
“Bos, ada kiriman untuk anda.” Salah satu anak buah Alexio mengulurkan sebuah amplop yang dibungkus plastik rapi dengan segel kuat di satu sisinya.
“Terima kasih.” Ucap Alexio lalu mengibaskan tangannya menyuruh pergi. Dengan menggunakan gigi, pria itu menarik keras plastik pembungkus paket tadi dan memutar tali penutup amplop. Tangannya membalik posisi amplop hingga isi dalamnya meluncur begitu saja di atas telapak tangan Alexio. Ada poto, berikut beberapa lembar kertas dengan tulisan sepertinya.
“Apa ini!??!” Mata Alexio membulat sempurna melihat isi foto itu dan tangannya juga bergetar semakin keras saat membaca tulisan dan angka-angka yang tertera di lembaran kertas tadi. Dan selanjutnya, ia menghempas semuanya ke dalam amplop kembali, memutar tubuh untuk mengambil kunci motornya dan bergegas menuju tujuannya, sekaligus membawa paket yang dikirim padanya.
45 menit, dengan tarikan gas kencang, waktu tempuh Alexio terpangkas banyak dan singkat. Kakinya sudah menapak dengan angkuh di bawah gedung menjulang tinggi.
Perusahaan milik ayahnya, Bisma Corporation.
Disambut security di pintu masuk, Alexio hanya melewati tak menggubris, bahkan motornya saja digeletakkan di pelataran depan lobby. Terserah, toh ini perusahaan ayahnya juga.
Ting!
Pintu besi itu sudah membuka sempurna, ia menggunakan lift khusus yang akan mengantarkan langsung ke lantai di mana keberadaan ruangan ayahnya berada.
“Selamat sia....” sapaan dari sekretaris Bisma diacuhkan oleh Alexio, bahkan belum selesai diucapkan pria itu sudah merangsek masuk ke dalam ruangan Bisma.
“Eh, tua...” sekali lagi, ucapan keras dari sekretaris Bisma yang hendak menghalangi Alexio masuk pun hanya menguap di udara, karena sudah terlambat.
Alexio sudah masuk ke ruangan ayahnya.
“Al.” Bisma kaget dengan pintu terbanting keras, bahkan klien yang duduk bersamanya pun ikut terjengkit luar biasa, untung jantung mereka masih dalam kondisi aman atas kelakuan putera Bisma. Mereka melihat ke titik yang sama, Alexio.
“Maaf, dia puteraku.” Saat mereka sibuk bertanya melalui raut wajah yang tampak jelas itu, Bisma langsung menjawabnya.
“Tunggu, papa sedang membahas hal penting dengan klien.” Ucap Bisma agar Alexio menunggu selagi ia sibuk dengan urusannya, tapi tubuh pria itu tetap mematung, kepalanya menggeleng yang mengartikan ia tidak mau menuruti dan enggan menunggu.
Bisma bangkit dan menghampiri Alexio, “Please, papa lagi sibuk, Al. Ini klien penting.” Nada bicara Bisma melunak, bahkan terkesan memohon pada puteranya untuk memaklumi rapat khusus ini. dan sekali lagi Alexio menggeleng dengan mata tajamnya, menolak.
__ADS_1
“Papa mau kehilangan putera hanya demi bisnis sialan ini?” geram Alexio pelan, bahkan amplop yang digenggam tangan kanannya menjadi pelampiasan emosinya, teremas erat.
Bisma mundur, setelah ia menghela nafas kasarnya.
“Maaf tuan-tuan, sepertinya ada hal mendesak yang ingin dibahas puteraku. Maaf sekali lagi, jika saja bisa kita atur ulang pertemuan di waktu lain.” Menundukkan kepala, sebagai permintaan maaf tulus, Bisma sepertinya lebih memilih Alexio ketimbang bisnisnya.
“Ok, tidak masalah. Kami memaklumi.” Ujar klien Bisma, syukurlah mereka bisa menerima permintaan Bisma untuk melakukan rapat di lain waktu.
“Tenang dude.” Salah satu klien Bisma menepuk pundak Alexio sebelum menggapai pintu keluar, sepertinya mereka sadar ada yang tidak beres dari sikap tubuh putera Bisma. Tampak nafas memburu dengan mata menajam lurus pada ayahnya. Bisa jadi akan ada pertengakaran ayah dan anak setelah ini. Begitu dugaan mereka yang sudah tahu bumbu-bumbu keluarga.
“Duduklah, Al.” Bisma yang masih berada di sofa memanggil Alexio untuk menghampirinya. Dan Alexio sesaat sebelum duduk menghempas amplop yang sudah renyek itu di atas meja, lebih dekat dengan posisi Bisma.
Brak!
Mata Bisma menyipit melihat benda itu dibanting di hadapannya, “Apa ini?” tanyanya pada Alexio.
“Buka saja. Papa akan tahu, atau mungkin terlibat.” Sahut Alexio dingin. Ia merebahkan kepalanya di sandaran sofa, memejamkan matanya, meredakan pening yang menyentak saraf otaknya.
