
Hingga suatu hari, malang menimpa Alexio. Ia diserang tanpa persiapan. Motor yang ia tunggangi dengan keras terjatuh. Ia tahu jika dirinya ditabrak lagi. Namun belum sempat ia melihat pelaku penabrakan itu. Tubuhnya menyerah. Ia menutup matanya, tak sadarkan diri.
“Alexio!!!!!!” itu adalah kata terakhir yang sempat ditangkap indera pendengarannya meski perlahan meredup.
Semua teman-teman dan yang mengenal cowok tampan itu berlarian ke tempat Alexio yang terbaring dengan helm yang sudah terlepas. Jelas terlihat kepalanya cidera, darah mengucur dari sana.
“Ayo buruan bawa ke rumah sakit.” Titah Andy panik, dengan gusar dan tubuh gemetar ia mengangkat tubuh Alexio masuk ke dalam mobil miliknya.
“Cari orang yang udah nabrak Alexio tadi, cari!!!!!” pekik Andi dari dalam mobil. Suaranya di sertai nafas berat, ia marah. Jelas jika Alexio sengaja di tabrak. Dan ia hanya melihat jika pelakunya mengenakan motor sport berwarna kuning. Warna yang jarang di pakai kecuali oleh Alexio.
Alexio sudah ditangani di ruang emergency rumah sakit besar dan mewah yang ada di Jakarta. Rumah sakit khusus untuk mereka yang berasa dari kalangan atas. Rumah sakit LADH, milik keluarga Dira.
Derap langkah mengisi kesunyian koridor yang menjadi jalan menuju ruang tempat Alexio di tangani.
Kedua orang tua Alexio, berjalan cepat, wajah panik dan dengan tak sabar bergegas.
“Andi, Barry.” Panggil keduanya ketika melihat dua sahabat putera mereka duduk lemas di bangku ruang tunggu di depan ruangan Alexio berada.
“Om, tante.” Andi dan Barry sontak berdiri saat melihat kedua orang tua Alexio sudah tiba di depan mereka.
“Bagaimana Alexio, apa sudah ada kabar?” desak Bisma Suprapto, ayah Alexio.
“Belum om. Alexio masih ditangani di dalam.” Jawab Andi lesu. Ia masih belum fokus akan keadaan ini, pikirannya kalut dan jelas tak tenang menanti kabar Alexio yang sudah 1 jam masih di dalam.
“Dokter Kairan” Melihat sosok paruh baya mengenakan jas putih tiba dari arah kiri mereka, Bisma gegas mendekat.
“Bagaimana puteraku. Selamatkan dia, selamatkan sebagaimana kau pernah melakukannya dulu.” Meraih kerah pakaian dinas sang dokter, Bisma berharap penuh dengan penekanan dan paksaan tentunya.
“Aku akan berusaha, Bisma. Berdoalah.” Sahut Kairan Ladh berusaha tenang dan paham akan psikis keluarga pasien.
Upaya menyelamatkan puteranya dilakukan oleh Bisma Junior Suprapto bersama isterinya Linda Suprapto. Dengan Kairan Lad h sebagai dokter senior yang lagi-lagi dipercaya untuk menyelamatkan Alexio.
Dan kali ini, keberuntungan menghampiri Alexio.
Pemuda itu.... sadar kembali. Membuka matanya, namun masih membawa luka dan kebencian di dalamnya.
“Alexio!!!” Sang ibu langsung menubruk tubuh pemuda itu, dengan derai air mata ia tumpahkan akan rasa syukurnya, sang putera kembali lagi dengan selamat untuk mereka.
Alexio mengedarkan mata hitam legamnya ke sekeliling, ada sahabatnya, dan ayahnya di sana berikut petugas medis dan pria yang menjadi bagian kebenciannya tengah mengobrol dengan sang ayah. Dokter Kairan Ladh.
“Terima kasih sudah kembali sayang, terima kasih.” Bisik sang ibu penuh haru. Alexio hanya diam, tak membalas pelukan sang ibu, ia hanya pasrah direngkuh seperti itu.
“Welcome buddy, kami rindu banget.” Ujar Barry dengan bibir dikerucutkan lebai, memicu reaksi mual dari Andy yang ada di sebelahnya.
Alexio menanggapi dengan senyum tipis, setidaknya kedua orang itu bermanfaat untuk mengobati suasana hatinya yang tak baik.
“Apa ada yang sakit buddy.” Tanya andi setelah tinggal dirinya bersama Barry di ruang VVIP tempat Alexio di rawat.
