
Selesai mengurus berkas administrasinya, Dira memulai langkahnya tour kampus barunya. Ia meneruskan pendidikannya di kampus ini, dan sembari ia kuliah bisa sekalian mengenyam pendidikan menjadi asisten dokter Doni, hanya sebatas mengiringi saja, bukan mengambil tindakan. Karena untuk mengambil wewenang itu ia masih butuh surat izin dan menempuh ujian tersebut.
“Hmm, lumayan, sesuai kantong yang dikuras sih.” Nilainya untuk kampus ini.
Lengang, mewah, angkuh, dan menonjolkan kebanggaan di setiap sudutnya. Wajar jika banyak yang berebut menjadikan kampus ini pilihan selain kampus status negeri dan negara orang.
“Hai.” Sapaan dari suara berat yang ada kesan arogan di dalamnya membuat kepala Dira menoleh selintas. Tampan, sumpah, mana tubuhnya padat banget dari kaos yang mengintip dari balik jaket hijau army itu.
“Hai juga.” Balas Dira dan melengos meninggalkan pria itu hingga Dira mendengar kekehannya dari arah belakangnya.
“Menarik.” Cetus si pria tadi dan berjalan mengikuti Dira yang tentu sangat disadari gadis itu, “Kamu ikutin aku?” tanya Dira yakin betul.
“Hmm, 100% iya.” Tengil kali itu cowok jawabnya. Bahkan cengiran pun melengkapi wajah tampannya itu.
“Syuhh syuhh sana syuhhh syuhh.” Dira jelas sekali mengusir pria itu, bahkan kibasan telapak tangannya menjadi bukti pendukung perbuatannya.
Membatu, “Ngusir?” tanyanya yang diangguki Dira yakin, “Bye. Jangan ikutin aku ya.” Tanpa hati, Dira melenggang pergi begitu saja, namun tak mematahkan niat cowok tadi yang masih kekeuh mengikutinya.
“Hai Alan.” Satu persatu suara panggilan masuk ke telinga Dira, ia menoleh karena pandangan pada gadis mengarah ke belakangnya. Arghhhh demit satu masih ngintilin.
Dira memilih mempercepat langkahnya, dan segera berbelok saat di lihatnya menjadi akhir dari kejar-kejaran ini yang menuju parkiran mobil
“Yes.” Teriaknya tanpa suara.
“Hei.... tunggu.” Kan, lihat, cowok tadi mencekal pergelangan tangan Dira hingga membuat gadis itu mendelik tajam.
“Upsss sorry.” Ucapnya melepas tangan nakalnya.
“Gue Alan.” Mengulurkan tangan ke hadapan Dira. Tapi lagi-lagi songongnya si Dira mengacuhkan begitu saja, menarik handel pintu mobilnya dan bergegas masuk.
Brummmmm, mobil kuning itu mengikuti tuannya, melengos melewati cowok bernama Alan tadi.
“Ck, dianggurin gini cowok ganteng dan most wanted kampus ini? mau dikejer sampe kejungkal itu cewek.” Ucapnya menggelengkan kepala atas sikap penolakan Dira padanya. Matanya tetap tidak lepas dari sedan yang ditunggangi gadis songong tadi.
“Lihat dari sekarang, Lo bakalan gue buat sejatuh-jatuhnya nanti.” Ucapnya lalu menyeringaikan senyum tengilnya.
“Hai Alan.” Sapa para gadis yang dilewatinya.
__ADS_1
“Hai babe.” Sahutnya melambaikan tangan dan mengerlingkan matanya hingga teriakan histeris pun terdengar setelahnya.
Cowok incaran yang tengil itu memang ramah tapi tak akan membalas hal genit seperti tadi, berhubung hatinya sedang senang bertemu gadis angkuh tadi, ia ingin menunjukkan pada semuanya, penantiannya akan dimulai dari sekarang.
Di sudut kampus lain.
Alexio menatap ponselnya yang tertulis pesan dari suruhannya. Mereka melaporkan semua kegiatan Dira pada Alexio. ya, selama 4 tahun tak bertegur sapa, bertemu saja tidak, tapi tidak dengan keadaan gadis itu, Alexio tidak luput barang sehari pun. Maka hari ini, ketika berpapasan langsung, deguban jantungnya kembali bergairah. Seolah detak jantungnya hidup ketika bertemu gadisnya. Meski sikap dinginnya menutupi hal itu...
“Dira... dari sekarang, nikmati hukuman dariku. tidak akan ada yang boleh mendekatimu, siapapun itu. Dan kau tidak akan bisa mendekatiku lagi selama masa hukumanmu itu.” Janji Alexio menatap gambar Dira dari layar ponselnya. Ketika gadis itu banyak diganggu makhluk berjenis kelamin laki-laki.
.
.
.
“Hai Dira.” Dokter Doni yang melihat kedatangan Dira menuju kearahnya segera melambai pada gadis itu.
“Dira telat ya dok, maaf.” Mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya sebagai permintaan maaf.
“Its ok, ayo.” Sahut dokter Doni, mengajaknya masuk ke ruang rawat inap pasiennya.
