Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 23


__ADS_3

Semenjak obrolan di meja makan itu, Dira tak bisa lepas memikirkan Alexio.


Otaknya yang malu dan sadar diri kerap mengingatkan untuk jangan mendekati Alexio.


Tapi otaknya yang tak tahu malu dan tak sadar diri itu masih mengkontaminasinya untuk memikirkan pemuda itu.


Perihal otak saja, ia tak bisa mengontrolnya.


“Dira.?” Celine, melihat name tag di seragam gadis itu. Teman sekelas Dira.


“Melamun mulu dari tadi.” Cetusnya.


“Mikirin Alexio, lo?” tebaknya yang dijawab Dira dengan diamnya.


“Yee, kirain udah move on pas jadian sama Jonathan.” Sambung Celine.


“Paan sih.” Sungut Dira.


“Biasa aja kale. Lo juga aneh, ngehindarnya ketara banget. Padahal hatinya berontak minta ketemu.” Ledek Celine


Dira tidak seperti kebanyakan remaja lain yang memiliki sahabat saat sekolah, dirinya tidak ada. Dulu ia pernah punya sahabat tapi saat naik kelas 11, harus terpisah, sahabatnya harus pindah sekolah karena trauma di bully geng sekolah, kakak tingkat mereka dulu.


Geng Xpre... yang isinya anak orang kaya raya, mental lemah, otak ala kadarnya, doyan keroyokan, sukanya malak anak orang, sesekali nyiksa dan direkam,.. tak suka ketika ada yang ada di bawah level mereka tapi punya kualitas di atas mereka.


Dina, sahabat Dira. Gadis yang menempati peringkat 5 besar di kelas unggulan, tempatnya geng Alexio berada. Termasuk most famous, sekretaris KETOS, tapi kurangnya, ia tak ada di level anak kalangan berada.


Membuat geng Xpre gencar membully Dini.


Puncaknya Dira baru tahu jika sahabatnya yang berbeda daya penyimpanan otak lebih tinggi darinya tiba-tiba menghilang, tak masuk sekolah selama beberapa hari. Memutuskan Dira mengunjungi kediaman Dini.


Rupanya Dini melakukan tindak bunuh diri. Saat sudah menenggak racun serangga, ia nyaris tewas jika tidak ada adiknya yan g menemukannya terkapar di kamar.


Semenjak itu, mereka terpisah. Dan Dira menjadi pribadi yang tertutup untuk menerima pertemanan.


Tak percaya dengan loyalitas itu, hanya Dini yang berteman dengannya tanpa meminta timbal balik, sementara yang lain butuh pengembalian upah pertemanan.


Di tengah asyiknya Dira melamun.


Kelas 12 E mendadak riuh. Semua bersorak heboh memutus lamunan Dira dan berganti dengan tatapan mata membulat ketika sosok itu berjalan cepat menuju.....


Menuju,,, kok ngarah ke dirinya sih?


Iya, beneran, Alexio. Berjalan angkuh menuju bangkunya.


“Ikut gue.” Menarik paksa lengan Dira yang belum siap hingga nyaris saja gadis itu terjengkang ke depan jika tidak cepat-cepat menstabilkan langkahnya.


Dira masih belum menerima informasi dari otaknya, jadi gadis itu masih bingung dengan Alexio yang menggenggam tangannya dan menariknya keluar dari kelas itu.


Ting!!!!


Transfer data dari otak Dira sampai juga akhirnya.


“Lepas!!!” Dira berontak saat dirinya sudah sadar akan tindakan Alexio yang membawanya ke rooftop. Dan sepanjang kesana, banyak mata dan lambe yang ikut mencibir dirinya.


WOYY BUKAN GUE YANG MAU!!!


Ingin berteriak seperti itu rasanya. Tapi mulut Dira seakan terkunci.


Kakinya yang tak seberapa panjang itu harus terhuyung mengikuti langkah panjang Alexio.


“Lepas!!!!” sampai di rooftop, ia mampu menyentak tangan besar Alexio.

__ADS_1


Padahal memang bertepatan dengan Alexio melepasnya.


“Apa tujuan lo bawa gue ke sini?” delik Dira menatap penuh tanya pada Alexio.


“Putusin Jonathan.” Jawabnya. Lebih mirip perintah yang tegas dan menekan dalam nada bicaranya.


Dira melongo.


Lagi-lagi ini cowok ngomong hal yang sama?


“Ck, dasar apa lo menyuruhku putus dari Jonathan?” tanya Dira


“Apa karena gue yang tak layak untuk Jonathan?”


“Karena keluarga yang brengsek sampai gue gak pantes gitu?” Dira mengulang ucapan Alexio tempo hari.


