Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 37


__ADS_3

“Terima kasih untuk tumpangannya, Alexio.” Dira membungkukan kepalanya menambah bentuk ucapan terima kasihnya.


“Tidak perlu seperti itu.” Sahut Alexio yang masih ada di atas motor


“Bentar, ada telepon masuk.” Alexio memotong ucapan yang hendak Dira keluarkan.


Pemuda itu menaruh benda pipih berwarna merah dengan case belakangnya berpadu kuning dan biru, terlihat serius dengan obrolannya.


Dira memperhatikan dengan seksama.


“Mau masuk Alexio?” Dira menawarkan untuk masuk ke dalam rumahnya.


“Boleh.” Sambut Alexio bergegas turun dan mengikuti langkah Dira menaiki undakan tangga teras.


Kringggggg


Dering nyaring mengiringi langkah keduanya, Dira menoleh.


“Andi, bentar aku angkat dulu ya.” ujar Alexio menarik lagi ponselnya dan menaruh di telinga kirinya.


“Iya, Andi? Hmmm,, iya.” Sahutnya menjawab panggilan.


“Iya... oke, ntar gue ke sana.” Sambungnya lagi.


“Iya, ok, bye.” Lanjutnya dan menghentikan panggilan lalu menaruh lagi ponselnya ke dalam saku jaketnya.


Dira tersenyum saat Alexio sudah mengakhiri panggilan dan kembali melanjutkan langkahnya masuk yang disusul Alexio di belakangnya.


“Duduk dulu, nanti bi Nah anterin minim sama camilan.” Kata Dira meninggalkan Alexio yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


10 menit kemudian, Dira sudah kembali dengan mengenakan kaos dan celana selututnya. Menghampiri Alexio yang tengah mengotak atik ponselnya.


“Kamu nge-game?” tanya Dira menaruh pantatnya di atas sofa empuk di seberang Alexio.


“Gak. Lagi baca sesuatu aja.” Sahutnya.


“oo begitu.” Angguk Dira


“Oh ya Alexio, boleh nanya gak?” ujar Dira menatap Alexio dengan tatapan harap.


“Silahkan.” Jawab Alexio membolehkan.


“Hmmm, tadi yang telpon kamu sebelum Andi, siapa?” tanya Dira.


Ia sudah gatal tadi mau bertanya, namun sekuat tenaga di tahan karena takut dan khawatir menyinggung perasaan pemuda itu.


Alexio menatap ponselnya lalu beralih lagi pada Dira


“Kenapa memangnya?” tanya Alexio balik.


Kan, Dira jadi bingung sekarang.


Ia memang kepo sebenarnya, atau penasaran akut tepatnya.


Jika saja Andi tidak menelpon Alexio, mungkin pertanyaan ini tidak akan di keluarkan Dira. Tapi,...


Aisshhh salahkan Andi kenapa menelpon Alexio tadi, jadinya Dira penasaran dan membandingkan keun.


Ok. Menurut sudut pandang Dira,, eihh sudut pandang pulak di pakai, oke jadi begini...


Dira sedikit tersentil rasa keponya saat panggilan di ponsel Alexio yang pertama tidak mengeluarkan nada dering, sedangkan pada panggilan Andi ada deringnya.


“Gak, kali aja itu orang spesial kamu.” Dalih Dira menutupi kegugupannya.

__ADS_1


“Orang spesial? Kenapa bisa berpikir kayak gitu?” Lagi, Alexio menuntut Dira dengan pertanyaannya.


“Biasanya kan orang itu ada dering spesial untuk beberapa kontaknya. Dan yang pertama tadi gak ada deringnya. Sedangkan Andi ada, ribut pula bunyinya, hehehe.” Kekeh Dira dengan rasa cemasnya luar biasa.


Lebay gak sih?


Dia gak cemburu, sumpah!!


Cuma kepo aja


“Kamu gak denger bunyi deringnya tadi? Ada kok suaranya.” Jawab Alexio memumpuk rasa penasaran Dira tadi terhempas begitu saja.


Kupingnya lagi kerasukan setan budeg kah?


Tapi bener loh, gak ada suara kok pada panggilan pertama


“Temen?” tanya Dira yang diangguki Alexio.


“Cewek?” yang lagi-lagi diangguki Alexio.


“Cantik?” Alexio mengangguk lagi men jawab pertanyaan Dira.


“Anak SMA mana?”, dan pertanyaan itu dijawab Alexio dengan diam.


“Gak sekolah?” kembali Alexio diam.


“Ya sudah deh kalo gak mau kasih tahu, aku bawel ya,. hehehe.” Tutup Dira akan pertanyaan keponya.


“Nanti aku kasih tahu, tapi tidak sekarang.” Ujar Alexio menghibur Dira yang diangguki gadis itu.


“Dira, aku mau pergi dulu ya, anak-anak nyuruh gabung ke markas nih.” Alexio hendak berpamitan.


