
Beruntung sekali jika berada di posisi dokter Doni yang seorang ahli mengendalikan ekspresi hingga tak ada gurat gugup sekalipun saat Alexio masuk tanpa mengetuk pintu.
Berbeda dengan Dira...
Tangan berkeringat, mata berkedip ulang, jantung senam altletik, jemarinya pun ikut tremor. Tak pandai sekali ia menyikapi dirinya saat Alexio menatap mereka penuh tanda tanya, dan jangan lupakan ekspresi dingin itu..
Beuhhhh si freezer mode aktif.
“Kalian membicarakanku, bukan.?” Menaruh tangan di saku jaketnya, berjalan pelan dan stop dengan posisi berdiri angkuh.
“Ti-tidak.” Bantah Dira gugup
“Iya.” Itu jawaban dokter Doni
Yaaahhhh gak seceng banget si dokter onohhhh. Kan Dira jadi keblisangsatan kalo dites kejujuran nanti.
“Oh begitu.” Alexio menaruh bokongnya, duduk di sebelah Dira yang masih berusaha menormalkan jiwanya.
“Eh.” Dira tersentak saat jemarinya digenggam Alexio di bawah sana.
“Gak usah gugup, aku paham.” Ucapnya menenangkan.
Menenangkan? Bulshittttttt!!!!! Aura Alexio tak ada ketenangan di sana, Dira tahu feel itu, mengintimidasi dan meminta penjelasan.
Entah memang Alexio atau ditambah bumbu si Xia-lun itu.
“Ma-maf.” Ucap Dira merasa bersalah.
“Tidak apa, aku paham.” Sahut Alexio pelan
“Bagaimana Alexio. Apakah kamu merasa lebih baik saat ini.??” tanya dokter Doni menyela.
“Kenapa saya harus merasa buruk, dok? Bukankah saya hanya menderita cidera kecil waktu itu?” Alexio malah berbalik tanya, matanya memicing kearah dokter Doni yang menanggapinya biasa saja.
Alexio memang diberi tahu untuk konseling perihal kesehatannya seputar kecelakaan, bukan pada mentalnya. Jadi dokter Doni dipercaya untuk menangani gejala pingsan Alexio yang ditetapkan sebagai akibat stress karena aktifitas berlebih saja, bukan karena mentalnya tak baik saja.
Jadi, skizofrenia itu ditutupi dari Alexio.
Hayolah, seorang pasien Skizofrenia diberitahu dirinya mengidap hal itu dan memiliki halusinasi terhadap sosok buatannya????
Kalian akan diserangnya dengan kata KALIAN GILA?!!!
Tidak ada pasien dengan gangguan mental atau kejiwaan akan menerima dirinya didiagnosa demikian, termasuk Alexio.
__ADS_1
Baginya, Xia nyata, tapi enggan dibagi bersama orang lain. Karena memang begitu aturan main mereka yang memiliki penyakit skizofrenia.
Sosok itu diciptakan sebagai batas kemampuan dirinya yang enggan terluka lagi atau batasan akan rasa bersalah yang tercipta dan meminta ampun melalui sosok itu.
Alexio begitu, makanya mereka harus segera mungkin menemukan akar masalah pemuda itu yang banyak disebabkan oleh tulisan diary merah muda peninggalan almarhumah kembarannya.
“Kamu bisa berkonsultasi pada saya jika mengalami masalah berat, Alexio.” Ucap dokter Doni melanjutkan.
“Saya tidak memiliki masalah, pingsan waktu itu hanya karena daya tahan tubuh saya sedang tak baik saja.” Elak Alexio
“Yok kita pergi, bukannya mau ke tempat adeknya Zapi.” Dira mengalihkan semuanya kearah lain.
“Mereka belum datang, 30 menit lagi katanya.” Ujar Alexio.
“Oo, tapi tetap saja, ayolah, bosan aku di sini. Daritadi curhat sama dokter Doni gak ketemu masalahnya.” Gerutu Dira pura-pura sebal.
“Curhat?” ulang Alexio.
“Iya, curhatin kamu yang mendadak suka sama aku.” Pungkas Dira lalu menarik paksa lengan Alexio agar segera pergi dari ruang kerja dokter Doni.
Kini mereka sudah tiba di depan ruang rawat adiknya Zapi. Di sana sudah berkumpul anggota geng Alexio yang lebih mirip orang mau tawuran saking ramainya.
“Bukannya dilarang jenguk sampe seabrek gitu?” tanya Dira heran. Ini rumah sakit, kan?
“Ada kamu yang jadi tamengnya.” Jawab Alexio santai.
Alexio melihat jarum jamnya, sudah 40 menit berjalan dari kedatangan mereka tadi. Ia sudah siap akan memberi punishment jika 7 orang itu melanggar janji lagi.
Di saat dirinya sudah menarik ponselnya, derap langkah yang tepatnya disebut lari itu menyeruak di pendengaran.
7 anak kodok itu datang juga akhirnya.
