
Mendapatkan perhatian dari seseorang yang kita sukai, adalah hal yang membahagiakan bukan?
Seolah semesta saat itu hanya terpusat padanya saja kini berbalik memutari dunia kita, bukankah luar biasa?
direspon baik oleh si empunya sudah mengembalikan asa yang sempat terjun keras ke lapisan bumi paling bawah.
Dira?
Sama, dia gadis normal layaknya remaja pada umumnya yang di usianya diberikan kesempatan jatuh sejatuhnya pada pemuda tipe freezer 2 pintu buatan kutub utara dan selatan itu, bahagia tentunya.
Tapi, nalurinya berkata lain.....
Ia tak mendapatkan kehangatan dari ungkapan itu...
Seolah jiwa yang menyertai perasaan Alexio itu hampa.
“Alexio?” panggilnya
“Hmm, kenapa?” sahut Alexio yang menggandeng telapak tangan Dira sepanjang koridor sekolah, menuju kelas 12 E tempat Dira mojok .
Dira menatap wajah pemuda yang menggandengnya ini dari samping, wajah itu sungguh ceria, tidak ada kekakuan seperti sebelumnya.
“Hai Alexio.” Satu persatu siswi yang dilewati keduanya menyapa pemuda itu.
“Hai juga.” Balasnya dengan melambaikan tangan satunya, bahkan ditambah senyum ramahnya
“Arghhh Alexio senyumin gue.” Begitu curcolan para siswi yang dilewati
Dan sepanjang mereka melangkah, sepanjang itu pula keramahan Alexio ditunjukkan.
“Nanti pulang barena aku ya?” begitu tanya Alexio saat sudah mengantarkan Dira tepat di depan pintu kelas 12 E.
“Hmmm, tapi aku sama abang aku.” Jawab Dira.
Ia memang terbiasa diantar jemput abangnya. Sesekali bersama sopir ketika abangnya benar-benar sibuk, tapi selalu diusahakan untuk menjemput adiknya.
“Mana ponsel kamu.” Alexio menengadahkan telapak tangan kanannya kearah Dira, meminjam ponsel gadis itu.
“Buat apa?” tanya Dira bingung.
“Siniin deh.” Pinta Alexio lembut.
Dira merogoh saku roknya dan mengeluarkan ponselnya kepada Alexio.
“Hmm, aku suka warna ini, kuning.” Ia malah memuji warna ponsel milik Dira.
Jemari pemuda itu mulai menekan layar ponsel Dira. Hingga....
Kringggg.
Dering panggilan menggema.
“Ok, hmmm ini nomor aku ya.” Ucap Alexio, dengan mata masih fokus pada layar ponsel Dira.
“Abang sayang? Ini kontak abang kamu?” tanya Alexio menyipitkan matanya pada Dira.
“Hmm, iya, abang aku.” Sahut Dira
“Oke.” Ujar Alexio, masih sibuk menatap ponsel....
Ia mengarahkan benda pipih itu ke salah satu telinganya “Halo bang.” Ucapnya melakukan panggilan.
“Abang?” beo Dira mendengar ucapan barusan
“Aku Alexio bang.... hmmm iya.... iya.”
__ADS_1
“Iya,, nanti aku yang anter Dira pulang ya bang.”
“Ok, terima kasih bang.”
Klik
“Nah.” Selorohnya menyerahkan ponsel itu ke pemiliknya
“Kamu nelpon abang aku?” tanya Dira mengerutkan alisnya.
“Hmm, iya, aku dah ngomong tadi mau anter kamu pulang.” Jawab Alexio
“Hah!!!!” Dira membulatkan matanya, dan lebih kagetnya lagi si Pa’ul itu ngizinin aja?
“Ya udah masuk sana, aku balik ke kelas dulu ya.” Alexio mengacak-acak rambut Dira dan melesak pergi begitu saja, tanpa peduli yang mematung saat ini jantungnya sudah berlari dan mencapai finish.
Ia menyentuh tubuh bagian tepat posisi jantungnya ngontrak.
“Ya Tuhan, jantung, kamu masih ada kan di dalem sana?” selorohnya absurd
.
.
.
Jam pulang sekolah...
“Hai.” Tanpa di duga, pemuda yang membuat kerja jantungya tadi tak normal kini muncul lagi di hadapan Dira.
“Eh.” Dira yang membereskan perlengkapan sekolahnya dibuat kaget dengan kedatangan Alexio di dalam kelasnya.
Memicu perhatian dari semua siswa yang ada di dalam.
“Aku bantuin.” Alexio malah menambah keriuhan itu menjadi, dengan menyusun benda-benda milik Dira ke dalam tas gadis itu.
“Alexio biar aku aja.” Dira hendak menolak tapi di jawab Alexio dengan gelengan kepala.
“Ssst. Tenang aja, yok.” Benda terakhir sudah dimasukkan. Ia tenteng tas Dira di salah satu pundaknya, lalu meraih tangan Dira untuk digenggam
Blusshhhhh
Dira tak bisa mengendalikan rona merah itu setelah perlakuan manis Alexio ditambah paduan suara sorak sorai itu mengiringi dirinya keluar dari kelas.
