Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami

Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
#MENTARI, FATIH, ZAHRA & WILLIAM (67)


__ADS_3

     Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa kini usia si kembar sudah delapan bulan dan bisa suka merangkak kesana kemari. Mentari dan Fatih menghabiskan waktu dengan membesarkan si kembar, tanpa memakai jasa pengasuh. Mereka ingin melihat perkembangan anak-anaknya secara langsung.


"Mas, lihat Raya nggak? Dia menghilang lagi!" Mentari mencari satu anaknya yang nggak ada.


     Fatih yang baru kembali dari dapur untuk membawakan makanan untuk anak-anaknya, menjawab, "enggak, Sayang. Bukannya tadi Raya dan Ian sedang bermain bersama?"


"Iya. Tapi aku alihkan perhatian ke Ian, Raya sudah nggak ada." Mentari mendudukkan Raihan ke kursi bayi, agar tidak ikut hilang nantinya.


Fatih membantu Mentari mencari Rayyan, sambil berujar, "anak-anak kita itu paling pintar kalau bersembunyi."


"Raya! Kamu di mana, Sayang?" Mentari mencari ke kolong meja dan kursi. Mungkin saja anak bungsunya itu ada di sana. Mentari pun memegang perutnya yang sudah terlihat berisi karena takut kejepit saat jongkok mencari Rayyan.


"Aduh itu anak suka sekali menghilang," ucap Fatih.


"Raya! Mau mimik nggak? Kalau nggak mau, mimiknya buat Ayah, loh!" Fatih juga ikut mencari Rayyan di ruang tamu. Soalnya dia yang paling cepat bergeraknya bisa saja pindah ke ruangan lainnya.


"Mas, apa-apaan sih! Jangan bilang seperti itu!" Mentari menatap sebal ke arah Fatih.


"Mi-mi Bu-bu!" suara Rayyan terdengar di balik sofa.


     Ternyata Rayyan berbunyi dibalik gorden. Saat Mentari dan Fatih mendatangi sumber suara, anaknya itu sedang asik memainkan gordennya.


"Astaghfirullahal'adzim, Raya! Bunda cari kemana-mana, kamu asik ngumpet di sini." Mentari mendekati Rayyan yang malah tertawa saat mendengar suara bundanya.


"Tuh 'kan, apa aku bilang? Paling efektif saat mencari anak yang hilang adalah dengan memancingnya dengan sesuatu yang mereka sukai." Fatih memangku Rayyan yang malah tertawa terkekeh.


"Mimi ... *****!" Rayyan ingin di gendong oleh Mentari.


"Sama Ayah saja digendongnya. Bunda nanti keberatan gendong kamu," kata Fatih kemudian menyerahkannya kepada Mentari saat duduk di sofa.


     Meski Mentari sedang hamil, tetapi dia masih menyusui si kembar. Kedua anaknya tidak mau menyusu pakai susu formula. Atas saran dan pantauan dari dokter, Mentari masih bisa menyusui si kembar. Mentari dan Fatih rencananya mau memberi ASI sampai mereka berumur satu tahun. 

__ADS_1


     Seperti biasa anak kembar, jika salah satu menyusu maka saudara yang satunya lagi pasti ingin ikutan menyusu juga. Bukan hal aneh bagi ibu-ibu yang punya anak kembar menyusui bareng keduanya. Begitu juga dengan Mentari. Meski dengan hati-hati karena takut perutnya ke tekan oleh si kembar yang selalu aktif.


"Sayang, kapan jadwal cek up kandungan bulan ini?" Tanya Fatih disela-sela ciuman di kepala Mentari.


"Lusa, Mas. Kenapa?" tanya Mentari.


"Hm, kayaknya Mas, nggak bisa mengantar," jawab Fatih.


"Kan masih ada Bunda sama Mama. Aku bisa meminta diantar sama mereka." Mentari memalingkan wajahnya ke arah Fatih dan membuat suaminya itu leluasa mencium wajahnya.


"Mas, jangan macam-macam! Ada anak-anak, aku nggak mau otak mereka nanti tercemar." Mentari selalu protes jika Fatih melakukan hal-hal intim di depan anak-anaknya. Beda saat mereka hanya berdua, Mentari tidak pernah ambil pusing suaminya mau melakukan dan berbuat apa, yang dia mau.


******


     Hubungan Mentari dan Fatih semakin erat saja. Mentari sering membantu Fatih dalam mengurus perusahaan. Jika, saat banyak hal yang harus dikerjakan. Hanya saja Mentari bekerja di rumah dan kadang di kantor Fatih. Si kembar pastinya selalu dibawa olehnya. Kedua bayi montok itu punya ruangan khusus untuk mereka, di kantor Fatih. 


     Aurora juga kini meminta Fatih untuk mengambil alih posisi President Direktur perusahaan keluarganya. Fatih yang sudah menolak dari tahun kemarin pun, akhirnya menerima posisi itu atas dukungan Mentari. 


"Lalu si kembar?"


"Si kembar akan dijaga dulu oleh Bunda dan Tante Dewi."


"Oh. Maaf, ya. Mas nggak bisa mengantarkan kamu ke dokter."


"Nggak apa-apa kok. Semoga urusan Mas, besok lancar."


"Aamiin."


******


     Mentari pergi ke rumah sakit bersama Aurora. Terlihat jelas wajah Mentari agak pucat dan tidak penuh semangat seperti biasanya. Hal itu membuat Aurora cemas.

__ADS_1


"Mentari, kamu kenapa?"


"Apanya yang kenapa, Ma?"


"Wajah kamu pucat. Apa semalam kurang tidur?" 


"Iya, Mah."


"Kalau kamu merasa kelelahan saat ngasuh si kembar, maka sebaiknya menyewa seorang pengasuh saja."


"Tidak Ma. Justru aku merasa sangat senang."


     Sebenarnya semalam Mentari mimpi bertemu dengan Zahra. Dia tersenyum kepadanya dan terlihat bahagia. Kemudian Zahra juga mengusap-usap perutnya. Mentari yang teringat kalau Zahra sudah meninggal, langsung terbangun dan sulit tidur lagi.


Saat Mentari dan Aurora berjalan di koridor rumah sakit menuju ke ruangan dokter kandungan, ada laki-laki yang berlari dari arah belakangnya dengan penampilan kusut. Dia menabrak Mentari dengan keras.


"Aw." Mentari terjatuh ke ujung kursi.


"Hai! Mau ke mana kamu?" teriak Aurora.


"Maaf Nyonya. Aku sedang terburu-buru," kata laki-laki itu tanpa melihat kepada Mentari yang memegangi perutnya yang terbentur kursi besi yang ada di dekat dia.


Mentari merasakan sakit yang amat sangat di perutnya. Dia memegangi perutnya, dan duduk di kursi itu.


"Mentari! Mana yang sakit?" Aurora panik saat melihat Mentari meringis kesakitan.


******


Bagi yang sudah baca Trio Kancil akan tahu kalau adiknya si kembar akan lahir saat mereka sudah besar. Jadi, kehamilan Mentari kali ini mengalami keguguran.


Jangan lupa untuk klik, like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya.

__ADS_1


Dukung aku terus. Terima kasih.


__ADS_2