
Fatih tanpa menyadari sudah tertidur dengan posisi duduk di samping Zahra. Tangan mereka pun saling menggenggam. Saat jam menunjukan pukul 02.15 dia terbangun. Dirasakan tangan Zahra sangat dingin, Fatih memeriksa dengut nadi di leher dan masih terasa. Maka dia pun menghubungi dokter untuk memeriksa lebih lanjut keadaan istrinya.
Fatih sebenarnya sangat panik tadi, tetapi berusaha untuk tenang. Dia juga menghubungi Khalid dan Aurora dan memberitahu keadaan Zahra saat ini.
"Sayang, bangun! Apa kamu bisa mendengar suaraku?" bisik Fatih.
Tidak ada respon apapun dari Zahra. Maka, Fatih mengulanginya kembali memanggil namanya. Meski sudah beberapa kali mencoba, tetap saja tidak ada balasan dari Zahra.
"Ya Allah, mudah-mudahan Zahra baik-baik saja. Dia hanya tidur nyenyak," gumam Fatih dan air mata mengalir membasahi pipinya.
Tidak lama berselang, datang dokter dan dua perawat yang menyertainya. Mereka melakukan pengecekan terhadap Zahra. Fatih diminta menunggu diluar.
Mirna datang menghampiri Fatih yang kini sedang berdiri di depan dinding kaca. Melihat bagaimana dokter dan suster itu bekerja.
"Nak Fatih, ada apa?" tanya Mirna mengagetkan Fatih.
"Zahra sepertinya tidak sadarkan diri lagi," jawab Fatih sekilas melihat ibu mertuanya dan kembali menatap ke arah Zahra.
"Ya Allah, jangan ambil dulu nyawa Zahra. Biarkan dia bahagia meski sebentar saja." Mirna berkata dalam isakan tangis yang terdengar pilu.
Khalid dan Aurora pun tiba dengan cepat di sana. Ternyata mereka datang bersama Ghazali.
"Kakak," panggil Ghazali kepada Fatih.
Kakak beradik itu kini berpelukan.
"Seandainya dulu kakak lebih cepat sadar kalau Zahra sakit, mungkin masih bisa diobati. Ternyata aku ini suami yang tidak peka dengan keadaan istri sendiri," gumam Fatih mencurahkan isi hatinya kepada Ghazali.
"Ini bukan salah kakak. Kita semua terlambat menyadari kalau Kak Zahra mengidap penyakit Leukemia. Sepertinya, dia menyembunyikan atau mengabaikan tanda-tanda awal penderita kanker darah," balas Ghazali.
"Kenapa dia begitu?" isak tangis Fatih mulai terdengar.
__ADS_1
"Karena Kak Zahra orangnya baik, tidak suka merepotkan orang lain."
"Tapi, itu justru malah membuatnya menderita dan membuat banyak orang lain bersedih karena melihatnya."
Ghazali terdiam, sebenarnya sekitar empat tahun yang lalu. Dia memergoki Zahra mimisan. Dia meminta untuk memeriksakan dirinya, mungkin ada penyakit yang diidapnya. Namun, Zahra bilang kalau dia kelelahan karena banyak pasien.
Fatih juga sering memintanya untuk pindah tugas ke rumah sakit keluarganya. Agar dia juga bisa mengatur waktu untuk mereka berdua. Fatih dan Zahra sering berbenturan waktu jam kerja. Zahra libur sedangkan Fatih bekerja, atau sebaliknya. Fatih bekerja pagi sampai sore. Zahra bagian sift malam.
Saat Zahra sudah pindah tugas ke rumah sakit milik keluarga Hakim, baru memiliki waktu dengan Fatih. Saat mereka merencanakan untuk memiliki anak ternyata ditemukan kalau Zahra mengidap kanker rahim sehingga harus diangkat. Zahra pun tidak akan memiliki kesempatan untuk punya anak.
Kesehatan Zahra pun kembali memburuk dan saat dites, ternyata dia mengidap penyakit kangker darah dan sudah stadium 3 kini stadium 4.
******
Abah dan Mirna duduk di sofa berhadapan dengan Khalid dan Aurora. Sedangkan, Fatih berdiri melihat dokter yang memasangkan beberapa peralatan medis di tubuh Zahra. Ghazali sendiri sedang memeriksa hasil laporan milik Zahra. Dari sini dia tahu, kalau dokter telah menyembunyikan hasil tes kesehatan milik Zahra untuk beberapa waktu yang lalu.
Ghazali sendiri bingung mau melaporkan hasil temuan itu kepada orang tua dan Kakaknya. Maka, dia pun menghubungi dokter yang bertanggung jawab sebelumnya.
