
Satu minggu kemudian, sesuai jadwal Alexio akan kembali menjalani konseling dengan dokter Doni dan menurut kabar-kabarnya akan disertakan Dira kata sang dokter.
Dengan masa penantian yang dirasa sangat lama menurut Alexio, kini tiba waktunya ia akan bertemu dengan pujaannya lagi.
Mengenakan pakaian terbaik, potongan rambut baru, parfum yang segar dan maskulin, serta jangan lupakan wajah sumringahnya ikut memberi kesan betapa ia mempersiapkan dengan baik untuk konseling hari ini.
“Wah tampan sekali anak mama hari ini, mau kemana?” Linda dari bawah menyambut Alexio yang baru menuruni anak tangga.
“Eh mama, mau ke rumah sakit mah, ketemu dokter Doni.” Jawab Alexio memutar kunci mobilnya sembari bersiul
“Bertemu dokter Doni? Setampan ini? tidak biasanya.” Linda menelisik penampilan puteranya yang tidak biasa jika memang hendak ke rumah sakit.
Apalagi hanya bertemu dokter Doni dengan persiapan bak ingin berkencan saja.
Setibanya Alexio di bawah, Linda semakin menatap penuh selidik, ia memutari tubuh Alexio, hidungnya pun mengendus tubuh puteranya.
“Beneran mau ketemu dokter Doni?” Linda mulai mengintrogasi Alexio.
“Iya mah.” Sahut Alexio menahan gugupnya, takut ketahuan yang sebenarnya.
“Bukan mau kencan?” tanya Linda dengan dugaannya lagi.
“Bukan mamaku tersayang, Al berangkat dulu ya.” Alexio memeluk tubuh Linda untuk mengalihkan beragam pertanyaan yang pasti akan keluar lagi.
Maka dengan cepat ia segera berpamitan.
“Eh tunggu Al. Mama kan belum selesai.” Linda terlambat, Alexio dengan langkah panjangnya melesak cepat meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun kecuali lambaian tangan saja.
Deru suara mobil Alexio menandakan jika pria itu sudah meninggalkan rumah pada waktu yang cukup pagi, seolah enggan terlambat sama sekali.
Menempuh waktu puluhan menit, karena ia harus bersaing dengan pengendara lainnya.
Salahkan Alexio berangkat di saat jam orang berangkat kerja, jadi dipastikan ia akan terkena macet.
Tiba di rumah sakit, dan nasibnya memang lagi mujur. Di parkiran mobil, ia menangkap bayang Dira. Dengan cepat, Alexio memburu untuk segera keluar sebelum wanita itu pergi.
“Dira!” Panggilnya dan Dira menoleh namun ia melengos, bahkan wanita itu bergegas pergi dari sana.
__ADS_1
“Eh kok pergi sih. Dira, tunggu.” Gumam Alexio dan segera memanggil Dira kembali, tapi yang dikejar seolah tak berhenti sama sekali meski Alexio sudah berulang kali memanggilnya.
Ting!
Alexio terlambat, Dira sudah memasuki lift lebih dulu dan hanya menatapnya dingin sebelum pintu menutup sempurna.
“Hfft.” Hela nafas Alexio terdengar di telinga beberapa wanita yang juga menunggu giliran lift berikutnya.
“Tampan sekali.” Puji wanita yang berdiri di sampingnya
“Siapa namamu?” di sebelah kirinya ikut bersuara
Alexio menoleh ke kanan dan kirinya, berikut dengungan suara pujian yang membuatnya juga menelisik sekitar yang rupanya banyak wanita memandangnya memuja.
“Saya Alexio, dan yang baru masuk tadi calon istri saya, dia tengah merajuk.” Padahal tidak ada yang bertanya statusnya, Alexio tidak peduli dan menjelaskan, bahkan menyertakan nama Dira agar mereka berhenti memperhatikannya.
Ya, walaupun tetap saja mereka menatapnya kagum.
Minggu depannya lagi, tetap sikap Dira acuh pada Alexio, hingga di minggu ini ia yang merasa aneh akan sikap Dira harus bertanya langsung pada si empunya.
Dan di sinilah Alexio, menunggu Dira dari pagi sampai wanita itu pulang....
Selepas magrib, Dira yang selesai dari dinasnya tengah berjalan menuju mobilnya.
“Dira!” suara yang dikenal Dira menghentikan langkahnya yang hendak masuk ke dalam mobil.
“Aku mau pulang, capek.” Dira menoleh sekilas dan berbalik lagi bersiap pulang.
“Tunggu!” tak mau melewatkan kesempatan ini, Alexio sigap menahan lengan Dira.
“Lepas, jangan pegang-pegang.” Dira menghentakkan pegangan Alexio dengan tatapan sebalnya.
Alexio tertegun dengan hal itu, “Kamu kenapa?” tanyanya heran
“Aku mau pulang. Sudahlah.” Desah malas dari suara Dira menanggapi tanya Alexio. Dira melangkah kembali menuju mobilnya.