Alexio diam, ia tak mampu menjawab satupun.


Menuruti egonya, ia akan menjawab demikian. Tapi jeroan dalam tubuhnya ini berkhianat.


Sampai.... sampai dengan tak tahu malunya mengajak otak untuk berkhianat juga.


Memberi perintah pada kakinya untuk maju, mendekat kearah Dira.


Tangannya juga diperintahkan untuk menggapai pundak gadis itu.


Dan lebih tak tahu malunya lagi... bibir...


Bibirnya juga ikut-ikutan.


Menyerodok bibir gadis itu. Membuatnya akan mengganti sparepart tubuhnya agar kembali semula


Semua sama-sama membeku.


“Lepas. Brengsek.!!!!” Pekik Dira saat berhasil mendorong dada bidang Alexio


Alexio mengerjapkan matanya. Ia bingung sendiri dengan tindakan konyolnya ini.


Plak!!!!


Dan kini tamparan bersarang manis di pipi kiri Alexio, tentunya dari tangan mulus Dira namun dengan kekuatan emak gulat.


“Ashhhhh.” Lenguh Alexio meringis sakit.


Tanpa ucapan selanjutnya, Dira bergegas pergi dari tempat itu, namun baru saja nyaris meraih undakan tangga.


“Tunggu!!!” Alexio menahan langkah Dira, dengan menarik lengan Dira pastinya.


Dira menghembuskan nafasnya panjang.


‘Ya Tuhan, aku mau teleport, aku gak kuat,’ jerit batin Dira di dalam sana.


“Jangan pergi.” Ucap Alexio lagi.


Namun dijawab kembali dengan kebisuan Dira.


Alexio tak tahu saja, kebisuan itu justru lebih mencekam bagi Dira. Ia berusaha menahan otaknya yang ingin berucap, namun ia kekeuh untuk bertahan sekuat tenaga...


Sekuat tenaga... sampai, sampai sekuat itu kini tak bertenaga lagi.


“Please.”

__ADS_1


Kaki Dira mendadak berubah menjadi jelly, bahkan tubuhnya seolah ringan dari sebelumnya.


Manakala Alexio memohon sembari lengan kekarnya sudah bersarang memeluk tubuhnya.


‘OH GODDDD, PINDAHIN TUBUH AKU SEGERA!!!’ batin Dira memekik di dalam sana.


Ia belum bisa menguasai kesadarannya akibat sentuhan bibir Alexio, dan sekarang pemuda itu dengan entengnya memeluk dirinya.


Oh no, kalo Dira pingsan, bakal malu gak ya?


Digotong sepanjang koridor sekolah dengan Alexio yang membawanya.


Dira menggeleng cepat dalam rengkuhan Alexio.


Tidak... tidak boleh.


“Jangan gini,” Dira menarik paksa lengan Alexio yang melingkari tubuhnya.


Ia kembali hendak turun.


“Dira... please.” Alexio membalik tubuh Dira agar menghadap dirinya.


‘YA TUHAN, KABULKAN DOA HAMBAMU YANG KEBAIKANNYA MASIH CETEK.’ Tangis batin Dira.


Ia jamin setelah ini, dirinya tak akan bisa dikendalikan lagi.


Udahlah, pasrah aja


Bukan salahnya kan.


Ia sudah menjauh


Tapi makhluk astral ini malah menariknya lagi.


“Mau kamu apa?” dira bertanya, ia tak sadar jika panggilannya kembali normal kepada Alexio.


Memantik kesadaran pemuda itu ketika Dira menggunakan kata KAMU lagi untuknya.


“Jangan pergi.” Pinta Alexio pelan.


Dahi Dira berkerut banyak.


“Kita gak ada hubungan apapun, dan kamu inget kan kalo keluarga aku ada kesalahan sama kembaran kamu.” Dira mencoba mengingatkan lagi omongan Alexio kala itu.


“Tapi aku gak mau kamu pergi darisisi aku.” Ucap Alexio.


‘Dia pakek AKU, KAMU’ batin Dira bertanya


“Atas dasar apa aku harus gitu. Kamu kan benci banget sama aku.” Sahut Dira tegas.


Alexio menggeleng. Ia meraih telapak tangan Dira.


Menggenggamnya pelan, penuh kelembutan.


Dira hendak menarik, sebelum ledakan jantungnya berbunyi.


Tapi Alexio menahannya....


“Please, jangan pergi....” pinta Alexio. Menatap lekat Dira, dan mengikis jarak diantara keduanya...


Hendak menjangkau bibir merona itu lagi...

__ADS_1


“Alexio..... hiks..... hiks..” terdengar isak tangis kuat di telinga Alexio


“Xia...” gumam Alexio..... dan pingsan.


__ADS_2