Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 88


__ADS_3

Alexio terkekeh mendengar penuturan Roy barusan. Yakuza katanya? Lucu.


“Benar bos.” Tegas Roy sangat yakin.


“Dari mana kau tahu perihal mereka benar Yakuza atau bukan Roy. Bisa saja itu preman pasar yang di sewa musuhku.” Alexio mencibir keyakinan Roy.


“Mereka tidak memiliki jari kelingking bos. Dan itu adalah ciri seorang Yakuza.” Jelas Roy memastikan dugaannya.


Alexio mengerutkan dahinya. Jika pasal jari kelingking hilang, memang itu adalah ciri dari anggota Yakuza yang menjadikan hal itu tradisi hukuman mereka.


Tapi, kenapa Alexio yang diincar.


“Kenapa aku? Kenal juga gak.” Decih Alexio merasa konyol.


“Saya juga kurang tahu bos. Tapi pastinya mereka sering tertangkap mata saya mengawasi anda.” Jawab Roy.


“Baiklah baiklah jika kau yakin. Tingkatkan saja pengamananku. Bereskan.” Sahut Alexio santai.


Memang ia sering terlibat perkelahian di mana pun itu, club malam, kampus, area balap dan tempat lain yang memicu permasalahan dengannya.


Namun Yakuza? Entahlah ia pernah menyenggol mereka mungkin, begitu dugaan receh Alexio yang tak mau terlalu serius menanggapi kekhawatiran anak buahnya. Toh mereka dibayar untuk melindungi dirinya jadi sudah tugas mereka akan mengikuti Alexio demi keselamatannya.


Belum lagi dari ayahnya, Bisma. Ia juga memberikan pengamanan pada puteranya yang selalu mencari masalah.selain itu, bentuk rasa bersalah mereka yang tidak bisa melindungi Alexia, kini ditumpahkan langsung pada Alexio secara posesif.


“Dira? Apa yang dilakukannya sepanjang hari.” Alexio menyinggung Dira, meski ia tak dekat, tapi semua aktifitas gadis itu selalu ia ketahui selagi mampu dijangkau mata-matanya.


“Seharian ia di rumah sakit bos, sampai sekarang.” Jawab Roy.


“Besok, kita ke Singapura. Jangan sampai papaku tahu aku ke sana, menemui keluarga Suprapto.” Perintah Alexio.


“Tapi bos...”


“Jalankan perintahku, kau bukan bawahan papaku. Ingat tugasmu, masalah anak buah papaku, sebisa mungkin kau halangi jangan sampai mereka tahu aku ke sana. Aku sudah sangat merindukan kakek di sana.” Seringai sinis terukir di bibir Alexio. ia akan memulai balas dendamnya, entah dengan cara apa ia akan melawan kakeknya yang kekuasaannya saja sudah di level puncak itu.


Malamnya...

__ADS_1


Alexio memandangi diary merah muda milik Alexia. Senyum dengan wajah mendung menghiasi Alexio.


“Alexia, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu di saat kau membutuhkanku.” Lirihnya pelan.


“Jika tahu kau akan seperti itu, lebih baik aku sakit saja, tidak usah berobat dan meninggalkanmu dan berakhir seperti itu.” Desah nafas berat saking Alexio susah mengucapkan setiap kata untuk penyesalannya pada Alexia.


“Kau terlalu egois memberikanku semua yang kau miliki, tapi aku belum satupun memberikan mu apapun. Bahkan.... bahkan melindungimu saja aku tidak becus.” Suara Alexio semakin serak, pertanda ia menahan gejolak yang membuncah di dadanya dan rasa panas di matanya.


“Kau adik... kau adik yang harusnya terlahir bersama seorang kakak yang bisa membalas perasaan sayangmu itu, Alexia, kenapa harus aku yang penyakitan dan merenggut hal berharga dari tubuhmu ini yang menjadi kakakmu.” Alexio semakin tersulut emosi dengan perasaan sedih.


Ia memejamkan mata, otaknya perlahan mengajaknya kembali ke masa lalu, di saat sebelum kejadian keji itu melingkupi keluarga Bisma Suprapto.


Flashback....


“Kau kenapa, Al.” Alexia tampak khawatir menatap tubuh tak berdaya Alexio yang terbaring di ranjangnya. Bahkan selang infus menancap di tubuh kecil Alexio yang hari itu serangan jantung ringan.


“Dadaku sakit, Alexia. Sakit sekali.” Alexio mengeluh dan menyentuh bagian dadanya yang terasa berdenyut sakit.