“Bagaimana perkembangan pasien, dokter?” salah satu dokter yang ikut mengawasi pasien di bawah pertanggung jawaban dokter Doni memberikan berkas pasien yang bersangkutan.
“Dira, baca.” Dokter Doni mengangsurkan berkas atas nama pasien Rahayu Ningsih pun sudah berada di genggaman Dira.
Mata Dira fokus membaca, sesekali jemarinya menarik lurus tiap kalimat yang cukup menarik perhatiannya.
Skizofrenia.
“Baca bener-bener, Dira.” Titah dokter Doni. Beberapa dokter yang ada di gedung neuropsikiatri ini memang sudah diberi tahu bahwa ada puteri pemilik rumah sakit ini yang akan menjadi asisten dokter Doni selagi dirinya bersiap mengambil uji kompetensi untuk lisensi kedokterannya nanti.
“Iya dokter, ini aku baca sampe biji mata mau keluar.” Sungut Dira.
“Kamu ini, walau anak yang punya rumah sakit, kamu bawahan saya, Dira.” Kekeh dokter Doni tidak tersinggung, pun Dira tidak menanggapi serius ucapan dokter Doni. Ia menghormati pria yang memegang kendali tanggung jawab poli ini tapi tidak ada kekakuan karena jenjang bawahan dan pemilik diantara mereka.
“Gak usah disinggung napa dokter, Dira gak mau ntar disangka otak ini boleh lurus oleh papa semua.” Cetus Dira yang matanya tak lepas membaca riwayat pasien.
__ADS_1
Menurut berkas yang dibaca Dira, pasien yang usianya sudah masuk sepuh itu kerap menunjukkan gejala atau episode berupa penampakkan sosok puterinya yang terlelap di brangkarnya. Makanya saat ini ia memilih duduk memandang luar jendela sembari merajut sesuatu.
“Jadi, puterinya meninggal karena kelalaian pasien, dokter?” tanya Dira memastikan.
“Betul. Rasa bersalahnya tersebut membuatnya menciptakan sosok puterinya yang tidur di ranjangnya. Karena saat kematian itu, puterinya yang tengah sakit ditemukan tergeletak di ruang tamu dengan kondisi habis dilecehkan tetangganya yang mabuk.” Jelas dokter Doni.
“Setan memang pelakunya.” Umpat Dira tanpa sadar. Lalu menutup mulutnya saat perawat dan dokter Doni menoleh karena ucapannya tadi.
“Heheh, kelepasan.” Kekehnya
“Sana, dekati pasien.” Perintah dokter Doni pada Dira yang diangguki gadis itu segera. Menurut sekali anak Kairan Ladh.
“Hai nenek.” Sapa Dira berdiri di sisi kiri pasien.
“Aku adiknya dokter Doni.” Dira sesuka hatinya menunjuk dokter Doni yang dilihat pasien di belakangnya.
“Boleh duduk?” tanya Dira, bersikap sopan yang diangguki pasien.
“Nenek lagi buat apa?” tanyanya lagi, awas aja dicolok sama jarum rajut baru tahu rasa.
“Syal untuk puteriku.” Jawabnya sendu. Mengangkat sulaman benang yang sudah jadi dan membentuk syal cantik. Dira bisa melihat banyak tumpukan syal di dekat pasien.
“Banyak ya nek syalnya.” Ujar Dira, tidak dijawab. Mamam tuh dicuekin.
“Siapa nama puteri nenek?” pancing Dira, dan sontak si pasien berdiri. Mendekati brangkarnya, mengelus bagian bantal kepala dan tersenyum setelahnya.
“Nanda, dia cantikkan dokter? Puteriku, cantik sekali.” Ucapnya dengan wajah penuh kehangatan.
“Hai Nanda, kenalin, aku Dira.” Dira ikut membelai sisi yang tadi disentuh pasien, berpura-pura mengakui bahwa benar adanya apa yang dilakukan pasien tadi.
Dokter Doni bersama perawat lain ikut terharu melihat pemandangan itu. Sudah 1 minggu ini, pasien tersebut masuk rumah sakit atas saran yang tak lain kekasih puteri pasien.
“Ma, Nanda sudah gak ada.” Isak seorang pria yang berdiri di sudut kamar itu memecah kehangatan sebelumnya membuat ruangan seketika menegangkan.
“Bagaimana mungkin Nanda tidak ada, ini, dia sedang tidur, iya kan, dokter?” tanya pasien melirik Dira.
“Iya, bagaimana anda tidak bisa melihatnya, betul kan dokter?” Dira melempar tanya pada dokter Doni.
__ADS_1
“Iya, puteri pasien sedang tidur, jadi jangan berteriak.” Timpal dokter Doni menepuk pundak kekasih mendiang puteri pasien yang kini luruh terduduk dilantai dengan tangis tertahannya.
“Sus, lakukan Narcoanalysis untuk pasien. Dalam 3 hari ke depan, persiapkan. Akan kita buka kejadian itu, walau pasien akan kembali terluka setelahnya. Setidaknya rasa bersalahnya akan berkurang.” Titah dokter Doni pada perawat di sebelahnya.