Alexio dateng ke rumah besar, katanya nemuin temennya. Tapi itu masalahnya.” Jawab Barry.


Andi mengerenyitkan dahinya bingung.


“Apa?”


“Rumah yang katanya punya temennya, itu kan rumah lama dia dulu. Yang gak ditinggalin lagi.” Jawab Barry tak percaya.


Rumah itu memang masih ada securitynya, bagian bersih-bersih pun ada tapi hanya pagi saja. Makanya ketika malam, rumah itu cenderung remang-remang karena tak bertuan. Sudah lama sekali tidak dihuni keluarga Bisma Suprapto.


“Ya Tuhan!!!” ucap Andi frustasi


“Kenapa sih??” Barry masih belum paham arah obrolan mereka.


Dua hari setelah itu, Alexio diperbolehkan pulang, bertepatan dengan hari peringatan kematian kembarannya yang memang rutin di adakan secara privasi oleh keluarga intinya saja.


“Aku sibuk ma, pa. Gak bisa dateng.” Tolak Alexio di kediaman utama orang tuanya. Ia sudah bersiap akan kembali ke apartemennya saja.


“Kenapa? Kamu selalu menolak memperingati kematian Alexia. Kenapa? Apa karena kesalahpahaman itu?” tanya Bisma tak percaya.


Alexio melenggang pergi, keperluannya sudah selesai, jadi ia sudah siap pulang.


“Alexio.!!!” Panggil Bisma meninggi, tapi diabaikan begitu saja.


“Sabar pa.” Linda mengelus lengan suaminya, mereka memang hanya memperingatinya dengan berkunjung ke pemakaman saja, meski mereka juga sering berziarah di hari biasa.


Tapi memperingati dengan datang bertiga, lebih dirasa sakral agar kembaran Alexio tidak merasa sendiri di sana.


Malamnya....


“Bos.” Satu orang pengawal menghampiri Bisma yang berada di taman belakang.


“Ada apa?” sahut Bisma dengan nada bertanya.


Pengawal itu memberikan ipad-nya lalu menunjukkan video kepada Bisma.

__ADS_1


Melihat video itu, Bisma menarik nafasnya dalam-dalam. Sesak. Itulah gambaran ekspresinya...


Alexio tak pergi ke apartemennya, Ia malah pergi ke tempat yang sama, rumah lama keluarganya dan mengurung diri di sana. Menghancurkan CCTV dan menutup diri dengan kegelapan.


“Alexio,, kamu kenapa nak.” Ucap Bisma sedih melihat tingkah aneh puteranya kembali.


.


.


.


Keesokan harinya....


“Apa? Mau nantangin gue lagi??” Dira yang berpapasan dengan geng kamPREETY langsung memberi tatapan membunuh.


“Dih geer lo.” Jawab Sintia mendecih. Melenggang sembari membenturkan bahunya ke bahu Dira.


“Wah... lo...” Merasa diganggu, sontak Dira meraih rambut panjang Sintia dari belakang dan menariknya membuat ketua geng Preety itu memekik seketika.


“Awwwwwww, sakitttt!!!!” teriak Sintia.


Jena dan Rena otomatis membantu temannya dengan melepas genggaman Dira pada helaian rambut Sintia.


“Lepas!!!” teriak Sintia geram namun ditulikan oleh Dira.


“Lepasin,,,,” perintahnya namun dijawab Dira dengan tarikan lebih kencang.


“Minta baek-baek, baru gue lepas.” Titah Dira tegas.


“Tolong lepasin Dira.” Itu suara Rena dan kemudian Jena.


“Oo, rambut kalian mau ditarik juga? Gue kan minta tu curut yang ngomong, bukan kalian.” Dira menarik kembali rambut itu, ia yakin pasti di sela jemarinya sudah tersangkut banyak rontokan rambut Sintia.


“Oke, fine, tolong lepasin rambut gue, Dira.” Mengalah, Sintia memohon, yang gegas di lepas Dira, lalu dengan santai meninggalkan ketiga kuntilanak pohon asem itu.


“Awas aja, kita balas itu cewek.” Geram Sintia mendendam, memandang punggung Dira yang seolah angkuh mengejek mereka bertiga.


Malamnya....


Dira yang menjadi pacar Jonathan mendapat angin segar, mampu kemanapun dengan alasan bersama pemuda itu. Padahal tujuannya jelas ke arena balap liar.


Dan di sinilah dirinya... bersama Jonathan yang sibuk bersama anggota gengnya, sementara dirinya masih duduk di jok mobil dengan pintu terbuka.


“Ngapain tuh orang?” Dira menangkap siluet yang ia kenal.


Alexio...


Tapi...


Tapi...

__ADS_1


“Dia sama siapa? Kok?” tatapannya bingung, Alexio sendiri, tapi kenapa dirinya tertawa dan berbincang? Padahal saat itu ia sendirian di atas motornya yang terparkir.


Dira, menyadari keanehan yang dilihat dari diri Alexio. Ia beberapa kali menyaksikan pemuda yang masih mengisi penuh hatinya itu, melakukan hal seolah ia bersama orang lain.... padahal dalam penglihatan Dira..... Alexio hanya sendiri. Tak ada siapapun yang harusnya berbagi tawa atau senyum dengan pemuda itu, tapi..... yang dilihatnya, justeru berbanding terbalik dengan yang dihadapi oleh Alexio. Karena dirinya tertawa, bercanda, tersenyum..... bersama Xia.


__ADS_2