******
Sampai saat subuh pun keadaan Zahra belum juga sadar. Bahkan Mentari tiba-tiba menghubungi Fatih untuk menanyakan kabar Zahra. Fatih yang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Mentari pun akhirnya menceritakan kondisi Zahra saat ini.
Fatih merasa bersalah telah memberi tahu itu saat mendengar suara tangisan Mentari ditelponnya. Mentari menangis kencang tanpa malu. Sehingga Fatih menjadi panik tidak tahu caranya untuk mendiamkan tangisan istri kedua.
"Honey, aku mohon berhenti menangis! pinta Fatih, "Zahra akan baik-baik saja."
"Aku akan ke rumah sakit sekarang!" Mentari pun menutup panggilan telponnya tanpa mengucapkan kata salam seperti biasanya.
******
Mentari menitipkan si kembar kepada Sinar dan Dewi, setelah di susui. Dia juga sudah menyiapkan stok ASI di kulkas, jaga-jaga kalau tidak mau dikasih susu formula.
__ADS_1
"Bunda, titip si kembar. Mentari tidak tahu jam berapa akan pulang. Jadi, ASI sudah di siapkan di dalam kulkas." Mentari mencium tangan Sinar, Ja'far dan Dewi.
"Kalau ada apa-apa langsung hubungi kami!" pinta Ja'far karena tidak bisa mengantar putri kesayangannya itu.
"Iya, Yah. Semoga Zahra secepatnya kembali pulih," balas Mentari meski dia tidak tahu, akan terjadi atau enggak.
******
Mentari diantar oleh Fajar sekalian mau menjenguk. Mentari yang baru saja tiba, langsung shock dan malah pingsan saat melihat keadaan Zahra. Mentari tidak sanggup melihat Zahra yang sudah seperti mayat dan dipasangi alat agar jantungnya terus bisa berdetak.
"Honey! Bangun!" Fatih yang berdiri di belakang Mentari langsung meraih tubuh itu ke dalam dekapannya. Fatih melihat wajah Mentari yang pucat dan mulai berkeringat.
"Mentari! Ya Allah, ini kenapa lagi, menantuku!" Aurora yang duduk bersama Khalid pun langsung berdiri keduanya dan menghampiri Fatih yang memeluk Mentari.
"Panggil dokter kemari!" perintah Khalid. Dia lupa kalau di sana ada Ghazali yang juga seorang dokter.
Fajar pun akhirnya malah menunggui Mentari yang pingsan. Fatih juga menjadi ketakutan kalau terjadi sesuatu juga kepada Mentari. Dia meminta kepada dokter keluarganya untuk memeriksa keadaan Mentari secara menyeluruh. Dirinya tidak mau lagi kecolongan seperti Zahra yang mengidap penyakit mematikan.
"Bagaimana keadaan istriku, dokter?" tanya Fatih yang wajahnya masih pucat.
"Nyonya Mentari baik-baik saja. Hanya saja kini dia sedang mengandung. Untuk lebih jelas usia kehamilannya kita lakukan USG," jawab dokter.
Fatih sangat terkejut saat mendengar perkataan dokter keluarga. Setahu dirinya Mentari melakukan suntik KB, saat ini. Ada rasa senang dan bahagia saat mengetahui kalau Mentari hamil lagi. Hanya saja, si kembar masih kecil, belum genap empat bulan saat ini.
Saat melakukan tes USG ternyata usia janin masih satu Minggu dan belum bisa dilihat dengan jelas oleh Fatih. Sepertinya saat kemarin datang bulan terakhir dan masih masa subur mereka melakukan hubungan suami istri dan menghasilkan calon anak lagi.
Fatih menciumi wajah Mentari. Dia telah memberikan kabar gembira ditengah-tengah keadaan berduka. Fatih pun memberitahu tentang kehamilan Mentari kepada keluarganya. Mereka semua pun sangat senang mendengar berita ini.
******
Alhamdulillah, akhirnya selesai 1000 kata lebih. Aku kira tidak akan kuat tadi. Tapi setelah membaca komen kalian memberi aku semangat. Meski sedang demam tinggi dan mata berair (bukan nangis) satu jam setengah selesai. Terima kasih untuk kalian yang selalu menyemangati aku.
__ADS_1
[ Kondisi tubuhku memang lemah. Bukan mengada-ada kalau aku sering sakit. Tapi, aku menjalaninya dengan ridho. Makanya aku terus berusaha untuk membuat karya. Kalau duduk diam malah akan terasa sakitnya.]