Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 125


__ADS_3

Bisma diam sibuk mencerna setiap untaian kata yang sudah terangkai jadi kalimat dari mulut dokter Ladh. Sebagai orang yang dari awal mendengar cerita versi A lalu berubah menjadi B dalam rentang waktu yang sangat lama, maka tidaklah mudah baginya langsung mengiyakan begitu saja.


Baik Linda dan Ladh sama-sama bisa membaca hal itu, dan mereka enggan mengganggu kebisuan yang diciptakan oleh Bisma, hingga.....


Tok


Tok


Tok


Bunyi ketukan pintu membuat ketiganya sama-sama menoleh ke asal suara.


Ceklek


“Hiro.” Kompak juga menyebut nama pimpinan Yakuza yang muncul dari balik pintu.


“Tidak ada sekretarismu di luar, jadi aku masuk saja.” Dengan wajah tegas dan datar serta arogannya, Hiro masuk tanpa peduli nilai kesopanan sama sekali.


“Apa kalian sedang melakukan rapat atau sejenis pertemuan rahasia?” sudah masuk tanpa permisi, pimpinan mafia itu langsung duduk saja sebelum dipersilahkan sang empu pemilik ruangan.


Tidak ada yang menjawab pertanyaannya.


“Aku menebak saja kalau begitu, hmmmmm... ini pasti berkaitan dengan Suprapto.” Duga Hiro yakin, biarlah walau ada putera pria renta durhakim itu di sana, kalau jahat ya tetap saja jahat menurut Hiro.


“Betul, tentang papaku.” Yang menjawab Bisma. Matanya menembus tajam kearah Hiro, entah ia merasa jengah akan orang yang tahu fakta ayahnya sedangkan ia tidak tahu, atau ia kesal karena tak mampu menghukum ayahnya sendiri.


“Oh ya, terus terus, apa kau terkejut dengan kejahatan ayahmu itu? Atau kau merasa surprise kembang api saat diberi tahu.” Wajah berbinar yang dimunculkan oleh Hiro seakan mengejek di mata Bisma.


“Apa maksudmu.” Suara Bisma sudah mulai menggeram, Linda mengeratkan genggamannya.


“Bisma, tahan emosimu.” Bisik Linda mengusahakan agar darah yang bergejolak dalam tubuh Bisma mereda.


“Dia merendahkan papa, Linda.” Sahut Bisma memberi alasan.


“Apa maksudmu aku merendahkan, memang begitu perangai ayahmu Bisma, tak ubahnya iblis dari semua iblis.” Semakin bersemangat saja Hiro memupuk emosi Bisma.


“Hei, sudah, kita sedang memperbincangkan solusi dari permasalahan, bukan saling adu kata-kata, menyerang orang yang salah.” Ladh menyela saat hawa yang tercipta di ruangannya sudah terasa panas akibat dua pria paruh baya itu.


Memalukan.

__ADS_1


“Betul, kita sama-sama mencari solusi dan menemukan keberadaan papa, bukan menyerang seperti ini.” Linda ikut menimpali.


Bisma menekuri hal itu lalu mengangguk sebagai jawaban setuju akan ucapan Linda dan Ladh, sementara Hiro hanya mengendikkan bahunya, masa’ bodoh menurutnya.


“Baiklah, kami sudah memberi tahu beberapa informasi kepada Bisma mengenai kejahatan yang dilakukan ayahnya dalam keluarganya. Dan Hiro tentu tahu kejahatan Suprapto di luar keluarganya.” Ladh menjelaskan duduk permasalahan.


“Jadi, sudah lengkap seberapa buruknya kelakuan ayahmu Bisma, bukan saja menyakiti orang lain, tapi cucunya sendiri pun ia sakiti.” Lanjut Ladh, ada rasa sesak di dadanya ketika menyebutkan hal itu.


“Tapi, sekarang papa menculik kembaranku dokter Ladh.” Lirih Linda menyela.


“Iya aku tahu.” Angguk Ladh


“Mungkin karena bisnis hitamnya yang menyeruak diketahui publik membuatnya marah dan menuduhku melakukan hal itu.” Ucap Linda lirih


“Maaf soal itu, mengenai bisnis Suprapto yang baru-baru ini tercium media, dilakukan oleh seorang kenalanku.” Sahut Ladh pelan, dan mengejutkan ketiga orang di hadapannya.


“Apa? Kenalanmu? Kenapa kau tidak bilang? Siapa dia?” runtutan kalimat tanya mengejar Kairan Ladh dari Linda, ia geram tahu akan hal itu sekarang.


