Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 99


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya...


Wanita yang merupakan adik mendiang I Gede Roni, pelaku pelecehan Alexia Bisma memasuki kamar pribadinya untuk mencatat kontak atas nama Inda yang diingikan Alexio.


Benda pipih itu di letakkan di telinga kanannya, sembari menunggu nada panggilan yang masih berbunyi...


Tuttttt


“Halo” suara lembut namun tegas menyambut panggilan dari adik Roni


“Halo ibu, saya Sasmitha, adiknya I Gede Roni.” Sahut adik Roni


“Iya, ada apa Sasmitha, setelah sekian lama kau menelponku?” tanya pemilik suara di seberang sana.


“Ada seorang pria muda meminta kontak ibu Inda, apakah boleh saya kasih?” tanyanya


“Silahkan, kasih saja.” Jawab lawan bicaranya.


“Baik ibu, terima kasih dan maaf mengganggu waktunya.” Dan panggilan pun ditutup. Ia mencatat pada secarik kertas kecil kontak nama Inda lalu segera keluar menemui Alexio yang masih setia duduk di ruang tamu.


Setelah menjelaskan keperluan kedatangannya, Alexio beranjak meninggalkan rumah tua itu menuju mobilnya dengan diantar adik Roni sampai depan pintu saja. Pelanggannya sudah pergi dan warung kembali sepi dan akan ramai kembali saat jam makan siang.


Dari tempatnya berdiri, ia menatap kepergian mobil Alexio sampai hilang dari pandangannya, lalu matanya berubah sendu memikirkan obrolan mereka tadi.


“Bli, apa sebenarnya yang bli tutupi dariku, apa benar yang dikatakan anak itu tadi jika bli melakukan kejahatan pada adiknya yang masih kecil?” bertanya pada angin, ia seolah mengajak kakaknya menyambut kalimat tanyanya yang entah akan mengudara sampai sana atau tidak.


Tapi, sebagai seorang adik mendengar fakta buruk seperti itu, sedikit menggoyahkannya dan penasaran dengan alasan kematian kakaknya yang datang dalam keadaan tragis meski tubuh sudah dibersihkan lukanya, tapi ia yang saat itu tidak tahu kejadiannya hanya mengiyakan saat seorang wanita membawa peti mati berisi jasad kakaknya dan menyegerakan proses kremasi dan melarungkannya ke laut.


.

__ADS_1


.


.


“Aku akan menemanimu sepanjang pergi dan pulang kuliah.” Dome merangkul tangan Dira dengan mesra selepas mereka turuh dari mobil.


“Hei bocah, jangan buat gosip yang gak-gak ya di kampus.” Dira melepas tangan Dome yang sudah semakin kekar itu.


“Ayolah, kau tahu aku menyukaimu, dokter. Nikmati saja, kau tidak akan rugi jika bersamaku, semua wanita di Jepang sana akan cemburu jika aku bersamamu.” Ucap Dome penuh rasa kebanggaan.


“Ck, cari saja perempuan lain yang mau menikmati kecemburuan wanita itu. Aku tidak mau.” Tolak Dira, berjalan cepat meninggalkan Dome yang terkekeh akan sikap penolakan Dira.


Baru saja menapaki lantai koridor, Alan menyambut Dira, membuat gadis itu memberengut seketika. Lolos dari bocah labil yang masih menginginya di belakang, kini ia dicegat satu playboy kampus yang tak pernah absen mengganggunya barang sehari pun.


“Hai.” Alan melambaikan tangan menyapa Dira yang melengos melaluinya hingga tawa Dome menguar melihat hal itu.


“Pitty you are bro.” Ejek Dome yang juga melewati Alan begitu saja dengan sisa tawa masih terdengar.


Di pertengahan langkah Dira, gadis itu mendadak berhenti saat ia berpapasan dengan Alexio, tubuhnya refleks mengencangkan rem kaki, selalu begitu, terpaku akan pria itu.


Alexio yang masih berjalan sadar akan tatapan Dira, tepat di hadapan gadis itu, ia hanya melaluinya saja, tanpa kalimat sapaan bahkan berhenti sedetik pun tidak.


“Dasar bocah labil juga, tiba-tiba nempel, tiba-tiba kayak gak kenal.” Sungut Dira menghentakkan kakinya dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu disusul Dome di belakanngya.


