Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 51


__ADS_3

Di saat Andi, Barry dan Dira sudah melesak memecah keramaian jalanan untuk menuju tempat di mana Alexio berada, Linda terisak memikirkan perkataannya sebelumnya yang menyebabkan Alexio pergi mengabaikannya.


Flashback....


Setibanya di kamar Alexio yang jarang ditempati karena pemuda itu lebih banyak berada di apartemennya setelah memaksa Bisma membelikannya tempat itu.


“Nak.” Panggil Linda yang duduk di ujung ranjang, memperhatikan Alexio yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi.


“Ya ma.” Sahut Alexio ikut duduk di dekat sang ibu.


“Hmm, kamu, kamu mau kan sering-sering ngobrol sama dokter Doni?” tanya Linda dengan hati-hati, tapi ucapannya itu justru membuat Alexio terbakar di dalam sana.


Matanya memicing menatap Linda, “Maksud mama apa? Dokter Doni?” tanyanya mengulang.


“Iya.” Jawab Linda.


Alexio berdiri sempurna, menatap netra ibunya nyalang, “Maksud mama apa? Dokter Doni itu psikiater ma, gak ada hubungannya dengan apa yang Alexio alami sekarang!!” sentak Alexio marah.


“Tapi nak, kamu butuh dokter Doni.” Ucap Linda hendak meraih lengan Alexio yang bisa dijangkaunya namun segera ditolak sang putera,


“Butuh kata mama?” tanya Alexio mengkonfirmasi ucapan Linda yang konyol menurutnya itu.


“Mama pikir Alexio gila!!!???” lanjut Alexio dingin


“Mama pikir otak Alexio gak bener!!!!” lanjut lalu tanpa peduli meninggalkan kamarnya, enggan berdebat.


“Nak, apa yang kamu lakukan salah.” Kata-kata Linda menahan langkah Alexio yang nyaris mencapai daun pintu kamar.


“Salah?” lirihnya tersenyum miris.


“Iya nak. Kamu dan semua yang dikatakan diary itu salah!!! Termasuk kehadiran Xia itu juga salah!!” jerit Linda sudah tak tahan lagi.


Ia segera mengeluarkan apa yang selama ini terpendam lama. Ia merasa kesalah pahaman yang terkubur lama itu harus kembali dibongkar. Walaupun luka itu harus terpaksa di buka juga.


Mendengar kalimat panjang Linda itu, membuat tubuh Alexio berbalik menatap ibunya.


“Salah? Semua yang Alexio baca dan lihat salah?” tanya Alexio dingin


Isak tangis Linda akhirnya pecah, ia tergugu dalam anggukannya.


“Nak, sadarlah, apa yang terjadi itu tidak lain adalah kesalahpahaman. Apa yang kamu alami tidak lain adalah trauma karena kematian Alexia.” Tutur Linda sesak


Ia bahkan kesulitan mengatur nafasnya yang berat.


“Gak, kalian yang salah, apa yang terjadi pada Alexia semua karena keegoisan kalian semua.” Balas Alexio semakin dingin. Matanya menajam sempurna pada Linda.


“Jadi, setelah kalian menabur luka ke Alexio, dan kalian juga yang kini mendorong Alexio ke tempat yang sama dengan Alexia. Apa kalian juga mau menyingkirkan Alexio!!” jerit Alexio kemudian.


“AL!!!!! Itu tidak benar!!!” balas Linda marah.


Ia menggeleng membantah semua ucapan Alexio. Salah. Semua salah. Alexio salah paham!!!!


Alexio berbalik dan membanting pintu yang dibukanya.


“AL!!!!!!” panggil Linda menyusul Alexio.


“Mau kemana kamu!!!!” teriaknya dari atas

__ADS_1


“Ke tempat yang kalian bilang semua gak masuk akal!!!” balas Alexio dari lantai bawah.


Ia berlari keluar rumah, mengabaikan luka yang masih basah di tubuhnya.


Bergegas meraih mobil sportnya, meninggalkan Linda yang menangis di lantai 2


“Al... hiks... hiksss.” Isaknya meratapi sikap puteranya yang seperti itu....


FLASHBACK OFF


“Permisi pak, Alexio ada kemari?” tanya Dira saat sudah berada di depan gerbang rumah lama keluarga Alexio.


“Gak ada non,.” Sahut security


“Kalau jam segini den Alexio gak pernah kemari.” Ucapnya lagi.


Hari masih terang, menurut security Alexio hanya kemari di jam malam saja.


“Gimana?” tanya Andi yang melihat Dira sudah mendekati mobil


Dira menggeleng, “Alexio gak kemari kata security nya


“Waduh kemana nih.” Barry cemas.


Mereka bingung, tadi sempat menghubungi Alexio tapi nomor pemuda itu tidak aktif.


Dan di saat semua memikirkan keberadaan Alexio...


Pemuda itu kini menatap kosong tempatnya kini berada. Danau.


“Al. Maaf.” Sebuah tangan mulus dan mungil merengkuh tangan Alexio.


