
Keduanya masih menatap lekat, hanya saja pacuan debaran jantung keduanya tidak sama, jika Alexio masih bisa mengendalikan, lain halnya dengan Dira yang sudah pasrah jantungnya berpindah ke planet merkurius sana.
“Al-Alexio.” Ucapnya gugup, ia dikunci oleh netra legam itu, padahal dulu inilah yang ia inginkan saat masih remaja, disukai balik, kencan dan melakukan adegan romantis bersama Alexio.
Akan tetapi rupanya hayalan dan praktek itu tak sama rasanya. Jika begini deguban jantung dan rona wajahnya semakin liar tak terkendali, harusnya ia belajar ilmu pengendalian diri sebelum terjun uji nyali.
“Hmm, iya beby.” Sahut Alexio, nafasnya bahkan menubruk langsung wajah Dira.
Sial!
‘Pasrah aja apa ya? ya Tuhan, berilah kekuatan dalam menghadapi kepasrahan ini.’ batin Dira berdoa.
Sial bagian 2!
Alexio tanpa tahu diri mengusap pipi mulus Dira yang sudah semerah tomat, menyelipkan anak rambut ke belakang telinga gadis itu dan dengan sengaja memelankan sentuhan jemarinya yang mengenai kulit leher Dira.
Sirrrrrrr
Meremang sudah bulu roma anak gadis orang woy!!!!!!!
Sudah tak tahu lagi bagaimana keadaan kerja organ tubuh Dira, oleng dan tentu saja tak mampu mencerna keadaan sekitar, kepolosannya membuatnya tak berdaya.
Pasrah namun rela
Aisshhhh
“Kau siap Dira?” Alexio mendekatkan wajahnya dan berbisik di sisi wajah Dira hingga menambah desiran yang tadi belum hilang.
Refleks Dira memejamkan matanya, eihhh ngapain mejemin mata? Tubruk napa tuh kepala anak si Bisma woyyy!!!!
Alexio menyeringai saat melihat Dira memejamkan matanya. Awalnya ia hanya berniat menggoda gadis yang pernah kabur sengaja meninggalkannya. Namun melihat tidak ada penolakan dari Dira, kenapa ia tak mencoba saja, keun?
Jiwa kelelakiannya sekejap terpancing, aroma peach yang menguar dari tubuh Dira turut memberi kesan manis yang ingin dihirup lebih dalam oleh Alexio.
‘Paaaa maafkan anakmu kalo ngasih cucu kecepetan ya, Dira mau makanya pasrah.’ Batin Dira disela kegugupannya merasakan gerakan Alexio semakin intim padanya.
Hidung Alexio bahkan sudah menyentuh hidung Dira, tinggal sejengkal lagi, maka kedua bibir mereka akan melakukan silahturahmi.
Deg
Deg
Deg
Ting
Tong
Suara bel yang menjerit itu mematahkan salam pembuka yang baru akan dilakukan bibir Alexio yang sudah berhasil menyentuh bibir merah muda milik Dira.
__ADS_1
Sial bagian 3!!!
Seakan tersadar, Dira sadar dengan cepat. “Ada tamu sepertinya.” Meredakan kegugupannya, Dira bergegas mendorong dada Alexio, namun ditahan, “Tak usah dibuka, tak penting.” Sahut Alexio tak rela rencananya diganggu.
Dira menggeleng “Mau lihat dulu siapa.” Dira melepas genggaman Alexio dan turun dari ranjang menyeramkan itu.
Berlari kecil menjangkau daun pintu untuk melihat dan berterima kasih pada si tamu yang datang di waktu yang tepat.
Ceklek
“J-Jonathan?!!” ucap Dira gugup ketika mendapati tamunya adalah pria yang pernah menjadi mantannya dan masih berharap balikan lagi.
Jonathan tersenyum, “Hai, makan?” sahutnya mengangkat paperbag yang Dira pastikan isinya pasti ramen langganannya.
“Siapa Dira?” dari arah dalam, Alexio yang menangkap suara lelaki segera menghampiri Dira.
“Alexio?” Jonathan kaget ketika melihat wujud rivalnya berdiri di belakang Dira, bahkan penampilannya pun cukup membuat Jonathan sedikit syok.
“Oh Jonathan.” Sahut Alexio mendekati Dira dan merengkuh tubuh gadis itu dengan seenaknya.
“Alexio!!” Dira kaget, bahkan kini ia merasakan jika tubuh yang memeluknya ini....
‘Ya Tuhan, kemana bajunya???!!’ Batin Dira menjerit ketika menoleh ia terkejut melihat Alexio sudah melenyapkan kausnya tadi.
“Kalian habis ngapain?” tanya Jonathan yang masih mencerna pemandangan di hadapannya. Apalagi melihat penampilan Dira yang acak-acakan dengan rambutnya yang tak rapi lagi.
