
Alexio menjalankan kuliah hanya kamuflase dirinya yang harus bertingkah seolah menyibukkan diri dengan keseharian yang terkesan normal, saran dari ayahnya tentu disambut baik, masuk ke kampus ternama, untuk bisnis ia tetap andil hanya saja melimpahkan kewenangan kepada dua sahabatnya, Barry dan Andy. Kedua orang itu memang juga berasal dari kalangan anak pebisnis, hanya saja levelnya biasa, dan ada saudara mereka yang lebih menguasai ketimbang mengajak adik-adik mereka terlibat dalam bisnis keluarga.
Jadi dengan mudahnya Alexio mengajak Andy dan Barry memegang kendali cabang dari perusahaan Bisma dan Alexio hanya bertindak memantau dari belakang layar. ia terlalu sibuk untuk memikirkan perusahaan ayahnya. Toh kalau bangkrut tidak akan parah, ada kakeknya yang menyokong, bukan?
“Kemana kau wanita durjana. Aku harap kau masih hidup.” Alexio sudah menempelkan foto wanita yang dipastikan adalah bagian tersangka itu. Wajah Suprapto sudah terpampang setelah wajah Ladh di sampingnya. Dan ada Bisma berikut Dira juga diletakkan di kaca besar tipis itu. Entah dasar apa ia menaruh Dira di sana, apakah ia akan menyiksa puteri Ladh dalam misi balas dendamnya?
“Kau sudah ku bilang, menyesal-lah terlahir dari bagian Ladh. Karena, setelah ini kau adalah orang pertama yang aku siksa.” Gumamnya menatap foto Dira begitu lama dan wajah dinginnya.
Keesokkan harinya....
“Kau tahu baby, aku akan satu gedung denganmu.” Dome yang kini duduk manis di sebelah Dira sedari tadi mengusik kefokusan gadis itu mengemudi.
“Hei baby.” Panggilnya setelah tak mendapat sahutan dari Dira.
“Kau berisik sekali sih, Dome. Aku sedang menyetir.” Gerutu Dira melirik sekilas pada remaja itu.
Pagi-pagi sekali ia sudah disuguhkan dengan kedatangan Dome ke rumahnya. Ia duduk dengan manis bersama Ladh di ruang tamu, beralasan sebagai pasien berikut menjadi teman sekampusnya sekarang dan Ladh tidak masalah menerima anak dari Hiro Taoka itu.
Entah bagaimana bisa Dome malah memilih berangkah kuliah justru dari rumah Dira, padahal jika memang mau harusnya tidak langsung saja menuju kampus, toh jika tidak tahu ada sopir yang melayani tuan muda itu ke kampus.
“Jangan marah-marah dokter. Tidak baik bagi mentalmu.” Tegur Dome sok menasihati, padahal dialah sumber utama kegemasan Dira saat ini.
“Kau itu, besok-besok berangkat sendiri.” Balas Dira mencibir.
“Aku kan tidak tahu alamat kampusnya, dokter.” Ucap Dome lirih, drama sekali bocah ini.
“Heh, kau bisa minta antar sopirmu, atau pakai jasa taksi, Dome. Kau bukan hidup di zaman purba.” Dira tak begitu saja menerima alasan konyol Dome. Lucu.
“Tapi ayahmu setuju saja kok.” Balasnya
“Tapi aku tidak.” Dira tak mau kalah.
“SStttt sudah sudah, kau fokus saja menyetir, berbahaya jika terlalu banyak bicara.” Nah, lihatlah celetukan dari bocah tengil itu. Ia malah menasihati Dira agar fokus menyetir. Padahal dari tadi yang mengusik adalah dia.
__ADS_1
“Errhh kau. Jika bukan pasien saja sudah aku tendang kau sekarang.” Dira menarik nafas, ia harus mengembalikan kewarasannya menghadapi pasien satu ini.
“Nah, aku sudah melukis untukmu lagi dokter.” Baru saja ia mengingatkan agar Dira fokus menyetir, sekarang dengan santainya ia menyodorkan lukisan karyanya pada Dira, bahkan dengan jahilnya ia menempelkan gambar itu di dashboard agar jelas terlihat oleh Dira.
“DOMEEEEE!!!!!!” pekik Dira melihat karya Dome yang jeli sekali menggambarkan kelamin perempuan yang ditujukan pada Dira tentunya.
.
.
.
“Duh kebelet.” Dira bergegas memasuki toilet wanita di ujung lorong tak jauh dari kelasnya berada. Sedari tadi ia sudah menahan kandung kemihnya yang perlahan penuh dan beruntungnya setelah 5 detik dosen keluar dari ruangan, ia berlari untuk segera mencapai toilet.
