Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 6


__ADS_3

“Aku....aku suka kamu, A-Alexio.” Begitu ungkapan tak tahu malu yang dilontarkan Dira diiringi kegugupannya.


Namun yang diajak bicara hanya menatap dirinya begitu dingin, seolah tak ada bedanya dengan tiang penyangga di samping tubuh gadis yang tengah lagi-lagi mengungkapkan perasaannya. Sungguh tak penting.


“Al-Alexio.” Panggil Dira lagi, karena pemuda itu hanya menatapnya saja tanpa mau berucap apapun.


“Tak usah suka gue, Lo yang bernama Dira.” Jawaban Alexio, kembali mematahkan ucapan Dira yang sudah beberapa kali tercetus dengan harga diri yang tak ia pikirkan lagi sudah berada di level berapa.


“Kenapa, kenapa aku tak boleh menyukaimu?!!! Kenapa?? Kenapa orang lain boleh sementara aku tidak boleh, huh?” serentetan kalimat tanya diucapkan Dira tanpa ampun, namun tak mencairkan simpati Alexio yang masih membeku. Malah tanpa belas kasih, pemuda berparas tampan itu menolak langkahnya dan meninggalkan Dira di saat banyak tatapan menghunus gadis itu yang berani sekali mengungkapkan perasaannya untuk idola sekolah ini.


“LIHAT SAJA, AKU AKAN MEMBUAT FREKUENSIKU MENYALA PENUH DI SEKELILINGMU. LIHAT ITU, WOYYY KAU YANG BERNAMA ALEXIO BISMA.!!!!” Pekik Dira menghentakkan kakinya, lalu berjalan menubruk pundak Alexio tanpa menoleh pada pemuda itu.


“Kau adalah Ladh, dan aku benci dirimu, Dira.” Gumam Alexion menatap punggung Dira hingga gadis itu menghilang di balik koridor sekolah.


.


.


(DIRA POV)


Aku mengerucutkan bibirnya, sembari berdiri di depan gerbang sekolah, menunggu jemputanku yang belum datang.


Aku mengingat pernyataan cintaku tadi pada Alexio. Memalukan? Tidak, Aku tak malu sama sekali.


Aku sudah beberapa kali melakukan hal itu,...


Dulu....


“Sanalah.” Usir Alexio, pria yang cukup membuat jantungku jumpalitan kala itu.


Aku masih diam meski sudah jelas itu adalah kata mengusir dari Alexio.


“Hei Dira. Pergilah sana, jangan buat diri Lo malu.” Lanjut Alexio mengusirku lagi.


“A-a-aku, su-suka ka-kamu, Alexio.” Ucapku gugup.


Keringat sebesar biji duren, gede banget yah?.... oke kecilin deh, keringat sebesar biji zarrah itu menembus pori-pori kulitku.


“Sanalah Dira, Gue udah bilang gak mau menjadi orang yang menerima cinta Lo.” Tolak Alexio.


“Ta-tapi, a-aku....”


Belum selesai aku mengucapkan kalimat itu.... pemuda itu melenggang pergi, selalu seperti itu, meninggalkanku yang ditatap heran oleh banyak pasang mata siswa sekolah.


“Lo gila juga Dira, dasar aneh.” Umpat salah satu siswi yang melengos meninggalkanku.


“Gak tau malu banget, cih.” Sambar siswi lainnya menambah drama siulan di telinga aku.


Menolak langkahku, menjauhi suara menyebalkan itu. Memilih arah lain dari pemuda yang barusan mendapat pengakuanku untuk kedua kalinya.


Apa coba yang menjadi bahan penolakannya padaku?


Kurang cantik? Hayolah,, aku cantik loh, bisa dibuktikan melalui visual yang othor tampilin keun, iya keun.


Kaya? Jelas, aku kaya, walau tak mampu menandingi kekayaan keluarga Alexio sih.


Kuper?? Kuper?? Eihh gak lah, aku itu siswi paling aktif, ramah dan hapal siapapun orang yang ada di sekolah ini, malah nama abang-abang kang cilok aja aku hapal sampe alamatnya aja tahu.


