Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 61


__ADS_3

Alexio dipindahkan ke gedung khusus bidang psikiatri, dengan tubuh terikat baik kaki dan tangan karena sejak di beri tindakan pemuda itu tak henti memberontak, lehernya mesti dipasang penyangga, perban di beberapa bagian tubuh juga tak luput jadi perhatian saking kerasnya benturan yang terjadi meski hanya kecelakaan tunggal.


“Lepas!!!!, kalian tidak tahu siapa aku, hah!!!” Sengitnya memandang liar kepada petugas medis yang menanganinya.


“Lepas!!!!” pekiknya.


“Tolong, di-dia, tolong dia.!!” Lirihnya memandang satu sudut di mana tubuh Xia masih tak berdaya, bersimbah darah dan menggelepar memandang Alexio.


“Sus-suster,, tolong Xi-Xia.” Mohon Alexio penuh harap.


“Ada apa Alexio.?” Sahut perawat yang menyuntikkan obat penenang ke dalam infusnya.


“To-tolong Xi-Xia, sus.” Ucapnya semakin lirih dengan mata tetap fokus pada sudut di mana Xia terduduk di sana tak berdaya.


Di luar ruangan...


“Dokter!!” Dira yang mendapat kabar dari Linda bergegas ke rumah sakit, meski malam sudah semakin larut.


“Dira.” Sambut dokter Doni.


“Alexio bagaimana dia.” Tanyanya cemas, tangannya bergetar bahkan kakinya tak mantap berdiri.


“Sudah diberi obat penenang, mungkin sudah tidur.” Jawab dokter Doni, orang tua Alexio sudah pulang, tadi mereka sudah mendapatkan penjelasan dari dokter Doni perihal Alexio.


“Dok, apa yang akan dilakukan pada Alexio?” ujar Dira bertanya


“Kali ini terpaksa kita rawat, Dira.” Jawabnya


“Bukankah kata dokter harus dengan kesadaran diri Alexio?” ucap Dira mengingatkan perkataan dokter Doni kala itu.


Dokter Doni mengangguk membenarkan, “Tapi, gejala aktifnya semakin meningkat, kamu tahu kenapa Alexio bisa melakukan tindakan ini Dira? Adakah pembahasan kalian yang berkaitan dengan asmara?” tanya dokter Doni.


Dira mencoba mengingat, “Kami, berencana akan melanjutkan pendidikan di tempat yang sama dokter, bahkan Alexio sempat mengutarakan niatnya serius menjalin hubungan denganku.” Jawab Dira pelan.


“Bahkan Alexio sudah bisa sering tidur di kamarnya sendiri dok.” Lanjut Dira.


“Memangnya selama ini Alexio di mana tidur?” tanya dokter Doni bingung.


“Di—di sofa, dokter.” Jawab Dira gugup.


“Sofa!!??”


FLASHBACK


Saat itu, pertama kali Dira mengunjungi kediaman pemuda itu...


“Hei sana tidur di kamar, kamu itu baru keluar dari rumah sakit, Alexio.” perintah Dira yang melihat Alexio memejamkan mata di atas sofa.

__ADS_1


“Alexio!! kamu denger gak?” ulang Dira menelisik wajah Alexio yang dinilai belum tidur.


“Aku gak bisa, Dira.” Jawab Alexio masih terpejam


“Gak bisa? Kenapa?” heran Dira mendengar jawaban itu.


Alexio bangkit dari posisi berbaringnya. Menatap Dira sayu.


“Sungguh lucu. Kamu jadi perempuan pertama yang tahu rahasia konyol ini, Dira.” Kekeh Alexio


“Maksudnya?” Dira tak paham arah omongan Alexio.


“Kamar ku tidak pernah aku tiduri Dira. Aku selalu tidur di sofa entah ruang tamu atau sofa, yang pasti aku tidak akan tidur di kamar.” Jelasnya.


Konyol! Tidak mungkin


“Tapi kamu tidur di kamar rumah sakit.” Kilah Dira


“Tidak di rumah kan? Rumah sakit bukan tempat berbahaya untukku.” Jelas Alexio


“Berbahaya? Hei ini rumah kamu, masa bahas hal bahaya.” Ujar Dira merasa lucu


“Dulu, dulu sekali waktu masih di rumah lama, ada kejadian yang membuat aku dan Alexia menghadapinya di kamar, melihat kamar adalah hal mengerikan bagi kami, makanya kami berdua sering memilih tidur di luar agar bahaya itu tidak mengurung kami.” Jelas Alexio.


“Kamu tahu, dulu Alexia bahkan memilih tidur di dalam lemari daripada mengikutiku tidur di luar. Ia lebih cemas jika mengetahui dirinya terekspos di luar.” Lanjutnya.


