
Alexio memundurkan langkahnya, urung untuk memberikan kejutan pada Dira. Tapi, baru saja hendak menjangkau akhir pintu perpustakaan, ia berbalik lagi, mempercepat langkahnya.
“Ikut aku.” Tanpa butuh jawaban, ia menarik paksa Dira untuk mengikutinya.
Dira yang belum siap pun terkejut mendapati Alexio menariknya, bahkan tak ada sapaan atau kalimat sebelumnya.
“Eh, Al-Alexio?” tanpa tahu apa maksud tarik menarik ini, ia menatap Jonathan bingung.
“Jo titip barang-barang aku ya.” teriaknya yang setelah mengucapkan itu langsung mendapat teguran staf perpustakaan berikut pengunjung yang terganggu dengan suara keras Dira.
“Ma-maaf.” Ucapnya menundukkkan kepala.
“Alexio, mau kemana?” tanyanya yang masih belum tahu kemana langkah kaki yang terseok-seok ini akan berakhir karena dari awal sampai sekarang tak ada satupun jawaban dari Alexio. pria itu hanya diam dan tetap konsisten membawa Dira mengikutinya.
“Tampan sekali!!” ucapan yang bernada kekaguman mengiringi langkah keduanya, tentu itu ditujukan pada Alexio, pria berperawakan Asia yang entah bagaimana bisa mencetak rupa bak garis wajah Eropa sekaligus.
Bamp!!!!
Tubuh Dira didorong masuk ke dalam mobil berikut bantingan suara pintu yang lumayan keras hingga mengagetkan Dira.
“Dia kenapa sih?” sungut Dira memperhatikan langkah Alexio yang memutari mobil dan mengambil duduk di posisi kemudi.
Lamborgini edisi limited itu pun mulai meninggalkan parkiran gedung kedokteran universitas Tokyo dengan tetap pada suasana sunyi.
Dira mencuri pandang pada Alexio yang fokus menatap jalanan Hongo, perlahan menjauh dari keriuhan kota, menepi di tempat yang cukup tenang karena kini mobil itu berada di area Forest Hongo yang masih tak jauh dari lokasi Tokyo University.
“Kenapa kau membawaku kemari, Alexio?” lagi-lagi Dira yang mengucapkan kata tanya, menoleh ke sekeliling tempat yang merupakan wilayah penginapan.
“Turun!” titah Alexio yang sudah terlebih dahulu keluar dari mobil.
Dira masih diam, enggan mengikuti ucapan Alexio. “Dira turun.” Ucap Alexio memerintah.
“Gak mau, kasih tahu dulu mau ngapain.” Tolak Dira konsisten
“Baiklah kalau itu maumu.” Membuka pintu dan tanpa butuh persetujuan, Alexio membopong tubuh Dira bak karung beras.
“Alexio!!!” sontak Dira memekik kala tubuhnya melayang dan ditopang tubuh kekar Alexio.
Tak ada tanggapan, bahkan pegawai penginapan pun terlihat acuh meski Dira berteriak memberontak
“Turunkan aku Alexio!!!” pekik Dira meronta-ronta
__ADS_1
Ting!
Bunyi lift yang pintunya terbuka semakin membuat Dira membelalakan matanya. “Alexio!!! turunkan aku!!!” tak henti Dira berusaha menolak usaha Alexio yang entah tujuannya apa. Dari awal ia saja heran ditarik paksa dan kini tahu-tahu dibawa ke dalam sebuah penginapan.
Memukul punggung Alexio sebagai usahanya memberontak, tapi tak ada respon ringisan sekalipun dari Alexio, pria itu tetap membawanya yang saat ini sudah tiba di depan pintu kamar.
Ceklek!!
Dira membulatkan matanya menangkap tanda bahaya ketika ia sudah dibawa masuk oleh Alexio ke dalam kamar.
“No!!” ucapnya menggelengkan kepala
“Arghh.” Dira tersentak manakala tubuhnya dijatuhkan di atas ranjang empuk oleh Alexio.
“Alexio!” lirih Dira memanggil, ia mengambil posisi duduk dan sikap waspada, entah kenapa pikirannya terjerumus pada berbagai adegan novel dewasa yang mirip dengan kejadiannya saat ini.
Bayangan liar pun bersilewaran di kepalanya, hingga otomatis ia menarik tubuhnya dan bersandar di headboard ranjang.
“Alexio.” lagi-lagi Dira berusaha menyadarkan Alexio, pria itu sudah mengambil posisi duduk di atas ranjang. Menatap Dira lekat.
“ARGHHHHH!!!” Tiba-tiba Alexio berteriak membuat Dira semakin ketakutan.
“Ka-kau ken-kenapa?” gugupnya bertanya, was-was dengan tingkah Alexio di hadapannya.
“Dosa? Maksudmu apa?” tanya Dira
“Kamu tadi mengatakan jika ada rahasia yang disimpan papamu dariku, apa itu.?” Tanya Alexio.
