Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 11


__ADS_3

“Dari mana Dira?” suara berat yang menyambut kedatangan Dira tidak menghentikanlangkah gadis itu memasuki rumah. Menenteng jaket ihitam miliknya, ia terus berjalan menuju anak tangga.


“Dira!!!!!” panggil Kairan Ladh Junior menggelegar.


Suasana senyap tengah malam tentu menyentak pendengaran siapapun itu. Termasuk Paul yang tergopoh-gopoh menuruni anak tangga dengan penampilan yang berantakan.


“Pa?? Ada apa sih teriak malem-malem. Aku aja sampe bangun.” Keluh Paul.


Mulutnya seketika berhenti ketika bersitatap dengan Dira dan sang ayah yang sudah berdiri mendekati puterinya.


“Kenapa dek? Kamu...... baru pulang???” Paul menatap tak percaya pada adiknya itu, Dira tak pernah pulang sampai jam segini. Tanpa pemberitahuan, biasanya adiknya akan pulang ketika sudah jam 9 malam. Tapi ini, jelas adiknya berasal dari luar.


“Kamu dari mana.” Paul mendekati Dira, meminta jawaban. Dengan lembut ia mengusap puncak kepala adiknya.


“Jawab tanya papa tadi, Dira. Kamu darimana?” tanya Ladh Junior lagi.


“Dari mana dek?” tambah Paul penasaran.


“Balapan.” Singkat, jelas, padat jawaban itu tapi memantik mata terbelalak sempurna.


BALAPAN KATANYA?


“Balapan kata kamu? Balapan apa malam-mal.........” Kairan Ladh tersentak menyadari sesuatu...


“Kamu balapan liar!!!????” meraih lengan Dira, menuntut jawaban puterinya.


“Pa sabar, jangan kayak gitu.” Paul membela sang adik, mengingatkan ayahnya agar jangan terlalu keras.


“Diam kamu Paul, denger sendiri adek kamu itu dari mana, nonton aja papa gak suka, apalagi dia ikutan, mau jadi apa dia, huh!!!!!” sentak Kairan Ladh menatap tajam puteranya.


Paul meringis mendapat bentakan ayahnya, sudah lama sekali nada tinggi itu tak terdengar di rumah ini.


Merasa jengah, Dira menepis pegangan tangan ayahnya pada lengannya.


“Aku capek, mau tidur.” Dengan santainya ia meninggalkan percakapan itu.


“Dira!!!!!” panggil Kairan Ladh.


“Mau kemana !!!” tak terima dengan tingkah Dira, sang ayah tentu merasa direndahkan.


“Pa, besok aja, biarin Dira istirahat dulu.” Paul mencegah ayahnya yang siap melangkah mengejar sang adik yang sudah sampai di anak tangga atas. Tak menoleh sama sekali.


Paul menatap punggung adiknya dengan wajah memelas, ia tentu merasakan masalah yang menimpa adiknya meski belum tahu apa masalah itu. Namun perubahan tak masuk akal itu cukup membuktikan.


Keesokan harinya.....


Saat Paul dan ayahnya tengah bersarapan, Dira turun dari atas, namun yang menjadi perhatian adalah penampilannya....


Saat sudah tiba di bawah, dua pria yang menyayanginya itu sontak menatapnya lagi dengan mata melotot.

__ADS_1


“Dira!!! Ganti pakaian kamu.” Kairan Ladh menarik nafas kasar melihat penampilan Dira yang seperti itu.


Ia mengenakan rok sekolah sedikit naik ke atas lutut, baju yang juga nyaris ketat di tubuhnya, sepatunya sneaker olahraga, kaos kaki sampai lutut. Style apa itu?


Yang disuruh hanya melenggang tak peduli. Masa’ bodoh.


“Susul adek kamu, kalo gak mau papa yang ambil tindakan.” Perintah Kairan Ladh pada Paul yang bergegas mengejar Dira.


“Dira!!!” Paul berhasil meraih lengan Dira.


“Ganti baju, ini bukan kamu., ganti, please.” Dengan wajah memohon, Paul menatap adiknya lembut.


“Gak.” Tolak Dira.


“Aku berangkat sendiri.” Sambung Dira.


Berjalan kearah garasi. Yang diambil justru motor besar, meski tak sebesar motor Alexio. Tapi lumayan untuk menunjukkan sisi nakal Dira.


“Hei, ganti, pakai mobil. Atau gak matic.” Paul menghalangi jalan Dira, tepat di depan motor itu. Memang itu bekas miliknya, dan diberikan pada Dira, tapi bukan begini tujuannya.


“Minggir atau aku tabrak.” Dengan datar Dira mengencangkan pegangannya, siap menarik gas.


“Wahhh kamu tega sama abang.” Tetap bertahan, ia yakin Dira tak akan tega....


Brummmmm


Paul terkejut dan refleks menghindar saat Dira menarik gas motornya.


Paul masuk dengan wajah lesu.


“Mana Dira? Kenapa gak disuruh masuk?” sang ayah sudah berdiri di tengah ruangan. Rencananya ia akan memberi nasihat untuk puteri satu-satunya itu. Tapi yang masuk malah hanya Paul seorang diri.


Paul menggeleng lemah.


“Dia tetap bersikeras pergi dengan penampilan kayak gitu?” tanya Kairan Ladh tak percaya.


“Oh God. Ada apa dengan puteriku itu.” Paul menarik nafas berat. Bingung dengan tingkah labil Dira yang mendadak seperti itu.