Bodoh?? Bodoh??? Hmmm, hehehe, bukan bodoh, hanya bukan level saingan Alexio yang ada di kelas teratas dan diisi siswa berprestasi.


Aku bukannya bodoh, hanya belum pintar saja lah. Tapi aku naek kelas terus loh, nih aja buktinya udah sampe kelas 12 aja, ya keun.


Alexio Bisma, siswa yang menolakku lagi, harusnya dia sadar bahwa aku kerap menunjukkan perhatian padanya, itu artinya aku itu memang suka dirinya.


Dasar cowok balok Es, freezer dua pintu yang gak cair-cair mesti disiram pakek air mendidih.


Cowok itu selalu menjawab ungkapan Dira dengan kalimat penolakan.


Dan lagi-lagi aku akan menyambar ucapan menyebalkan itu.


“Tidak, aku tetap akan menyukaimu, walau, walau.... walau semua orang menolaknya termasuk dirimu. PAHAM!!!!” teriakku kala itu.


Flashback Off


.


.


.


Brummmm.


Deru motor sport berwarna biru menyapa gendang telingaDira, gadis itu menoleh.


Benar saja kan, itu Alexio

__ADS_1


Frekuensi pemuda itu langsung menyambar dirinya. Menghidupkan detak jantung setiap berada dalam radius yang terjangkau.


Namun yang ditolehnya sama sekali tak membalas tatapannya. Helm yang tertutup rapat, dan motor yang terus melaju, menampar Dira kembali.


Tapi gadis itu tetap acuh dengan perlakuan Alexio.


Karena baginya, pemuda itu hanya belum menjangkau frekuensinya saja. Coba kalau sampai, ia yakin pemuda itu akan terseret-seret langkahnya menggapai Dira.


“Hihihi. Aku bayangin apaan sih.” Ucapnya malu-malu. Saat sadar apa yang dipikirkannya tadi menyentil perasaan malunya.


Tiiiinnnnn.


Klakson dari mobil berwarna hitam sudah masuk ke gendang telinga Dira.


Itu si Paul. Abang Dira seorang.


Membuka kaca mobilnya, melambai pada sang adik.


“Sok ramah banget, padahal itu modus tebar pesona aja.” Dira bermonolog sendiri melihat sikap abangnya yang jelas bukan untuk diri, karena mata pria itu bersilewaran saat menangkap mangsa berjenis kelamin perempuan yang cantik di sekitar Dira.


“Woyy, inget, masih pada muda tuh cewek yang dilirik.” Sentil Diri pada dahi abangnya. Yang masih menatap satu persatu gadis berseragam SMA seperti adiknya.


“Aihh ganggu aja. Hayok pulang.” Sahut Paul yang membenarkan seatbelt adiknya dulu.


“Gimana mau menarik perhatian si Alexio itu, masang seatbelt aja masih kayak orang ujung planet sana.” Ledek Paul mengingatkan Dira.


“Ihh apa hubungannya coba.” Delik Dira tak terima. Baginya, Alexio itu berbeda, mana bisa di samakan dengan semua aktifitas pergerakan alam semesta.


“Abang.” Panggil Dira saat mobil yang dikendarai Paul sudah berjalan meninggalkan Golden School menuju kediaman mereka.


“Hmm apaan, mau curhat lagi?” tebak Paul, karena semenjak saat itu, Dira selalu menjadikan dirinya tumbal untuk mendengarkan keluh kesahnya. Kadang adiknya itu bertingkah absurd. Seperti meluapkan emosinya saat menceritakan kepribadian Alexio yang menyebalkan. Dia bisa terima dengan cerita adiknya, tapi tidak dengan ekspresi nyata juga. Bisa dipastikan rambutnya akan rontok dan habis jika menjadi sasaran kesebalan adiknya akan sosok Alexio, belum lagi kulitnya yang gemas di cubiti sang adik.


Kan, menderita banget.