Arya, Siro, Dilo, Ali, Kemong, Kikim, Loki. Wajah mereka bermandikan keringat, entah letih berlari atau capek hati dikejar ancaman Alexio.
“Baguslah kalian datang akhirnya.” Ujar Alexio tersenyum sinis.
“Sini.” Panggilnya pada ketujuh pemuda itu.
Srettttt
Alexio menarik handel pintu tempat adik Zapi terbaring, ia sudah diberi izin tadi oleh pihak keluarga dan meminta urusan ini ia yang menghandelnya agar keluarga pasien tidak kadung emosi di rumah sakit.
“Lihat!!!” meski pelan, suara Alexio ditekan sempurna, mengintimidasi ketujuh orang yang masuk keruangan rawat itu bersamanya meninggalkan yang lain di luar.
__ADS_1
7 orang tadi menatap datar pada sosok Zian, adiknya Zapi yang terpasang berbagai alat medis di tubuh itu, bahkan kontrol jantung dan nafasnya saja terdengar memilukan.
“Bagaimana kalian bisa mengatasi akibat tindakan gegabah dan konyol kalian, huh??!” geram Alexio menatap mereka satu persatu. Yang ditanya hanya diam saja.
“Kalian mau terbaring seperti itu juga? Gue sangat suka membalasnya.” Kecam Alexio menarik kerah Arya keras hingga tubuh itu tertarik ke atas.
“Al.....” rintih Arya merasa nafasnya sesak.
“Bagaimana caranya kalian bertanggung jawab, huh!!?” nafas Alexio sudah memburu, kadar emosinya meningkat. Bahkan matanya sudah memerah saking marahnya.
“Ka-kami ti-tidak tahu harus gi-gimana, Alexio.” Lirih Arya menjawab.
Alexio menghempas tubuh Arya hingga nyaris terjungkal.
“Cari donor jantung dan bantu upayakan penyembuhan Zian.” Titah Alexio yang segera diangguki ketujuh orang itu.
“Tapi.....” Belum selesai rasa lega mereka akan tanggung jawab yang rupanya tidak berat itu, kini kembali menahan nafas saat Alexio menahan ucapan.
“Jika keadaannya semakin buruk, maka kalian akan berhadapan langsung dengan gue lalu hukum.” Tegas Alexio menatap tajam ketujuh pemuda labil seusianya yang kini meneguk ludah kasar.
“Ba-baik Alexio.” Angguk mereka berbarengan.
Lawan mereka salah, Zian ada dalam pengawasan seorang Alexio yang tidak hanya mampu secara finansial, tapi kemampuannya mengendalikan orang patut diperhitungkan.
“Zian, dengar itu, cepatlah sembuh, jika kau merasa kasihan dengan 7 bocah brengsek itu.” Ucap Alexio mendekati Zian yang terbaring dengan mata tertutup sempurna.
Beberapa menit kemudian, 7 orang tadi dan Alexio keluar dari ruangan Zian. Bertemu dengan anggota yang menuntut penjelasan.
Penghakiman akan 7 orang tadi tentu saja diberikan anggota geng Alexio dengan tatapan serta kecaman berupa isyarat kepalan tinju.
“Biarkan mereka pergi, mereka tak akan menjadi pengecut dengan melarikan diri, karena kemanapun mereka kabur, akan aku cari sampai dapat,.” Ujar Alexio mengancam ketujuh pemuda tadi yang bergegas meninggalkan lorong tunggu itu.
“Alexio.” Suara Zapi merangsek masuk, ia tertatih menuju Alexio.
“Sorry, gue Cuma bisa segitu, gue bakalan mastiin Zian sembuh dulu, baru urusan hukum akan kita lanjutkan.” Ujarnya memberi pengertian pada Zapi yang diangguki kakak Zian itu.
Janji yang disebutkan Alexio dihadapan 7 orang tadi tidaklah sepenuhnya benar, tentu saja mereka harus menghadapi pihak berwajib untuk tindakan mereka, namun tidak sekarang, karena para curut itu juga seorang siswa yang mesti menyelesaikan pendidikan dulu, bukan? Alexio masih punya hati sampai sana.
Tak lama lagi mereka lulus, bukan? Urusan hukum nanti saja selepas mereka selesai bersekolah.
“Terima kasih, Alexio.” Zapi memeluk tubuh Alexio hingga terisak di sana.
Pemandangan yang menyita air mata. Dira mau nangis dipojokan aja lah, gak apa-apa ditemenin tikus sama kecoa, dadanya sesak melihat kebersamaan itu.
__ADS_1
Geng Alexio yang terkenal dengan rutinitas tawuran dan tingkah menyebalkan setiap balapan itu, rupanya memiliki jiwa solidaritas dan loyalitas yang patut dibanggakan. Dengan Alexio, sebagai pimpinannya pada geng motor Xia....
Aissshhh kenapa harus nama itu sih, mendadak lidah Dira kena ulat bulu kalau menyebut nama itu.