Dira tersentak, apa mungkin Alexio mendengarnya tadi? Begitu pikirnya.
“Cepat katakan, Dira!” titah Alexio menuntut. Dira berkeringat, tangannya bahkan bergetar, bingung memulai dari mana dulu.
Rahasia ini bukan sekedar masalah sepele, ada hal besar yang disembunyikan Alexia di sana hingga Kairan Ladh tanpa berpikir panjang langsung menyobek bagian curhatan mendiang kembaran Alexio dari diary merah muda itu.
Alexio menekan ranjang, mendekati Dira hingga jarak mereka semakin terkikis banyak.
“Dira, katakan padaku, selagi aku masih dalam kondisi tenang dan waras.” Lirih Alexio berucap, kali ini nada bicaranya terkesan memohon pada Dira.
“Alexio.” sahut Dira lirih, isaknya pun mengucur segera tanpa mampu dibendung, ia tak mencoba bersandiwara, sumpah, ia kali ini disergap rasa bingung dan takut luar biasa.
“Ku mohon Dira.” Pinta Alexio menggenggam tangan Dira.
__ADS_1
“Maafkan papaku, Alexio.” Dira menundukkan kepalanya, memohon maaf atas perilaku lancang ayahnya.
“Katakan padaku, agar aku tahu apakah perbuatan papamu bisa ku maafkan atau justeru aku hakimi.” Tanggap Alexio.
Tiba-tiba Dira merengkuh tubuh Alexio, dengan tubuh bergetar, ia seolah menjelaskan bahwa apa yang ia tahan bukan sesuatu yang mudah ia sampaikan.
“Jelaskan Dira, aku tidak bisa bersabar terlalu lama.” Ucap Alexio tak membalas pelukan Dira.
“Pelaku pelecehan adikmu adalah suruhan mantan papa mu Alexio.” Dira mulai menjawab.
“Maksudmu?” tak puas dengan jawaban barusan, Alexio menarik tubuh Dira agar mampu ia tatap langsung.
“Alexia adalah tempat mereka membalas dendam karena perlakuan kakekmu pada wanita yang merupakan mantan papamu.” Lanjut Dira menjelaskan.
“Alexia tahu setelah beberapa kali di lecehkan Pak Roni.” Sambung Dira
“Papaku juga tahu saat terakhir Alexia bukan karena kematian akibat pisau itu.... tapi...” Dira menggantung ucapannya. Sesak rasanya untuk melanjutkan.
“Tapi??” Alexio menunggu
“Suruhan kakekmu yang menarik oksigen Alexia saat itu.” Jawab Dira pelan, sungguh tak sanggup ia menjawab hal itu.
“Ulangi! Apa maksudmu Dira.” Alexio mengguncang tubuh Dira akibat ia shock atas ucapan barusan.
“Alexia sengaja di buat meninggal agar transplantasi organ tubuhnya bisa dialihkan seluruhnya padamu Alexio.” jawab Dira lalu menjerit tangis setelahnya.
“Karena Alexia sudah dilecehkan, kakekmu tidak terima di sana, sempat diminta untuk membuang Alexia ke luar negeri agar tidak ada satupun yang tahu aib itu. Tapi papamu menolak dan tetap mempertahankan Alexia di sisinya.”
“Kakekmu meminta papa untuk memutuskan mengakhiri kehidupan Alexia karena memang dalam keadaan koma saat itu, tapi papaku menolak, dan akhirnya....” sudah jelas apa yang akan digambarkan Dira selanjutnya, keduanya bukan orang bodoh. Sudah pasti bisa melanjutkan.
Rasanya ia mau terjun ke jurang yang penuh benda tajam di dalamnya, lebih sakit saat ini ketika menceritakan luka yang akan kembali menganga pada Alexio.
Belum cukup kisah tragis yang membuatnya sampai mengidap skizofrenia, bahkan penyakit itu tak bisa sembuh hanya bisa ditenangkan dengan obat yang mesti Alexio konsumsi selamanya.
Dan kini dengan cerita barusan, ia seakan ikut serta dalam membunuh saudarinya. Ia yang terlahir tak sempurna dan tergantung pada kembarannya, ternyata menjadi alasan keluarganya, ahh kakeknya yang ambisius itu untuk memilih pewarisnya ketimbang Alexia yang sudah ternoda dan tak layak untuk menjadi penerusnya.
“Brengsek.” Gumam Alexio, meremat kuat sprai yang membalut ranjang tempat keduanya duduk.
“Alexio.” panggil Dira menyentuh lengan Alexio.
“Al----“ belum selesai Dira berucap, Alexio menepis tangan Dira dan beranjak dari ranjang.
__ADS_1
“Alexio!!” Teriak Dira ketika pria itu sudah menghilang di balik pintu keluar kamar, meninggalkan Dira seorang diri.