“Iya.” Jawab Dira mulai mengerucutkan bibir dan membuat wajah memelas.


“Di tolak lagi?” asumsi Paul. Kenapa sih, bener mulu.


“Ihh abang, tahu banget sih kalo aku mau bahas Alexio lagi.” Dira menatap abangnya penuh rasa tak percaya.


Paul menghela nafas berat.


“Ya jelas abang tahu. Sudah selama beberapa hari ini, tiap hari, beberapa jam, di manapun, yang kamu ceritain selalu tentang Alexio. Gimana abang gak khatam sama arah curhatanmu, dek.” Paul merasa gemas dengan kepolosan sang adik.


“Iya bang, aku di tolak lagi. Dasar mata katarak banget tuh jin gerandong.” Umpat Dira sebal.


“Ooh sekarang Jin gerandong namanya. Genderuwo pohon jengkol udah lewat.” Ujar Paul mendengar julukan menyebalkan untuk Alexio dari adiknya lagi.


“Pokoknya aku sebal. Abang kasih aku solusi yang tokcer dong, masa itu kuman tuyul nolak aku lagi sih.!!!!” Geram Dira, membuat Paul membuang tawanya begitu keras mendapati ucapan Dira yang membuat perutnya tak henti tertawa.


------


Malamnya...


Beradu jotos, Alexio dan Jonathan, selalu mengawali dengan delik mata tajam, dan mengakhiri dengan pukulan.


“Shitt!!! Brengsek!!!” teriak Jonathan yang selalu kalah banyak dari Alexio. Bahkan tinju dan tendangannya saja seolah tak berpihak padanya. Selalu didahului oleh Alexio.


“Diam dan terus menambah kekuatanmu, bocah!!!” balas Alexio berteriak, namun ia menyunggingkan senyum miring disertai kalimat ejekan.


Harapannya adalah, Jonathan menyarangkan banyak luka di tubuhnya, tapi lawannya ini tak pernah memuaskannya dalam bertarung, kalah terus dalam kekuasaannya.


Bugh


Bugh


Bugh


“Arghhhhhh.” Tubuh tegap Jonathan terjerumus ke aspal. Banyak pasang mata melihat kearah keduanya, meskipun bukan hanya mereka saja yang terlibat baku hantam, masing-masing geng Alexio dan Jonathan juga disibukkan dengan saling pukul setelah balapan tadi dimenangkan oleh Alexio.


Entah, kenapa setiap Alexio mencapai garis finish, baku hantam menjadi pengawal penyambut dirinya, bukan hadiah dahulu.


Tapi Alexio senang dengan sambutan itu. Sangat senang.


“Alexio!!!!!!!!!” pekik Jonathan yang bergemuruh tubuhnya, emosi kemarahan itu menggelegak parah.


Salah satu yang membuat Alexio gemar mengikuti ajang balap liar.


Adalah..... dia akan memiliki alasan untuk melampiaskan amarahnya, dari sulutan kebencian para lawannya. Yang selalu berasal dari Jonathan.


Tidak hanya itu. Ia juga mencari masalah di sekelilingnya.


Membully para nerd di sekolahnya, membuat para siswa yang tidak berdaya akan bertekuk lutut di bawah kakinya. Baik dengan pukulan, maupun kejahilannya yang kadang melewati batas.


“Nah Alexio, si duyung buruk rupa yang sering mengisi lokermu diam-diam.” Andi menarik ujung lengan baju seorang gadis yang mengenakan kacamata tebal, rambut dikuncir kepang dua, dan gaya baju yang kebesaran, ciri khas para nerd.

__ADS_1


“Jadi Lo... yang naruh benda-benda gak penting di loker gue?!” menatap tajam si gadis yang bergetar tubuhnya, wajahnya menunduk dalam, ia jelas merasakan hawa panas disekujur tubuhnya, yang berasal dari sorot mata Alexio yang lekat menatapnya tak bergeser sedikitpunn.


“Woy jawab kalo Alexio nanya!!!!” Salah satu siswi mengecam keras aksi diam si nerd yang tak berkutik karena berhasil duduk berhadapan dengan seorang Alexio.


