Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 116


__ADS_3

“Tuan, ada kiriman untuk anda.” Anak buah Suprapto menyodorkan sebuah kotak berwarna hitam terbungkus plastik bening sebagai pelindung.


Suprapto mengibaskan telapak tangannya, mengusir pria kekar dengan tatto di salah satu sisi wajahnya. Lalu setelah tinggal dirinya di ruangan itu, ia menyolokkan benda yang berbentuk disk dan menunggu tampilan layar.


Video?


Klik! Ia menggeser cursor pada file yang hanya ada satu itu. Lalu menekannya.


Tembok berwarna merah muda terpampang sebagai latar video yang sudah diputar oleh disk itu. Hanya dinding, tidak ada satu siluet pun seseorang yang tampak di sana. Dan durasi waktu terus berjalan, hening. Kesabaran Suprapto nyaris terkuras habis dan jemarinya siap mencabut disk jika saja detik berikutnya suara misterius itu tidak keluar.


“Bagaimana rasanya merenggut nyawa cucumu sendiri, tua renta?” awal yang bagus sebagai kalimat pembukaan percakapan, cukup membuat Suprapto tertegun mendengarkan.


“Apa dia bilang?” berang Suprapto


“Kau sungguh biadab, tidak hanya merenggut nyawa cucu sendiri, tapi kau juga membuat ia menulis kisah palsu serta menuduh orang yang tidak bersalah demi menutupi kejahatanmu sendiri.” Lanjut si pemilik suara.


“Asal kau tahu, cucumu meninggalkan satu bukti bahwa kau membuatnya menulis hal yang bertentangan dengan fakta sebenarnya, berikut rekaman suara yang menyatakan jika kau pelaku sebenarnya.”


“Brengsek, siapa orang ini.” Umpat Suprapto bertambah kesal. Wajahnya sudah memerah.


Setelah suara misterius itu, rekaman suara milik Suprapto yang direkam oleh Roni menyela setelahnya. Telinga Suprapto menangkap dengan jelas jika itu adalah dirinya, matanya membelalak liar menyadari jika alarm bahaya menyertai yang ia dengar saat ini.


“Sialan!!!” pekiknya segera bangkit dan bergerak menuju pintu, mencari anak buahnya yang berjaga di sana.


Brak!!! Suara pintu dibuka paksa mengagetkan para penjaga yang ada di depannya.


“Tu-tuan!” ucap mereka

__ADS_1


“Cepat tanya kabar markas kita pada para penjaga di sana, cepat!!!” titah Suprapto dengan suara meninggi.


“Si-siap tuan,.” Sahut mereka, lalu salah satu anak buah Suprapto menekan panggilan dan menghubungi anak buah Suprapto yang berjaga di sana.


“Ini tuan.” Anak buah itu menyerahkan ponsel pada bosnya, dengan gerak cepat dan kasar Suprapto menyambar benda itu.


“Bag----“ ucapan Suprapto mengambang saat disambar duluan anak buahnya.


“Bos, markas sudah dikepung oleh kepolisian, semua barang bukti sudah disita. Saya berhasil kabur karena banyak rekan-rekan yang tertangkap dan juga tertembak di dalam sana.” Anak buah Suprapto yang berjaga di markas besar miliknya mengabarkan berita yang mampu meluluh lantakkan emosi Suprapto saat itu juga.


“SIALAN!!!!” dengan emosi membumbung tinggi, Suprapto membanting ponsel milik anak buahnya, wajah menunduk para anak buah Suprapto menyiratkan mereka harus menjaga sikap, jangan ada yang bersuara satu pun jika tidak mau di dor oleh bos mereka.


Belum selesai berita tentang skandal keterlibatan Suprapto pada bisnis haram yang sempat dibantahnya dengan bukti jika itu hanya perang bisnis dengan musuh-musuhnya. Kini semua harus tertelan pahit akan fakta jika ia memang bandar dari bisnis haram itu. Belum lagi pendirian yayasan amal olehnya hanya alibi menutupi bisnis jual beli organ serta perdagangan orang yang diambil dari yayasan sendiri.


