Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 98


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Alexio hanya menekuri pikirannya yang bekerja keras saat ini. semenjak keluar dari kediaman keluarga mendiang pelaku pelecehan kembarannya, tidak ada pembicaraan yang ditanggapi Alexio dari pertanyaan Roy.


“Bos. Kita mau kemana setelah ini?” itu adalah sekian dari banyak pertanyaan Roy yang bergulir sejak tadi


“Bos!” agar keras, Roy memanggil Alexio yang segera memutus lamunan berpikirnya.


“Hmm, apa?” sahutnya dingin


“Kita mau kemana lagi.” Tanya Roy.


“Ke cafe Diamond area Kuta.” Ucap Alexio menunjuk lokasi, yang gegas dituruti Roy. Tak butuh waktu lama, karena masih di area Kuta. Mobil itu berhenti di sebuah cafe modern, di sana ia akan menemui seseorang.


Tring!


Denting benda beradu nyaring ketika membuka daun pintu menyapa pelanggan yang masuk ke cafe itu, beberapa pandangan pelanggan melirik keasal suara.


“wihh ganteng banget. Gak salah aku bolos sekolah.” Celetuk satu gadis berseragam sekolah, dilihat dari jam yang masih pukul 10 WITA, 3 orang siswi itu kabur dari jam belajar.


“Hei broda, sini!” lambaian tangan memanggil Alexio untuk menuju tempat itu.


“Hahh, pria itu lagi.” Hela nafas Roy memberat ketika tahu yang akan ditemui bosnya adalah Zero lagi.


Roy dan Alexio melangkah gagah menuju kursi di mana cassanova tengil itu berada. Tampak 2 gelas kopi sudah tandas di atas mejanya, camilan berupa 2 slice cake matcha sudah habis tak bersisa. Entah bagaimana cara pria itu menyogrok makanan dan minuman itu melewati tenggorokannya.


“Kau tidak makan berapa hari, Zero?” tanya Roy namun kalimatnya jelas mengarah pada sindiran.


“Ck, aku lapar. Berisik kau.” Sungut Zero melirik tajam pada Roy.


“Kau mau minum apa, aku akan ke baristanya.” Tawar Zero tampak sumringah menawarkan hal itu.


“Panggil saja waitresnya, atau Roy yang akan memesan.” Tolak Alexio tidak mau merepotkan.


“Tidak usah, aku saja. Aku tidak repot sama sekali.” Masih dengan wajah antusias, Zero tak mau ditolak hingga Roy dan Alexio menatap dalam pria tengil itu.


“Kau kenapa? Tumben mau melakukan hal itu?” tanya Alexio penuh selidik


“Ah tidak apa-apa..” Zero mengibaskan telapak tangan lebarnya disertai senyum yang tak luntur daritadi.


“Aneh.” Roy berdiri hendak memesan minum namun lengannya dicekal Zero segera.

__ADS_1


“Sudah ku bilang biar aku saja.” Ia cepat berdiri lalu melewati Roy untuk menuju meja pemesanan.


Roy dan Alexio menatap kepergian Zero, lihatlah tingkah playboy itu yang mirip ulat keket, tubuhnya tak mantap, kepala meneleng kiri dan kanan, sunggingan senyum tak lepas dari wajahnya, bahkan kini kepalanya tak berhenti mengikuti sosok perempuan yang tempat ia memesan minum.


“Ck, playboy darat itu rupanya mau menggoda baristanya, bos.” Cibir Roy melihat tujuan Zero itu. Di sana ada dua barista, namun anak Lough itu lebih memilih barista perempuan berwajah Asia-Eropa, tinggi, ramping, putih bersih, manis sekaligus cantik, bahkan begitu lihai menggunakan benda pembuat kopi.


“Heh, kau tidak tahu saja, dia tidak bisa melihat perempuan cantik.” Sambung Alexio ikut mencibir.


Butuh sekitar 10 menit, kopi telah dihidangkan oleh waitress beserta camilan mendampinginya, tapi yang memesan tak kunjung duduk, masih sibuk berdiri di sisi meja bar barista, padahal antrian sudah rapi di sana.


“Tarik Zero kemari, memalukan.” Titah Alexio pada Roy yang diangguki segera oleh pengawal Alexio itu. Semangat sekali rasanya melakukan hal itu.


“Arghh, kau Roy, menyebalkan sekali.” Rutuk Zero setibanya di kursi, wajah merengut dengan tatapan tajam dan dingin itu diarahkan langsung pada Roy yang tidak merespon sama sekali, bahkan dengan tenangnya Roy menyeruput kopi miliknya.


“Sialan kau, lihat saja, aku akan membawa Celo kemari untuk menghajarmu.” Ancamnya menyebut pengawalnya yang tertinggal di Latvia sana. Pengawal sekaligus asistennya yang dikorbankan mengurus pekerjaannya.


“Duduk yang mantap, lagian kau memalukan sekali begitu memuja perempuan itu.” Cibir Alexio


“Hei, dia itu incaranku, Nolla namanya.” Giliran Alexio yang disembur oleh Zero.


