Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 12


__ADS_3

BAB 12


Di sisi Alexio.


Pemuda itu juga sama. Ia sering terlambat dan masuk ke ruangan BK, dengan nasihat yang sama serta ancaman yang sama dari pak Joko. Meskipun ini sekolah keluarga Alexio. Tak menyurutkan langkah pak Joko melaporkan aktifitas putera Bisma itu.


“Kamu juga, sama saja Alexio. Jangan karena kamu pemilik sekolah, jadi bapak takut sama kamu. Tunggu panggilan bapak untuk keluargamu, biar mereka juga tahu cara mendisiplinkan putera mereka.” Tegas pak Joko mengingatkan Alexio yang dijawab siswa itu dengan helah nafas kasar.


Bel pulang belum berbunyi, Alexio sudah menenteng tasnya, kemana lagi coba tujuannya. Pulang.


“Woy mau kemana Lo???” Andi menahan lengan Alexio yang sudah siap mencapai daun pintu kelas.


“Balik.” Jawabnya santai.


“Belum kelar kali sekolah buddy.” Andi mengingatkan sembari terkekeh. Ia akan berusaha menahan tingkah badung Alexio yang satu ini.


Ia boleh bertingkah di luar ini, tapi urusan belajar tetap nomor satu.


“Lepas, gue pengap di sekolah.” Alexio menyentak pegangan Andi.


“Lo kenapa sih? Ada masalah?” tanya Andi kembali mengikuti Alexio yang sudah perlahan meninggalkan kelas.


Tak dijawab.


“Jawab woy, gue nanya juga.” Gerutu Andi yang sudah bersijajar dengan langkah Alexio.


“Bukan urusan lo.” Jawab Alexio datar.


“Gue sahabat lo, Alexio. Udah pernah jadi kesepakatan kitakalo ada masalah itu dibagi sama-sama.” Ingat Andi akan janji mereka bertiga. Tak ada yang ditutupi apapun itu.


“Gue gak ada masalah apapun. Udah ah.” Mempercepat langkah, Alexio meninggalkan Andi yang memandang punggung sahabatnya hingga hilang di ujung koridor. Arah pagar belakang sekolah.


Alexio memang terlambat juga, selisih dari Dira.


.


.


.


Alexio kembali lagi ke rumah besar itu....


Hening...


Ia duduk di teras,,, bermain ponselnya, hingga tanpa sadar waktu terus bergulir hingga gelap.


Ceklek...


Suara pintu terbuka.


Alexio tercekat, ia bangkit dengan cepat.

__ADS_1


Xia!!!


“Xia!!!” berdiri dan mendekat pada Xia yang membuka pintu.


“Kamu kemana aja.” Alexio memeluk erat tubuh itu.


“Kamu lama banget perginya.”


“Kemana sih”


“Lain kali bilang-bilang kalo mau pergi.”


“Atau gak ajak aku kalo mau pergi.”


Xia hanya diam, belum menanggapi ocehan pemuda itu.


“Xia, kok diem aja sih?” Akhirnya lirih sudah ucapan Alexio ketika yang diajak bicara hanya diam.


“Kamu sih bawel banget. Mau masuk gak. Aku masak yang spesial loh buat kamu.” Xia melepas pelukan posesif Alexio dan menggandeng lengan pemuda itu untuk masuk ke dalam rumahnya.


Dan lihatlah, cepat sekali perubahan di raut wajah Alexio hanya melihat Xia kembali.


Kegusarannya, masalahnya, dan kekewaannya mendadak lenyap terserap energi Xia.


Ia di bawa ke ruang makan.


Di sana sudah tertata hidangan di atasnya,


“Hmmm, ini kesukaan aku banget, gurame bakar sama soto banjar.” Celetuk Alexio melihat hidangan di hadapannya penuh antusias.


Xia mengambil piring berwarna kuning, menaruh nasi di atasnya, dan memberikannya untuk Alexio. Ia juga mengambil mangkok kecil dan menyendok soto banjar ke dalamnya. Alexio memang bukan pecinta nasi dalam kuah soto. Jadi ia akan menghirup dari mangkok.


“Nah, makan yang banyak ya.” Ucap Xia lembut. Setelah menaruh segelas air putih untuk Alexio.


Alexio mulai menyendok makanan ke mulutnya. Namun baru tiga kali suap. Ia menaruh kembali peralatan makannya.


“Lah, kamu gak ikut makan?” tanya Alexio.


“Mendadak kenyang aku lihat kamu laper banget gitu. Aku berasa jadi dinas sosial yang baru aja dapet tunawisma kesasar.” Tawa Xia menggelegar, ia puas mengucapkan hal itu, terlebih perutnya bertambah sakit manakala raut wajah Alexio ditekuk. Gemas.


