
Tak lama Alexio pergi, Dira pun juga bersiap meninggalkan rumah.
Tujuannya adalah markas geng motornya Jonathan.
Ia harus mengakhiri hubungan mereka sekarang juga, sebelum menyakiti terlalu jauh perasaan pemuda itu.
Beberapa puluh menit kemudian, gadis itu sudah tiba di markas Jonathan.
Ia tahu pemuda itu pasti ada di sana.
Tap
Tap
Tap
“Eh Dira. Cari bebebnya ya?” tanya satu anggota Jonathan yang menyambutnya di bangunan utama.
Dira hanya menjawab dengan senyumnya lalu melewati begitu saja.
“Hai girl.” Jonathan yang melihat kedatangan Dira langsung sumringah, rindu sekali rasanya.
“Hai Jo.” Dira menaruh duduknya di samping Jonathan, bersiap mengungkapkan hal yang akan menyakiti pemuda itu.
“Ada apa? Tadi pulang sama siapa? Bang Paul?” rentetan kalimat tanya di berikan Jonathan pada Dira.
“Iya.” Jawab Dira berbohong.
“Ooh. Baguslah.” Sahut Jonathan tersenyum miris.
Ia bukan tidak tahu kebohongan Dira. Ia tahu...
Karena dengan jelas ia melihat gadisnya berboncengan dengan rivalnya, Alexio.
“Mau makan?” Tawar Jonathan lembut, mengelus puncak kepala Dira penuh sayang.
Huffffttt, Dira tak tega jika selembut ini perlakuan Jonathan untuknya,
Tak pernah pemuda ini menyakitinya barang sekalipun, tapi hati siapa yang bisa mengendalikan, liar begitu saja menentukan siapa pemiliknya.
“Sudah tadi.” Tolak Dira tersenyum
Hening.....
“Jo.” Panggil Dira yang segera ditoleh Jonathan sebagai bentuk perhatian.
“Ya.” sahutnya
“Hmmm, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Ujar Dira pelan, penuh hati-hati.
“Ngomong sesuatu?” tanya Jonathan, ia sudah tahu kemana arah pembicaraan ini.
Berusaha menahan gejolak di hatinya yang menggelegak.
“Maaf ya.” Dira menundukkan kepalanya.
Ia sungguh tak tega mengatakan hal ini pada Jonathan.
Andai pemuda itu sebrengsek kesehariannya dalam memperlakukan Dira, mungkin dengan gampangnya akan Dira sleeding ke laut sana.
Tapi, tak pernah kebiasaan badung Jonathan di terapkan pada Dira. Sedikitpun tak pernah ia menyentuh lebih pada Dira kecuali mengelus puncak kepala dan memeluk, tidak seperti Alexio.
“Kamu kenapa?” Jonathan memutar tubuhnya hingga kini berhadapan dengan Dira yang duduk di sampingnya.
Pelan, isak itu mulai terdengar meski hanya Jonathan saja yang tahu.
“Hei, kenapa gini.” Tanya Jonathan lagi, menggunakan ibu jarinya ia mengusap bulir kurang ajar yang turun di wajah Dira.
Percayalah, Dira tak sedang drama. Itu beneran nangis, bukan sekedar membombay saja.
“Maaf ya Jo.” Ucap Dira lagi.
__ADS_1
Sialan, air mata ini kenapa ikutan ngomong sih.
Kesal Dira rasanya.
“Iya, aku maafin, Dira. Apapun itu. Sekarang, bilang aja apa yang mau kamu sampaikan.” Ujar Jonathan menahan sesaknya sendiri.
“Jo.... aku, aku boleh minta putus gak.” Bersusah payah Dira mengucapkan kata-kata kramat itu dihadapan Jonathan.
Yakin, ia yakin sekali, ungkapan itu sudah mulai menyakiti Jonathan.
Jonathan mengelus wajah Dira semakin menunduk itu.
Boleh minta putus katanya?
Gadis itu bahkan minta izin dulu untuk mengakhiri hubungan.
Sopan sih, tapi tetap saja sakit.
“Hei, lihat aku. Dira.” Jonathan mengangkat wajah gadis itu agar menatap matanya.
Dengan berat, Dira mendongakkan kepalanya dengan bantuan tangan Jonathan yang tetap hangat menurutnya.
Dira melihat ada senyum di wajah Jonathan
Menurut orang-orang itu mungkin senyum yang manis dan rupawan.
Tapi, bagi Dira, kelembutan dalam senyum itu semuanya palsu.
Pasti ada sakit dalam ekspresi itu.
Maaf Jo, aku kejam!
“Jangan merasa bersalah dengan permintaan itu, Dira.” Jonathan memulai ucapannya.
Dira masih menyimak, air mata yang berbaris tadi sudah kembali ke sarangnya lagi.
