
Jika Dome sudah mengintai di lokasi tempat Andriana di sekap, berbeda halnya dengan ayahnya alias si Hiro yang baru saja tiba di Singapura melalui jalur laut. Memanfaatkan waktu gelap dan juga pengalihan apabila harus menempuh cara ilegal.
Sedangkan Bisma dan Linda mendarat di bandara Changi dengan memanfaatkan keberadaan Alexio, putera mereka yang juga di sana. Anggap saja mereka ingin melakukan liburan sebagai keluarga agar tidak dicurigai oleh Suprapto.
Padahal Alexio saja tidak tahu soal orang tuanya mau ke Singapura.
“Kau harus bersama dengan perempuan yang memiliki asal usul baik, Al. Lihat papamu, mendapatkan istri yang berkualitas.” Ujar Suprapto membanggakan keberhasilan Bisma mendapatkan ahli waris dari keluarga kaya raya asal Prancis.
Linda, meskipun menantunya itu hanyalah anak pungut, tak masalah, asalkan dilimpahi materi.
“Lagian bersama puteri Ladh itu, apa yang bisa dibanggakan, hanya seorang calon dokter bagi mereka yang menderita masalah kejiwaan alias gila.” Cibir Suprapto merendahkan profesi Dira.
Alexio menggeram, ingin rasanya pisau yang digunakannya untuk mengiris daging steak ini melayang ke mulut tua bangka itu.
“Kau bisa menjadi gila kalau sering bersamanya, Al.” Tawa Suprapto menjadi mengakhiri kalimatnya. Tampak puas sekali ia mengejek pilihan Alexio yang tak lebih dari apapun, hanya mengandalkan kepopuleran rumah sakit Ladh saja, tak lebih.
“Kakek tidak lupa, jika cucumu ini juga mengalami masalah kejiwaan, bukan?” Tegur Alexio membungkam tawa Suprapto tanpa jeda.
“Bahkan aku masih mengkonsumi obat sialan itu sampai detik ini. Karena jika tidak, maka delusi yang aku derita akan kambuh lagi.” Kekeh Alexio balik mencibir kakeknya.
“Dan lucunya, yang berdiri bersamaku meski aku gila adalah puteri dokter Ladh.” Desis Alexio, wajahnya menyeringai tajam, membuat merinding siapapun yang melihatnya.
“Keluarga kita saja sudah bergelimang harta, kakek, papa, mama, aku juga ada, belum lagi keluarga Dira yang memiliki rumah sakit dan bisnis abangnya....” Alexio menyebut satu persatu sumber harta masing-masing dari mereka.
“Lalu, materi seperti apalagi yang mau kakek cari, sementara keluarga kita saja tidak banyak. Mending diberikan pada yang membutuhkan, agar menjadi bekal saat kakek di neraka.” Telak Alexio menutup ucapannya.
Beruntung makanan yang berada di dalam mulut Suprapto sudah tertelan sempurna menuruni tenggorokan, karena jika belum sudah pasti akan tersedak akibat ucapan Alexio.
Ketegangan terasa di ruang makan, para pelayan yang tadi berdiri di sana menyingkir saat tahu ada hal privasi dalam keluarga majikannya yang tidak boleh mereka dengar.
“Tuan, ada tuan Bisma dan nyonya Linda datang berkunjung.” Seorang pelayan mengendurkan urat yang kencang diantara Alexio dan Suprapto dengan kabar tersebut.
“Mama dan papa??” beo Alexio dalam bentuk gumaman.
“Bisma dan Linda? Suruh masuk, siapkan makan malam juga untuk mereka.” Sahut Suprapto menarik nafasnya
__ADS_1
“Baiklah jika itu maumu, kakek bangga kau memiliki prinsip seperti itu.” Mengalah, Suprapto terlihat seperti itu, tapi tidak. Karena ia menahan gejolak marah saat dibantah habis-habisan seperti itu.
“Kejutan Al.” Suara Linda terdengar begitu nyaring dengan wajah berbinar senang. Berjalan cepat menuju tempat Alexio duduk.
“Mama kangen.” Linda merengkuh pundak puteranya lalu melabuhkan kecupan di puncak kepala puteranya.
“Hai Al. Papa dan mama memang sengaja mau kasih kejutan untuk kamu.” Bisma menyela dan duduk di kursi utama seperti Suprapto. Sedangkan Linda tepat di sisi kiri suaminya.