“Hmm.” Hanya dehaman jawaban dari Alexio.
“Oke, setidaknya itu membuktikan lo baek-baek aja.” Timpal Barry mengenal tabiat pelit bicaranya Alexio.
“Okeh deh, kami balik dulu ya, udah sore ini. ntar malem ke sini lagi kok. Jangan kangen ya,” cetus Andi tertawa lantang.
“Geli gue dengernya.” Jawab Alexio dengan gerak tubuh jijik.
“Ok, bye buddy.” Keduanya melambaikan tangan lalu keluar dan menghilang di balik pintu berwarna biru itu.
Dalam hitungan detik berselang. Pintu kembali terbuka.
Ceklek.
Alexio yang berbaring dengan posisi kepala mengarah pada jendela yang memperlihatkan pemandangan luar enggan menoleh.
Malas menemui siapapun.
Ia mendengar langkah kaki si pengunjung berjalan pelan, ia menebak, ini adalah perempuan.
Masih enggan berbalik.
“Al.”
Dada Alexio bergemuruh hebat kala mendengar suara si pengunjung.
Dengan cepat ia menoleh, matanya terbelalak sempurna. Bahkan refleks tubuhnya terangkat duduk.
Tak menduga jika tamunya adalah...
“Xia?!!!!” ujarnya tak percaya.
Yang dipanggil hanya melempar senyum manis.
“Kaukah itu??” kembali Alexio meminta jawaban agar yakin dengan sosok yang kini sudah berdiri tepat di sisi brangkarnya. Dekat sekali dengan jangkauannya.
__ADS_1
“Hmm, ini aku. Xia.” Jawab si gadis pelan, masih mempertahankan senyum manisnya.
“Ya Tuhan, Xia.” Dengan gerak cepat, mengabaikan rasa sakitnya, Alexio meraih tubuh ramping itu dalam pelukannya.
“Hei,, apa kau sebegitu merindukanku Al.?” Kekeh Xia mengusap punggung lebar milik Alexio.
“Hmm. Banget, aku kangen banget Xia.” Lirih Alexio menjawab. Ia memeluk erat tubuh gadis itu, seolah enggan melepasnya.
“Lepas, aku sesak, Al.” Protes Xia/
“No, nanti kamu pergi lagi.” Tolak Alexio masih tidak mau melepas pelukannya.
“Tenang aja, aku gak akan pergi. Lepas ya, aku akan bersamamu kali ini.” pelan, Xia mencoba membujuk Alexio yang posesif sekali memeluknya.
Akhirnya bujukan itu berhasil. Alexio melepasnya.
“Janji.” Menagih ucapan Xia yang tidak akan meninggalkannya.
“Ya ampun Al, kamu gak berubah ya.??” Xia menggelengkan kepalanya menatap tingkah Alexio yang masih saja seperti itu.
“Baiklah, aku janji.” Ia meraih kelingking Alexio dan menautkannya pada jemarinya sendiri.
“Aku kangen banget, Xia.” Alexio menahan tangis.
“Ya ampun, Al. Cengeng banget sih.” Ledek Xia melihat air mata yang turun dengan kurang ajarnya dari wajah pemuda itu.
“Karena aku rindu banget. Kamu gak paham.!!” Gerutu Alexio sebal.
“Ya, ya, ya, aku paham. Aku pun rindu. Kamu tahu kan betapa aku sangat mencintaimu, Al. Sangat. Kau pun tahu itu.” Jelas Xia menggenggam jemari Alexio, menguatkan pria yang mendadak melow itu.
“Aku pun sangat mencintaimu Xia, bahkan rela menukar jiwaku untukmu.” Balas Alexio menatap lekat mata Xia yang sendu dan bening itu.
Xia menggeleng cepat, “No, jangan pernah ngomong kayak gitu lagi, aku gak suka.” Xia mendadak geram dengan ucapan konyol Alexio.
Pembicaraan keduanya terhenti ketika pintu dibuka...
Dua orang perawat membawa meja dorong yang berisi makan malam dan obat untuk Alexio,.
“Malam Al. Bagaimana keadaannya.” Satu oran g perawat memeriksa infus milik Alexio, sementara satunya lagi menata hidangan makan malam untuk Alexio.
“Baik sus, sangat baik malah.” Jawab Alexio sumringah.
“Wahhh, kayaknya abis dapet vitamin dari pacarnya ya, Al bahagia sekali.” Timpal perawat yang menaruh obat di sisi meja samping Alexio.
------
Kepribadian Alexio yang mendadak berubah banyak membuat pasang mata menatap heran akan hal itu.
