Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 138


__ADS_3

“Terima kasih Ladh atas bantuanmu.” Bisma secara formal menemui Ladh di kantor dokter bedah itu.


“Sama-sama, Bisma. Hanya ini yang bisa aku lakukan padamu.” Jawab Ladh menanggapi permintaan terima kasih sahabatnya.


“Aku beruntung mengenal sahabat dokter hebat sepertimu.” Kekeh Bisma merasa jika ia bisa mengambil manfaat dari Ladh yang juga pemilik rumah sakit besar.


“Kau bisa saja. Itulah gunanya kau memiliki teman, Bisma.” Seloroh Ladh ikut terkekeh mendengar pernyataan Bisma.


Ya, atas bantuan dari Ladh sebagai dokter dan pemilik rumah sakit. Mereka bisa mengecoh siapapun mengenai tes forensik terhadap jasad yang dianggap milik Suprapto.


Setidaknya rumah sakit Ladh cukup mumpuni menjamin hal itu di mata hukum, karena tidak pernah terlibat dalam kriminal apapun, kecuali masalah ini.


“Lalu bagaimana dengan pria itu?” tanya Ladh ketika perbincangan mereka sudah dirasa tidak memiliki pembahasan.


“Alexio bersama putera Hiro yang mengurusnya. Apa kau mau melihat hal itu?” jawab Bisma sekali menawari sesuatu kepada Ladh


“Melihat sesuatu? Apa itu?” Beo Ladh cukup penasaran.


“Ini.” Bisma menghidupkan ipadnya dan menyerahkan pada Ladh.


“Ya Tuhan!” Ladh menutup mulutnya ketika netranya menangkap sebuah tontonan di layar gadget itu.


Ya, video yang menampilkan penyiksaan Suprapto oleh Dome beserta anak buahnya.


“Kasian sekali Suprapto. Tapi, dia pantas mendapatkannya.” Nilai Ladh walaupun ada sedikit rasa iba melihatnya.


“Apa yang dilakukan tidak setimpal dengan perbuatannya, Ladh. Ada puteriku yang menjadi korbannya, belum lagi Andriana yang kau tahu sendiri dijadikan sebagai budak pria itu.” Bisma masih geram mengingat keburukan Suprapto.


“Aku merasa Tuhan sangat baik padaku dengan menunjukkan kuasaNya jika aku bukan putera kandungnya.” Ada tawa sinis yang diterbitkan Bisma karena bersyukur atas fakta itu.


“Itu tidak lain karena Andriana dan juga Alexia yang membantu kalian, namun justru mereka yang ditumbalkan di sini.” Mirisnya hal itu menurut Ladh.


“Jika saja Tuhan mengabulkan permohonanku, aku rasanya ingin meminta jika nyawa Suprapto bisa dihidupkan berulang kali. Agar penyiksaan yang dilakukan padanya bisa melebihi kejahatannya.” Bisma mengencangkan kepalan tangannya.


“Sudahlah, biarkan Hiro yang mengambil alih. Bukankah video yang ditunjukkan cukup membuat siapapun merinding melihatnya. Kini urusanmu adalah membahagiakan keluargamu, Bisma.” Ujar Ladh menyarankan hal terbaik bagi kehidupan Bisma selanjutnya.


Bisma menundukkan kepalanya dalam, lalu mengangguk, “Kau memang benar, aku harus membantu Linda memulihkan kondisi Andriana, juga Linda sendiri serta Alexio yang masih menyisakan jejak perbuatan Suprapto atas ingatan palsu dalam pikiran mereka.” Sahut Bisma menyetujui Ladh.


“Aku akan membantumu dalam urusan itu, tenang saja, aku sudah memikirkan dan mempertimbangkan beberapa hal untuk mereka, Bisma.” Ladh menunjukkan berkas di hadapan Bisma yang berisi list untuk memberikan terapi kepada Andriana, Alexio serta Linda.


“Terima kasih Ladh, kau sahabat terbaikku.” Bisma lagi-lagi mengucapkan rasa terima kasihnya dengan tulus.


“Sama-sama Bisma.” Sahut Ladh.


“Aku harap Tuhan masih bisa menyambungkan hubungan kita lebih dari sekedar sahabat.” Harap Bisma

__ADS_1


“Maksudmu?” kekeh Ladh yang paham sekali arah pembicaraan Bisma.


.


.


.


Alexio dan Dome mengunjungi Suprapto setiap akhir bulan setelah masa penyembuhan luka pasca penyiksaan terakhir dilakukan. Dan selama 3 hari mereka menghabiskan waktu perjalanan darat laut, sehingga memang mereka kerap melakukan kuliah daring dengan link nama besar mereka yang disetujui pihak kampus.


“Hai baby, aku sangat merindukanmu.” Dome menjemput Dira usai perkuliahan wanita itu selesai.


