
“Dira?” Kairan Ladh sudah berdiri mantap di teras rumah dan menyambut puterinya yang pulang malam dengan Alexio.
“Pa.” Dira mendadak kelu.
Duh, gimana ini, pikirnya.
“Malam om.” Alexio melewati tubuh Dira dan bergegas menuju Ladh dan meraih tangan pria paruh baya itu lalu mencium punggung tangan.
“Alexio? Kalian darimana?” tanya Ladh menyipitkan mata yang lurus kepada puterinya.
“Maaf om, tadi belum izin jalan sama Dira.” Alexio meminta maaf karena ia tadi hanya izin pada Paul bukan ayah gadis itu.
Kairan Ladh yang tahu catatan medis Alexio berikut permohonan Bisma untuk mengizinkan Dira mendampingi Alexio menjalani terapi tidak mempermasalahkan keduanya jalan.
Hanya saja, Dira statusnya masih bersama Jonathan. Jangan membuat masalah di belakang, karena orang tua Jonathan juga sahabat Kairan Ladh selain Bisma.
“Ya udah, karena hari sudah larut kamu langsung pulang saja. Terima kasih sudah mengantarkan dan menjaga Dira.” Ucap Ladh mengisyaratkan pengusiran pada Alexio yang dipahami pemuda itu.
“Aku pulang ya.” bisik Alexio melewati Dira setelah berpamitan dengan Kairan Ladh sebelumnya.
Gerbang pun kembali tertutup setelah motor itu menghilang di baliknya.
“Kamu ini, ingat Dira, apa kata papa.....” belum selesai ceramah Kairan Ladh sudah kepalang disalib Dira.
“Aku udah putus sama Jo, pa.” Ujar Dira memotong.
“Dan Jonathan gimana?” masih mengkhawatirkan anak sahabatnya itu.
“Jo nerima, karena kami ngomong baek-baek kok.” Sahut Dira jujur.
“Ya sudah kalo begitu. Jadi setelah ini kamu akan dampingi Alexio menjalani terapi? Kamu yakin? Itu tidak segampang yang didengar Dira, skizofrenia itu bisa menyerang dunia nyata kamu sendiri.” Jelas Kairan Ladh memberi pengertian.
“Maksudnya pa??’ Tanya Dira bingung
“Skizofrenia itu menyerang seseorang sehingga ia kesulitan membedakan mana nyata dan mana yang bukan. Dan kamu, bisa-bisa kamu terbawa nanti.” Lanjut Ladh menjelaskan.
“Dira usahakan sebaik mungkin, pa. Ada papa kan sebagai dokter yang akan mengingatkan Dira nantinya.” Ujar Dira yakin.
.
.
.
“Minggu depan kalian sudah mulai disibukkan dengan ujian semester, latihan soal yang sudah kita kerjakan selama beberapa hari ini terus diulang di rumah bila perlu, paham!!” ibu Dila, wali kelas 12 E yang kesabarannya seluas samudra dan alam semesta itu dengan lantang berujar dari kursi kebesarannya.
“Siap bu!!!!” sahut semua siswa keras.
“Jangan siap-siap saja, kalian itu sudah kelas 12, jangan sampai alamat kampus kalian nanti letaknya di tempat yang levelnya sama dengan kelas ini.” Mulailah obrolan mengandung bawang itu terlontar.
Jika sudah begini, haru akan menyerbak di setiap sudut kelas. Karena wali kelas mereka cenderung mudah tersentuh, tak cocok sekali dengan gelar badung siswanya.
__ADS_1
“Ibu jangan sedih dong. Iya kami janji bakalan masuk kampus yang top deh, tapi gak janji di level 1 sampe 2 bu ya, semampu kami lah.” Celetuk siswa yang tengilnya menjawab.
“Ibu tidak akan malu dengan siswa ibu, tapi hanya khawatir kalian tidak akan bisa mendapatkan pendidikan di tempat yang sama dengan orang lain.” Begitu saking cemasnya si guru akan siswa badungnya.
Kumpulan kelas 12 E adalah mereka yang awalnya berasal dari kelas A-D namun karena berbagai alasan mereka merosot sampai mentok kelas E.
“Ibu harap kalian bersungguh-sungguh kali ini, ketika kita berjumpa lagi, ibu mau melihat kalian sudah menjadi orang yang sukses.” Ceramahnya
“Perlihatkan pada yang lain bahwa kalian juga bisa berhasil, paham!!” tegas ibu Dila yang kembali disahuti para siswa dengan kata SIAP.