“Apa ini?” ia membuka satu persatu foto terlebih dahulu. Terlihat di sana, Suprapto yang mengenakan jas hitam besar membalut tubuhnya, topi bulat menutup kepala, pun kaca mata hitam menghias wajah rentanya itu. Namun bukan itu masalahnya, bukan...
“Ini apa, Al.?” Bisma butuh konfirmasi dari puteranya yang membawa foto ini di hadapannya.
“Lihat dulu semuanya, baru bertanya.” Sahut Alexio dingin dan datar.
Bisma membaca lembaran kertas, angka dan tulisan itu adalah grafik, berikut data transaksi dalam bentuk tabel, tertera di sana tahun 2015, sampai saat ini 2027... dan intensitasnya lumayan sering.
Bisma membaca berulang, tak cukup sekali dua kali untuk memastikan jika ia tidak salah....
Laporan itu bukan tentang perusahaan Suprapto, melainkan semua aktifitas ilegalnya untuk kegiatan jual beli senjata, narkoba, bahkan dengan bejatnya lagi, pria tua itu yang sialnya menjadi ayah Bisma, juga ikut melakukan perdagangan orang serta organ tubuh.
__ADS_1
“Dari mana kau dapat semua ini, Al, jawab papa!” Sentak Bisma menuntut puteranya memberi tahu asal laporan ini didapat.
Alexio hanya memejamkan matanya, seringainya terbit, seakan mengejek drama ayahnya ini. sebagai seorang putera tercinta Suprapto, dengan bisnis Bisma yang tidak pernah tersentuh siapapun, sangat aneh jika pria itu tidak tahu semua kegiatan ayahnya sendiri, bukan?
“ALEXIO!!!” panggil Bisma, suaranya menggelegar, menghentak seisi ruangan, beruntung saja kedap suara hingga tidak memantik perhatian semua orang di luar sana.
“Jawab papa.” Tekannya pada setiap kata. Alexio membuka matanya, menatap datar pada Bisma.
“Kenapa bertanya balik? Bukankah papa harusnya lebih tahu, aktifitas kejahatan kakek selama ini. lihatlah, perusahaan ini semakin hari semakin berkembang, tidak ada yang bisa menyentuh perusahaan ini. Jika pun ada, justru mereka yang akan hancur sebelum menyentuh Bisma.
“Papa tidak tahu semua yang dilakukan kakekmu, papa hanya tahu mengenai bisnis saja. Dan kau juga tahu jika perusahaan yang papa dirikan murni kerja keras papa tanpa bantuan kakekmu, yang artinya tidak ada sangkut paut dengan kakekmu itu!!” tegas Bisma menjelaskan.
Memang, sejak ia sering diatur Suprapto, Bisma memanfaatkan waktu menjauhnya dengan bekerja keras, kemampuan berbisnisnya patut diperhitungkan hingga ia banyak menerima bantuan investasi, apalagi Linda turut mendukung menjalankan kerjasama hingga perusahaan Bisma mampu berdiri tegak di negeri ini. Dan ia bebas melakukan apapun pada keluarganya tanpa takut intimidasi Suprapto lagi. Atas dasar apa Bisma bersikeras seperti itu, hanya ia yang tahu. Seolah dirinya berusaha keras melepaskan diri dari jerat ayahnya yang harusnya disyukuri melimpahkan harta melimpah untuknya sebagai satu-satunya pewaris.
Tapi Bisma, memilih hidup sendiri, dan bisa jadi ini akan menjadi kebanggaannya kelak bagi keluarganya, yang kali ini, Alexio sendiri.
“Kau tahu, papa tidak terlibat apapun dengan kakekmu, selain jalinan ikatan darah sebagai ayah dan anak, sepertimu juga, Al.” Lirih Bisma menatap sendu pada puteranya yang juga menatapnya lekat. Mencari dusta di sana, yang sialnya Alexio mendapatkan kejujuran di sana.
Jadi, apakah Suprapto melakukan sendiri semuanya? Dan... isi catatan lain yang tidak ia tunjukkan pada ayahnya mengenai penyebab kematian Alexia ada sangkut pautnya dengan Suprapto benar adanya?
Lalu kenapa diary Alexia menjelaskan hal berbeda? Tunggu! Ia mengingat sesuatu......tapi...
“Arghhh sialan, aku lupa!!” Erangnya meninju kaca meja di hadapannya hingga membuat Bisma terkejut melihatnya.
Alexia memang menulis kalimat dusta dalam diary merah muda yang ada di tangan Alexio, tapi, tidak serta merta bocah perempuan itu melakukan sebatas itu, ia menulis di diarynya yang lain....
Dan sebuah tulisan yang mengungkap kenyataannya masih tersimpan rapi, dalam pekarangan rumah lama mereka, di mana masih terkubur kejujuran dalam diary merah muda lainnya, namun sayang, Alexio melupa dengan hal itu. Padahal dalam diary merah muda yang ada pada Alexio, terselip kode keberadaan benda rahasia itu kini terpendam dalam dinginnya tanah layaknya si pemilik yang sudah terkubur lebih dulu.
__ADS_1
RIP... ALEXIA BISMA🥀🥀🥀🥀