Tadi ia mendapat panggilan Andi yang menyuruhnya datang ke markas geng motor Xia untuk melanjutkan perkara Zapi dan adiknya yang belum direalisasi anak buah Jonathan.


Dira mengantar kepergian Alexio ke luar.


“Dira.” Panggil Alexio saat sudah berdiri di samping motornya


“Hmm, iya.” Sahut Dira yang melepas Alexio dari teras.


“Kamu, masih gabung sama geng anak Cakra itu?” tanya pemuda itu


SMA Cakra, tempat Jonathan bersekolah. Yang artinya adalah geng di bawah kepemimpinan calon mantan pacarnya Dira.


“Kenapa?” Pancing Dira.


“Aku gak suka.” Jawab Alexio tegas


“Terus maunya kamu?” lagi, pancingnya


“Kamu ada di sisi aku.” Jawab Alexio


.


.


.


.


Deru motor Alexio terhenti tepat di halaman markas geng motornya.


Dengan gagah ia memasuki bangunan berlantai dua itu.

__ADS_1


“Nah datang juga, dari tadi ditungguin.” Andi sudah menggerutu saat Alexio sudah sampai di ruangan tempat berkumpulnya semua anggota geng.


“Ada apa sih?” Alexio mendaratkan bokongnya di satu sofa, meletakkan tasnya di pangkuan. Duduk menyilangkan kaki berikut bersedekap tangannya.


“Ya yang tadi, yang gue omongin di telpon tadi.” Andi gemas dengan kalimat tanya Alexio yang dirasa tak perlu itu.


Sudah jelas tadi ia mengatakan menarik leher 7 orang yang belum berniat mengunjungi Zapi dan adiknya.


“Terus gimana?” tanya Alexio.


“Lah kok gitu nanyannya. Aneh deh.” Kali ini Barry yang nyeletuk.


Sebenarnya bukan hanya Barry yang heran, semua yang ada di ruangan dan mempunyai telinga tentu akan berkerenyit heran saat mendengar ucapan Alexio barusan.


Sosok yang biasanya selalu mengeluarkan perintah tegas itu, kini malah seperti anggota saja tingkahnya.


“Ya kamu ketuanya, nyet. Malah nanya kami.” Geram Andi menendang kaki Alexio yang masih memakai sepatu.


“Gue kan cuma mau tanya pendapat kalian.” Ujar Alexio membela diri.


“Kita datangin markas mereka. Narik itu leher 7 cunyuk itu ke rumah sakit.” Saran Andi dan diangguki semua anggota geng Xia.


“Harus gitu? Gak bisa cara damai?” pertanyaan Alexio memantik pukulan di kepalanya.


Pletak!!!


Andi yang akhirnya melakukan hal itu.


Gemas sekali rasanya.


“Kayaknya, kepala lo geser separuh ya karena jatoh waktu itu.” Ujar Andi menggelengkan kepalanya.


“Sejak kapan cara lo bisa berakhir damai itu indah, huh?” sambung Andi


“Ya, kalo bisa damai kenapa gak kan? Ya kan?” Alexio mengedarkan matanya ke semua pasang mata lainnya.


Tapi yang menatap Alexio tak ada satupun membalas jawaban yang diinginkan pemuda itu.


Semua memberi tatapan yang sama.


MENOLAK


“Ya udah, lo yang pimpin tawurannya kalo gitu.” Lanjut Alexio


“Woyy, sejak kapan lo jadi ayam sayur gini, huh? Jangan belagak jadi anak cupu deh.” Sergah Andi kembali kesal dengan tingkah Alexio.


“Ya sudah, ya sudah, ayo. Gue kan mancing doang tadi.” Gerutunya, bangkit dari duduk dan berniat ke lantai dua.


“Mau kemana lo?” Andi menahan langkah Alexio.


“Ya ke atas lah, pakek nanya, sudah tahu kaki gue mau ke sana.” Jawab Alexio ketus tanpa menghentikan laju kakinya menaiki undakan tangga.


“Gue penasaran deh Andi. Itu ruangan apa sih?” satu suara membuka tanya yang lain adalah anggota geng.


“Ya, gue juga, perasaan tiap ke sini, si Alexio itu gak pernah tidur di sana, tidur pasti di sofa.” Sahut yang lain ikut nimbrung.


“Mana gue tahu.” Jawab Andi, yang sebenarnya juga tak kalah penasaran akan kamar yang selalu terkunci itu.


“Tempat Alexio pesugihan kali, ngepet, nuyul, atau semedi nyari wangsit sebelum tawuran.” Sambung Barry yang ditanggapi gelak tawa setelahnya.


Dua tempat yang tidak bisa diakses siapapun selain Alexio. Mereka hanya mampu menyentuh dinding dan pintu, tapi tidak dengan melihat isi ruangan itu.....


Baik kamar yang Alexio masuki,, maupun labirin yang ada di samping markas ini.

__ADS_1


__ADS_2