Bukan apa-apa, di sini yang menjadi korban adalah saudarinya, sedangkan yang mengganggu atau mengusik Suprapto justru orang lain yang tak ia kenali mungkin.


“Jonathan, kalian kenal, teman anak kalian, Alexio.” Jawab Ladh semakin membuat Linda serta Bisma membelalakan mata mereka.


“Iya, walau dampaknya rupanya justru menyerempet saudari Linda. Kami minta maaf.” Ucap Ladh.


“Kenapa kau yang meminta maaf? Jangan bilang kau terlibat di sini.” Sudah ikut menyela, malah menuduh pula, Hiro Hitoka.


Ladh menyipitkan matanya kearah Hiro karena pria itu bukannya membantu malah memperkeruh serta memprovokasi kesannya. Pantas saja jadi ketua geng, doyan bikin rusuh.


“Eihhh, jangan menatapku seperti itu. Nanti aku pergi loh.” Merasa ditatap demikian, Hiro meringis seketika


“Makanya jaga mulutmu.” Sembur Ladh kesal


“Lah, aku hanya berbicara.” Malah membalas bukan meminta maaf


“Sudah sudah, kenapa gantian kalian yang bersiteru.” Linda menyela keduanya yang bergantian beradu mulut.


“Uppss iya, kenapa aku begini ya.” Hiro terkekeh.


“Baiklah, jadi gini. Ayo mari aku beri sebuah informasi pada kalian, atau mungkin tepatnya pada Bisma sebagai orang yang paling dekat dengan Suprapto, ayahnya.” Ujar Hiro menyentil Bisma yang menoleh saat namanya disebut.

__ADS_1


“Informasi?” beo Linda, Ladh dan Bisma serempak dan diangguki Hiro.


“Ini.”


Brak!


Hiro melempar sebuah amplop yang sepertinya isinya cukup berat karena mengeluarkan suara saat beradu dengan permukaan meja.


Bisma tertarik dan segera mengambilnya, “Apa ini?” tanya Bisma belum mau membuka segel dari amplop itu.


“Buka saja. Aku malas menjelaskannya, sudah dikasih gratis masih saja menyibukkanku.” Jawab Hiro yang tidak menjelaskan isi sesuai mau Bisma.


Srrettttt


Dengan penuh hati-hati, Bisma merobek bagian atas amplop agar tidak merusak isi di dalamnya yang belum diketahui apa saja isinya.


Tangan Bisma meraih benda yang ada di dalam, satu persatu ia keluarkan hingga tampak ada beberapa lembaran foto serta file yang dijepit menggunakan penjepit kertas.


Tidak ada yang berani menyentuhnya sebelum Bisma menyelesaikan dulu urusannya. Dan anak Suprapto itu mengawali dengan mengambil foto-foto yang berjumlah 10 buah itu.


“Kau mengenali di mana itu?” Hiro bertanya sembari menggigiti kukunya.


Mata Bisma menyipit memandangi semua gambar itu lalu mengangguk, “Iya. Ini rumah papaku. Ini peternakan kudanya, dan ini gudang anggur miliknya.” Jawab Bisma merasa tidak ada yang salah dengan hal itu.


“Anak buahku selalu kehilangan jejak ayahmu di tiga tempat ini.” Ujar Hiro menatap lekat Bisma


“Maksudmu, kalian sering mengikutinya?” Tanya Bisma curiga dan diangguki Hiro


“Selalu dari semua kesehariannya, tidak ada yang mencurigakan, tapi begitu sudah sampai di salah satu tiga tempat ini. selalu saja kami kehilangan jejaknya.” Jawab Hiro.


“Apakah dari tiga tempat ini, ayahmu memiliki ruangan rahasia yang tak diketahui siapapun itu?” sambung Hiro menjadi pertanyaan.


Bisma diam, ia menggeleng setelahnya, “Tidak ada” Jawab Bisma


“Aku tahu itu.” Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian para orang dewasa itu pada sosok yang kini sudah berdiri mantap di depan pintu.


“Alexio?” ujar Linda dan Bisma mendapati puteranya ikut di sana.


“Dan aku sendiri yang akan menghancurkan kakek dengan tanganku.” Wajah penuh amarah dan begitu dingin terpancar di raut Alexio. siapapun yang melihatnya pasti akan merinding.

__ADS_1


“Alexio.” Lirih Linda melihat puteranya yang sepertinya sudah sadar dan ingat kejadian tempo waktu itu. Yang artinya ketakutan dan luka mereka sudah kembali terbuka dan basah kembali.


__ADS_2