“Al.” Lagi, itu suara Xia. Ia duduk di sebelah Alexio, sama-sama menatap danau yang sunyi.


Hening


Alexio masih berusaha meredakan amarahnya, setelah habis berdebat hebat dengan ibunya, kini ia dihadapkan dengan sikap Xia yang sulit sekali mendengarkan ucapannya.


“Al.” Xia memanggilnya lebih lirih lagi, membuat wajah Alexio akhirnya menoleh.


“Xia, kamu tahu kan aku sekarang sedang berusaha untuk tidak meluapkan emosiku ke kamu.?” Ujar Alexio pelan. Dadanya berat.


Xia menunduk mendengar penuturan Alexio.


“Maaf.” Ucap Xia akhirnya.


“Kamu gak perlu minta maaf,. Tapi cukup nurut apa kata aku, Xia.” Ujar Alexio menekan ucapannya.


“Kamu seorang gadis, dengan luka yang harusnya butuh perawatan di rumah sakit. Tapi...” alexio menghela nafasnya kasar, menarik rambutnya frustasi.


“Tapi aku udah berobat ke dokter, kamu lihat sendiri kan kalo lukanya udah di obatin.” Jelas Xia harap-harap cemas.


Alexio lagi-lagi mesti menghela nafasnya.


“Kamu menolak semua perhatian aku Xia. Itu yang aku gak suka.” Ucap Alexio meringis. Menatap lurus pada hamparan danau.


“Al.” Panggil Xia.

__ADS_1


“Kalau kamu gak mau menerima perhatian dari aku, maka aku gak tahu harus gimana lagi.” Lanjut Alexio. Ucapannya penuh rasa sedih.


“Maaf.” Ucap Xia menggenggam telapak tangan Alexio, kepalanya pun ia sandarkan pada pundak pemuda itu.


“Jangan begini lagi. Dan.....”


“Kalau orang itu masih datang, kamu gak perlu menghadapinya sendiri, kamu lari, lari Xia.” Sambung Alexio mengeratkan genggamannya.


Xia mengangguk, isaknya pun keluar, “Maaf Al, maaf.” Ucap Xia dengan suara serak karena isak tangisnya.


Hening kembali. Keduanya sama-sama menatap air yang ada di bawah kaki mereka yang menjangkau permukaan danau.


“Kita sudah terikat hubungan pertemanan Xia, maka jangan pernah menolak apapun bentuk perhatian aku selamanya.” Ucap Alexio pelan,


“Iya Al, maaf.” Sahut Xia


“Terima kasih sudah berada di dalam hidupku yang sulit selama beberapa tahun ini Xia. Aku gak tahu kalo gak ketemu kamu.” Tutur Alexio mulai mengingat posisi penting Xia dalam hidupnya.


“Sama-sama Al, aku juga, aku butuh dengan kehadiran kamu yang menemaniku.” Balas Xia ikut berterima kasih.


“Tetaplah bersamaku, Xia. Mari sama-sama menghadapi masalah itu.” Ujar Alexio yang diangguki Xia.


“ALEXIO!!!!!” satu suara memecah keheningan di danau tempat Alexio berada.


Menoleh. Dira?


Gadis itu datang kemari, tapi tidak sendiri, ada Andi dan Barry bersamanya.


“Dira?” jawab Alexio menaikan alisnya.


Gadis itu berlari cepat untuk mengikis jaraknya . alexio yang melihat gerakan itu sontak berdiri.


Hap


Dira memeluk tubuh itu posesif, ada rasa lega di nafasnya ketika menemukan Alexio. Menghirup aroma maskulin segar itu, menenangkan kecemasannya sedari tadi.


“Kamu kenapa, heumm?” tanya Alexio merasakan tubuh Dira bergetar.


Dira menggeleng dalam rengkuhan itu, sementara Andi dan Barry hanya menatap keduanya dari jauh.


“Nasib jomblo.” Celetuk Andi nyengir melihat Barry.


“Kamu ngapain di sini?” tanya Dira masih dalam pelukan


“Aku ketemu Xia.” Jawab Alexio.


Mendengar nama Xia-lun itu, membuat Dira melepas pelukannya.


“Xia?” ulang Dira yang diangguki Alexio


“Mana Xia-nya?” tanya Dira pas sekali momentnya.


“Ada, in-----, huh kemana lagi itu bocah??” Alexio bertingkah bingung ketika tak mendapati Xia yang tadi duduk di sebelahnya. Ia mengedarkan pandangan ke segala penjuru.


“Al!!!!!!”Dira kembali merengkuh tubuh Alexio ketika pemuda itu bertingkah. Ia menarik nafas lalu berujar pelan...


“Al, kamu sendirian di sini, gak ada siapapun daritadi.” Tutur Dira pelan penuh isak dalam.

__ADS_1


Ia bertekad untuk mulai membuka pikiran Alexio, bahwa sejak ia datang, tidak ada siapapun di sekitar Alexio,... ya pemuda itu sendirian.


__ADS_2