“Kau pergi saja Dome, mood-ku sedang tidak baik.” Dira mengusir Dome yang entah sudah seperti lintah saja mengikutinya terus.


“No.” Tolak Dome, menyejajarkan langkahnya di sisi kiri Dira, dan menggenggam paksa telapak tangan Dira yang memberontak itu.


“Sebenar saja dokter, keras sekali menolakku, nanti kau terpesona baru tahu rasa.” Ucap Dome menahan tangan itu yang selalu ingin lepas.

__ADS_1


“Dih, percaya diri sekali kau.” Cibir Dira yang pasrah pada akhirnya.


‘Bocah itu.’ Alexio menoleh dan mendapati Dira bergandengan tangan dengan Dome meski ia tahu saat itu Dira tak henti menolak dengan menggoyangkan tangannya agar lepas.


‘Berani kau sentuh Dira, kau harus merasakan akibatnya.’ Tatapan Alexio begitu tajam menatap tubuh tegap Dome dari belakang.


“Minggir.” Tubuh Alexio terhuyung saat dari bahu kirinya ditabrak keras dari orang yang baru saja melaluinya.


“Apa!” malah menatap tajam pada Alexio yang menelengkan kepala sembari menggigit bibir bawahnya yang gemas dengan sosok itu.


Alan, tersisa rasa cemburu mungkin saat melihat Dira dibawa lari oleh Dome, bahkan melihat Dira yang menatap Alexio. hingga, Alan dengan kesalnya melampiaskan hal itu pada Alexio yang berdiri di tempat melihat Dira dari belakang padahal tadi melewati saja saat gadis itu berhenti hanya untuk menatap pria itu.


“Sialan kau.” Kecam Alexio, namun yang diumpat sudah melenggang jauh darinya membuat nafas kasar didenguskan Alexio.


Kembali pada Dira, ia sudah tiba di kelas dengan jalinan tangan masih rekat menempel pada Dome. Beberapa pasang mata melirik kearahnya, tentu dengan arti tatapan yang tidak suka. Tapi tidak ada yang berani bersuara seperti sebelumnya setelah tahu jika lawan mereka adalah adik dari seorang Paul, senior, playboy dan juga menyeramkan ketika marah.


Tapi tidak menyurutkan beberapa gadis yang tampak menyeringai, mereka boleh takut jika di depan orang banyak, tapi tidak untuk aksi di belakang orang, bukan? Mereka tahu jika kejadian terakhir Dira di toilet adalah ulah dari para gadis yang iri padanya, dan itu dari arah anak bisnis. Dan kini dengan mata saling menatap pada anggota gengnya, mereka mengangguk saat melihat Dira sudah duduk di kursinya dengan Dome yang berdiri di sebelahnya.


“Aku ke kelas dulu ya,.” pamit Dome yang diangguki Dira tanpa suara dan tak menatapnya. Ia sebal dengan pasien satu ini.


“Bye.” Lihatlah, dengan tengilnya Dome memporak-porandakan tatanan rambut Dira lalu melesak pergi beriringan tawanya meninggalkan kelas Dira.


“Dasar bocah.” Geram Dira merapikan rambutnya yang acak-acakan akibat ulah pasien itu.


Clek!


Dira tertegun manakala kakinya menyentuh sesuatu yang tidak wajar, lantai yang tadinya keras berubah lembut bahkan teksturnya membuat Dira sedikit bergidik. Dan matanya pelan dituntun untuk menatap di mana kakinya berada.


Oh God!

__ADS_1


Harapan Dira yang tadi harusnya tidak terjadi, ternyata pupus saat matanya menangkap hal menjijikan di bawah sana. Sepatu flatshoes warna putih itu sudah tampak mengenaskan di sana. Berlumur sesuatu yang lembut, sedikit cair, bahkan beberapa sudah mencapai bagian punggung kakinya. Kotoran, itu yang menyelimuti sepatu Dira, hingga matanya terpejam seketika lalu mengumpat setelahnya.


‘Sialan, masih gak berhenti gangguin aku rupanya.!’ makinya dalam hati menyelidiki sekitarnya yang tampak biasa saja, padahal di sudut barisan kursi belakang, sudah ada yang menahan tawa saat melihat kejahilan mereka berhasil mengenai targetnya.


__ADS_2