Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 85


__ADS_3

“Shitt!” maki Alexio saat merasakan perih akibat pukulan yang dilayangkan Alan tadi. Ia sudah berada di dalam markasnya, dibantu Andy dan Barry yang mengoles luka bocah dewas itu.


“Lo ada masalah apa sih sama tuh orang. Ngebet banget ngajak balapan.” Ceramah Andy yang menyusun obat-obatan ke dalam kotak P3K dan menyerahkannya pada salah satu rekan sesama gengnya.


“Arghhh. Pedih setan.” Sentak Alexio pada Barry yang sengaja menekan luka di ujung bibir sahabatnya.


“Emang gue pikirin, ahh udah gue mau tidur, ngantuk sumpah.” Barry gegas menelentangkan tubuhnya asal di karpet bulu tak jauh dari sofa tempat Alexio baring.


“Gue juga. Capek.” Susul Andy yang tidur di sebelah Barry.


“Nyamannya.” Lega keduanya bersamaan, dan menutup mata, meninggalkan Alexio yang mendelik tajam pada keduanya.


“Sialan lo pada.” Keluh Alexio.


“Tidur sana. Lagian orang salah apa coba sampe di ajak balapan. Muka polosan gitu orangnya.” Sahut Andy yang matanya menutup namun tidak pada bibirnya yang masih andil nyerocos.


“Dia taruhan soal Dira, cuy.” Timpal Barry yang mendengar percakapan Alexio bersama Alan.


Andy membuka matanya, “Kok bisa? Bukannya itu tuyul memang pacaran sama Dira?” tanya Andy pada Barry, padahal yang diperbincangkan tengah menatap kesal pada keduanya yang jelas-jelas bergosip di depannya.


“Cemburu kali. Secara Dira kan cantik, gue aja naksir waktu dia masih SMA, apalagi sekarang, tambah cantik aja itu anak pak Ladh.” Sahut Barry, mereka benar-benar mencari masalah dengan Alexio. berpura-pura yang dibicarakan tidak ada diantara mereka.


“Kalian cari mati rupanya.” Geram Alexio bangkit dan menendang pelan tungkai sahabatnya yang bergosip itu.


“Aishhh tuyul setan.” Maki Andy mendelik pada Alexio yang berdiri menjulang itu.


“Kalian itu yang setan. Ngomongin gue terang-terangan gitu.” Balas Alexio sengit.


“Santai woyy, baper amat, memang Dira pacar lo?” tembak Andy kena lurus ke Alexio yang mengangakan mulutnya tak percaya mendapat tanya itu.


Sekembalinya Alexio dari Jepang, mereka menebak ada yang terjadi dengan sahabatnya itu. Biasanya, Alexio tidak berhenti membicarakan Dira. Tapi kini, perihal gadis itu seakan menguap begitu saja, justru mereka melihat Alexio banyak bersama gadis-gadis lain, di club malam, bahkan di kampus serta area balap.


“Lo!” Alexio menunjuk Andy tajam.


“Biasa aja sih. Makanya kalo masih cinta itu jangan di lepas, masa lalu itu bagian laen woy, marah boleh tapi perasaan jangan dilibatin, ditikung orang baru tahu rasa lo.” Balas Andy dan menolak tubuhnya memeluk Barry lalu tidur.


“Woy, bangun.” Alexio menggoyangkan tubuh Andy menggunjakan kakinya.

__ADS_1


“Gue ngantuk Alexio. gue hajar lo kalo sampe gue bangun.” Ancam Andy yang suaranya sudah semakin serak.


“Cih.” Alexio pergi dari sana, pikirannya kalut. Dan tujuannya hanya satu saat ini....


Ting


Tong


Ceklek


Tak butuh waktu lama, pintu terbuka


“Alexio?” Dira, yang baru saja mencapai undakan anak tangga harus kembali turun ketika mendengar suara bel pintu yang memekik nyaring di tengah malam.


Alexio berdiri di depan pintu, menatap Dira lekat namun tetap pada aura dinginnya.


“Ngapain?” lagi-lagi Dira yang bersuara, namun hanya dijawab kebisuan oleh Alexio.


“Tunggu, duduk dulu.” Dira menyuruh Alexio duduk di teras, sementara dirinya bergegas masuk. Dan tak butuh waktu lama ia kembali lagi di hadapan Alexio.


“Nih.” Ia menyodorkan sesuatu pada Alexio yang menajamkan pandangannya pada benda itu.


“Maaf, Alexio.” Ucap Dira setelahnya membuat dahi Alexio berkerut dalam mendengar pernyataan barusan.