Ia melakukan adopsi palsu dan dengan cara itu pula ia mengambil organ serta menjualnya pada klien yang menginginkan, belum lagi klien yang ingin membeli para gadis-gadis muda yang masih perawann pun tersedia karena Suprapto memang mengambil anak-anak yang masih murni dan dirawat serta dipantau dengan baik sebagai modal bisnisnya.


“Aku curiga jika yang terlibat di sini pasti orang itu.” Duga Suprapto merenung di sudut ruang kerjanya, ia baru saja mendapat telepon dari kuasa hukumnya bahwa pihak kepolisian memanggil dirinya untuk dimintai keterangan. Namun kebiasaan para orang kaya bermasalah, alasan sakit akan menjadi dasar utama kabur dari introgasi awal.


“Apa kita perlu memberikan peringatan serupa, tuan?” orang kepercayaan Suprapto yang selalu mendampingi selama hidupnya itu memberikan masukan.


“Tentu, kita beri kejutan untuk orang itu, rupanya ia tidak jera dengan kejadian tempo dulu sepertinya.” Decih Suprapto mengepalkan tangan dengan tak sabar, seringainya terbit mengingat sebentar lagi akan membalas perbuatan orang yang sudah berani menyentuhnya.


.


.


.

__ADS_1


Di tempat lain, Bisma dan Linda terlihat lega melihat kabar dari media yang menyatakan jika bisnis Suprapto terkuak semuanya. Markas pun sudah digeledah dan pria tua itu tidak bisa mengelak lagi dengan bukti kuat mengarah padanya.


Senyum puas tercetak sempurna di wajah Linda yang asik menonton dari ipadnya, ia yang sedang menata bunga segar di pot kaca juga bersenandung riang. Akhirnya sebagian dari diri Suprapto tersenggol menuju ambang kehancuran, tinggal selangkah lagi dari bukti yang ia miliki untuk menjatuhkan pria yang menjadi mertuanya itu.


Kring!!!!


Dering ponselnya menjerit keras, ia mengambil benda yang ia letakkan di atas meja. Baru beberapa detik panggilan itu berlangsung, ponsel yang tadinya menempal di telinga kanannya sudah terkapar membentur lantai keras tempat kakinya berpijak. Matanya membelalak sempurna, bibir kelu dan tubuh bergetar hebat.


“Ti-tidak, tidak!! Tidak!!!” Jerit Linda mendengar kabar barusan. Ia bingung mau melakukan apapun, daya kerja otaknya seakan mati begitu saja fungsinya. Hingga salah satu asisten rumah tangga menghampiri karena khawatir, “Nyonya apa yang terjadi?” tanya asisten


“Hubungi suamiku, hubungi suamiku!” pekik Linda frustasi, hanya itu yang bisa ia lontarkan dari bibirnya yang masih sulit merangkai kalimat.


Gegas sang asisten berjalan tergopoh-gopoh memasuki rumah menuju telepon untuk menghubungi majikannya agar segera pulang atas permintaan nyonya besar.


Butuh 25 menit bagi Bisma menjangkau rumahnya, dengan langkah tergesa-gesa ia mencari keberadaan Linda yang dikabarkan berteriak histeris dari asisten rumah tangganya. Dari info yang diperolehnya, istrinya berada di halaman belakang tempat kebun bungan berada.


“Sayang.” Panggil Bisma saat sudah sampai di tempat di mana isterinya sudah berhasil mendudukan tubuh, namun dengan lesu dan terlihat sedih.


“Ada apa?” Bisma duduk bertatakan rerumputan, salah satu lututnya dijadikan penopang. Mengelus punggung tangan Linda yang terlihat kacau di matanya.


“Hiks.. hiks. Bisma...” Isak tangis Linda begitu pilu menyambut kehadiran Bisma, dengan cepat pria itu merengkuh tubuh istrinya, menenangkan.


“Andriana... Andriana di cu-culik.” Lanjut Linda lalu menangis keras, bahkan tubuhnya begetar hebat


“Apa?” tanya Bisma menarik rengkuhannya dan menatap istrinya.


“Andriana di culik dan mereka mengancam akan melukai adikku Bisma, aku harus bagaimana!” erang Linda frustasi

__ADS_1


__ADS_2