Memang mereka tahu akan insiden kecelakaan pemuda itu, tapi dampaknya jelas di luar prediksi semuanya.
Meski tentu saja hal itu justru menambah pesona seorang Alexio.
Hanya saja, dampak baik itu tetap tidak berlaku pada Dira, entah kenapa, apakah gegar otak itu hanya menggulirkan bias pelangi pada orang lain saja, tidak berlaku untuk sudut Dira.
Entahlah. Tak adil rasanya, Dira mau mendemo saja setelah ini.
Sementara kehadiran Xia, memupuk perhatian Alexio semakin manis. Walaupun aksi kenakalannya tetap ada, namun Xia tak menjadi bagian rem tuas untuk menghentikannya. Gadis itu datang tepat setiap Alexio merasa sepi. Pemuda itu akan datang ke kediaman Xia setiap ia merasa butuh obat lukanya.
Ting tong!!!
Bunyi bel menggaung di depan pintu besar rumah mewah yang sedang dikunjungi oleh Alexio.
Dengan sabar ia menekan kembali bel itu sampai 4 kali.
Ceklek...
Pintu terbuka, dinanti akhirnya muncul juga.
“Lama banget sih? Lagi mandi? Atau tidur?” todong Alexio dengan banyak pertanyaan. Tanpa perlu di suruh, ia menyelonong masuk saja ke rumah itu.
“Aku lagi sibuk tadi.” Jawab Xia, mengikuti langkah Alexio yang duduk di sofa berwarna biru laut. Ruang tamu.
“Kamu gak pulang ke apartemen?” tanya Xia yang melihat penampilan Alexio masih sama, mengenakan seragam putih abu-abu yang di peluk oleh jaket denim berwarna kuning.
“Gak, ntaran.” Alexio mengangkat kakinya yang sudah melepas sepatu ke atas sofa, selonjoran dan merebahkan kepalanya.
“Dih, tiduran di sini dianya. Sono balik ke apartemen .” Xia mengguncang kaki Alexio dengan ujung kakinya. Namun yang diusir menaruh lengannya diwajah, menutupnya.
“Bentaran aja, Xia. Aku males balik ke sana.” Alexio memohon lembut.
“Ihh, awas aja jangan lama.” Ancam Xia
“Orang kangen malah di usir.” Seloroh Alexio membalas dengan posisinya yang masih sama.
__ADS_1
“Ya udah, sana tidurlah.” Putus Xia mengalah.
Ia kasihan dengan Alexio yang tampak kelelahan. Lihatlah, tak ada sahutan sama sekali. Ia mendekatkan telinga, dan hanya dengkuran halus yang ia dengar dari arah wajah Alexio. Membuktikan cowok itu sudah terbang ke alam mimpi.
Ia mengusap kepala Alexio penuh kelembutan, lalu mengulas senyum teduh di wajahnya. Menatap iba pada Alexio.
“Maaf.” Ucap Xia pelan, walau Alexio diyakininya tak akan mendengar, tapi ia tetap mengucapkan kata itu. Lalu berangkat dari ruangan itu, meninggalkan Alexio yang terlelap.
“Terima kasih.” Jawab Alexio pelan, ketika sosok Xia sudah tidak ada di sisinya.
.
.
Pukul 9 malam, Alexio sudah berdiri tepat di depan pintu kediaman Xia. Tersenyum, dan berjalan menuju tempat mobilnya terparkir.
Di dalam mobil, dering ponselnya berteriak keras. Menoleh, Andi menelponnya.
Mengambil buds miliknya yang berwarna biru, menaruh di kedua telinganya.
“Ya, napa.” Jawab Alexio setelah menekan tombol terima panggilan.
“Dari mana aja sih, daritadi di telpon gak angkat-angkat.” Gerutu Andi di seberang sana
“Kapan Lo nelepon gue? Gak ada sama sekali panggilan kok.” Alexio berkerut heran mendengar penuturan Andi barusan.
Memang ia tertidur pulas tadi di tempat Xia, tapi tak ada satupun panggilan yang terdengar di telinganya. Apa segitu nyenyaknya dia tertidur? Tidak mungkin, Alexio mudah terganggu oleh suara kecil di sekitarnya.
“Udahlah, kuping lo kayaknya kudu dibenerin deh, siapa tahu kecelakaan waktu itu kena saraf telinga lo.” Cibir Andi di ujung sana.
“Kenapa sih marah-marah mulu, lagi dapet lo?” balas Alexio gemas dengan gerutuan tak penting Andi.