“Ihh tega banget.” Gerutu Alexio bersama muka cemberutnya.


“Ngegemesin deh kamu ini.” lanjut Xia meledeknya.


“Dah ah, aku mau makan, laper.” Cetus Alexio


“Ya udah makan lah, nambah bila perlu., atau mau dibungkusin buat pulang. Gratis.” Xia lagi-lagi berucap dengan menyisipkan godaan untuk Alexio.


“Makan sana Xia, jangan ngeganggu aku mulu.” Sewot Alexio.


“hahahahah, siap bos.” Pungkas Xia akhinya,

__ADS_1


Alexio melirik pada Xia yang juga menata hidangan di piringnya. Gadis itu makan dengan lembut, Alexio lega bisamelihatnya lagi. Rindu sekali dirinya.


Xia yang kembali, membuat Alexio kembali stabil. Walau kenakalannya tetap tidak surut.


Tapi setidaknya ia tidak bertindak kelewat batas seperti waktu itu.... beberapa siswa nerd sepertinya memutuskan cuti sekolah karena pukulan keras itu cukup membuat mereka terbaring lama.


“Eh Dira, sombong banget akhir-akhir ini.” Barry dan dua sahabatnya yang berselisih jalan dengan Dira menyapa gadis itu. Yang disapa hanya melengos saja, bak angin lalu saja si Barry


“Dira.” Panggil Andi tapi Dira menuli. Terus jalan meninggalkan ketiganya.


“Kenapa ya sama tuh bocah, akhir-akhir ini berubah banget.” Seloroh Barry heran. Alexio tak peduli, ia melanjutkan lagi langkahnya, meski tadi ikut memperhatikan Dira yang menatapnya dingin dan langsung memutus pandangan.


“Putus cinta kali sama Alexio.” Ujar Barry menduga sambil menoleh pada Alexio yang ada di depan mereka.


“Mana mungkin, berapa kali di tolak doi tahan muka aja.” Tolak Andi akan asumsi Barry.


“Dijodohin kali dia, makanya suntuk banget mukanya.” Duga Barry lagi.


“Entah. Masalah keluarga mungkin. Pokoknya gosip tuh cewek nyamain Alexio aja sekarang, sama-sama badung.” Jawab Andi.


Alexio bukan tidak tahu perkara itu, ia sering mendengar gosip tipis-tipis mengenai gadis itu, Dira Kairan Ladh. Gadis yang menangis karenanya waktu itu. Apa karena itu ia berubah?


Benaknya memang berlari ke masa itu, hingga perhatiannya seolah terganggu akan Dira yang sudah berubah.


Gadis manis yang gencar memburunya di sekolah. Kini tak lagi menampakkan diri setelah ucapan lantangnya saat itu.


“Alexio, hai.” Sapa beberapa gadis yang dilewati Alexio, pemuda itu menangkap siluet Dira, namun gadis itu bergegas cepat, jelas ia menghindari berselisih jalan dengan dirinya.....


Hingga..... alexio kembali tercubit, perhatiannya terganggu sekali...


Bagaimana tidak....


Kini, ia dengan mata membulat menyaksikan, gadis itu, mengendalikan stir kemudinya, memacu kecepatan mobilnya, diantara mobil lain di gelapnya malam. Di tengah sorak sorai banyak suara.


Di balapan liar.


Bersama sosok rivalnya yang sudah sering dilihatnya bersama Dira, Jonathan. Pemuda brengsek itu, mendekati Dira-nya.


“Itu Dira???!!!” Andi mendelik tajam, berusaha menyipitkan matanya untuk semakin memperjelas pandangannya.


“Barry, itu Dira bukan sih,” seolah meminta bantuan akan penglihatannya, Andi menyikut Barry yang juga melakukan hal serupa.


“Iya, itu Dira. Wahhhh ngapain itu anak dimari???” Barry ikut tak percaya, saat melihat Dira turun dari mobil dengan jaket denim, kaus hitam dan celana sebetas pahanya, menyingkap kemulusan dan lekuk tubuhnya.


Di sampingnya ada Jonathan yang memeluknya begitu saja.


“Selamat girl. Kamu menang.” Ujar Jonathan tersenyum yang dibalas gadis itu dengan hal serupa.


“WHATTTTTTTTT!!!!!” pekik Barry dan Andi bersamaan melihat interaksi intim itu diantara keduanya.


Sementara Alexio, ia mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku jarinya tercetak sempurna.

__ADS_1


Cemburu???


Hmmmm, mungkin, othor gak mau suuzon.


__ADS_2