“Aku akan menemanimu, Al.” Alexia menggenggam tangan Alexio yang dingin kala itu. Bukan karena suhu udara karena AC, namun memang karena tubuh Alexio belum stabil.


Pintu terbuka membuat perhatian dua anak kecil itu terpusat pada kehadiran si pembuka pintu.


Suprapto, kakek mereka muncul. Tongkat kokoh yang menambah kesan angkuh itu menemani langkah pria renta itu.


“Jangan ganggu istirahat cucuku.” Suara Suprapto yang terdengar menyerupai kalimat perintah pada Alexia, padahal bocah perempuan itu juga cucunya yang perlu mendapat kalimat halus juga.


“Sana keluar!” sentak Suprapto.


“Ba-baik kakek.” Jawab Alexia terbata-bata karena gugup sekaligus takut dengan suara kakeknya.


“kAkek, aku merindukan Alexia. Jangan suruh keluar.” Rengek Alexio yang menahan tangan Alexia agar jangan pergi. Ia sudah dua minggu ini pergi ke Singapura dan ketika pulang jelas Alexia yang pertama dicarinya. Namun kakeknya malah mengusir saudari kembarnya karena mengira mengganggu istirahat Alexio.


“Alexia tidak menggangguku, kek.” Rengekan Alexio menjadi, sementara Alexia menatap sedih. Usianya yang 9 tahun itu, sudah terjerat pola pikir dewasa. Saking seringnya ia mengurus diri sendiri bersama asisten rumah tangga, dan luput dari perhatian keluarga langsung membuatnya terpaksa mandiri.


“Aku keluar saja, Al. Kamu istirahat ya.” Alexia merasakan aura kakeknya yang mengintimadasi dirinya. Jadi ia semakin cemas dengan tatapan pria itu hingga memilih mengalah saja.

__ADS_1


“Huaaaaaa tidak mau” pekikan tangis Alexio menengahi maksud Alexia yang hendak keluar kamar.


“Al, biar saja dia pergi. Kamu butuh istirahat sayang.” Suprapto mendekat dan menarik tangan Alexio agar melepas genggamannya pada Alexia.


“Cucuku harus sehat, denger.” Bahkan dengan teganya ia menampakkan perhatian berlebih pada Alexio, mengusap sayang kepala bocah laki-laki itu di hadapan cucu satunya.


Alexia menatap sedih, ia tak diperhatikan lagi oleh keluarganya, apalagi kakeknya dirasa menatap benci padanya.


Lepas dari lukanya akibat perbuatan Roni, guru lesnya. Menjadikan Suprapto semakin tidak menganggap keberadaan Alexia.


Padahal, sebagai keluarga terdekat, ia harusnya memberitahu anaknya, Bisma perihal hal keji yang menimpa cucu perempuannya, namun pria renta itu dengan ego tingginya, menjadikan luka Alexia sebagai aib yang jangan sampai tahu siapapun itu.


Alexio tetap menangis, bahkan setelah Alexia menghilang dari pandangannya bersamaan pintu kamar tertutup semakin menaikkan volume jeritan Alexio. bahkan ia berguling hingga jarum infus tertarik dari pergelangan tangannya, menyebabkan darah keluar saat jarum terlepas dari sana.


“Al.!” Pekik Suprapto


“Alexiaaaa, aku tidak mau Alexia pergi!!!!” jerit Alexio


“Kamu sudah ini harus ke rumah sakit, jangan buat kondisimu semakin buruk, Al. Biarkan saja bocah itu di luar.” Jelas Suprapto kejam.


“Kakekkk panggil Alexia!!” lagi, Alexio tak menghentikan tangisnya.


“Alexia!!!”


Flashback Off


“Alexia!!!!” jerit Alexio yang menarik kesadarannya saat itu juga, ia bahkan bangun dalam posisi terduduk. Keringat sebesar biji jagung menyelimuti seluruh tubuhnya, bahkan kaus putih yang dikenakannya sudah basah. Matanya nyalang melihat sekitar, ini di kamarnya, apartemennya.


Dan Alexio masih berada di atas sofa, bukan ranjangnya.


Mimpi! Ia bermimpi, degup jantung dan deru nafas tak beraturan adalah bukti bahwa ia tak baik-baik saja selama tidurnya.


“Al.” Satu suara masuk ke dalam ke dalam pendengarannya, membuat Alexio menoleh.


“Xia.” Sahutnya, melirik keberadaan seorang gadis kecil yang berjongkok di sebelah sofanya, menatap sedih pada Alexio yang masih berusaha mengendalikan laju nafasnya.

__ADS_1


__ADS_2