Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 57


__ADS_3

“Al.” Linda merengkuh pundak puteranya, terisak di sana.


“Ikut terapi bersama dokter Doni, Alexio.” Titah Bisma memutuskan.


Alexio hanya diam, ia enggan berkomentar apapun saat ini. Entah setelah melihat video, ia kehilangan kemampuan berbicaranya.


.


.


.


“Pa.” Linda memanggil suaminya saat baru saja menggapai handel pintu kamar.


Saat ini mereka sudah kembali ke rumah utama.


“Sudah sayang, jangan mengatakan apapun lagi.” Sahut Bisma


Ceklek


“Aku tak mau memasukan puteraku ke rumah sakit, dia tidak GILA!!!!” pekik Linda


Bisma mengabaikan dan masuk ke kamar


Bump!!!!


Pintu dibanting keras Linda.


“Sayang, sudah, aku letih.” Ujar Bisma, berbalik dan menatap sang istri yang berurai air mata.


“Pa.” Lirih Linda, merosot hingga terduduk di atas lantai.


Bisma menghela nafas lelahnya lalu beranjak mendekati istrinya, berjongkok dan meraih tubuh itu untuk didekapnya.


Isak tangis Linda pecah. Pilu


“Serahkan semua pada dokter Doni, ma. Demi kebaikan Alexio, putera kita, anak kita satu-satunya.” Tutur Bisma menahan sesak


“Putera kita tidak gila, hanya saja kejiwaannya terganggu, jika kita menghambat dan bersimpati padanya, maka bisa dipastikan ia akan lebih parah lagi.” Lanjutnya.


Linda hanya menjawab dengan sesenggukkan, ia hanya pasrah dengan keputusan Bisma yang menyatakan jika putera mereka akan dirawat di rumah sakit di bawah pengawasan psikiater.


Dengan diagnosa skizofrenia (Schizoprenia)


Keesokan harinya...


Rumah sakit Ladh


“Apakah Alexio sudah bersedia mendapatkan perawatan, pak Bisma?” tanya dokter Doni di ruang kerjanya.


Bisma hanya diam. “Alexio belum memberikan jawaban, tapi saya tetap akan membawanya ke rumah sakit dokter.” Jawab Bisma


“No, anda tidak boleh langsung membawanya tanpa mendapat persetujuan Alexio, pak Bisma.” Saran dokter Doni


“Penyakit yang diderita Alexio, harus diterima dirinya langsung, kesembuhannya hanya melalui dirinya sendiri, atas dasar keinginannya, bukan karena dipaksa.”


“Dan, penyampaian gejala-gejala aktif yang diderita Alexio harus disadarnya sendiri, bukan kita paksa. Karena....” Dokter Doni menatap serius tepat ke netra Bisma.


“Karena apa dok?” cemas Bisma

__ADS_1


“Jika Alexio dipaksa menerima bahwa gejala-gejala aktif itu, maka dikhawatirkan akan berdampak pada mentalnya sendiri.” Jelas dokter Doni


“Saya pernah menangani kasus seorang istri yang memiliki suami tidak nyata selama 20 tahun. dan butuh waktu 5 tahun untuk menyadarkan pasien tersebut bahwa suami yang hidup bersamanya tidak ada, dan atas kesadaran otaknya, pak Bisma.”


“Akan sangat berbahaya jika Alexio diberi tahu bahwa Xia adalah sosok imajinatif di saat dirinya jelas-jelas berinteraksi dengan sosok itu.”


Bisma merenung, dalam.


“Biarkan Alexio menyadari hal itu dengan bertahap kita menyadarkannya, pak Bisma.”


“Saya akan meminta bantuan Dira, untuk membuat seolah-olah pertemuan kami tidak disengaja, saya mau berbincang dengan Alexio tapi tidak di rumah sakit.” Putus dokter Doni.


“Baiklah dokter. Saya akan menyerahkan semuanya kepada dokter Doni. Tolong bantu putera kami.” Pinta Bisma putus asa.


Dokter Doni menatap haru pada Bisma.


“Maaf Pak Bisma. Adakah sesuatu yang bapak tutupi dari saya yang berhubungan dengan Alexio?” Dokter Doni sebagai seorang psikiate, tentu bisa membaca kekhawatiran dari sikap Bisma.


Bisma menunduk dan mengangguk pelan.


“Ada dok. Dan saya kembali mengingat hal itu setelah melihat video Alexio terakhir kali.” Jawab Bisma


“Bisa bapak ceritakan?”


“Bisa, dok.”


Hening.


Bisma menarik nafasnya.


“Alexio sebenarnya menaruh benci pada kami berdua setelah kematian puteri kami, Alexia.” Bisma mulai bercerita.


“Perhatian kami pada Alexio juga tidak luput karena ambisi keluarga yang mementingkan Alexio sebagai ahli waris kakeknya dan saya.”


“Karena seringnya kami meninggalkan Alexia, rupanya menjadi awal bencana itu, dok.” Bisma menghentikan kata-katanya.


“Tarik nafas pak Bisma.” Dokter Doni memberikan treatment pada Bisma agar tenang.


Bisma mengikuti saran tersebut. Menarik nafas dan menghembuskannya.


“Anda bisa berhenti jika tidak bisa melanjutkannya pak Bisma.” Ujar dokter Doni tapi dijawab gelengan kepala oleh Bisma.


