
Setelah mengetuk pintu terlebih dahulu sebagai bentuk rasa sopan, Dira masuk ketika ayahnya mempersilahkan dari dalam.
“Kenapa sayang?” tanya Ladh menyambut kedatangan puterinya. Tampak pria paruh baya itu baru saja menyelesaikan tugas operasinya dan menaruh jas dokternya di gantungan lalu rebahan di sofa panjang ruangannya.
“Mau ada yang ditanyain ke papa.” Sahut Dira ikut duduk di sebelah ayahnya.
“Hmm apa itu?” ujar Ladh meraih tangan puterinya untuk digenggam.
“Pasien atas nama Dome Taoka itu, kenapa diberi izin mengatur kamar pasien sendiri.?” Dira heran akan izin ayahnya pada pasien satu itu.
“Biarkan saja, ayahnya pernah membantu papa waktu di Eropa, kami saling membantu jadi balas budi biasa terjadi.” Ungkap Ladh alasannya.
Dira menatap bingung ayahnya, “Balas budi? Tapi tidak pada pasien lain papa seperti itu.” Selidiknya tak percaya politik balas budi.
“Papa nyaris terbunuh saat mengikuti seminar di Sisilia sayang. Dan saat di Jepang juga begitu papa membantu ayahnya Dome saat terluka dan dioperasi di markasnya.” Jawab Ladh apa adanya.
“Memang apa pekerjaan ayahnya si bocah nakal itu. Penting amat, melebihi presiden.” Celetuk Dira aneh.
“Pekerjaannya sangat penting, sayang. Bisa menjalin hubungan baik dengan mereka akan berdampak pada kenyaman kita di manapun itu.” Jawab Ladh lagi
“Ayahnya memegang kendali salah satu mafia Jepang, sementara mafia Eropa adalah keluarga dari ibunya bocah itu. Kau tahu jika dua mafia besar bersatu, maka tidak sulit meminta bantuan mereka, bukan?” Ladh mengajak puterinya berpikir ke depan, memanfaatkan memang tidak salah asal dirinya juga memberikan timbal balik juga, sehingga hubungan simbiosis mutualisme itu terjalin baik.
“Kita tidak pernah tahu ada bahaya apa di depan kita.” Sambung Ladh seolah memberikan sinyal waspada pada puterinya di masa yang akan datang.
Dira hanya menyerap ucapan ayahnya, tanpa menyela, karena setiap perkataan itu begitu absurd menurutnya, hanya ada di dunia naskah perhaluan.
__ADS_1
Singapura....
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam waktu setempat, Alexio masih terjaga dari rasa kantuknya. Ia memandang kota Singapura yang tetap menyala terang meski malam sudah beranjak menuju pagi. Dari kamar hotel yang disewanya selama beberapa hari, Alexio bertekad menjalankan rencana awalnya dengan mendatangi kakeknya, mencari tahu akar masalah sebenarnya, sebelum memberi hukuman siapa yang terlibat dalam kematian Alexia.
Menyebabkan dirinya mengurung diri selama 3 tahun, hidup dalam kehampaan, menjadi pribadi tertutup namun selalu mencari masalah. Mendirikan geng motor saat baru saja menginjak hari pertama sebagai siswa SMA. Terlibat banyak kenakalan, tawuran, balap liar, pembullyan dan hal lain yang bersinggungan dengan hal negatif.
“Alexia, aku harap dengan melakukan ini bisa membuatmu tenang di sana.” Lirihnya menggenggam diary di tangan kanannya namun mata menatap kosong jauh di luar sana.
“Meski nanti tidak akan memuaskan balas dendamku, tapi setidaknya mereka akan merasakan hal yang sama sakitnya dengan yang kau rasakan.” Lanjutnya lalu mendekap benda berwarna merah muda itu di dadanya.
Keesokan harinya.
Di sebuah mansion yang terletak area Nassim Road, Alexio menghentikan mobil yang dibelinya 1 hari yang lalu dan diletakkan di salah satu apartemen yang akan ia beli sore nanti. Setidaknya selama ia di Singapura, ia butuh tempat tinggal, dan di hotel ia tak nyaman dengan bayangan bekas kunjungan orang-orang meskipun suite room pilihannya.
