
Mentari dan William hari ini mengunjungi rumah Khalid. Mereka bersilaturahmi ke rumah orang tua asuhnya William. Mentari banyak bertanya tentang William kepada Aurora, karena dia adalah orang yang tahu banyak tentang masa lalu, dan siapa itu William.
Saat Aurora menceritakan keburukan-keburukan William, Mentari hanya tercengang, kemudian tertawa terkekeh. Sementara William sering membantah, karena dia ingin terlihat sebagai laki-laki sempurna di hadapan Mentari.
"Sudah, nggak apa-apa. Kalau Mentari benar-benar mencintai kamu, dan ingin menghabiskan hidup denganmu. Maka dia akan menerima dirimu, apa adanya." Aurora menahan tawanya karena William terlihat cemberut karena kisah memalukannya diceritakan.
"Nggak apa-apa kok Oppa Willi. Jadi aku tahu hal-hal yang sudah pernah dilakukan oleh Oppa Willi waktu kecil." Mentari tersenyum dikulum.
Setelah berbincang-bincang, kini Mentari mengajak Aurora menonton drama Korea, Wedding Dress, yang bikin air matanya mengalir deras. Ketiga orang itu, yaitu Mentari, William, dan Aurora sedang menonton di bioskop mini yang ada di rumah Khalid. Ketiganya terhanyut dalam kisah drama itu. Air mata dari ketiganya.
Bagi William film menguras air mata begini tidak asing baginya. Karena semenjak kecil William, Fatih, dan Alex, sering dikasih tontonan seperti sinetron, telenovela, dan drama-drama Asia Timur terutama drama Cina dan Jepang, oleh Aurora. Sampai masih ingat judul-judul drama yang pernah di tontonnya.
William menerima panggilan dari ponsel-nya. Dia berbicara agak lama, hanya ekspresinya yang terlihat kesal. Aurora dan Mentari hanya memperhatikan dari jauh. Kemudian William mendatangi Mentari yang sedang asik makan es krim, dan ditemani oleh Aurora.
"Maaf Mentari, sepertinya aku harus kembali ke Amerika sekarang juga," kata William dengan wajahnya terlihat sedih.
Mentari juga merasa kecewa, karena baru saja mereka bertemu kemarin. Sekarang harus berpisah lagi. Namun Mentari tidak mau menjadi beban bagi William.
"Kenapa? Apa kakek sakit lagi?" tanya Aurora khawatir dengan kondisi kakeknya itu.
"Daddy baik-baik saja, Ma. Hanya ada beberapa orang yang berbuat kerusuhan di pabrik dan perkebunan," jawab William sambil berbaring di pangkuan Aurora.
"Jam berapa kamu akan berangkat?" tanya Aurora sambil membelai rambut pirang milik William.
"Sekitar satu jam-an lagi. Willi pakai pesawat milik papa Khalid." William memejamkan matanya menikmati belaian dari ibu asuhnya, sekaligus keponakannya itu.
"Kalau begitu, aku pulang sekarang saja, ya!" Mentari meminta pamit untuk pulang terlebih dahulu.
Apalagi William akan segera pulang ke Amerika. Karena Mentari tidak mau merepotkan orang-orang di rumah Aurora.
"Tunggu, aku antar pulang!" William pun bangun dari rebahannya.
"Nggak perlu, Oppa Willi pasti masih capek. Karena baru kemarin datang ke sini. Sekarang juga harus pulang lagi. Sebaiknya Oppa Willi, istirahat saja. Siapkan kondisi tubuh agar bisa cepat pulih kembali," kata Mentari menolak ajakan William.
"Sudah Mentari di sini dulu sama, Mama. Ayo Mama ajarin biar bisa menjadi seorang istri yang bisa membuat suami betah tinggal di rumah," kata Aurora sambil menggandeng tangan Mentari untuk mengikutinya.
"Kamu tidur aja, di sofa. Tunggu jemputan datang!" Aurora mengingatkan William agar jangan mengikutinya.
Hari itu pun William pulang ke Amerika. Setiap hari dia menelpon Mentari. Hanya untuk melepas rasa rindunya kepada pujaan hatinya.
******
Mentari sedang sibuk mengerjakan tugas kantornya. Banyak berkas dan laporan di atas mejanya. Kemudian terdengar suara ketukan di pintunya beberapa kali.
__ADS_1
"Masuk!" pintanya kepada orang yang mengetuk pintu.
Saat orang itu masuk, Mentari masih saja menundukan kepalanya. Membaca laporan pembelanjaan bahan-bahan baku untuk pembuatan produksi barang.
Handphone-nya kali ini yang berbunyi. Dilihatnya nama pemanggil. Mentari langsung mengangkatnya tanpa berpikir panjang.
"Assalamu'alaikum, Oppa!" salam dari Mentari.
"Wa'alaikumsalam," namun balasan salam ada di hadapannya.
Mentari yang terkejut suara balasan salam dari orang yang dirindukannya, kini berada di hadapannya. Laki-laki itu tersenyum hangat kepadanya dengan wajah yang berseri-seri, tidak ada garis kelelahan yang tergambar di wajahnya yang tampan.
Mentari tersenyum lebar, menyambut orang yang dicintainya itu. Begitu juga dengan William, senyuman kebahagiaan tidak hilang semenjak pandangan mereka tadi bertemu.
"Oppa Willi … sejak kapan datang kesini?!" teriak Mentari senang, dan langsung berdiri dari kursinya yang nyaman. Kemudian menghampiri William yang kini berjalan ke arahnya semakin dekat.
