
Pagi harinya, Mentari bangun dengan mata yang bengkak. Dia malu kalau sarapan bersama, maka dia meminta pada pelayan untuk mengantarkan sarapannya ke kamar.
Mentari sengaja waktu sarapannya agak subuh. Biar saat ditanya, nanti sudah bilang sarapan duluan.
Fatih dan Zahra sudah duduk di meja makan. Mereka tidak melihat Mentari, keluar dari kamarnya.
"Bi, apa Mentari masih tidur? Tumben jam segini belum keluar kamar untuk sarapan," tanya Fatih kepada salah seorang pelayan.
"Nyonya Mentari sudah sarapan tadi subuh. Katanya lapar sekali, jadi makan duluan," jawab pelayan itu.
"Oh, ya sudah. Terima kasih," kata Fatih lagi.
Akhirnya Fatih sarapan hanya berdua saja dengan Zahra. Khalid dan Aurora menginap di mansion Hakim, sudah dua hari ini.
Fatih memasuki kamar Mentari, untuk pamit pergi bekerja. Dilihatnya Mentari sedang duduk di dekat jendela. Menatap ke arah luar, seperti sedang memikirkan sesuatu, yang Fatih tidak tahu.
Fatih pun berjalan mendekati Mentari. Kemudian, dia mencium pucuk kepala istrinya itu.
"Assalammu'alaikum, my love." Satu kecupan di berikan di kening Mentari.
"Wa'alaikumsalam, Mas."
"Astaghfirullahal'adzim, kenapa mata kamu bengkak begitu?!" Fatih begitu terkejut saat melihat wajah Mentari yang bengkak dan merah.
"Semalam aku teringat sama Liam dan Allura. Aku rindu mereka," jawab Mentari sambil menundukkan kepalanya.
Fatih pun membawa Mentari, kepangkuannya. Kini mereka duduk saling berhadapan. Perut buncit Mentari yang menjadi pembatas di antara keduanya.
"Apa kamu mau kita pergi ke Amerika?" tanya Fatih dengan suaranya yang lembut.
"Hm, tidak perlu," jawab Mentari sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu inginnya apa? Agar suasana hati kamu bisa kembali ceria, seperti biasanya?!"
"Maaf, sudah membuat Mas, khawatir. Setelah semalaman menangis. Hati ini, sudah terasa plong. Aku cukup doa 'kan saja mereka."
"Maaf, semalam aku tidak tahu, kalau kamu sedang bersedih," kata Fatih dengan nada penyesalan.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku baik-baik saja, kok. Biasa ibu hamil, perasaannya mudah labil. Lagian semalam bagian jatah Zahra." Mentari mengusap rahang suaminya dengan pelan menggunakan ibu jarinya.
Mentari baru ingat akan flashdisk yang diberikan oleh William kemarin. Maka dia pun berinisiatif memberitahu, Fatih.
"Oh, iya. Kemarin Kakek William, memberikan aku ... sebuah flashdisk." Mentari sebenarnya ragu saat akan melibatkan isi dari videonya. Jadi, dia memilih melalui ucapan saja.
"Isinya permintaan maaf dia kepadaku. Terus dia bilang kalau Allura itu bukan anaknya. Kakek William, juga bilang aku harus hati-hati. Karena mungkin saja Mas, sama dia tidak bisa menjaga aku sepenuhnya. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Apakah ada seseorang yang ingin mencelakai aku lagi?"
Fatih yang diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Mentari. Fatih pun mengelus perut Mentari, yang sejak tadi bergerak terus.
"Jangan takut! Sekuat tenaga aku akan melindungi kalian." Fatih pun menundukan kepalanya mencium perut Mentari.
"Sebenarnya, beberapa bulan yang lalu. Mungkin tepatnya satu bulanan setelah kita menikah. Kakek Willi, menghubungi aku. Dia marah-marah lewat telepon. Gara-gara tahu aku menikahi kamu. Terus dia juga bilang akan kembali merebut kamu dari aku. Tentu saja aku tidak terima, dia pikir pernikahan itu apa. Menikah dan bercerai seenaknya." Fatih kini perhatiannya kepada wajah Mentari. Rambut panjang milik Mentari yang di gelung acak, dan memperlihatkan leher yang jenjang, membuat Fatih, ingin menggeraikan rambut istrinya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Mas. Hanya maut yang memisahkan kita," bisik Mentari dan itu malah membuat Fatih semakin bergairah.
"Aamiin. Sepertinya aku nggak jadi deh berangkat ke kantornya," bisik Fatih sambil tersenyum, dan kecupan mendarat di kedua mata Mentari yang bengkak.
******
William, sedang mengadakan rapat di perusahaannya yang ada di Indonesia. Dia juga ingin mempercepat jalannya rapat tentang hasil pencapaian selama satu tahun dan beberapa bulan ini.
William, sesekali melihat layar laptop yang memperlihatkan kediaman Khalid. Dia kesal, karena tidak akan bisa masuk menyusup lagi karena Khalid, sudah menambah keamanan di sana.
William berharap kalau keluarga Fatih, bisa kembali ke rumahnya. Agar dia bisa lagi menyusup ke dalam rumah Fatih. Setelah bertemu lagi dengan Mentari, dia malah semakin sulit untuk berpaling darinya.
__ADS_1
******
Zahra mendatangi kamar Mentari, niatnya ingin mengajak pergi jalan-jalan ke taman bunga yang ada di halaman belakang. Dia membuka pintu kamar Mentari tanpa mengetuk pintu dahulu.
Zahra melihat pemandangan yang sangat menyakitkan hatinya. Melihat Mentari bermanja di pangkuan Fatih, dan kata-kata cinta yang begitu mesra, dan membuat hati melambung akan ungkapan rasa cintanya. Meski mereka itu melakukannya karena salah satu hak dan kewajibannya sebagai suami-isteri, demi menyenangkan hati pasangannya. Zahra tetap saja merasa tercubit hatinya.
Zahra bisa melihat betapa besarnya cinta Fatih untuk Mentari. Sebab, selama dia menikah dengan Fatih, dia tidak pernah mendengar kata-kata cinta seperti yang dikatakan oleh Fatih untuk Mentari. Perlakuan Fatih kepada Mentari dan kepadanya sungguh berbeda.
Ada rasa iri dan marah di dalam dadanya. Dia juga ingin diperlakukan seperti itu oleh Fatih.
Zahra yang melihat Mentari duduk di pangkuan Fatih. Sambil tersenyum malu-malu karena Fatih menggoda dengan gombalan rayuan mautnya.
Satu hal yang Zahra tidak tahu. Yaitu, Mentari 'lah yang sudah mengajarkan Fatih, dengan kata-kata rayuan. Fatih yang dulu sering dibuat melambung hatinya oleh Mentari. Kini dia berbalik menggodanya.
Zahra pun, kembali ke kamarnya dengan derai air mata. Dia sangat kecewa kepada suaminya.
******
Alhamdulillah, bisa up juga. Meski ngetik sambil (nundutan) tidur entah berapa kali 🤭 yang penting selesai.
******
Zahra merasa tersisihkan karena perlakuan Fatih yang membedakan dirinya dengan Mentari. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Tunggu di BAB selanjutnya ya 😊
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.