“Hufft lega.” Dira menghela nafas kala ritualnya selesai.
Ceklek.
Ceklek
Ceklek
“Apakah ada yang iseng lagi?” tapi sedari ia berdiam di dalam toilet, tidak satupun suara yang menyergap pendengarannya.
“Apakah pintunya rusak?” gumamnya berpikir
Bukan Dira namanya jika tidak bar-bar. Ia menaiki toilet duduk lalu melirik ke bilik satunya.
“Arghh bisa encok kalo lompat.” Desahnya frustasi.
“Bentar. Cek dulu, kuat gak ini pembatas nahan tubuh aku ya.” ia mencoba memeriksa daya tahan dinding pembatas antar toilet ini. dirasa aman, Dira dengan santainya menaikan kakinya untuk mendudukki pembatas yang memiliki ketebalan 8 cm. Coba saja menyerupai toilet umum yang hanya memiliki ketebalan dinding 2 cm, bisa dibayangkan bagaimana ia duduk di atasnya.
Setelah berhasil duduk, ia kembali berusaha untuk menjangkau toilet duduk, mengupayakan meringankan tubuh seminim mungkin agar toilet itu tidak kaget saat tertimpa tubuhnya.
__ADS_1
Hap!
“Pelan, pelan... oke....” menahan nafas sembari tubuh diusahakan ringan, kini kaki Dira berhasil menapak di toilet duduk. Masih berpegangan pada dinding, Dira sudah berdiri penuh di atas toilet lalu menahan nafas kembali dan melompat ke bawah.
“Hah, syukurlah, gak salah aku bukan cewek anggun.” Ia menghela nafas lega
Dira menarik handel pintu tersebut lalu bersiap keluar. Tapi, baru saja kakinya melangkah....
Brak!!!
“Arrghhh.” Pekiknya merasakan pinggulnya mendarat di lantai, matanya membelalak sempurna manakala tatapannya menyusuri sekitar yang...
“Ya Tuhan.... perbuatan siapa ini!!” Erangnya yang menduga jika ini memang disengaja, dan pasti ia menjadi target ulah jahil orang tak diketahui siapa pelakunya
“Sialan!!” makinya berusaha berdiri, tapi apadaya, ia kembali terjerumus bahkan wajahnya yang bergantian menyapa lantai licin itu.
“Siapapun itu, akan aku balas kalian.” Ucapnya berjanji. Berulang kali ia berusaha untuk sekedar duduk saja harus gagal pula berkali-kali. Lantai ini bukan hanya disiram cairan pembersih, tapi ada tekstur minyak yang dicampur. Lantai putih tidak bisa Dira tangkap hal aneh ketika mengintip dari atas tadi.
Pintu toilet tempatnya terkurung tadi juga dikaitkan sesuatu di sana, ada jepit rambut yang menahan untuk percobaan membuka toilet yang pasti bisa terbuka jika diulang sebanyak 10 kali. Karena letak jepit itu sudah nyaris jatuh. Hanya saja karena Dira terlalu ingin berlaku action, maka pilihannya malah melompati dinding.
Dira menginstirahatkan tubuhnya yang sudah jengah bolak balik mencoba berdiri tapi selalu gagal. Mencari cara agar ia bisa bangkit setelah ini.
“Heran, kenapa sudah 15 menit belum ada yang nongol ke kamar mandi sih? Tumben.” Gerutunya, sejak ia masuk sampai sekarang tidak ada tanda-tanda yang masuk ke dalam. Sekedar menyentuh handel pintu luar saja tidak ada.
Saat ia sibuk bertarung dengan pikirannya menduga siapa pelaku yang membuatnya terkurung di kamar mandi, telinga dibuat kaget saat suara dobrakan pintu itu terdengar.
Brak!!
2 kali, butuh 2 kali saja pintu sudah terhempas ke dalam
“Dira!!!” itu Alexio, ia tertegun menangkap tubuh Dira yang terduduk di lantai dengan sebagian pakaiannya basah. Tanpa berpikir lama, ia mengorbankan jaket mahalnya untuk dijadikan lap lantai agar ia bisa menjangkau Dira.
“Ayo!” tak butuh persetujuan gadis itu, tubuh Dira sudah melayang dan di dekap dalam gendongan Alexio, keluar dari kamar mandi laknat yang membuatnya memaki sedari tadi.
__ADS_1
Aksi Alexio yang membawa dirinya menyusuri koridor kampus membuat semua pasang mata berjenis kelamin wanita sontak menyorot dengan hati berdenyut iri, karena lagi-lagi mahasiswi baru di gedung itu mampu memikat salah satu pria idaman di kampus mereka.