Dalam hati Alexio hendak tertawa mendengar kalimat yang konyol dari mulut ayahnya.
“Merindu? Kejutan? Bullshití” Batin Alexio mengejek
“Bukannya mama dan papa masih perjalanan bisnis ke Prancis?” Tanya Alexio tidak menanggapi ucapan ayahnya
“Hmm, tapi saat tahu kamu berada di Singapura, kami juga menyusul ke sini. Mumpung bisa berkumpul, kan?” Ujar Linda memainkan peran sandiwaranya agar Suprapto tak menyadari tujuan Bisma dan dirinya berada di Singapura.
“Menginap saja di sini kalau begitu. Nanti papa suruh pelayan mempersiapkan semuanya.” Suprapto menyarankan pada keluarga puteranya jika memang itu tujuan mereka ingin berkumpul.
“Baik pa.” Jawab Bisma menyentujui permintaan ayahnya.
Saat makanan terhidang untuk Bisma dan Linda, Suprapto terlihat gusar di wajahnya. Pun dengan Alexio, seakan mereka tengah diliputi rasa was-was serupa.
“Papa harus menerima panggilan dulu.” Suprapto menyingkir dari ruang makan. Menjauh karena anak buahnya yang menjaga Andriana yang menelponnya.
“Apa!!” tanya Suprapto menggeram
“Bos gawat, ada yang mengepung area ini bos.” Jawab anak buahnya di ujung panggilan
“Siapa mereka?!” tanya Suprapto tampak memburu
“Se-sepertinya Ya-Yakuza bos...” jawab anak buah Suprapto
“Habisi mereka semua, jangan sisakan. Aku akan segera ke sana.” Titah Suprapto lalu menutup panggilan.
Sedangkan Alexio... “Kami ketahuan, jadi terpaksa harus terlibat baku hantam” isi pesan Dome
__ADS_1
‘Ya Tuhan ini bocah gak bisa maen bener apa.?’ Batin Alexio khawatir
“Kenapa Al?” tanya Bisma heran melihat wajah puteranya yang tak tenang.
“Ah, bukan apa-apa, pa.” Jawab Alexio menenangkan dirinya agar tidak menimbulkan banyak kecurigaan orang sekelilingnya.
Tak lama Suprapto yang muncul... “Papa harus pergi, ada urusan penting di luar.” Ujar Suprapto berpamitan namun gerakannya terlihat sangat terburu-buru.
“Iya pa. Hati-hati. Apa perlu aku antar?” Tawar Bisma
“Tidak, tidak perlu.” Suprapto segera meninggalkan ruang makan dan bergegas menuju tempat di mana ia menyekap Andriana.
“Mereka harus mati di tanganku.” Membuka koper yang berisi senjata api, Suprapto bersiap akan menghabisi mereka yang mengganggu acaranya.
5 menit Suprapto pergi, giliran Alexio bangkit dari duduknya.
“Kamu mau ke mana, Al?” tanya Bisma
“Pa, Dome sedang dalam bahaya, dia ketahuan oleh anak buah kakek.” Jawab Alexio gusar.
“Apa!! Puteranya si Hiro itu? Bagaimana bisa... kalian...!!!” Bisma terbelalak mendengar ucapan Alexio
“Iya pa, kami mengintai tempat itu.” Sahut Alexio mengakui.
“Ya Tuhan Al. Kalian ini, kenapa ceroboh sekali.” Desis Bisma cukup kecewa akan pilihan puteranya itu yang tidak melibatkan orang dewasa.
“Kami juga tidak tahu akan jadi begini.” Alexio tak mau berdebat. Ia segera meninggalkan ruang makan dan bergegas menuju di mana Dome saat ini tengah terancam keselamatannya.
Karena pewaris Yakuza itu hanya membawa anak buah sedikit.
“Alexio!!!” Bisma berteriak memanggil Alexio tapi puteranya sudah secepat kilat hilang.
“Kita harus menyusulnya, aku takut, Bisma.” Lirih Linda sudah berdiri dari duduknya.
“Hei tunggu.” Cegah Bisma
__ADS_1
“Tidak, jika kita harus menunggu dan berpikir dulu di sini, tidak hanya Andriana yang akan celaka, tapi puteraku juga.” Linda menggeleng, menolak Bisma. Ia ikut pergi dari ruang makan.
“Sial!! Kenapa jadi kacau begini.” Bisma menggebrak meja makan hingga piring yang ada di di depannya jatuh beradu dengan lantai.