
Dira melangkah cepat ketika suara bel dan ketukan pintu terdengar dari depan. Ia yang sedang berada di pantry bergegas ke sana.
Ceklek
“Jo?!” ucapnya saat membuka daun pintu
“Kecewakah? Kayaknya ngarep yang laen nih.” Seloroh Jonathan nyelonong begitu saja melewati Dira yang masih berdiri memegang daun pintu.
“Ngapain? Malem-malem bertamu?” Dira mengekori langkah Jonathan yang menuju sofa.
“Lah kenapa? Gak boleh?” ujarnya menaruh bokong di sofa.
“Nih.” Jonathan menyerahkan kresek berwarna putih yang isinya sudah bisa ditebak Dira.
“Ihh makasih bebey.” Ucap Dira menyambut kantong yang berisi jajanan kesukaannya. Cilok kuah kacang pangkalan Sudirman.
“Minum gih, haus.” Kata Jonathan menyentuh tenggorokannya.
“Dihh.” Dira yang baru mau duduk mencebikkan bibirnya namun tetap melangkah menuju dapur untuk mengambil minuman segar.
Dira menaruh beberapa minuman kaleng dingin di atas meja lalu duduk di sebelah Jonathan.
“Mau ikut balap gak?” tawar Jonathan sesaat setelah meneguk air minumnya.
“Gak, tobat dulu.” Sahut Dira menyendokkan cilok ke mulutnya.
“Padahal gue kangen banget loh, karena udah ini gue mau ke Jepang.” Ujar Jonathan dengan wajah lesunya.
“Jepang? Ngapain?” tanya Dira melirik Jonathan
“Ya kuliah lah neng, masa jadi bintang porno.” Mengacak rambut Dira gemas
“Ya kali. Hehehe.” Kekeh Dira
“Kamu gimana? Jadi ke Jepang? Denger dari om Ladh kamu berencana ke sana juga.” Tanya Jonathan yang memang sengaja memilih Jepang karena Dira akan memilih tujuan ke sana.
Dira mengendikkan bahunya
“Gak jadi?” Sambung Jonathan.
“Jadi, tapi tunda dulu kayaknya. Masih ada urusan bentar.” Jawab Dira
“Alexio?” Duga Jonathan yang tak dijawab Dira, memilih asyik memakan cilok miliknya.
“Aku denger kabar kalo Alexio sakit?”
Dira menoleh mendengar tanya Jonathan. Menatap penuh selidik.
“Apa yang kamu dengar soal sakitnya Alexio?” cemas Dira, ia khawatir orang akan salah paham bahwa sakit Alexio layaknya mereka yang gila.
“Sakit aja.” Singkat jawab Jonathan
__ADS_1
“Hmm, iya, kamu tahu kan badungnya tuh bocah, sakitnya ya karena kelakuannya itu.” Kekeh Dira kikuk.
Sementara di lain tempat.
“Al.” Pintu di buka dan Xia muncul di baliknya.
“Xia.” Alexio memeluk tubuh bocah itu erat. Perasaannya takut saat berpikir Xia akan menempuh jalan konyol atau pergi meninggalkannya seperti dulu.
Alexio mengambil keputusan besar, mengabaikan ancaman Dira yang memaksanya untuk memilih datang ke rumahnya daripada mengunjungi Xia. Dan tentu saja, otak Alexio memilih Xia. Dengan alasan, gadis ini lebih membutuhkannya ketimbang Dira.
Jadi masalahnya dengan Dira akan dipikirkan nanti saja.
“Orang tua kamu?” tanya Alexio menilik rumah kosong.
“Seperti biasa, apa yang bisa aku banggakan, Al. Gak ada. Makanya mereka lebih sering meninggalkanku.” Ucap Xia sedih. Lebih tepatnya putus asa.
“Kamu punya aku, apa yang kamu lakuin berarti menurutku, Xia. Jadi jangan pikirkan penilaian para orang dewasa yang tak punya hati itu.” Tutur Alexio menenangkan Xia.
“Makasih Al.” Sahut Xia yang diangguki Alexio dengan senyum teduhnya.
“Mau jalan? Aku bawa motor.” Tawar Alexio mengacungkan kunci motornya pada Xia.
“Hmm.” Jawab Xia meraih lengan Alexio lalu melangkah ke luar rumah.
“Den Alexio.” sapa Security yang melihat majikannya keluar gerbang lagi.
“Ya pak. Aku pergi dulu ya, makasih.” Sahut Alexio melambaikan tangannya pada security itu.
“Hmm, kenceng lagi Al. Ngebut!!!” teriak Xia senang. Tentu hal itu disambut Alexio dan segera menarik gas motornya lebih kuat hingga kecepatan sudah bertambah.
