Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 71


__ADS_3

“Hei Dome, aku mau pulang, gila kau mau tawuran ajak-ajak aku, no!” Dira menggeplak punggung Dome dan upahnya ia merinding sekujur tubuh saat merasakan banyak tatapan nyalang mengarah padanya. Siapa lagi kalau bukan anak buah bocah tengil yang doyan gambar kelamin ini.


“Ayolah dokter Dira, ini mengasyikkan, bahkan banyak gadis-gadis yang memohon padaku untuk aku bonceng.” Balasnya dengan sikap angkuh dan narsis.


Tidak dipungkiri, keangkuhanya didukung semua yang ada pada dirinya, rupa, tubuh, benda yang melekat pun mendukung kesan angkuh itu.


“Hei bocah, aku bukan pengangguran dan bukan fans gilamu ya, aku mau pulang.” Dira menolak langkahnya menjauhi kerumunan bocah labil itu.


“Kalau aku terluka, bagaimana dokter? Kadang-kadang aku ditikam, dipukul dan dianiaya ketika bertarung, apakah sebagai dokter kau tidak punya nurani membantu aku?” ucapannya menyiratkan profesi Dira sebagai kewajiban sebagai penolong yang membutuhkan.


Gila!!!!


Gila!!!!


Sekali lagi, ini gila!!!


“Itu urusanmu, aku tidak peduli!” balas Dira sengit, tetap menolak langkahnya menuju keberadaan mobilnya tadi.


“Hah? Di- di-di mana mob-mobilku?” matanya mengedar ke semua penjuru tempat itu, tapi tak ada jejak sedikitpun keberadaan mobil toscanya tadi.


Memejamkan matanya, tak mau menuduh, tapi siapa lagi yang pantas di tuduh di sini coba?


Dira berbalik arah, kembali mendatangi bocah labil yang tampan itu, “Kau, kau sembunyikan di mana mobilku, Dome!!” tunjuknya sebal. Kalau bukan usia bocah, tentu ia sleding ini orang.


Dome dengan tengilnya mengendikkan bahu dan menoleh ke hadapan anak buahnya. Tak menjawab sedikitpun pertanyaan Dira


“Dome!!! Kau yang menyembunyikannya, kembalikan cepat!!! Aku sibuk, tidak ada waktu untuk meladeni permainan bocah kalian!” pekik Dira semakin sebal


Dome tertawa, bahunya bahkan naik turun saking senangnya ia kali ini, “Dokter, aku sedari tadi berdiri di sini, bagaimana bisa aku memindahkan mobilmu, hayolah! Jangan menuduhku.” Jawabnya dengan wajah tengil tentu saja


“Aishhhh,, aku mau pulang.” Ujar Dira, bersiap memesan taksi atau kendaraan online melalui ponselnya.


Dome masih betah berdiri di sana, menatap Dira lekat dan senyum jahilnya.


“Aishhh setan! Kenapa tidak ada satupun yang menerima permintaanku sih!” ucap Dira gemas, satupun layanan kendaraan online tak menanggapi pesannya.


Dome menunduk sembari tersenyum melihat tingkah Dira, menggemaskan menurutnya.


“Jangan mengumpat, dokter Dira, tak bagus itu.” Ujarnya sok menasihati


Dira menarik netranya lalu menyorotkannya tajam pada pemuda ababil itu, “Kau tak usah bilang...... eh, kau bisa bahasa Indonesia?” tanya Dira baru paham


“Tentu, aku kan menyukaimu dokter Dira, jadi apapun menyangkut dirimu harus tahu lah.” Kekehnya menjawab tanya Dira.


“Sialan kau Dome!!” balas Dira sengit

__ADS_1


‘Aduh, Jo tolong aku.’ Batin Dira berharap Jonathan bisa mendengar jeritan hatinya saat ini.


Derap langkah sudah di dengar Dira, bersamaan juga suara bising dari kendaraan yang ada di parkiran depan. Dan Dome dengan arogannya berjalan melewati Dira.


“Hei, mau kemana kau!!!” teriak Dira memanggil bocah kelamin itu.


Tanpa berbalik, Dome melambaikan tangan, “Aku mau pergi dokter, kalau tidak mau ikut silahkan tetap di sini, tapi tidak aku jamin keselamatanmu jika sendirian di sini.” Sahutnya tetap berjalan.


“Brengsek kau Dome!!!” pekik Dira namun dibalas Dome dengan tawa lepasnya.


“Ayolah, ikut merasakan sensasi kebebasan bersamaku dokter.” Dome berbalik dan melambaikan tangannya mengajak Dira.


“Bocah nakal, awas saja kau begitu aku keluar dari sini.” Gumam Dira menatap lekat Dome seraya menghentakkan heelsnya menuju bocah itu.


“Good my girl.” Sambut Dome ketika Dira sudah mengikis jarak dengannya.


“Aku doktermu, bukan kekasihmu.” Tekan Dira tajam


“Tak masalah, ayo.” Dome hendak memasangkan helm di kepala Dira tapi segera ditolak gadis itu dan menyambar benda yang kini sudah membungkus kepala.