"Hm, baru saja aku tiba dari bandara. Langsung kesini, karena ingin bertemu dengan bidadari surgaku!" balas William sambil tersenyum bahagia memperlihatkan deretan giginya.
William dan Mentari duduk di sofa sambil duduk berdampingan. Keduanya melepas rindu dengan banyak bercerita, tentang hari-hari yang telah mereka lalui.
William datang ke Indonesia, untuk mengantarkan dokumen-dokumen persyaratan Alex untuk menikahi Cantik. Dia juga datang untuk menghadiri pesta pernikahan Fatih dan Zahra yang dibuat oleh Aurora, di Hotel Luna milik Fatih.
******
Begitu juga dengan Mentari, kini sudah sering berkomunikasi dengan Christopher dan juga Jennifer, orang tua William. Mentari mendapatkan respon yang baik oleh kedua orang tua William. Bahkan mereka selalu memintanya segera datang ke Amerika.
Karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan calon mantu. Membuat Christopher semangat untuk segera cepat pulih kembali, meski makanannya harus diatur. Mentari selalu menelepon mereka sehari dua kali. Yaitu waktu Christopher harus meminum obatnya. Mentari akan merayu dengan gayanya, supaya Christopher mau makan, kemudian minum obat. Hati yang senang dan bahagia membuat Christopher cepat pulih. Jennifer juga sangat senang melihat suaminya penuh semangat lagi menjalani hidupnya.
******
Mentari dan William, ikut berbulan madu dengan Alex dan Cantika. Begitu juga dengan Fatih dan Zahra, yang ikut pergi berbulan madu. Karena bulan madu yang pertama gagal, disebabkan kondisi Christopher saat itu memburuk.
Sambil ikut meramaikan bulan madu-nya Alex. William juga akan mengenalkan Mentari sebagai calon istrinya. Kepada para karyawannya yang ada di sebuah pulau pribadi yang dibuka untuk umum, khususnya sebagai tempat pasangan atau keluarga, yang ingin menghabiskan waktu bersama.
William mengajak Mentari jalan - jalan menyusuri bibir pantai, sambil bergandengan tangan. Terlihat jelas rona kebahagiaan dari pasangan kekasih itu. Kini dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu menikmati waktunya.
Sinar matahari yang mulai tenggelam di sebelah Barat, memancarkan warna merah, orange, dan kuning emas. Cahaya itu menerpa wajah Mentari yang sedang tersenyum bahagia karena melihat keindahan ciptaan Tuhan. William yang melihat betapa cantiknya wajah Mentari yang disinari matahari senja, tanpa sadar dia mencium mesra bibir kekasihnya itu. Mentari yang mendapat serangan mendadak itu, berusaha menolaknya. Tapi pelukan William begitu erat di pinggang dan di tengkuknya, sehingga Mentari pasrah sampai William melepaskan pagutan itu. Napas Mentari terputus - putus, karena tadi dia menahan napasnya.
" Baby, kenapa tadi kamu tidak bernapas?" Tanya William
" Oppa Willi….!"
" Apa yang telah Oppa Willi lakukan barusan padaku !" Teriak Mentari.
__ADS_1
" Mencium kekasihku," jawabnya sambil memandang wajah cantik Mentari.
" Itu tidak boleh, kita belum menjadi suami - istri." Mentari berusaha melepaskan pelukan William.
" Kalau begitu ayo kita menikah sekarang!" Kata William dengan penuh semangat.
" Mana bisa begitu. Kalau aku menikah harus ada Ayah yang akan menjadi wali nikah aku." Mentari dibuat gemas sama saudara kakak iparnya itu.
" Kemarin Si Al juga menikahnya mendadak." sewot William
" Itu kan yang jadi wali nikahnya ada Erlangga." Mentari sekarang dibuat pusing atas keinginan William
" Mentari maukah kamu menjadi istriku?" tanya William dengan serius sambil menatap mata kekasihnya itu.
" Ya, aku mau." Jawab Mentari dengan senyuman penuh kebahagiaan di wajahnya, matanya pun berbinar - binar terlihat dengan jelas apa yang tengah ada di dalam hatinya.
" Maukah kamu hidup menua sampai maut memisahkan kita?" tanya William lagi.
" Ya, aku selalu ingin denganmu selamanya sampai hanya kematianlah yang memisahkan kita," jawab Mentari penuh dengan keyakinan.
" Maukah kamu mengandung dan melahirkan anak-anakku kelak?" William merendahkan suaranya dan nyaris tidak terdengar karena tertutup oleh suara ombak.
" Ya, aku ingin hanya kamu yang akan menjadi ayah dari anak-anakku nanti." Mentari sudah tidak bisa lagi membendung perasaan bahagianya saat dilamar oleh orang yang dicintainya itu.
" Kalau begitu ayo secepatnya, kita menikah!" ajak William masih dengan rona bahagia karena gadis yang menjadi pujaan hatinya telah menerima lamaran darinya.
" Kalau begitu, Oppa Willi harus minta izin sama Ayah dan Bunda." Senyum jahil Mentari terlihat dari wajahnya yang cantik.
" Baiklah, kamu bilang pada Ayah kalau aku telah melamarmu."
" Dan nanti sepulang dari sini, aku akan melamar kamu secara resmi," kata William meyakinkan Mentari.
Mentari hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
" Ah, Mentari … Aku mencintaimu!" William memangku tubuh Mentari dan berputar - putar mengungkapkan kebahagiaan yang sedang dirasakannya. Dan Mentari hanya menjerit dan tertawa bahagia.
" Oppa, turunkan aku…."
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.