
“Silahkan duduk pak Bisma.” Sambut dokter Doni saat Bisma sudah memasuki ruangannya.
Bisma mengambil duduk di kursi pengunjung di hadapan dokter Doni, “Ada apa ya dokter Doni menelpon saya dan meminta saya datang sepagi ini?” tanya Bisma heran ketika semalam dirinya diminta datang ke rumah sakit pagi ini.
“Begini pak Bisma.” Ucap dokter Doni...
.
.
.
“Kenapa Dira tidak pernah mengunjungi ku?” tanya Alexio saat Andi dan Barry duduk di sofa untuk mengunjungi pemuda itu.
Andi dan Barry saling menoleh satu sama lain, berdeham, “Eh Alexio, tahu gak kabar terakhir soal Zian?” Andi mengalihkan pembicaraan meredam jawaban yang diminta Alexio.
“Zian? Adeknya Zapi?” ujarnya bertanya
“Iya, dari laporan Zapi, Zian sudah menunjukkan reaksi melalui gerak jarinya 2 hari yang lalu.” Jawab Andi antusias
“Oh ya? berarti kemungkinan bocah itu...” ucap Alexio menduga
“Hmm, Zian sudah melewati masa kritisnya. Semoga saja bocah itu bisa kembali ke alam sadarnya.” Harap Andi
“Syukurlah kalau begitu.” Sahut Alexio tenang
“Apakah Jonathan masih sering memprovokasi geng kita?” tanya Alexio
“Jo kan udah ke Jepang, Alexio.” Jawab Barry
“Jepang? Dan geng mereka?” tanya Alexio lagi
“Dipegang sama anak-anak itulah, kenapa? Kangen mau berantem? Kangen nyari ulah?” sindir Barry terkekeh
“Sialan lo.” Balas Alexio geram
“Berada dalam ruangan ini membatasi gerakku. Kau tahu, jika aku terkurung di sini, sama saja membentuk diri yang baru.” Ujarnya
“Aku tidak bisa menangani geng kita, tidak bisa balap, tidak bisa bertarung. Aihhh tubuhku pegal semua setelah masuk rumah sakit. Maukah kalian carikan satu tumbal untuk aku hajar di sini?” tanya Alexio membuat Andi dan Barry meneguk ludah kasar.
Heii, mereka tahu sebadung apa Alexio, dan sekeren apa dia menghajar anak orang. Membentuki geng Xia dan menjadi siswa berprestasi di sekolah adalah dua hal berbanding terbalik, nilainya boleh bagus, tapi kelakuan badungnya juga layak diberi prestasi. Tawuran yang setiap bulan wajib dilakukan, balap liar setiap minggu dan baku hantam serta pembullyan para nerd di sekolah sudah jadi aktifitas rutin pemuda itu.
“Kapan gue keluar dari tempat ini? gue gak sakit.” Alexio tak tahan terkurung di dalam ruangan ini.
Baik Barry dan Andi tak ada yang bisa menjawab, mereka sungkan dan tidak bisa memberi tanggapan apapun meskipun sekedar menghibur sahabatnya itu.
“Dan Dira... apa mungkin dia bener-bener wujudin ucapannya waktu itu?” ada rasa sesal di wajah Alexio
__ADS_1
“Maksudnya?” tanya Andi dan Barry berbarengan
“Malem itu, gue lebih memilih bertemu Xia daripada Dira, dan Dira bilang kalo gue nemuin Xia maka dia gak mau ketemu lagi.” Tutur Alexio
Padahal, setiap hari Dira mencuri pandang ke ruangan Alexio, gadis itu selalu mengintip dari balik kaca kecil di pintu tempat masuk ke ruangan itu. Ultimatum dari dokter Doni beberapa kali mau dia langgar, sebagai anak pemilik rumah sakit ini, apa yang tidak bisa ia lakukan?
Mudah sekali harusnya hanya untuk menarik handel pintu itu, tapi masih ada kecemasan di dalam dirinya.
“Tunggu aja, dan dengerin semua saran dokter Doni, Alexio.” Andi mendekati brangkar Alexio dan menepuk bahu sahabatnya untuk menguatkan.
“Jika melihat Xia adalah hal yang menjadi alasan aku dikurung di sini, jika melihat Xia adalah penyakit di mata semua orang, maka aku akan berusaha menolak kehadirannya, jadi, please bantu aku keluar dari sini.” Alexio menggenggam tangan Andi, matanya berharap penuh dibantu oleh Andi.
Andi merasakan ada getaran di genggaman itu, hatinya merasa miris melihat Alexio berada dalam keadaan seperti ini.
“Maaf Alexio, kami tidak punya wewenang untuk itu.” Jawab Andi pelan.
.
.
.
“Jadi, dokter mau menyarankan penggunaan narcoanalysis pada Alexio? maksudnya bagaimana dokter.” Tanya Bisma setelah mendengar saran dokter Doni menempuh cara yag sebenarnya tidak bisa dijadikan patokan keseluruhan.
