Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 107


__ADS_3

“Apakah puteraku sudah melihat isi kirimanku?” Linda yang duduk santai memandangi kolam renang di belakang rumahnya bersama Bisma menanti kabar reaksi Alexio saat menerima kejutan itu.


“Sudah nyonya, dan tuan muda langsung ke perusahaan suami anda setelah melihat isinya.” Beritahu wanita yang berpakaian formal, menyerahkan gadgetnya pada Linda sebagai bukti pemantauannya.


Linda menelisik setiap foto dalam ponsel itu, ia mengangguk pelan dan menyerahkan kembali pada pengawal itu.


“Hmm, tidak aku sangka, puteraku malah berlari kepada papanya ketimbang menyerang kakeknya langsung. Kau memang putera Bisma, Al.” Gumam Linda menyunggingkan sekilas senyum tipis.


“Awasi terus putera tercintaku itu. Jangan sampai pria brengsek yang renta itu menyentuhnya sedikitpun.” Titah Linda serius


“Siap nyonya.” Sahut pengawalnya


“Ah satu lagi, apakah mata-mata yang mengintai Alexio berasal dari pihak Suprapto?” Linda teringat akan laporan pengawalnya jika beberapa minggu ini ada banyak yang mengawasi puteranya.


“Ada juga dari pihak lain, nyonya.” Jawab pengawal tadi membuat kerutan di dahi Linda semakin dalam


“Pihak lain? Maksudmu puteraku diincar banyak orang?” Linda menatap tajam pada wanita itu, pengawal yang menjadi tangan kanan suruhannya dari Prancis, orang kepercayaan Linda.


“Masih saya selidik,nyonya, karena mereka terlalu rapi menutupi identitasnya.” Sahut pengawal itu menundukkan kepalanya.


“Baiklah, selidiki benar-benar, jangan sampai puteraku yang malang itu bernasib sama seperti kembarannya, aku jamin jika gores sedikit saja kulit puteraku, maka aku akan menebas leher mereka sendiri.” Ucap Linda tajam dan penuh penekanan.


Keadaan Andriana di sana semakin memburuk, tidak ada semangat hidup dalam diri kembarannya. Padahal kondisi kejiwaannya saja sudah menekan pikirannya semakin kacau setiap menit, kini harus ditambah dengan dampak luka yang pernah dilakukan Suprapto padanya membekas pada salah satu organ tubuh kembarannya.


“Kenapa aku harus berada dalam takdir buruk ini, Tuhan. Aku harus melindungi puteraku, adikku bahkan suamiku juga, sementara keadilan bagi puteriku saja belum selesai ditunaikan.” Linda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tergugu dalam tangis pelannya. Selama 15 menit ia masih berada dalam posisi itu, hingga lengan kekar merengkuhnya dari belakang, siapa lagi kalau bukan suaminya, Bisma.


“Sayang, kenapa di sini, ayo masuk, hari beranjak sore.” Ucap Bisma berbisik di telinga Linda, dan memberi kecupan lembut di pipi itu. Hangat, itu yang dirasakan Linda.

__ADS_1


Bohong dan munafik jika ia tidak terlena akan semua perhatian seorang Bisma, apalagi sudah bersama sampai saat ini, tidak sekalipun Bisma berlaku kasar padanya. Dan itu justru membuat Linda semakin merasa bersalah jika mengingat kembarannya yang pernah menjadi kekasih Bisma, pria penuh kehangatan ini, yang kenapa sialnya terlahir dari darah seorang Suprapto itu.


“Heum, sebentar lagi, anginnya menyejukkan, pah.” Ucap Linda menikmati semilir angin berikut perhatian Bisma di belakang tubuhnya.


“Baiklah, akan aku temani sampai kau puas.” Sahut Bisma lembut, mengecup puncak kepala Linda penuh sayang.


“Tak masalah kan aku memelukmu terus?” tanya Bisma yang terdengar lucu bagi Linda. Mana mau pria ini ditolak, pasti akan semakin erat saja pelukan itu jika dijawab Linda dengan penolakan.


“Apakah Bisma menerima penolakan?” cibir Linda mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah suaminya.


Cup!


Lihatkan, betapa hati Linda berhasil diporak-porandakan oleh Bisma dengan sentuhan seperti ini, tulus, sampai hati Linda saja menghangat dan detak jantung itu masih kuat berdebar.


“Berani?” tantang Bisma yang selesai melabuhkan kecupan di bibir istrinya. Mata pria itu memicing seolah Linda tidak boleh membalas tantangannya.


“Kan, aku sudah tahu itu.” Bibir Linda mengerucut, lalu tersenyum setelahnya. Keduanya menikmati senja dengan masih berpelukan seperti itu. Linda kadang merasa penasaran, apakah benar hati Bisma sudah bersih dari bayang-bayang nama Andriana, kembarannya? Karena semenjak mereka bertemu, tidak ada sedikitpun sikap Bisma yang aneh, bahkan lurus saja mengalir dalam mencintai dirinya.