Dira hanya menundukan kepalanya.
Malu bukan kepalang lagi ini namanya.
Dulu waktu menyatakan perasaan dan dihempaskan Alexio begitu saja, ia tak merasakan malu seperti ini.
“Hei angkat kepalanya, kenapa malah nunduk, nabrak ntar.” Tegur Alexio.
“Hmm.” Dira mengangkat kepalanya, dan menyesal sudah... semua mata menatap sinis padanya, sementara ketika menatap sosok di sebelah Dira, mata itu malah berbinar.
Berbanding sekali.
“Eh, Alexio. Mau balik sama Dira?” Barry, ia bersama Andi heran ketika sahabatnya itu kini malah berbalik memberikan perhatian pada gadis yang sudah tak terhitung lagi ditolaknya.
“Iya.” Jawab Alexio
“Udah baikan? Atau gencatan senjata?” timpal Andi menatap penuh selidik
Cukup aneh, belum satu bulan tapi tingkah Alexio sudah berubah menjadi pemuda manis.
“Diem deh, gue mau balik sama Dira. Bye.” Alexio menolak langkahnya diiringi Dira di sampingnya.
__ADS_1
Mengabaikan dua jin penunggu pohon anggur itu yang masih menatap penuh rasa heran .
“Menurut lo, apakah ini akibat kebentur waktu itu?” seloroh Barry menatap punggung Alexio yang perlahan menjauh.
“Ntah, bisa aja.” Sahut Andi.
“Atau, ini jadi bagian penyakit Alexio, Ndi?” sambung Barry lagi.
Mereka berdua sudah diberi tahu oleh Bisma mengenai keadaan Alexio yang sebenarnya.
Dan diharapkan bisa membantu proses terapi kesembuhan Alexio ke depannya.
Karena hanya mereka orang yang dipercayai Alexio, karena orang tuanya sering diabaikan perhatiannya.
“Semoga bukan Xia yang sekarang bersikap manis itu, Bar.” Cetus Andi iba.
Ia kaget begitu diberi tahu Bisma bahwa Alexio mengidap skizofrenia, bahkan sudah menciptakan sosok hayalannya, dan berkomunikasi dengan sosok yang diberi nama Xia, sesuai geng motor mereka.
“Iya, gue takut kalau itu sudah bukan Alexio lagi.” Sahut Barry ikut memasang wajah sedih.
“Semoga Alexio baik-baik saja.” Andi berharap penuh akan kesembuhan Alexio.
“Iya, amiin.” Sahut Barry berharap juga.
Sementara di parkiran...
“Biar aku aja Alexio, aku bisa kok.” Dira hendak memasangkan sendiri helm yang sudah dilekatkan Alexio di kepalanya.
“Biar aku aja, kamu tinggal duduk manis aja di jog motor.” Tolak Alexio yang sudah selesai memastikan keamanan berkendara Dira nanti.
Mesin motor dihidupkan,...
“Alexio!!!!” satu suara menahan laju motor yang baru saja hendak dijalankan.
“Kok kamu sama dia sih?” Sintia and her Geng... kamPREETY, mencegat motor Alexio.
Sontak semua mata tertuju pada mereka.
“kenapa memangnya?” Alexio balik bertanya
“Ihh Alexio, kan kamu benci banget sama dia. Dia itu sering nyelakain kami juga.” Kata Sintia melempar tatapan benci pada Dira.
“Hei, kalian lupa sama ucapan pak Joko sebelumnya, gue gak bersalah sama perseteruan itu, yang ngebully gue itu kalian, para geng kamPreety.” Dira yang berseloroh, malah dengan jahilnya ia menjulurkan lidahnya kepada tiga orang itu.
“Ihh, tuh kan Alexio, dia ngeledek kita tuh.” Adu Sintia
Alexio memutarkan kepalanya dan mendapati Dira masih menjulurkan lidahnya.
“Kamu ini, jangan nakal.” Ia malah mengelus puncak kepala Dira dan menyulut rasa sebal di wajah Sintia.
“Alexio!!! Kita kan mau dijodohin, kamu gak boleh gitu.” Sintia tidak terima.
“Dijodohin? Kata siapa?” Alexio malah bingung dengan pernyataan Sintia.
“Kata semut-semut kecil saya mau tanya kali Alexio.” Cetus Dira tertawa.
“Awas lo ya!!!” sentak Sintia mendelikan matanya,.
Tanpa peduli, Alexio melajukan motornya, mengabaikan tiga kaleng kosong sarden itu menatap tak percaya.
“Lihat aja, gue bakal ngebales Dira!!! Catat itu!!!” dendam Sintia mengepalkan tangannya.
“Sudah, nah.” Jena, menyerahkan ponselnya kepada Sintia yang membuat gadis itu murka seketika.
“Bukan catat begitu, dudil!!!!!” kesalnya
__ADS_1