“Apa Dira masuk dalam masa pubertasnya?” duga sang ayah.


“Paul tidak tahu pa. Mungkin saja.” Sahut Paul


“Kamu awasi dia, pulang sekolah nanti, tarik paksa motor itu, dan pulang dengan mobil.” Perintah Kairan Ladh yang diangguki Paul.


Melirik jam di tangan, lagi-lagi Kairan Ladh tertegun.


“Paul, adek kamu itu terlambat?!!!!” mereka tak menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh yang artinya Dira sudah sangat terlambat. Bisa dipastikan gerbang sekolah sudah tertutup sempurna untuk menyambutnya.


Paul menggeleng ragu, ia sudah bisa menebak. Tapi ia tak yakin dengan keterlambatan itu, bisa saja ada acara atau guru sedang rapat.

__ADS_1


“Minta laporan sama pihak sekolah Dira, cari tahu apa saja yang sudah dilakukannya akhir-akhir ini. jangan sampai pihak sekolah yang memberi tahu kita saat sudah terlambat.” Kairan Ladh gusar akan resiko dari perubahan Dira. Puterinya pasti bertingkah di sana. Sudah berada di kelas akhir dengan peringkat rendah, dan apabila ditambah dengan ketidakdisiplinan, maka lengkaplah sudah predikat puterinya menjadi buruk.


“Baik pa.” Angguk Paul menutup pembicaraan.


SMA GOLDEN


Dira yang sudah terlambat, tak khawatir sama sekali. Sering mendengar gosip para siswa badung. Menambah referensinya untuk menjalani kebiasaan ini.... kebiasaan menjadi newbie badung-ers club.


Memarkirkan motornya di warung belakang sekolah. Ia berjalan pelan, ya pelan, padahal sudah jela dirinya terlambat, tapi tak ada sikap terburu-buru.


Melirik kiri dan kanan, memastikan tidak ada siapa-siapa...


Dira menopang kakinya di salah satu pembatas pagar yang bisa dipijak, perlahan dan penuh keyakinan dirinya naik. Berusaha memanjat pagar belakang sekolah, tempat berlalunya para siswa badung sekolah ini.


Brukkkk... menghantam ranting pohon kecil dan daun yang menumpuk. Dira meringis kecil. Melirik telapak tangan yang sepertinya tertusuk duri atau remahan kayu.


“Gak apa, gue bisa.” Cetusnya...


Namun helaan nafas leganya terputus. Manakala matanya menangkap sosok tubuh tambun berdiri tepat di hadapannya.


“Oh God..... shittt!!!” gusarnya....


Guru BK menyambut kedatangan dira pagi itu.....


Ruang BK...


“Besok, ah tidak perlu, bapak akan mengirim email dan pesan kepada keluarga kamu Dira, sudah beberapa kali kamu masuk ruang BK, bukan. Jadi sudah waktunya keluarga tahu akan hal itu.” Sederet kata yang terangkai menjadi paragraf puisi indah itu mengalir dari bibir pak Joko, guru BK yang paling ditakuti di sekolah ini.


Dira hanya diam....


“Kamu mendengarkan bapak, Dira?” tanyanya karena tak ada tanggapan takut, nangis bombay atau merengek minta dikasihani. Gadis itu datar dan hanya mengedarkan matanya ke meja yang menjadi batas dirinya dengan guru itu.


“Terserah bapak, ini.....” Dira mengambil bolpoin di atas meja, meraih secarik kertas dan menulis sesuatu di sana.


“Nah, ini nomor ponsel ayah dan abang saya pak, ini alamat saya. Bapak bisa langsung menghubungi atau datang langsung. Dan... bapak tahu juga kan rumah sakit Ladh milik ayah saya, kesana saja bila perlu.” Jelas Dira tak gentar sama sekali.


Srettt, ia menarik tempat duduknya dan berbalik menuju pintu.


Pak Joko hanya menggeleng.


Sebagai seorang guru yang lama berkecimpung di dunia ini, tentu dirinya juga belajar ilmu menelisik psikologi seseorang. Dari citra Dira yang tidak pernah bermasalah sebelumnya, ramah, ceria, dan riang itu... kini pak Joko menyimpulkan, jika siswinya itu tengah berada dalam masa pubertas atau tertimpa masalah serius yang mengubah dunianya menjadi dingin.


“Dira, jika kamu ada masalah, berbagilah dengan bapak,. Bapak siap jadi teman bicara kamu, karena bagaimanapun juga, bapak setingkat dengan orang tua kamu di sekolah.” Bijak, lontaran ucapan itu menghentikan langkah Dira.


Gadis itu tersenyum sinis dan melenggang pergi.


Keluarga besar Dira tentu merasa kaget dan tidak bisa menerima perubahan puteri manis mereka, terutama Paul yang selalu menjadi tempat adiknya mencurahkan permasalahannya, kini tidak bisa lagi menjadi dekat dengan Dira.


Dira sudah menghipnotis dirinya, sebagai bentuk hukuman akan kesalahan ayahnya. Dengan dirinya menjadi yang tidak diharapkan keluarganya sebagai gadis liar, rasa malu akan menyeruak merusak nama baik keluarganya. Dan ia akan melakukan hal itu.

__ADS_1


Bahkan dengan tekad bulatnya. Ia akan pergi ke tempat yang jauh setelah membuat masalah besar di sekolahnya dan ditendang secara tidak hormat sebagai alumni sekolah.


Itu rencananya. Rencana buruk pastinya.


__ADS_2