“I-i-iya, Al.” Jawab si nerd mengangguk takut, tangannya saling menjalin satu sama lain, sesekali ia mengadu jemarinya hingga terdengar bunyi khas karena kuku-kuku itu saling menggaruk ujung satu sama lain.


“Lo suka sama gue???” pertanyaan yang cukup membuat seisi kantin riuh, jelas itu adalah kalimat yang bisa membuat harga diri wanita jatuh karena akan berakhir dengan penolakan memalukan setelahnya. Seorang Alexio kerap melakukan itu, mempermalukan para gadis yang diam-diam mengintainya.


“Al.” Lirih si gadis menimpali, ia hanya mampu menjawab dengan menyebut nama Alexio saja.


“GUE TANYA LO.” Alexio menekan setiap suku katanya untuk memperdalam intimidasinya.


“Dihhh si nerd songong banget sih.” Sintia, merangsek duduk di sisi Alexio, menoyor kepala gadis yang tengah di sidang secara massal oleh semua siswa yang ramai di kantin.


Tontonan paling mengasyikkan bagi golongan lucnut seperti mereka.


“Mulai sekarang, jangan pernah jadi apapun dalam hidup gue, jangan berani suka gue, jangan berani naruh barang diem-diem buat gue, jangan memfoto gue dalam keadaan apapun, dan jangan menaruh gue dalam otak aneh Lo itu. PAHAM!!” tekan Alexio lagi. Ia beranjak dari duduknya hingga kursi panjang itu bergeser keras, nyaris menjengkang tubuh Sintia yan g masih duduk.


“Ye elah hati-hati beb. Gue masih duduk.” Sintia sebal melirik Alexio yang bersikap tak peduli.


Semua ia lakukan tanpa alasan, walau ia mencari pembenaran kelakuannya dengan tingkah lawannya yang bisa dijadikan alasan.


Bahkan bersama para teman-temannya, terutama Andi dan Barry, mereka juga menyerang sekolah lain, menjadikan tawuran sebagai ajang peluapan emosi seorang Alexio. Hingga, pada akhirnya, lawannya maupun dirinya akan sama-sama terluka. Namun ia, tak kan puas, karena dalam dirinya, mengalir gejolak amarah besar yang belum puas ia luapkan.


Seperti siang ini....


Di jam yang harusnya para siswa SMA Golden bersiap menyambut gerbang sekolah yang akan mengantar mereka melepas penat aktifitas hari ini, malah menelan keterkejutan, saat di luar gerbang, riuh suara derum motor saling bersahutan.


“Wahhh gimana ini... apa bakalan ada tawuran lagi.??’” Seorang siswi yang keluar dari pintu besar beranda sekolah mendadak berhenti, sama halnya dengan siswa-siswi lainnya. Mereka tertegun akan pemandangan di hadapan mereka.


“Ho-oh kayaknya begitu deh.” Sahut siswa lainnya.


“Kenapa sih, kenapa sih, heboh banget deh.” Suara kuntilanak penunggu rumput krokot muncul. Siswa kelas 12 lokal E yang santer dikenal semua warga SMA Golden muncul dengan bibir mengkerucutnya.


“Lo deh yang kayaknya lebay.” Sambar siswa yang risih dengan kehadiran Dira. Siapapun tahu dengan predikat gadis yang harga dirinya sudah tenggelam bersama kuah seblak basi. Saking sudah tak ada lagi. Karena melebur untuk perasaannya terhadap cowok yang keluar dan berjalan menubruk pundak kirinya.


“Eh, Alexio, tunggu.” Suara cempreng bak rombeng buat ngebangunin orang sahur merangsek di saat drama para siswa khawatir akan tawuran yang menanti sekolah mereka.


“Eh Sintia, jangan ganggu Alexio!!!” pekik Dira menahan lengan Sintia yang hendak mengejar Alexio.


“Apa urusan Lo, hah!!! Lintah gak tahu malu.” Balas Sintia menghentak genggaman Dira dan masih menyusul Alexio.


