
Kehebohan yang merebak di SMA Golden sudah sampai ke kelas 12 E tempat Dira bersarang jika di sekolah.
“Kalian pada denger gak, itu, si cowok kulkas paling dingin di sekolah tiba-tiba udah nerbitin matahari paling hangat.” Gosip tipis-tipis itu tertangkap jelas di telinga Dira yang tengah asyik memindahkan jawaban temannya ke buku pr nya.
Mencontek!
“Iya, dah tambah ganteng lah si babang Al itu.” Sahut siswi lainnya, membuat desah nafas Dira semakin berat saja rasanya.
“Woy Dira, pujaan hati lo gak mau dipepet lagi? Mumpung lagi jinak tuh.” Seloroh siswi yang ikut bergosip.
Dira hanya diam saja, nanti saja dijawab, ia fokus, sebentar lagi Buk Dela, si guru killer matematika akan datang menagih perjanjian hidup dan mati siswa melalui PR. Dan Dira tak mau berurusan dengan ibu itu.
Sudah killer, ngasih hukuman ngadi-ngadi pula. Dira memilih mengibarkan bendera putih saja saat ini. malas menanggapi apapun itu.
Selesai!!
Syukurlah.
“Kumpulkan pekerjaan rumah kalian, dan setelah itu buka bab 10.” Titah Yang mulia ratu yang diangguki para rakyat jelata.
Suasana yang tadi riuh berganti dengan suasana mencekam. Saling pegang nyawa masing-masing agar tak lepas saat wanita berusia 40 tahun itu melepas anak panahnya.
Jam istirahat.
Semua berbondong-bondong menuju kantin khusus kelas 12.
Baru saja melewati pintu kantin. Indera pendengaran Dira sudah dipenuhi keriuhan kantin.
Tersangkanya adalah sosok yang duduk di tengah kantin, menjadi pusat perhatian semua mata gadis tentunya, baik yang ganjen, biasa dan nerd sekalipun.
Dia Alexio Bisma.
Pemuda yang jadi bahan gunjingan indah sedari pagi kini menjadi bahan pembincaraan kembali.
Dan Dira menanggukkan kepalanya saat menyetujui gosip yang tak hentinya memenuhi telinganya tadi.
“Pantes aja, diem jadi idaman, dan sekarang ramah ya jelas lah tambah jelalatan itu para fans.” Gerutu Dira mencari bangku kosong, perutnya sudah lapar.
“Dira!!!!” itu suara Alexio.
Dan memanggil namanya?
Aihh Dira tak mau percaya Dira. Siapa tahu Dira yang lain, sekolah ini bukan isinya satu bungkus tiwul 2 ribuan, tapi segudang tiwul bungkus 10 ribuan. Banyak.
Jadi Dira tetap berjalan gontai saat matanya menangkap satu tempat yang masih bisa dia duduki dengan tenang.
“Dira Kairan Ladh.” Terdengar lagi panggilan namanya,..
Hah? Namanya? Yang bernama Dira Kairan Ladh hanya dirinya, apa benar itu untuknya?
Ahh gak mungkin, pasti ngadi-ngadi aja tuh bocah.
Kepentok aspal jalanan lagi pastinya.
Tap
Tap
__ADS_1
Tap
“Hei, dipanggil diam aja.” Kini sosok itu sudah duduk di hadapannya, terpisah meja panjang.
“Kamu panggil aku?” tanya Dira datar.
Hayolah, mereka masih punya hutang masalah yang membelenggu keduanya sebelum ini.
Ayahnya dan kembaran Alexio.
Jadi aneh bukan jika pemuda ini tahu-tahu akrab dengannya setelah selama ini selalu menghempasnya keras.
“Ini Dira siomay dan es segar sarx-nya.” Satu penjual yang ada di kantin menyerahkan pesanan Dira. Mengabaikan Alexio yang menatapnya lekat, Dira menyendokkan siomainya santai.
“Hai Alexio.” Beberapa siswa uji nyali menyapa Alexio yang duduk santai.
“Hai juga Lisa.” Balas Alexio santai dan menyunggingkan senyum rupawannya.
Dan Dira menangkap senyum itu.
Ya Tuhan, manis bener itu senyum, kalah sama es yang diminumnya.
“Arhhhhhhh, Alexio tahu nama gue.” Pekik Lisa melompat kegirangan.
Dia yang kelas 12 B dan menjadi idaman para siswa memang pernah menyatakan perasaan tapi dicueki oleh Alexio, beberapa kali menyapa tapi selalu di abaikan.
Tapi kali ini, pemuda itu bahkan menyebut namanya.