“Atas sikap lancang papaku mengambil bagian milik Alexia. Dan juga semua kesalahpahaman selama ini.” lanjut Dira


“Kalau kamu mau marah atau menghukum ku atas kesalahan papaku, aku terima, sebagaimana dulu kamu membenciku saat kita masih muda.” Sambungnya, Dira tampak tulus mempersembahkan permohonan maafnya yang sialnya malah memantik gejolak aneh dalam dada Alexio.


Entah kenapa ia tak suka mendengar setiap kata yang dilontarkan gadis ini. Benar-benar tidak suka!


“Tapi tolong, Alexio. Pengobatanmu jangan dihentikan, kau tahu jika.... jika penyakitmu akan kembali kambuh jika tidak dikontrol dan dilakukan pengobatan. Jadi aku mohon...” ucapan Dira segera dipatahkan oleh Alexio.


“Itu urusanku, kau tak perlu ikut campur.” Alexio segera bangkit dengan kasar hingga kursi yang didudukinya nyaris terjengkang.


“Jangan terlalu banyak mengurusi hidup orang yang bukan tanggung jawabmu.” Lanjutnya semakin tajam, bergegas meninggalkan kediaman rumah Ladh bersamaan deru motornya yang menghilang di balik pandangan Dira.


“Maaf.” Lirih Dira berucap tanpa melepas netranya meski Alexio sudah jauh dari jangkauannya.

__ADS_1


.


.


.


“Mereka pikir, aku tidak tahu jika diary yang dimiliki Alexia menghilang?” Alexio membanting diary merah muda kepunyaan Alexia sesaat ia meletakkan lembaran yang tersobek itu.


Alexia memiliki keunikan dalam kebiasaan menulis diarynya, ia selalu menggoreskan kegundahan, bahagia dan curahan hatinya setiap berselang 7 hari. Selalu seperti itu.


Makanya saat melihat ada bagian yang terlewati, Alexio sudah bisa menebak ada yang tidak beres pada rahasia adiknya ini. Beragam tuduhan sudah ia layangkan dengan pasti kearah orang tuanya yang tahu mengenai benda itu, tapi rupanya salah, bertahun-tahun sobekan ini hilang rupanya terperangkap di genggaman seorang Ladh, dokter bedah yang menangani kembarannya.


Yang memindahkan bagian tubuh Alexia ke dalam tubuh Alexio. bukan sekedar hati, namun jantung gadis itu juga bersarang di relung tubuh Alexio. ia awalnya hanya tahu jika pendonornya adalah orang lain, namun saat membaca diary Alexia. Di sana ia memupuk amarahnya sedalam-dalamnya.


“Alexia, ma-maaf, maafkan aku.” Alexio meluruh di samping tempat tidurnya. Ia meremat kaosnya tepat di bagian dada, sembari tersedu.


“Andai aku tidak penyakitan, kau akan tetap di sisiku sampai kini.” Lirihnya tak tertahan.


Setelah membaca bagian yang hilang dari diary Alexia, pria itu tak bisa menahan gejolak emosinya yang menjadi karena merasa bersalah menyebabkan semua ini.


Di sana tertulis segelintir kecemasan, ketakutan dan juga amarah Alexia yang mendapatkan semuanya sementara ia ditinggalkan begitu saja, menjadi ajang balas dendam para orang dewasa tanpa ia tahu kesalahannya dimana.


Malam itu, Alexio meraung seorang diri, tangisan bahkan terdengar pilu, meratapi nasib kembarannya yang tak ia duga akan setragis itu. Bahkan keluarganya sendiri terlibat di dalam sana, sang kakek, salah seorang yang mencetuskan Alexio sebagai penerusnya ternyata tak lain yang terlibat merenggut nyawa adiknya, Alexia.


18 Oktober 2014


Maaf Al, kalo aku sempet benci ke kamu


Tapi sekarang gak lagi


Aku mungkin akan pergi setelah ini, Al


Jadi aku akan kasih semua yang ada di aku buat kamu


Cepet sembuh ya, kakak-ku


Baris kata-kata yang tertulis di diary yang terbuka itu, menjadi akhir dari kisah Alexia. Karena tak lama dari curahan itulah, petaka keduanya datang.

__ADS_1


18 Oktober 2014, ketika Alexia mendapat penyerangan dan 3 hari setelahnya gadis kecil itu meninggal dengan alasan tubuh ringkih itu melewati batas kemampuan hidupnya. Dan bersamaan Alexio bangun dengan jantung barunya. Yang tak ia sadari, itu berasal dari kembarannya. Dalih soal kerusakan hati bukan alasan kematian Alexia, karena deguban itulah yang menjadi saksi Alexia harus menyerah pasrah agar Alexio tetap bisa hidup walau mengorbankan adiknya.


__ADS_2