“Buruan kemari, gue ada info baru buat lo.” Barry yang sepertinya berada di dekat Andi langsung ikut menyela.
“Iya, iya, gue OTW.” Sahut Alexio, mengarahkan mobilnya ke tempat perkumpulan mereka. Markas Geng Xia.
Tiba di sana. Ia melihat ada beberapa kendaraan terparkir di halaman rumah itu, di pastikan banyak tamu yang di dalam.
“Wah udah dateng ini boss kita.” Teriak salah satu anggota yang melihat kedatangan Alexio dari arah pintu masuk.
Xia adalah nama geng motor yang dipimping Alexio, tapi, walau dia berada di posisi pemimpin, tak pernah sekalipun Alexio menindas atau berkelakuan bossy di hadapan semua anggotanya. Tujuannya hanya untuk ikut berpesta bersama mereka, bersenang-senang dalam kenakalan, berkelahi, memuaskan penyaluran amarahnya dengan dalih membenarkan pemicu musuhnya.
“Seneng banget tuh muka?” Andi menyambut dari arah ruang tengah yang terhubung dengan ruang tamu.
Di sana berkumpul para pemuda-pemuda yang sibuk berteriak heboh dengan kegiatan mereka bermain game.
“Gue sedih salah, gue seneng salah. Mau lo apa sih, kayak anak cewek dateng bulan aja lo.” Sambit Alexio geram.
“Yeee, memang Andi lagi dapet.. hahahha.” Tambah Barry membuat wajah Andi menekuk.
“Apa yang mau di sampein ke gue tadi. Awas aja kalo gak penting. Gue tabok tuh muka.” Seloroh Alexio mengepalkan tangan dan mengacungkannya kearah Barry dan Andi.
“Oke, oke bos. Sini, duduk ngelantai sama kita-kita.” Barry menarik tangan Alexio agar bergabung dengan yang lain.
Setelah semuanya dipastikan mendengar percakapan penting ini. Barry membuka obrolan...
“Jadi gini, Alexio.” Barry mengawali
Semua mendengarkan tanpa ada niat menyambar.
“Lo kan udah dengar kasus adeknya si Zapi.” Barry mencoba mengingatkan kembali pada Alexio yang diangguki oleh pemuda itu.
“Nah, rencananya kan kita bakalan nemuin itu cunyuk setelah lo agak kuatan dikit.” Lanjut Barry.
“Tapi.....” barry menjeda sembari menatap semua anggotanya yang mengangguk ragu, mereka sudah tahu kelanjutan ucapan Barry.
“Tapi..” Alexio menyadari jika hanya dirinya yang tidak tahu di sini.
“Adeknya si Zapi mengalami gegar otak dan sempat terkena serangan untuk trauma di bawah alam sadarnya.” Jelas Barry
“Maksudnya apa, kenapa berbelit sih.” Tuntut Alexio
“Benturan yang ada di kepala adeknya Zapi itu gak maen-maen, tiba-tiba adeknya kumat dan diberi penanganan serius, tapi adeknya koma setelah itu. Sempat hilang denyut jantung saking dampak serangan itu parah ke otaknya.” Lanjut Barry panjang lebar.
“Terus.” Sambar Alexio tak sabar, perasaannya tak baik, firasatnya buruk.
“Zapi langsung datang menemui ke tujuh setan itu di depan sekolah mereka.” Inti yang menjadi pembicaraan penting ini.
“Dan Zapi jelas kalah telak di sini. Karena lo tahu sendiri, geng itu tak lebih dari kumpulan para pecundang yang hobinya maen keroyokan.” Ucap Barry marah.
“Dan sekarang Zapi ikut menyusul adeknya di rumah sakit, dia jelas kalah, tapi masih belum parah banget, karena pas tindakan itu, ada beberapa orang yang sempat menolong Zapi dan membawanya ke rumah sakit.” Jelas Barry mengepalkan tangannya.
“Shittttt!!!! Sialan!!!!” geram Alexio langsung berdiri, wajahnya merah padam, belum selesai satu masalah, kini datang lagi masalah. Ia paham akan tindakan Zapi, tapi juga menyalahkan anggotanya itu, bagaimana jika dirinya mampus dikeroyok para anak mami yang hobi maen barbie itu? Jelas akan dibalas Alexio lebih para berandalan berkelamin setengah pria dan wanita itu.
__ADS_1
“Ayo, kita temui para bancciiii sialan itu.” Alexio langsung menitahkan tegas kepada semua anggotanya. Bersiap mendatangi markas yang berisi kumpulan pemuda badung yang pengecut itu.