Bagaimana tidak heboh!!!
“Ha-hai Al.” Kini nerd yang menyapanya dengan gugup, menyerahkan makanan berupa semangkok bakso dan es jeruk di meja tepat di hadapan Alexio.
“Ah, i-iya, Al.” Rona merah di wajah nerd itu terlihat jelas di mata Dira.
“Huffftt.” Reaksi Dira melihat betapa ramahnya Alexio hari ini.
“Maaf untuk yang waktu itu, ya. Kamu boleh menaruh apapun di lokerku, menyapaku, menegurku.” Ucap Alexio.
Eh tunggu!!
Dia menggunakan AKU? Kepada NERD!!???
Dira mengedipkan matanya berulang kali menatap Alexio.
“Kamu, baik-baik aja kan?” tanya Dira heran.
Alexio beralih tatapan melihat Dira, mengabaikan reaksi lebai nerd yang kini sudah berjalan terhuyung saat bisa berbicara dengan Alexio tanpa bentakan suara.
“Aku baik-baik aja kok.” Jawab Alexio, menarik telapak tangan Dira dan meletakkannya di dahinya.
“Nggak panas kan?” ucap Alexio pada Dira
Gak panas sih? Tapi otaknya kali yang salah susunan pas kebentur.
“Aku gak boleh kayak gini?” tanya Alexio dengan wajah cemberut. Ekspresi yang ditunjukkan pemuda itu justru di nilai oleh mata siswi yang memusatkan perhatian pada dirinya.
“Wwhahahhhhh Alexio imut banget!!!!” pekik mereka kala melihat ekspresi cemberut pemuda minim ekspresi itu.
__ADS_1
Yang dijadikan bahan pekikan itu malah membalas dengan lambaian tangan dan senyum pasta giginya.
Dira mengerutkan dahinya dalam.
Apakah ini Alexio? Atau Xia?
Pikiran liarnya kembali menguak begitu saja.
Entah kenapa akhir-akhir ini otak Dira sering memberikan asumsi konyol seperti itu.
“Xia?” panggil Dira, dan Alexio menoleh
“Xia?” ia malah membeo
“Iya, kamu Xia atau Alexio?” tanya Dira pelan, tangannya meremas ujung roknya di bawah sana. Gugup. Takut, bercampur menjadi satu.
“Aku Alexio lah, masa Xia. Lucu kamu.” Alexio malah terkekeh menjawab pertanyaan aneh dari Dira.
“Apa aku tidak boleh berubah jadi anak baik, Dira?” tanya Alexio dengan mata tepat menatap manik Dira.
“oh, ma-maaf, bukan maksud aku gitu, tapi... ya kamu boleh dong berubah, itu justru lebih baik, bukan.” Sahut Dira gugup.
“Terima kasih.” Ucap Alexio tersenyum teduh.
Melihat senyum itu tak menyurutkan sikap waspada Dira. Ia tak mau terlalu percaya diri dengan mendapat perhatian pemuda ini.
Bisa saja sedetik kemudian cosplay ramah ini habis waktunya dan kembali lagi ke wujud si freezer 2 pintu kan?
“Dira.” Panggil Alexio memutus pikiran konyol Dira di dalam sana.
“Ehhmm, iya ada apa?” sahut Dira
“Maaf jika aku sudah pernah menyakiti kamu selama ini.” tutur Alexio pelan.
Dira menatap heran, apa maksud pemuda ini?
Apakah???
“Kamu mau kan berteman dengan ku, Dira?” lanjut Alexio bertanya, menambah kerutan di dahi Dira yang semakin bingung.
“Karena jujur, aku menyukaimu, dan tidak suka ketika kau dekat dan bersama dengan Jonathan.” Sambung Alexio.
“Maka dari itu, mari mulai hari ini, kita memulainya lagi dari awal.” Lanjutnya
Semakin ruwetlah kerja otak Dira di atas sana, belum selesai mencerna kini sudah ditubruk lagi oleh Alexio dengan hal yang lebih membuat Dira kelimpungan.
“Mau kan Dira?” tanya Alexio
Dira menatap lekat pemuda itu, mencari kebohongan di mata hitam legam itu.
Tidak ada dusta.... jujur.
“Maksudmu, Alexio? Aku tak paham.” Sahut Dira
“Mau kah memulai semuanya sebagai Dira dan Alexio, tapi bukan hanya sebagai teman.” Pungkas Alexio.
Dia nembak GUE!!!!!!
__ADS_1
Tidak!!!
Ini pasti bukan ALEXIO!!!!!