“Alexia mendapat pelecehan dari guru privat yang datang ke rumah kami, dan itu sudah berlangsung selama 5 bulan.” Lanjut Bisma. Ucapan barusan memantik simpati dokter Doni yang berekspresi miris mendengarnya.


“DI saat puteri kami berjuang mengatasi ketakutan itu, kami justeru membuatnya kembali terpuruk, kami meminta puteri kami bersimpati pada Alexio dengan meminta bantuannya mentransplantasi sebagian hatinya untuk Alexio.” Bisma mulai sesenggukkan, sungguh berat beban yang baru saja diceritakan pria itu.


“Hingga suatu hari kami mendengar kabar jika kedua anak kami terlibat kecelakaan dan Alexia tidak bisa diselamatkan, dok.”


Dokter Don mendengar dengan seksama, ia bisa merasakan luka yang masih belum sembuh meski sudah bertahun-tahun berlalu.


“Semua permintaan kami, rupanya ditulis Alexia dalam diarynya termasuk pelecehan itu namun saat Alexia meninggal, kami merobek bagian itu dan Alexio membaca bagian di mana kami meminta Alexia mendonorkan organnya untuk Alexio. sejak saat itu ia salah paham.”


“Apakah, Alexio tahu kronologi kecelakaan itu, termasuk cara Alexia meninggal?” tanya dokter Doni


“Alexio saat itu shock hingga ia tak tahu kembarannya meninggal karena luka di sekujur tubuhnya, Alexio sempat menutup diri selama 3 tahun dari kami. Setelah masuk SMA, ia berubah, menjadi anak yang suka membuat masalah.” Cerita Bisma pelan.


“Hati yang hanya diminta sebagian akhirnya didonorkan semua pada Alexio, termasuk ginjalnya yang saat itu terdiagnosa rusak akibat benturan kecelakaan.”


“Baiklah pak Bisma, akan kita upayakan yang terbaik bagi Alexio, tanpa melukainya lagi.” Dokter Doni menggenggam tangan Bisma sebagai bentuk penguatan darinya sebagai sesama ayah.

__ADS_1


Dua hari kemudian...


“Alexio, kita kan udah lulus nih, dua hari lagi mau acara kelulusan, jadi pasangan aku kan?” cerocos Dira sembari menyedot jus jeruk.


Alexio menggeleng melihat tingkah Dira yang tak menjaga image saat bersamanya.


“Hmm, iya sayang.” Jawab Alexio membuat Dira tersedak.


“A-apa kamu bilang tadi?” tanya Dira mengedipkan matanya berulang kali.


“Gak ada.” Ucap Alexio mengedarkan matanya asal


“Ahhh Alexio, tadi kamu ngomong sayang.” Rengek Dira sebal.


“Sudah tahu masih nanya.” Alexio mengacak-acak rambut Dira saking gemas dengan gadis itu


“Eh, ada Alexio dan Dira.” Satu suara menarik perhatian keduanya,


“Eh dokter Doni.” Sambut Dira berpura-pura terkejut. Padahal ini adalah rencananya.


“Duduk dokter,” tawar Dira yang disetujui dokter Doni tentunya.


“Apa kabar Alexio?” tanya Dokter Doni menatap Alexio yang datar menyambutnya.


“Baik dok.” Sahut Alexio datar


“Apa saya mengganggu kencan kalian?” dokter Doni menangkap ketidaknyaman sikap Alexio akan dirinya.


“Ah gak dokter, gak kok, ya kan Alexio.” Dira menyikut lengan Alexio dan menatap tajam pemuda itu.


“Hfft. Iya, gak.” Jawab Alexio pasrah.


“Alexio masih berhubungan sama Xia, kah?” tanya dokter Doni


“Kenapa memangnya dok?” tanya Alexio penuh selidik


“Hanya bertanya, santai.” Kekeh dokter Doni


“Sejak kapan kamu bertemu dengan Xia, Alexio?” lagi-lagi dokter Doni mencoba peruntungan


“3 tahun yang lalu.” Balas Alexio


“Apakah semenjak berpacaran dengan Dira, kalian lebih sering bertemu?”


Alexio menatap lekat dokter Doni saat diberi pertanyaan itu, menoleh pada Dira dan gadis itu mengangguk agar Alexio menjawab.


“Hmm. Kenapa memangnya dok?” Alexio bertanya dengan wajah heran.


“Ohh tidak-tidak, saya hanya penasaran saja, hehehe.” Jawab dokter Doni.


Malamnya....


Kini Bisma dan dokter Doni bertemu kembali, di rumah cafe.


“Pak Bisma, dari hasil pertemuan tadi, kondisi Alexio masuk kategori neurosis parah. Episod yang terjadi padanya lebih intens. Dan ia lebih sering terluka karena hal tak masuk akal.” Jelas dokter Doni membuka percakapan serius.


“Lalu dok.” Ucap Bisma cemas


“Alexio terluka itu karena ia menyakiti dirinya sendiri, bapak bisa lihat dari video waktu itu. Dan titik parah dari menyakiti diri sendiri itu....” dokter Doni menjeda, wajahnya serius namun penuh keprihatinan.

__ADS_1


“Alexio semakin menyakiti dirinya sendiri saat ia bersama Dira. Rasa bersalah Alexio menghipnotis alam bawah sadarnya bahwa ia tidak boleh bahagia, semakin ia bahagia maka intensitas menyakiti diri akan terus terjadi sampai tahap parahnya adalah bunuh diri.” Pungkas dokter Doni.


__ADS_2