“Ayo makan Dira.” Tanpa butuh persetujuan, Jonathan menubruk tubuh keduanya lalu melenggang masuk ke dalam apartemen Dira.
Berjalan menuju dapur, mengambil peralatan makan lalu menatanya di atas meja makan. Mengeluarkan isi bungkusannya tadi dan menatap Dira yang masih membatu di depan.
“Ayo makan.” Panggilnya. Dira bergegas menghampiri Jonathan dan meninggalkan Alexio yang juga mengikutinya.
Bahkan Jonathan begitu perhatian dengan menarik kursi dan mengarahkan Dira untuk duduk. Menggeser mangkuk, mengisi air putih lalu menaruhnya di hadapan Dira.
“Ayo makan, bukankah kau menyukai ramen ini?” ucapnya yang diangguki Dira dengan senyuman.
“Terima kasih Jo.” Balas Dira masih tersenyum
Bagaimana Alexio?
Emang dipikirin. Siapa suruh gak ngomong ke tempat Dira, jadinya gak dikasih dah tuh makan. Wkwkwkwkw
Ia sadar tak dipedulikan, maka dari itu, sikap arogan yang ia miliki bertindak cepat.
“Arghh Alexio!!” pekik Dira saat Alexio mendekatinya dan mengangkat tubuh Dira lalu dipangkunya.
Tersenyum smirk pada Jonathan seolah menyiratkan ucapan NAPA LO LIAT-LIAT HUH!!!
“Ayo makan, beby.” Ia menyendokkan mie ramen milik Dira lalu menyuapkannya ke mulut gadis itu yang enggan menerimanya, selain sungkan ada Jonathan, ia tak nyaman dengan posisi ini.
__ADS_1
“Aku bisa sendiri, Alexio.” tolak Dira yang justeru memicu senyum Jonathan yang menunduk.
“Aku tak menerima penolakan Dira. Makan.” Titah Alexio cuek
“Jangan paksa Dira.” Ucap Jonathan dengan nada mengecam
Alexio melayangkan tatapan tajam menusuk, “Oh ya? cih.” Cibir Alexio, tangannya erat pada pinggang Dira, tidak membiarkan gadis itu beranjak sedikitpun.
“Makan Dira, apa mau ku cium seperti tadi?” nada ancaman mulai dikeluarkan Alexio, hanya saja, bunyi ancamannya yang membuat Dira membelalakan bola matanya.
“Hei, jangan asal bicara.” Sanggah Dira, mendadak sungkan dihadapan Jonathan yang menatapnya penuh tanya.
“Aku gak ngapa-ngapain tadi Jo sama Alexio. sumpah.” Dira mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya sebagai bentuk sumpah.
Mendengar ucapan Dira, justru memantik gelegak dalam dada Alexio, wah gadis ini melupakan kejadian tadi rupanya. Walau hanya sentuhan, tapi tetap mencium kan?
“Makan Dira, kemari.” Jonathan beranjak dari duduknya dan mengulurkan telapak tangannya agar Dira berpindah duduk saja.
“Alexio.” lirih Dira memohon karena tak sedikitpun tangan Alexio mengendurkan rengkuhan di pinggangnya.
“Makan bersamaku Dira.” Tekannya menatap Dira tajam
Menghela nafas pasrah. “Sorry Jo.” Ucap Dira menatap Jonathan tak enak hati.
“Dira tak nyaman dalam posisi itu brengsek!” sentak Jonathan, ia menekan katanya dan menarik paksa lengan Alexio agar melepaskan pegangan, dan nyatanya berhasil.
Aih bang Al, mudah kali lepas pegangannya!
Alexio menarik sudut bibirnya, “Lo selalu berani menantang gue, padahal selalu kalah pada akhirnya.” Ujar Alexio menyindir. Ia bangkit dan mengangkat Dira dari pangkuannya. Menatap Jonathan lekat, lalu.
Bugh!
Bugh!
Brak!!!
“Jonathan!!!!” Dira memekik ketika tubuh Jonathan menghantam dinding pembatas yang terbuat dari semacam triplex antara ruang tamu dan ruang makan.
“Lo... jangan... pernah... memerintah gue.!” Tekan Alexio perkata, ia muak selalu berhadapan dengan orang yang sama, dan memperebutkan hal yang sama pula.
“Alexio, no!!!” Dira menahan Alexio dengan memeluk lehernya yang kini dalam posisi duduk menindih tubuh Jonathan
“Please, jangan.” Lirih Dira meneteskan air matanya, berharap Alexio mendengarkan ucapannya.
“Please Alexio, please.”
“Sorry beby.” Alexio menarik tubuh Dira dan merengkuhnya, sementara Jonathan harus menahan diri melihat hal itu, kepalan tangannya bahkan menunjukkan buku jemari yang memutih tanda ia berada dalam titik emosi memuncak.
‘Sialan lo Alexio, lihat saja, Lo tak akan selamat kali ini.’ kecam Jonathan dalam hatinya.
__ADS_1