“Ohh dia gadis incaranmu yang belum berhasil kau tarik ke atas ranjangmu, huh?” tanya Roy lalu ia tergelak setelahnya.


“Bukannya dia anak Johnson, Roy?” tanya Alexio menatap gadis bernama Nolla yang sibuk meracik kopi.


“Johnson? Kau kenal dia?” Zero malah yang bertanya, memutus gerak bibir Roy yang akan menjawab.


“Iya, kenapa malah kerja di sini, padahal dia kan CEO di perusahaan J-Group, kan?” lanjut Alexio bertanya.


“Hah? Dia CEO?” dan kembali Zero yang bertanya dengan wajah penuh penasaran, bahkan ia menggeret kursinya mendekati Alexio hingga kursi mereka berdempel rapat.


“Kau ini, risih tau?” ucap Alexio mendorong tubuh Zero yang juga mendempel padanya,


“Aku penasaran, ceritakan soal wanitaku itu.” Antusias, itu yang bisa tergambar dari bahasa tubuh Zero.


“Wanitaku?” beo Alexio dan Roy bersamaan yang diangguki Zero penuh sumringah.


“Ck, dia itu sudah punya kekasih, pemilik Robox Group.” Celetuk Roy menggelengkan kepalanya.


“Baru kekasih juga, tidak sulit aku rebut.” Balas Zero lalu berbalik untuk melirik yang bernama Nolla.

__ADS_1


“Dasar perebut pacar orang.” Ucap Roy menyindir.


“Biar, aku suka dia pokoknya.” Kekeuh Zero bertahan dengan tujuannya.


“Halah, suka sebatas teman ranjang doang.” Cibir Roy membalas


“Ceritakan lagi padaku, soal wanita itu.” Menjulurkan lidah pada Roy lalu menatap Alexio.


“Aku hanya tahu sebatas itu, kau pikir aku punya waktu memikirkan banyak orang, huh!” Jawab Alexio yang enggan menanggapi permintaan Zero.


“Kau cari saja sendiri, gunakan kekuasaanmu, bukannya kau kaya raya dariku. Pakai informan dan cari nama Nolla Johnson, pasti ketemu.” Jelas Alexio memberi saran, lalu menarik gelas kopi miliknya dan mereguk pelan.


“Ck,baiklah kalau begitu.” Saran Alexio ditelan mentah-mentah oleh Zero, mencari benda pipih miliknya, ponsel yang kecil itu kini menjadi panjang ketika lipatannya dibuka.


“Celo, cari informasi atas nama Nolla Johnson CEO J-Group. Serinci-rincinya.” Lalu ia menutup panggilan begitu saja, tanpa perlu jawaban dari orang diseberang sana.


Ia melirik Alexio, “Terima kasih atas informasi pentingmu itu, karena aku sulit sekali sekedar tahu namanya harus berdebat dulu.” Ucap Zero.


“Jadi kau seharian mengekori gadis itu di cafe ini?” tanya Roy penasaran yang dijawab Zero dengan gelengan kepala, “Tidak, tapi juga di club malamku.” Jawabnya


“Kenapa sampai sana?” Roy kepo


“Dia bartender di sana.” Sahut Zero tersenyum


“What! Nolla Johnson bartender, dan juga barista? Wahhhh ini kabar heboh.” Ujar Roy menggelengkan kepala saat tahu puteri pemilik perusahaan terkaya nomor 3 itu justru bekerja serabutan.


“Sudahlah, jangan bahas wanitaku. Kita bahas hasil penyeledikanmu hari ini, bagaimana?” tanya Zero menelisik wajah Alexio yang tegang seketika.


“Aku mendapat informasi jika ada nama Inda yang membawa jenazah brengsek itu, tapi aku juga mendengar hal aneh di sini, karena wanita yang bersekongkol dengan bajingan itu sudah meninggal 6 tahun sebelum tragedi itu terjadi.” Jelas Alexio membuat Roy dan Zero sama-sama mematung mendengar jawaban itu.


“Lalu bagaimana kelanjutan pencairanmu.” Tanya Roy, karena ia baru ini mendengar hasilnya, sejak di sana tadi ia hanya menjaga warung lalu setelah Alexio keluar hanya diam tak menggubris tanyanya.


“Aku akan mencari wanita bernama Inda, tapi sebelumnya akan bertanya pada papaku saat Roni tewas apakah beliau bertemu dengan wanita itu. Karena ia menceritakan pada keluarga mendiang jika Roni tewas karena kecelakaan.” Jawab Alexio


“Jadi, kau akan mencari Inda?” tanya Zero yang diangguki Alexio dengan ragu.


“Kau ragu?” lanjut Zero.


“Iya, aku yakin yang bernama Andriana itu masih hidup, karena Alexia bercerita jika ia bertemu wanita yang bernama Andriana sebelum kejadian pelecehan itu.” Ujar Alexio yang frustasi dalam nada bicaranya.

__ADS_1


__ADS_2