“Kita kan dari awal berusaha mencoba, kan?” Sambung Jonathan
“Dan kamu sudah bersikap sangat baik selama menjalani hubungan dengan aku,... ya, aku yang selama ini bukan hanya sekedar menyukai, tapi...”
“Aku juga mencintaimu, Dira.”
Duar!!!!!
Ahhh Dira mau nangis di pojokan aja, gak apa banyak tikusnya.
Asal jangan di hadapan Jonathan
Sedih banget sih.
“Jo, maaf.” Dira refleks memeluk tubuh Jonathan saking merasa bersalahnya pada pemuda itu.
“Jangan merasa bersalah, Dira. Apa yang kamu lakukan itu sudah lebih dari cukup.” Sambut Jonathan.
“Aku tidak mau egois menahan kamu dan akhirnya sakit hanya untuk memuaskan perasaanku sendiri.” Ujarnya bijak
“Aku terima apapun keputusan kamu, karena apapun kesalahan kamu, aku gak akan pernah memutuskan hubungan ini kecuali kamu yang melakukannya.” Lanjutnya
“Jadi, jangan menangis lagi, honey.” Ucap Jonathan lembut
Dira mengangguk dalam pelukan Jonathan.
Ia berterima kasih bisa mengenal pemuda baik ini. teman kecilnya yang dari dulu selalu agresif mengungkapkan rasa suka hingga membuat Dira benci dan tidak mau berteman lagi.
Dan ketika mereka berhasil menjalin hubungan, dengan kejamnya Dira memupus asa itu.
“Terima kasih Jonathan.” Ujar Dira dalam pelukan Jonathan.
“Tapi setelah ini kita masih bisa temenan, kan.” Sambung Dira yang diangguki Jonathan
Mereka bukan anak-anak yang akan bermusuhan karena hal seperti ini.
__ADS_1
“Dira!!!!” satu suara memaksa pelukan itu terlepas
ALEXIO!!!!
Entah sejak kapan pemuda itu berdiri di sana. Diambang pintu menatap nyalang pada dua anak manusia yang duduk di sofa dan berangkulan tadi.
“Al-Alexio??!! Dira mendadak kelu menyebut nama pemuda itu.
Kenapa ia merasa seperti tertangkap basah tengah berselingkuh, padahal jelas tadi ia berpelukan di saat statusnya menuju mantan bersama Jonathan.
Alexio melangkahkan kakinya tanpa memutus netranya pada Dira.
Bertambah cemaslah Dira saat ini.
Wait!!!
Kenapa Dira harus cemas?
Ia bukan pasangan Alexio.
Meski....
Meski
Meski.....
Ia sudah 2 kali berciuman, dan 2 kali baru rencana, dan perhatian pemuda itu padanya.
Bukan berarti mereka sudah terikat hubungan yang mencegah Dira dilarang bersama pria lain, keun?
Dan lagian, yang ada di samping Dira ini beberapa menit yang lalu masih kekasihnya, bahkan disetujui orang tua.
Jadi tak ada salahnya kan ia bersama Jonathan.
Tapi,, kenapa Dira merasa terintimidasi tatapan tajam itu?
Sialan kau Alexio!!!
“Woyyy, ada apa ini, maen nyelonong aja.” Jonathan merangsek menuju Alexio.
Ia menahan tubuh pemuda itu.
“Lepas!!” Sergah Alexio murka
“Kenapa?” Jonathan sengaja memantik emosi pemuda itu.
“Dira, berdiri. Sini.!!!” Alexio memanggil Dira dengan nada perintah.
“Woyy santai. Dira itu.... ah kenapa sih kamu mutusin aku pas Alexio dateng sih, honey.” Jonathan mengeluh dengan wajah cengengesan pada Dira yang duduk dengan raut galau.
“Bagus, kamu udah mutusin brengsek ini?! ayo ikut aku.” Alexio menepis tangan Jonathan dan mendekati Dira lalu meraih lengan gadis itu untuk mengikutinya.
“Woyy santuy. Gak usah terburu-buru gitu.” Jonathan lagi-lagi menarik lengan Alexio agar tak menyeret langkah Dira memburu.
“Lagian, Dira ini anggota geng gue. Ya,, walaupun udah jadi mantan gue sih.” Ujar Jonathan
“Lepas!!” Alexio menepis kembali tangan Jonathan dan kembali membawa Dira untuk keluar dari ruangan ini.
“Hei, lo yang lepasin Dira!!!” bentak Jonathan, gegas menarik lengan Dira sampai terlepas dari genggaman Jonathan.
“Dia udah bukan anggota geng sialan lo. Dan lepasin Dira.!!!” Alexio berusaha menarik Dira lagi, namun segera dibawa Jonathan ke belakang tubuhnya.
“Brengsek lo!!!” sentak Alexio lalu.....
Bugh
Bugh
Bugh.
Perkelahian pun dimulai, dengan Alexio yang mendominasi pukulan pada tubuh Jonathan.
__ADS_1