“Kenapa kau menolak kehadiranku beberapa minggu ini?” Alexio melempar tanya lagi tapi tak dijawab Dira.
“Aku tahu kamu sudah putus dengan bocah itu, makanya aku merasa tidak khawatir lagi mendekatimu, meskipun aku tahu hubungan kalian bukanlah rasa cinta.” Lanjut ALexio
“Dasar pria brengsek.” Geram Dira memaki Alexio tapi sangat pelan, seperti berbisik. Bagaimana bisa pria itu memanfaatkan putusnya Dira sementara dirinya saja sedang bersama wanita lain.
__ADS_1
“Apa karena keluargaku yang kacau, jadi kau tidak mau mengenalku lagi?” Dua kali Alexio bertanya dan Dira menggeleng dengan suara berdecaknya.
“Ahh, apa karena penyakitku yang tidak akan bisa sembuh, jadi kau tidak mau menjalin hubungan lagi denganku. Khawatir aku akan menyusahkan hidupmu nanti?” ujar Alexio bertanya lagi.
Dira sudah tak tahan lagi, bicara Alexio sudah tidak pada tempatnya, otak pria ini sepertinya perlu di siram alkohol dan cairan pembersih agar sadar salahnya di mana.
Dira berbalik, “Omong kosong mu sangat tidak masuk akal, Al.” Sarkas Dira
“Kamu tahu bagaimana aku di waktu kita masih SMA, bukan?” Dira mengajak Alexio mengingat masa abu-abu mereka dulu.
“Kamu tahu sekali kan, di mana letak kelasku dulu,” suara Dira semakin meninggi, dia sudah mengikis jaraknya dengan Alexio.
Tak ingin memberi kesempatan Alexio bersuara, Dira menyambar ketika melihat bibir Alexio terbuka.
“Aku berada di kelas yang paling rendah, Al. Kelasnya para siswa dengan peringkat kecil, siswa yang sering membuat ulah., di sanalah aku berada. Bahkan kamu tahu dengan jelas, otakku sebatas apa...” ujar Dira kepalang naik darah.
“Ah, iya. Kamu tidak akan paham, karena level mu selalu di kelas terbaik, idola, siswa berprestasi. Jadi untuk menjadi apapun tentu mudah bagimu.” Dira tersenyum miris akan dirinya.
“Dira...” Alexio hendak berucap tapi telapak tangan Dira sudah terangkat untuk menghentikan kelanjutan kalimat Alexio.
“Mengingat keadaanmu saat itu yang tidak baik-baik saja, aku merasa ikut sakit, Al.”
“Apalagi ketika kau tanpa sadar melukai dirimu sendiri, aku tak kuasa melihatnya.” Suara Dira sudah mulai lirih.
“Maka dari itu, hanya bekal nekad, aku mengambil kedokteran, terbang jauh ke negeri Sakura sana, dengan tekad aku tidak ingin hanya menjadi pengunjung ketika kau tergeletak di brangkar rumah sakit.....”
“Tapi aku juga ingin menjadi orang yang berusaha menemukan obat terbaik untukmu, sekedar teman bicara saja tidak cukup untukmu. Dan itulah alasanku menjadi dokter.” Dira menatap Alexio dingin
“Dan kau dengan seenaknya saja mengatakan aku tidak ingin mengenalmu lagi karena keluarmu yang kacau? Kesehatanmu yang terganggu dan selamanya tergantung obat?” Dira mendorong dada Alexio menggunakan telunjuk kanannya.
Meski nihil tak ada gerakan berarti sejengkalpun dari kaki Alexio karena perbuatan Dira.
“Aku tidak menyangka kau berpikir aku orang sepicik itu, Al. Dasar pria gila! Tidak tahu diri!!!” dira memukul dada Alexio menyalurkan rasa kesalnya yang sudah menumpuk.
“Padahal kau sudah memiliki wanita lain, lalu ketika aku sudah sendiri kau dengan seenaknya ingin mendekatiku juga.” Kalimat yang diucapkan Dira membuat Alexio menahan tangan yang sedari tadi dibiarkannya memukul dadanya.
“Wanita lain?” beo Alexio
“Iya, wanita yang bersamamu di restoran malam itu.” Sembur Dira, dan Alexio mengulas senyum mendengar hal itu.
“Dasar pria gila. Aku benci kau!” Dira menolak langkahnya dan meninggalkan Alexio.
__ADS_1
“Ah, jadi itu alasannya.” Ucap Alexio tersenyum senang
“Maaf Dira, aku tidak akan memberi tahu fakta sebenarnya, biarkan aku ingin bermain-main sebentar dengan mengejar-ngejarmu. Anggap saja kau tengah menghukumku atas tekadmu dulu yang tak mundur mendapatkan perhatianku.” Alexio tetap pada posisinya, sementara mobil Dira sudah melaju meninggalkannya tanpa klakson pamitan sama sekali.