“Aku bisa sendiri.” Ketus Dira dan duduk di jog motor Harley milik Dome


Motor Harley Pope Francis FXD Dyna Super Glide itu meluncur di depan sekali diiringi para kaum bocah mendang mending di belakangnya.


“Kau tak mau memelukku, dokter Dira?” tanya Dome ketika tak sejengkalpun tangan Dira merengkuh tubuhnya, masih bertahan bersedekap di belakang.


“Tak perlu, sana jalankan motor bututmu ini.” balas Dira yang dibalas Dome dengan kekehan


Dira merasa geli dengan semua perlakuan Dome padanya, bukannya ia mau bersombong diri, tapi ia merasa jika bocah ini seperti menyukainya, bukan? Mbak-mbak mantan pebalap liar.


Butuh 1 jam perjalanan yang menurut Dira bisa dipangkas lebih cepat lagi harusnya, karena Dira menilai jalan motor ini sungguh lamban macam siput Spoengbob si babang Gery. Dome seolah sengaja pikirnya.


Aishh jangan suuzon mbak!


Tiba di lapangan yang terdapat bangunan tua di belakangnya, Dira menatap kerumunan bocah labil selain kaum Dome.


“Wah, beneran mau tawuran ini bocah slengean eh.” Terkanya menggelengkan kepala. Bahkan di barisan bocah-bocah rival Dome juga ada perempuan muda di sana. Berpakaian minim, dengan belahan dada luar biasa rendahnya. “Masih bocah udah gede aja gendongannya.” Dira berdecak menilai aset bocah remaja di sana, seketika menoleh pada miliknya yang tentu tak bisa mengalahi milik mereka.


“Aishhh kenapa aku malah mikirin itu sih.” Gumamnya sendiri


“Woy bangsat, datang juga rupanya, apakah kau tidak membawa obat dan infusmu kemari Dome? Siapa tahu kau pingsan nanti setelah mendapat pukulanku.” Kekeh pemuda yang usianya tak jauh dari Dome, tapi sepertinya lebih senior dan tak kalah arogan.


“Cih. Kau pikir aku bisa dikalahkan? Ingat pertarungan terakhir Hiro, kau tak ada apa-apanya dibanding aku.” Kekeh Dome membalas sengit


“Kurang ajar kau Dome, sesudah memutuskanku, kau menggantikanku dengan perempuan tua itu!!!” salah satu gadis yang berdiri di sisi Hiro mengecam keberadaan Dira di samping Dome.

__ADS_1


“Ap-apa kata dia tadi? Aku tak salah dengarkan?” gumam Dira tapi terdengar oleh Dome yang menganggukkan kepala


“Huh, dia mencelamu dokter Dira.” Ujar Dome memprovokasi


“Sialan bocah tengik itu.” Ujar Dira tak terima


“Siapa yang kau sebut wanita tua huh!!! Sini aku tabok mulutmu ya.” pekik Dira yang ditujukan pada gadis itu.


“Menarik.” Cerca mereka membalas. Dan tanpa membutuhkan waktu lama, mereka bergerak dengan banyak pasukan mengiringi mereka. Pun dengan Dome, mereka sudah siap menyambut musuh mereka.


Lalu bagaimana dengan Dira?


Ia tentu sudah siap, siap menabok mulut gadis labil yang mengatainya wanita tua, enak saja, menarik, imut, manis dan fashionabel begini disebut tua, hei Dira juga masih awet muda, sembarangan aja itu mulut bocah ababil tadi.


Pertarungan pun sudah berlangsung sengit, semua bocah itu melibas, memukul, menendang satu sama lain, dan Dira yang memang mengincar si julid tadi kini sibuk mencubit gemas di pinggang gadis tadi.


“Ini makan hukuman dari wanita tua katamu tadi, huh” ucapnya yang dijawab pekikan dari gadis itu.


Mendapati kekasihnya butuh pertolongan, Hiro yang tak peduli gender Dira, menarik tongkat baseball yang ada digenggamannya lalu bersiap memukul belakang tubuh Dira...


“Mati kau!!!” teriaknya


Bugh!!!


Bugh!!


Bugh!!!


“Arghhhh.” Teriak Hiro


Sementara Dira sudah tertegun ketika tubuhnya ditarik menubruk dada bidang yang keras, ia masih belum bisa mencerna situasi ini. hingga...


“Lets play baby.” Bisik si perangkul tubuhnya, dan menarik tubuh Dira untuk diangkat hingga refleks Dira merangkul leher tubuh itu dan...


Bugh!!


Tendangan keras melayang di tubuh Hiro dengan posisi Dira masih digendong.


“Berani sekali kau mau menyentuh gadisku, huh!!” ucapnya keras, dan menyadarkan Dira untuk menoleh pada si pembicara barusan...


Matanya membelalak sempurna.


“Al- Alexio!” ucapnya terbata-bata


“Hai Baby.” Balas Alexio dengan suara berat dan wajah dewasanya.

__ADS_1


__ADS_2