
Kasak-kusuk pun tak terhindarkan di setiap yang pernah dijejaki oleh Alexio, seperti di markas geng Xia
“Kenapa Alexio jarang ke markas sih?” tanya pemuda yang berpakaian biru dongker menekan stick games dengan antusias
“Masuk rumah sakit kan denger-denger.” jawab pemuda di sebelahnya yang ikut bermain bersamanya
“Rumah sakit? Sakit apa? Kecelakaan lagi tuh orang?” sambut pemuda lain dari arah belakang, duduk di sofa malas kesayangan Andi.
“Entah.” Jawab pemuda yang tadi menjawab
“Tanpa Alexio, geng ini macem macan ompong, gak ada keren-kerennya.” Ujarnya
“Kalian denger gak itu geng Jonathan semenjak ditinggal pentolannya tambah gak bener, beberapa hari yang lalu buat ribut di tempat balap liar.” Tambahnya bersungut.
“Kita bisa apa, tanpa komando dan arahan Andi dan Barry, maka jangan berani ambil keputusan ngeladenin geng kolokan kayak itu.” Timpal si baju dongker.
Baru saja mereka menggibah, geng kolokan itu sudah menderu suara motor dan mobil di halaman markas geng Alexio
Tin
Tin
Tin
Klakson yang memekakan telinga itu sampai ke dalam area ghibah tadi dan mau tidak mau mereka harus keluar.
“Kenapa woy!!! Berisik!!” beberapa anggota geng Xia keluar dengan muka sambutan yang tak bersahabat.
“Mana Andi, suruh keluar, jangan sembarangan rekrut geng orang, huh!!!” Bentak geng Cakra (geng besutan Jonathan CS) yang jika dilihat-lihat adalah bos barunya atau PJSnya bos.
“Andi gak ada di sini, lagi pergi dia.” Jawab anggota geng Xia malas.
“Kalo gitu suruh yang bernama Dian keluar!!! Kasih tahu Leo dateng.” Lagi-lagi si PJS itu alias Leo berteriak memerintah
“Pakek kata tolong kalo minta bantuan itu. Gue bukan anak buah lo.” Tolak geng Xia. Sudah dibentak maka sekarang ia diperintah. Alexio Cs saja tak pernah memberikan arahan sewenang-wenang seperti itu.
“Halah lakukan aja apa kata gue tadi kalo gak mau markas geng ini gue ratain sekarang!!” tanpa menurunkan nada bicara, Leo kini dengan arogannya memaksakan kehendak.
“Yok ah pada masuk, gak usah ladenin ini orang, bertamu kayak mau nggorok aja.” Geng Xia beranjak menuju pintu masuk namun baru saja berhasil melewati pintu, bunyi kaca pecah menguar.
Prang!!!!!
Prang!!!
__ADS_1
Mereka membulatkan mata bersama
“Sialan kalian!!!!!” geram geng Xia melihat perbuatan geng Cakra yang melempar batu tepat di kaca jendela sisi pintu tempat mereka lewat.
“Itu kalo gak nurut apa kata gue!!” kecam Leo angkuh
“Sialan, maju!!!!!” dengan langkah lebar, geng Xia merangsek menuju geng Cakra, beberapa diantaranya masuk kembali membawa berbagai benda yang bisa dijadikan senjata. Siap menghantam mereka yang mengusik ketenangan di markas itu.
Geng Xia tanpa keberadaan pimpinannya memang jelas bertarung asal, mereka hanya melakukan atas dasar amarah hingga geng Cakra berhasil melibas beberapa diantara anak buah Alexio.
“Hentikan!!!!” suara cempreng ikut menyeruak diantara pertarungan itu. Matanya membeliak ketika menyaksikan pertarungan yang banyak melibatkan luka di tubuh para bocah-bocah tanggung itu.
Tunggu!! Kenapa ada yang dewasa dan tampang preman sih!!
“Gak bisa dibiarin ini.” Dira, yang hendak mengambil sesuatu di kamar rahasia Alexio kaget dengan tawuran massal ini. ia meraih sebuah kayu balok yang pas di genggamannya, menjadi senjata siaga apabila ada diantara makhluk luknut itu hendak melukainya.
Bugh
Bugh
Bugh
Dira dari arah belakang memukul wajah salah seorang yang hendak menusukan pisau pada anggota geng Alexio. ia bisa tahu karena geng Alexio tidak pernah membekali gengnya dengan senjata tajam seperti itu.