Dari sudut lain, Alexio rupanya tanpa mengabari kedua orang tuanya, tengah tertegun melihat pemandangan indah itu. Orang tuanya tampak bahagia di pinggir kolam renang itu, berpelukan, memberi perhatian yang tulus menurut pandangan Alexio. Dan seketika hatinya ikut menghangat, dan rasa yang tadi menyematkan kebencian pada ayahnya, sedikit memudar sementara. Ada ragu di dalamnya yang menduga ayahnya terlibat dalam bisnis kakeknya.


Namun, kini penilaian itu sejenak ia singkirkan, ia akan mencari kebenaran itu sendiri, melalui matanya lalu menentukan hukuman untuk mereka.


‘Inda, tolong bantu aku, hanya kau yang menuntaskan semua kepingan tuduhanku pada nama-nama yang terlibat itu. Aku yakin kau memiliki kunci itu.’ Gumam Alexio melangkahkan kaki keluar dari kediaman keluarganya.


Pikirannya kalut, satu sisi kakeknya bukan orang biasa, lalu wanita bernama Inda, dugaan Ladh yang belum bisa dibuktikan, dan kini masalah hatinya yaitu Dira tengah menjalin asmara bersama bocah yang baru lulus masa puber itu,.


“Roy, terus awasi Dira, walau dia menuruti permainan konyol bocah itu, tapi jangan harap ada kontak fisik diantara keduanya.” Perintah Alexio yang diangguki Roy saat ini, ia bingung pada atasannya, terlihat jelas cemburu tapi tidak ada niat merebut dan menegaskan bahwa itu miliknya.

__ADS_1


“Dan satu lagi... mantan brengseknya itu juga awasi, kenapa saat aku sibuk mengurus hal yang penting, para ngengat sialan itu kompak mengerubungi Dira semua.” Ujar Alexio yang kembali diangguki Roy patuh.


.


.


.


Di sinilah salah satu ngengat yang diumpati Alexio, sebuah kamar berwarna putih, ranjang pasien tempatnya berbaring, infus beserta tim medis mendampinginya. Sementara Dira ikut mengawasi saja dari kaca luar tempat para dokter lain memantau.


“Kau siap, Dome?” tanya dokter Doni pada pasiennya yang terbaring pasrah di ranjangnya.


“Apakah aku terlihat tidak siap, dokter? Konyol sekali pertanyaan anda.” Cibir Dome tengil, dia lupa berada di area apa, bisa saja ia angkuh saat ini, tapi belum tentu detik berikutnya masih bisa angkuh.


10 menit setelah obat dimasukkan dan mata pemuda itu tertutup... isak pun terdengar.


Fyuuhh, hilang sudah bocah songong, yang ada bocah sad sekarang.


“Tenang Dome, tenang.” Dokter Doni mencoba mengendalikan emosi pasien yang tampak semakin kacau.


“Mereka bukan orang tua yang baik buatku. Tega melakukan hal menjijikan mesti anaknya ada di rumah, dan aku merasa jijik saat mereka membawa kekasih gelap mereka dan melakukan itu di tiap sudut rumah tanpa menyadari seringnya aku melihat hal itu.” Dome menceritakan alasan besar kenapa ia kerap menggambar kelamin di setiap goresannya. Hal itu dikarenakan kesalahan orang tuanya yang sering melakukan hubungan inntim di dalam rumah bersama selingkuhan masing-masing dengan disaksikan putera mereka, yakni Dome.


Di usia belia, ia sudah sering disuguhkan hal menjijikan itu, meski di hadapannya orang tuanya bisa memainkan drama keluarga romantis, tapi tidak di belakang umum, dan Dome sangat hapal perihal itu. Maka, untuk membuat orang tuanya sadar kesalahan mereka, Dome menyakiti diri sendiri, ia sering berulah hingga sebuah kecelakaan membuatnya semakin tak terkendali dan mengubah pribadinya sebagai bocah mesum menurut orang-orang yang kenal tahu kebiasaannya itu.


“Dome, apapun yang dilakukan orang tuamu, itu adalah kesalahan para orang dewasa. Kau boleh marah bahkan menyalurkan emosimu sebagai bentuk rasa kecewa pada mereka, tapi bukan dengan menyakiti dirimu sendiri.” Dokter Doni mulai memberi sugesti pada Dome.


“Kembalilah sebagai sosok sebelum kau melihat keburukan orang tuamu, kembalilah sebagai anak yang memilih mengungkapkan rasa marahmu daripada membuatmu terlihat menyedihkan dihadapan orang.” Lanjut dokter Doni.

__ADS_1


“Ada banyak yang menyayangimu, dan jangan kau buat orang juga kecewa dengan kebiasaanmu karena rasa marah terpendam itu masih terkubur rapat dalam jiwamu.” Sampai saat ini, orang tua Dome sama sekali tidak tahu jika putera mereka adalah saksi perselingkuhan menjijikan itu, bagi mereka, kebiasaan buruk Dome tidak lain efek masa remaja yang biasa untuk mengenal hal intim sekalipun puteranya melakukan demikian di usia belia, mereka tidak akan mempermasalahkan.


“Ayo, saya akan bantu untukmu mampu mengungkapkan ekspresi dari emosi yang layak kau miliki seperti orang lain, sehingga segera buang emosi terpendam-mu itu agar tidak banyak yang kecewa denganmu lagi, Dome.” Ujar dokter Doni menutup nasihatnya melalui terapi narcoanalysis-nya.


__ADS_2