“Ck, merindukan apanya, perasaan kita selalu melakukan panggilan telepon.” Decak Dira merasa konyol dengan sikap manja Dome.


“Ayolah, tapi kita jarang bertemu baby.” Keluh Dome


“Bagaimana kalau kita makan malam? Atau libur bersama?” tawar Dome memberi ide brillian


“No, aku sibuk, kau tahu kan kalau aku tengah menyusun tugas akhir agar studiku cepat selesai dan mendukung spesialisku nanti.” Tolak Dira merapikan seatbeltnya.


“Baiklah kalau begitu.” Mulut dikuncir, begitulah ekspresi Dome mendengar penolakan Dira.


“Bagaimana dengan konselingmu? Apakah sudah semakin membaik?” tanya Dira saat mobil sudah melaju meninggalkan area kampus.


“Apa?” tanya Dira tapi tubuhnya ia putar agar bisa menjangkau benda yang dimaksud Dome.


Kresek....


Kertas pembungkus benda persegi panjang seukuran 40x60 cm itu terbuka dan hanya suara decak kekaguman yang keluar dari bibir Dira.


“Indah sekali!” seru Dira memuji gambar yang kini terpatri di matanya.


“Kau sudah pandai mengalihkan neurosismu Dome.” Sambung Dira lagi dan Dome sontak memerah karena pujian itu.


Aishhh sok malu-malu kau!


“Apakah gambarku bagus, baby?” tanya Dome gugup


“Tentu, lebih bagus ketimbang alat kelamin yang menggelikan itu.” Sahut Dira


“Aku bangga padamu, Dome. Aku sangat bangga.” Kembali Dira melontarkan kata-kata pujian bagi Dome yang melambungkan hati bocah Jepang itu.


“I-i-iya.” Ujar Dome tak kalah gemetar, untung saja kemudi yang ada dalam kendali tangannya cukup mantap, jika terpengaruh saja, maka tidak tahu nasib keduanya.


Perjalanan pulang kali ini terasa sangat berbeda menurut Dome, sepanjang menyetir, hanya gores senyum saja yang tak bisa ia kendalikan dikarenakan pujian sederhana dari Dira.

__ADS_1


‘Sialan, bagaimana aku melepasnya jika dia selalu menggemaskan seperti ini.’ umpat Dome dalam hati.


Merutuki dirinya yang selalu saja galau antara mundur atau tetap pada posisi ini.


Tapi mengingat yang diutarakan Alexio tempo hari, tidaklah salah. Melihat jika Dira sama sekali tidak memperlakukannya lebih dari sekedar bocah saja, tidak ada getaran kekasih antara wanita itu yang ditangkap Dome.


Malahan, Dira sering menganggap Dome tak lebih dari adiknya, bukan pasien. Dan hal itulah yang sering menjadi makian Dome, kenapa orang tuanya melahirkannya lebih lambat ketimbang Dira.


Jika saja....


Jika saja...


“Hei, ngelamun aja.” Dira menepuk pundak Dome karena tidak juga mematikan mesin mobilnya padahal sudah sampai di rumah sakit.


“Eh, sorry baby.” Sahut Dome.


“Kau kenapa?” tanya Dira memusatkan perhatiannya pada Dome.


Dome meneguk salivanya perlahan, menarik nafas pelan, berusaha membalas tatapan Dira.


“Hmm, aku... aku...” Dome kesulitan merangkai kalimatnya.


Dira menunggu...


“Apakah masih lama?” tanya Dira lagi


“Nanti saja ya kalau begitu, aku dinas dulu.” Ujar Dira lagi.


Ceklek


Baru saja tangannya berhasil membuka pintu mobil, tangan Dira dicekal oleh Dome membuat wanita itu menoleh kembali pada bocah itu.


“Hmm, ada apa Dome.” Dira menarik nafas sabarnya.


“Apakah kau selama ini bahagia denganku?” kalimat tanya yang berhasil Dome berikan pada Dira dan membuat perempuan itu berkerut dahinya mendengarnya.


“Ya, aku bahagia.” Jawab Dira singkat, tapi Dome tidak puas akan jawaban itu.


“Apa kau lebih bahagia jika bersama orang itu?” pertanyaan kedua Dome ajukan lagi untuk Dira


Dira tercenung mendengarnya, ia paham maksud Dome, “Kau tentu tahu jawaban pertanyaan itu, Dome.” Jawab Dira yang menuntun Dome menjawab sendiri


“Apakah artinya kau masih mencintai dia?” ketiga kalinya Dome memberanikan diri bertanya, padahal sudah jelas itu menyesakkan untuknya.


“Jangan bertanya sesuatu yang kau sudah tahu kemana jawabannya, Dome. Karena sampai kapanpun, akan tetap sama.” Pungkas Dira menutup pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2