Tak lama setelah ibu Dila pergi, para siswa kasak-kusuk membahas berbagai hal terutama tujuan mereka setelah lulus nanti.
“Lo bakalan kemana Dira?” Tanya Santi, siswi yang duduk di depan Dira.
“Entah. Bingung.” Sahut Dira, ayahnya menghendakinya menjadi dokter, tapi abangnya menghasutnya untuk mengambil yang sesuai keinginan gadis itu.
Abangnya saja membangkan dan mengam bil bisnis.
“Kamu mah enak, mau kuliah apapun pasti balik ke rumah sakit bokap lo.” Ujar Santi yang dijawab Dira dengan kendikkan bahu.
“Apalagi udah sama Alexio, tambah makmurlah Dira.” Sahut Angeline dari sisi kirinya.
“Duduk manis ajalah Dira, jadi Nyonya Bisma.” Tambah Santi terkekeh bersama Angeline
Oh God, Dira merona mendengar ujung namanya diselipkan Bisma.
Sadar Dira, kamu hanya kebetulan aja diperhatiin Alexio. Jangan langsung nerima. Siapa tahu itu misi rahasia Xia.
Bel pulang berbunyi nyaring. Semua siswa mulai beranjak keluar kelas.
Tanpa berpikir panjang ia bergegas keluar, mencari ke kelas pemuda itu tapi sudah kosong.
Rooftop? Oke kesana, tapi juga kosong
Kemana doi?
Mencoba menghubungi melalui telepon, tapi tidak aktif
“Kemana Alexio ya?” tanyanya sendiri.
“Eh itu Andi?” ucapnya saat melihat Andi dan Barry di ujung koridor menuju pintu keluar.
“Andi!!!!!” pekiknya menahan langkah dua pemuda sekaligus.
Hoshh hoshhhh terengah-engah. Menarik nafas dan membuangnya kasar.
Capek lari-larian.
“Kalian lihat Alexio, gak?” tanya Dira begitu sudah sampai di hadapan keduanya.
“Tadi pulang duluan dia, pas ada telepon langsung kabur tuh anak.” Jawab Andi
__ADS_1
“Pulang?” ujar Dira mengulang
“Urgent katanya tadi.” Timpal Barry
Urgent?
Siapa?
“Ponselnya gak aktif pas aku telpon.” Sambung Dira heran.
“Gak tahu, jarang-jarang sih kontaknya gak aktif. Kali ada urusan penting.” Sahut Andi menjelaskan.
“Oh ya udah kalo gitu, makasih ya. Bye.” Dira melambaikan tangan lalu melesak pergi sembari menelpon Paul untuk menjemputnya.
Disela menunggu kedatangan Paul, Dira mencoba menghubungi Linda, ibunya Alexio untuk mempertanyakan kabar pemuda itu.
“Halo tante, ini Dira.” Ujarnya saat panggilannya dijawab
“Ada apa Dira” sahut Linda di ujung sana
“Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan keluarga tante?” penuh hati-hati bertanya
“Sesuatu?” Linda bingung dari nada bicaranya
“Kata Andi, Alexio tadi pulang cepat setelah mendapat telepon penting. Dan kontaknya tidak aktif sedaritadi Dira telepon. Jadi Dira mau tanya ke tante kalau-kalau ada yang terjadi di sana.” Jelas Dira pelan.
“Gak ada, tante sama om lagi di Bandung, udah 3 hari di sini.” Jawab Linda
Bandung?
Lalu kemana Alexio.
“Ooh ya udah kalau begitu Dira minta maaf ya tante mengganggu waktu tante.” Ujar Dira
“Tidak apa-apa Dira.” Sahut Linda
Panggilan diakhiri dengan salam dari Dira tentunya.
Dira tentu langsung berpikir keras.
“Kemana itu orang.” Tanyanya sendiri
Ayo Dira, cepat gunakan insting mu kalau otakmu tak sampai 2 GB.
Danau? Rumah itu? Markas?
“Argggghhhh di mana Alexio sih??” geramnya sendiri
Ia tak menyerah, Alexio harus ia temukan hari ini, khawatirnya luar biasa, takut terjadi apa-apa dengan pemuda itu.
Hingga malam hari pun, kontak Alexio tetap tak bisa di hubungi, kabar dari Andi dan Barry pun sama, mereka tak bertemu Alexio di markas, pun di arena balap tak dijumpai keberadaan pemuda itu.
__ADS_1
Apa mungkin di rumah lama Alexio? Atau danau?
Ia yakin saat ini, Alexio pasti bersama sosok fiksi ababil itu, alias si Xia-lun.