Dira sebenarnya menaruh rasa iri luar biasa, mau dengki takut karena dosanya berat banget untuk level itu. Jadi dia maen yang kecil-kecilan aja lah, iri dulu.


Ia iri dengan keberadaan Sintia dan geng pret kupretnya itu, bagaimana pun gadis itu menempel erat pada Alexio, tapi belum pernah terdengar si lampir di libas jauh oleh cowok tampan tinggi dan menantang iman itu.


Levelnya dan Sintia tak jauh beda. Beneran gak jauh loh, mereka sama-sama cantik, kaya, keluarga baik-baik, derajat bagus, sama-sama kelas 12, Cuma ya,,,, Cuma yang beda lokalnya aja sih, memang Dira di kelas 12 E, sementara Sintia ada di kelas yang sama dengan Alexio yaitu 12 A unggulan.


Tapi kan beda dikit doang, heleh hanya beda A ke E aja, gak boleh di jadiin perbedaan jauh kan harusnya, iya kan, kan???


Siswa lain sudah bergerak menuju gerbang satunya, ya, gerbang yang memang jarang di lewati, gerbang belakang, mereka hanya perlu mengatur laju langkah maupun kendaraan mereka menyusuri jalan setapak sekolah hingga keluar dengan selamat. Tanpa perlu terlibat keriuhan tawuran yang rutin kayak datang bulan perempuan aja, tiap bulan kudu ada, wajib, kalo gak artinya mereka dah jadi pemuda sholeh semua.


“Dira!!!!!” suara bass dan melengking itu menebas kerumunan para siswa, Dira menoleh ke arah suara, lalu melambai dengan riang.


“Jo!!!!” balasnya pada Jonathan, siswa badung sekolah Cakra. Pemuda itu duduk manis di motor sport warna hitam legam miliknya.


Alexio mendengar, mendecih kemudian.


“Minggirlah, jangan ganggu gue, Sintai, gue gak mau mempermalukan Lo.” Titah Alexio pada Sintia yang sudah berdiri di sisi kanannya.


“Ihh, tega banget sih.” Gerutu Sintia masih berdiri mantap.


“Lo tahu kan gimana gue? Jadi sana pergilah, gue mau party siang ini.” Jawab Alexio dingin.


Menghentakkan kaki kesal, Sintia ikut bergabung dalam kerumunan siswa yang menjalankan kendaraan untuk pulang melalui pintu belakang. Cari aman.


Dira masih berdiri tanpa khawatir sama sekali.


“Dira sayang!!!! Sini, gabung sama aku.” Suara Jonathan lagi-lagi memanggil Dira, senyumnya tak lepas untuk gadis itu.


“Dihh ogah, aku mau pulang!!!” sahut Dira lalu bergegas berlari menuju gerbang belakang, dan menghubungi abangnya untuk menjemput dari arah sana saja.


Alexio mengencangkan kepalan tangannya, menatap tajam dan dingin pada Jonathan berikut kumpulan anak buahnya alias teman sekolahnya.


Suara ejekan dan beragam alat yang bisa dijadikan senjata diangkat setinggi-tingginya, artinya, perang itu sudah dinyalakan dengan musuh menantang lebih dulu, menarik ego Alexio bersama geng Xia-nya dengan senang hati menyambutnya.


Tak butuh waktu lama.......


Baku hantam yang tak tahu apa dasar alasan dilakukannya pertarungan konyol itu......


Tapi, seperti itu kebiasaan mereka, kalangan siswa-siswa yang tak akan jera, dan mengulang lagi di hari berikutnya.... walau sirine polisi menjadi alasan berhentinya kekacauan itu,,, dengan mereka digiring bersama-sama, lalu orang tua menjadi penyelamat....


Alexio pun begitu, sama saja....


Dan kenakalan Alexio.... tidak membuat kedua orang tuanya, mengadili puteranya, meski yang dilakukan Alexio bisa mengancam nyawa siapapun.

__ADS_1


__ADS_2