“Aku mau lepas tangan Al.” Ucap Xia yang perlahan melepas kedua tangannya yang tadi merangkul pinggang Alexio.
“Pegangan Xia, nanti jatuh.” Tolak Alexio karena akan membahayakan gadis itu,
“No, sekali ini aja, aku mau melepas semua kegundahanku, Al.” Bantah gadis itu yang masih merentangkan tangannya, menghirup udara malam yang menyegarkan.
“Xia, tarok lagi tangan kamu, aku gak konsen jadinya.” Kekeh Alexio tak mengizinkan Xia berbuat hal berbahaya.
Ponsel Alexio bergetar, ia abaikan, siapapun itu ia tak mau mengganggu kesenangan bocah yang ada di belakangnya.
Tak tahu saja dia jika di ujung telpon sana, sudah tak jelas lagi umpatan kesal si penelpon.
“Wahhh beneran kamu Alexio? awas ya, aku gak mau lagi ketemu kamu!!!” teriaknya sebal.
Selepas kepulangan Jonathan, gadis itu kembali uring-uringan. Sudah 1 jam lamanya tapi Alexio tak muncul ke rumahnya. Padahal sudah jelas tadi ia mengancam namun sepertinya tidak ada tanda-tanda pemuda itu mendatanginya.
“Jadi kamu milih makhluk imitasi itu daripada aku, Alexio?!!” ia menghentakkan kakinya lalu menaiki undakan tangga. Bersiap mengacak kamarnya sebagai pelampiasan kekesalannya.
“Aku gak bakalan ketemu kamu!! Gak akan!!!” ucapnya menggeram.
Ia kembali menelpon Alexio, walaupun dibibirnya menggerutu enggan bertemu, tapi tangannya dan otaknya tetap saja berkhianat.
__ADS_1
Alexio pun mengabaikan getaran ponselnya yang lagi-lagi bergetar.
“Xia!! Udah, pegangan lagi.” Teriak Alexio karena Xia masih betah dalam posisi melepas tangannya.
“Bentar lagi Al, bentar lagi.” Balas Xia yang senang sekali dalam nada suaranya.
Xia menutup mata dan menghirup udara segar, tangan masih ia posisikan bebas. Seiring hal itu.... Alexio menatap sekitarnya, ia terbaring......
Bersamaan tubuh Xia berada tak jauh darinya....
Ya,, Alexio kembali kecelakaan.
Dan beruntung salah satu anak buah Bisma mengawasi pergerakan itu hingga tak butuh waktu lama, ambulan datang.
Sirine ambulan menyeruak masuk ke telinga Alexio.
“To—to-tolong di-dia du-dulu.” Lirihnya menunjuk tempat di mana Xia terbaring.
Petugas medis meraih tubuh Alexio untuk dinaikan ke atas brangkar.
“Di-dia, to-tolong di-dia.” masih bertahan mengarahkan telunjuknya ke tempat Xia yang menggelepar di aspal.
.
.
.
Bisma dan Linda harus lagi-lagi menghadapi keadaan puteranya yang tak jera kecelakaan. Untung ia menaruh pengawalnya mengawasi setiap aktifitas puteranya itu, karena jika tidak, Alexio akan bertaruh nyawa di sana karena jalanan yang cukup sepi di tempat kecelakaan itu.
“Bawa CCTV di area kecelakaan puteraku, cepat!!” titahnya pada pengawalnya yang berdiri tak jauh darinya.
Mengangguk cepat, pengawal itu beringsut meninggalkan ruang tunggu keluarga pasien.
“Bisma!” Ladh datang tergesa-gesa, ia yang baru saja akan pulang harus ditahan saat mendengar kabar Alexio harus dilarikan ke rumah sakit lagi.
“Ladh.” Jawab Bisma dengan wajah frustasi.
“Tenang, semua akan baik-baik saja. Aku akan melihat ke dalam, oke?” ucap Ladh menepuk punggung Bisma yang bergetar.
“Terima kasih.” Balas Bisma
Tak lama derap langkah terdengar di koridor rumah sakit.
“Pak Bisma.” Dokter Doni, yang menenteng jas dokternya menghampiri keberadaan Bisma dan Linda
“Dokter.” Jawab Bisma lesu
“Mari kita lakukan pengobatan pada Alexio.” ucap dokter Doni mengambil keputusan.
Ia khawatir kecelakaan ini adalah episode pemuda itu lagi...
__ADS_1
*Note: (Episode pada Skizofrenia/Schizoprenia adalah gejala aktif bahkan bisa bertambah parah, berupa halusinasi, delusi, paranoia dan inkoherens**i bahkan tindakan perilaku bunuh diri jika penderita mengalami episode negatif*)