“Sialan!!! Dasar jal—ng” pria tadi,, kenapa pria? Karena usia orang yang dihajar Dira bukanlah pemuda seusia dirinya melainkan usia 25 ke atas dengan tampang preman pasar.
Membalas, mengarahkan tinju pada Dira namun untung gadis itu bisa mengelak. Dasar beladirinya yang sudah diasah oleh Kairan Ladh dan Paul membuatnya mampu menjaga diri jika sewaktu-waktu bahaya mengintai dirinya. Hanya saja, saat tergila-gila pada Alexio, Dira bak ayam sayur yang lemes, sok polos tapi gesrek dan bar-bar, menutupi kegilaannya seperti ini.
“Kamu itu om-om, bukan lagi bocah yang bisa gabung di sini.” Begitu sindiran dari Dira akan tidak tahu dirinya pria itu ikut dalam tawuran para remaja.
“Kau!!!” tak terima dengan ucapan itu, ia segera menerjang Dira, beberapa pukulan dan tendangan dilayangkan, bahkan tangannya yang memegang pisau tadi sudah siap diarahkan pada Dira.
Dasar pengecut!!!
Jiaaaattttttt
Sat set sat set
Lah kenapa macem buka bungkusan micin bunyinya.
Hap!!!
Bunyinya gimana sih kalo mau nerbangin pisau.
__ADS_1
“Aihhhhhh. Sialan om-om ini, awas aja jadi jalan author jodohin ya, ogah gue modelan om-om pasar jodoh Dira, dihhh.” Dira bergidik menghadapi pria pengecut itu.
Bugh
Sekuat tenaga ia angkat kayu balok tadi hingga tepat mengenai wajah sangar itu.
“Arghhh.” Pekik pria preman itu. Matanya menggarang melihat kelakuan Dira yang berhasil menghantamnya.
Dan kini dengan keseriusannya mengarahkan kembali pisau itu pada Dira.. dan
“Arghhhh.” Suara ringisan mewarnai pertarungan beda generasi dan beda gender, darah menetes di sepanjang pisau yang menancap kini.
“Jo!!!!!” pekik Dira melihat yang terkena tancapan pisau itu malah pemuda itu, Jonathan.
Mendengar jeritan Dira sontak memantik perhatian beberapa peserta tawuran dadakan itu, menoleh dan...
“Jonathan!!!” itu suara jeritan anggota geng Cakra yang tentu mengenali pimpinan mereka.
Beringsut berlari menuju di mana tubuh bersimbah darah tadi berada. Dan, ah jangan lupakan om-om luknut tadi, ia yang hendak kabur segera di sleding Dira hingga terjerungus dan terbentur balok kayu yang juga ditimpakan Dira pada om-om itu.
Enak saja mau kabur, heyy tidak semudah itu bagong!!!
“Jonathan!!!” satu persatu anak buah Jonathan merangsek mendekati
“Aihhh panas, buruan sediain mobil buat angkut Jo!!!” geram Dira melihat pemuda itu mendadak drama melow dengan keadaan Jonathan
“Ba-baiklah.” Sahut mereka berlarian.
“Lihatlah, aku gak nyuruh semuanya nyediain mobil, dasar geng ababil!!!” gemas Dira melihat kumpulan geng Cakra malah berlarian menuju mobil.
“Tolong angkat Jo, ya.” Pinta Dira pada anggota geng Xia yang diangguki mereka karena mengenal siapa Dira bagi pimpinan geng Xia. Kekasih Alexio.
Lihatlah, anak buah konyol tadi siap di kemudi masing-masing, memangnya Jonathan itu amoeba yang bakalan naik semua ke mobil mereka!!!
Otak mereka mendadak korslet semua.
“Naikan ke mobil yang tampang sopirnya waras ya,” ucap Dira meneliti wajah pengemudi itu hingga pilihannya jatuh pada mobil range rover warna hitam.
“Minggir, gimana aku bisa bawa Jonathan kalo kalian pada arisan di dalem.” Cibir Dira melihat mobil itu diisi beberapa orang.
Mendengar ucapan Dira, mereka turun berjamaah, meninggalkan pengemudi saja di depan.
“Lihat Jo, harusnya kamu bener-bener rekrut anggota, jangan nerima yang otaknya masih separuh download itu.”
__ADS_1