“**Narcoanalysis** adalah metode penggunaan beberapa obat-obatan medis yang bersifat menenangkan, pasien akan tidak sadar tapi tetap merespon setiap tanya yang kita berikan. Sifatnya seperti mereka yang mabuk.” Jelas dokter Doni
“Dari yang saya lihat, Alexio memendam hal besar yang tidak bisa ia ungkapkan. Ada rasa bersalah di setiap ucapannya ketika saya menyinggung Xia, Alexia dan juga....”
“Istri anda atau ibunya Alexio.” jelas dokter Doni
“Istri saya? Kenapa istri saya, dok?” Bisma heran ketika istrinya di bawa dalam hal ini.
“Apakah di dalam kamar bapak, ada sebuah lemari yang dibiarkan kosong namun selalu dibersihkan oleh istri anda?”
Bisma mengangguk, “Iya dokter.” Sahutnya pelan
“Sejak kapan itu terjadi?”
“Tak lama setelah Alexia, puteri kami meninggal.” Jawab Bisma.
“Tidak ada sesuatu yang pak Bisma tutupi dari kematian Alexia selain cerita bapak waktu itu?” dokter Doni berusaha menggali informasi, namun Bisma menggeleng.
“Awalnya, jujur saya marah setiap saat istri saya selalu membersihkan lemari kosong itu. Lemari itu adalah milik Alexia, dan diletakkan di dalam kamar, jadi jika istri saya ada di rumah, maka hampir setiap jam akan membersihkan lemari itu. Hingga akhirnya saya mempercayainya jika mungkin dia terlalu rindu dan kehilangan puterinya.” Jawab Bisma panjang lebar.
“Baiklah, jadi bagaimana dengan saran saya menggunakan metode pengobatan itu pada Alexio, pak Bisma?” dokter Doni kembali pada pokok permasalahan dirinya ingin bertemu Bisma.
“Jika memang bisa membantu putera saya, maka saya akan memberi izin pada dokter Doni. Sahut Bisma menyetujui.
__ADS_1
Setelah mendapat izin dari Bisma, dokter Doni bergegas mencari keberadaan dokter Kairan Ladh, selaku pemilik dan rekanan Bisma, tentu tidak bisa mengabaikan posisi itu.
Ceklek
“Siang dokter Ladh.” Ucap dokter Doni sesaat dirinya diberikan izin Kairan Ladh untuk masuk
“Duduk dokter Doni.” Sambut Kairan Ladh menunjuk kursi di hadapannya.
“Begini dokter, saya meminta pendapat dan izin dokter sebagai senior untuk penggunaan metode pengobatan Narcoanalysis pada Alexio.” ujar dokter Doni langsung pada pokok permasalahan
“Narcoanalysis?” ulang Ladh yang diangguki dokter Doni
“Apa info penting yang ingin dokter cari dari Alexio?” sambung Ladh
“Setelah saya mengambil alih membantu penyembuhan Alexio, lalu sekarang di bawah tanggung jawab saya memberi pengobatan pada pemuda itu, saya menemui banyak kejanggalan dokter.” Jelas dokter Doni
“Kejanggalan? Apa itu?” beo Ladh
“Saya rasa, Xia bukan hanya bentuk atau wujud dari rasa bersalah Alexio karena kehilangan saudari kembarnya, tapi ada upaya menutupi hal lain dan itu menekan kepribadiannya menjadi seperti itu.” Jawab dokter Doni.
“Anda tahu kalau Alexia meninggal karena bunuh diri?” tanya dokter Doni
“Tidak, Alexia meninggal di meja operasi saat ia dikabarkan kecelakaan saat itu oleh Bisma.” Jelas Ladh.
“Pak Bisma mengatakan bahwa Alexio pernah mengigau jika Alexia bunuh diri.” Ujar dokter Doni.
“Tidak, ini konyol, sungguh aneh.” Tolak Ladh dalam ucapannya.
“Apakah dokter Ladh juga menyembunyikan fakta lain dari kematian Alexia, dokte?” duga dokter Doni, ia merasakan jika Kairan Ladh seperti menyembunyikan hal lain.
“Tidak ada.” Jawab Ladh tegas
“Baiklah, tapi saya akan menggunakan Narcoanalysis pada Alexio, mohon bantuannya dokter.” Setelah mengucapkan hal itu, dokter Doni pamit mengundurkan diri, ia akan mencari jawabannya sendiri.
Dan tibalah saat di mana Alexio akan menjalani Narcoanalysis
Berada di brangkar ruangan lain, dirinya dipasang beberapa alat di titik vital tubuhnya. Tan tak lama dokter Doni menyuntikkan cairan pada infus Alexio.
“Alexio, tenang, tarik nafas dan semoga setelah ini apa yang menganjal itu membebaskan dirimu.” Ucap dokter Doni di sela tarikan nafas Alexio yang mulai teratur seiring mata mulai sayu.
Butuh beberapa detik membuat kesadaran Alexio hilang...
“Alexio... bagaimana suasana hatimu.” Pertanyaan pertama dokter Doni, menguji respon Alexio
“Tidak baik.” Jawab pemuda itu. Oke, artinya ia bisa merespon di bawah kesadarannya,
“Alexio.... apa yang terjadi sebenarnya dengan Alexia, kembaranmu di hari kematiannya.”
__ADS_1