“Apa orang tua kamu tahu soal itu, Alexio?” Pelan, Dira bertanya


“Setelah beberapa lama mereka akhirnya paham, apalagi mama.” Jawabnya


“Mama? Mama-mu kenapa?” lanjut Dira bertanya


“Jika kamu masuk ke kamar orang tua-ku. Kamu akan melihat ada satu lemari kosong di kamar mereka. Dan mama akan selalu membersihkan lemari itu setiap hari, atau saat dia berada di rumah maka ia akan terus membersihkannya.” Ujar Alexio


“Apa hal mengerikan yang membuatmu dan Alexia merasa terancam begitu Alexio?” Dira tak bisa menutupi ekspresi sedih dalam kata-katanya.


FLASHBACK OFF


“Dokter bisa lihat ini.” Dira menghidupkan layar ponselnya dan memperlihatkan sesuatu kepada dokter Doni.


“Apa ini Dira?” tanya dokter Doni


“Ini adalah kamar Alexio.” jawab Dira, di sana terpampang kamar dan dekorasi dengan bentuk bulat, lukisan wajah tanpa mata, bibir, alis, hidung, hanya bentuk wajah dengan rambut panjang, dan warna dominan merah, biru dan kuning tertata rapi di tiap furniturnya.


“OCD (Obsessive Compulsive Disorder).” Cetus dokter Doni melihat tatanan kamar Alexio adalah ciri penderita gangguan kecemasan.


“Dan dokter, dua foto ini berada di tempat yang berbeda.” Ujar Dira memberi tahu.

__ADS_1


“Tempat berbeda?” ulang dokter Doni


“Hmm, ini di apartemen, sedangkan yang ini di markas geng Alexio.” sebut Dira menunjukkan dua kamar yang memang mirip itu, tanpa perbedaan sama sekali.


Seolah kamar itu dibuat ulang di tempat berbeda.


“DI dalam ruangan ini, kamar mandinya tidak memiliki pintu, dokter, baik di apartemen maupun di markasnya.”lanjut Dira menjelaskan.


“Dan ini.” Dira menggeser gambar berikutnya.


“Apa ini Dira?” dokter Doni menatap gambar siluet kepala tanpa bentuk wajah lengkap.


“Ini Xia.” Jawab Dira singkat.


“Dan ini, nomor kontak Xia, perhatikan ya dokter.” Dira menekan panggilan pada nomor itu


Maaf nomor yang anda hubungi salah, silahkan periksa lagi nomor tujuan anda.


“Baiklah, episode yang dialami Alexio sudah ada pada kategori para atau akut.” Ucap dokter Doni.


“Dan kamu Dira. Selama Alexio melakukan pengobatan, jangan pernah melakukan komunikasi atau apapun itu pada Alexio.” sambung dokter Doni membuat Dira membelalakan matanya. Apa salah dirinya?


“Kok gitu dok? Kan Dira berperan penting dalam penyembuhan Alexio.” Dira tak terima dijauhkan dengan pemuda itu.


Setiap mereka yang sakit, tentu butuh akan perhatian dan dukungan mereka yang mencintainya, bukan?


Jadi sudah sepatutnya Dira ada pada semua situasi terendah Alexio, kan?


“Kamu tahu, akibat dari kelanjutan hubungan kalian itu, episode Alexio meningkat.” Tutur dokter Doni menjelaskan alasannya.


“Kenapa hal itu menjadi alasannya dok?” masih tak terima, Dira melakukan perlawanan


“Trauma yang terjadi pada Alexio, kamu tahu kenapa, Dira?” tanya dokter Doni menatap Dira serius


“Kematian kembarannya dokter.” Jawab Dira atas dasar cerita diary merah muda milik Alexia.


Dokter Doni menggeleng, “Bukan itu sepenuhnya yang membuat Alexio seperti ini.” jawab dokter Doni


“Lalu?” tanya Dira


“Alexia pernah mendapatkan pelecehhan seksuall dari pengajar privatnya, di saat orang tua Alexio sibuk memberikan perhatian pada Alexio yang mengidap kelainan hati.” Jawab dokter Doni


“Di saat Alexia sudah kadung depresi, orang tuanya meminta gadis itu menyumbangkan sebagian hatinya untuk Alexio.” lanjut dokter Doni


“Dan kamu tahu parahnya,setelah parah, Alexio tahu kejadian pelecahan itu walau sudah terlambat, dan kemarahan Alexia tertuang dalam diary merah muda yang pernah kamu baca itu.”


“Dan, Alexia meninggal tak lama setelah mereka tahu kejadian memilukan pada Alexia, dan kematian Alexia tepat di hadapan Alexio, ya, kecelakaan itu adalah bunuhh diri Alexia, alasan kematian gadis itu.”

__ADS_1


“HAH!!!”


__ADS_2