Hanya ada satu, seorang pria dengan pakaian hitam putih. Menyambut Alexio sebelum dirinya turun dari mobil.
“Selama siang tuan.” Sapanya memberi hormat, karena sudah lama melayani Suprapto, maka tidak perlu bertanya lagi siapa sosok yang berkunjung ini. tuan muda keluarga Bisma.
“Apa kakekku ada di dalam?” tanya Alexio setelah keluar dari mobil dan berdiri menyisir area sekitar.
“Tuan ada di halaman belakang, tuan.” Jawab pelayan menundukan kepala lalu mengarahkan Alexio menuju tempat keberadaan bos besarnya. Suprapto.
Alexio mengikuti langkah si pelayan yang menyusuri ruangan demi ruangan hingga tiba di halaman belakang yang sangat luas, sisi kiri ada kolam renang besar berbentuk U, lalu sisi kanan ada hamparan taman bunga berikut gazebo dan beberapa bangunan mirip kandang besar di mana ada aneka burung, kelinci, lalu bergeser dari situ kolam besar juga tempat ikan koi peliharaan Suprapto yang saat itu kebetulan sedang diberi makan oleh si pemiliknya.
__ADS_1
Alexio tinggal sendiri setelah pelayan selesai memberi tahu majikannya dan bergegas mengambil hidangan untuk cucu majikannya.
“Kau tidak memberitahu kakek, Al.” Suprapto sumringah saat tahu cucu tercintanya dan pewaris tunggal kerajaan bisnis miliknya mengunjungi kediamannya di Singapura.
Seolah cucunya memberikan kejutan untuk pria tua sepertinya.
Alexio memilih duduk ketimbang menghampiri sang kakek yang memberi kode sedari tadi dengan rentangan tangan, mengulurkan tangan dan gerakan dagu agar mendekatinya.
Tapi Alexio tampak arogan menolak semua itu., santainya ia malah menatap sekitarnya sembari menunggu Suprapto yang mendekatinya.
Arogan sekali, itu pikir Suprapto, tapi ia suka jika sifatnya ada di dalam keturunannya, karena Bisma sebagai puteranya terlalu lembut dan tidak tega bersikap keras sepertinya.
Suprapto tak tersinggung sama sekali dengan sikap Alexio seperti itu, ia menuruti kemauan cucunya lalu duduk di kursi berbentuk L tak jauh dari Alexio.
“Siapkan semua keperluan cucuku selama ia di sini, penuhi semua permintaannya.” Titah Suprapto pada kepala pelayan yang datang bersama beberapa pelayan untuk menyajikan minum serta camilan kepada cucu Suprapto.
“Tidak perlu, aku tidak akan tinggal di sini.” Alexio langsung menolak cepat
“Kau tentu tidak langsung pulang, kan. Al?” tanya Suprapto yang diangguki Alexio pelan tanpa menoleh karena pria itu tengah mereguk teh bunga yang disuguhkan pelayan tadi.
“Lalu menginap di mana kau jika tidak di sini? Ini rumah mu juga, Al.” Suprapto tampak tak suka dengan keputusan Alexio yang tidak mau tinggal di mansionnya.
“Hotel. Aku sudah memesannya dan barang-barangku di sana.” Jawab Alexio datar berikut tatapannya pada Suprapto. Mirip seperti pertemuan dengan orang asing tepatnya.
Tak ada kehangatan yang diberikan Alexio untuk kakeknya yang dari awal kedatangannya sudah menghujani dengan banyak perhatian untuknya.
__ADS_1
“Batalkan, nanti kakek suruh orang-orang membawa barang-barangmu kemari, jadi kau tak perlu tinggal di luar sana. Sementara keluargamu ada di sini.” Suprapto masih memaksakan kehendaknya pada cucunya itu.
‘Keluarga katanya? Lalu apa arti jantung dan hati ini jika kita adalah keluarga, kau saja rela merenggut saudariku demi ambisimu sendiri.’ Batin Alexio mengepalkan tangannya sembari menatap dingin kakeknya.