
Kini William sudah bersiap-siap untuk bertemu dengan ayah mertuanya. Dia berpenampilan rapi. Jangan ditanya William punya baju banyak yang dibelinya di Mall, untuk ganti. Makanya dia bisa mandi di Masjid tiap hari. Semua kebutuhannya sudah dia beli.
Saat memasuki gerbang, William kelihatan gugup sekali. Dia serasa akan melakukan ijab qobul kembali dengan mertuanya itu. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya. Jantung berdetak dengan cepat sampai terasa nyeri.
"Assalamualaikum," William mengetuk pintu dan memberikan salam.
"Wa'alaikumsalam," jawab Sinar dari dalam rumahnya.
Tidak lama kemudian, pintu depan rumah dibuka oleh Sinar. William pun tersenyum saat melihat ibu mertuanya, yang kini berdiri di depannya. Dia pun mencium tangan Sinar dengan takzim.
Sinar membalas senyuman William. Berbeda dengan beberapa hari yang lalu. Langsung mengusir, begitu melihat William yang berdiri di depan pintu saat itu.
"Selamat malam Bunda. Tadi saya disuruh oleh ayah untuk datang ke rumah. Katanya ada yang mau dibicarakan," kata William sambil tersenyum manis mencoba meluluhkan hati mertuanya itu.
"Masuklah!" ajak Sinar sambil membuka lebar pintunya dan memberikan gerakan kepalanya yang menyuruh William masuk ke rumahnya.
William pun masuk ke ruang keluarga, karena Ja'far menunggunya di sana. Ja'far duduk dengan tenang di sofa sebelah kiri dekat jendela. Sinar pun duduk di sampingnya. William pun mencium tangan Ja'far dengan takzim.
Sementara William, duduk di sofa yang berada di tengah dan berdekatan dengan sofa yang sedang diduduki oleh Ja'far. Dia beneran gugup setengah mati saat kedua mertuanya itu memandangi dirinya. William lebih baik memilih menghadapi lawan bisnisnya, untuk memenangkan tender proyek baru. Daripada, menghadapi kedua mertuanya ini.
"Jelaskan, kenapa kamu tega melakukan hal keji seperti itu kepada Mentari? Kamu pikir dia perempuan yang sangat begitu rendah. Bahkan lebih rendah dari seorang ******," Ja'far memasang wajah garangnya saat bertatapan dengan William.
"Maaf Ayah, saat itu Willi dalam keadaan banyak pikiran, jadi mudah dihasut oleh Angel. Meski aku tahu Mentari bukan seorang wanita yang materialistis. Entah kenapa ucapan Angel yang bilang kalau sebenarnya cinta aku itu sebelah tangan. Rasanya hati ini sangat sakit." William memegang dadanya, dan wajahnya semakin pucat.
"Padahal Willi begitu sangat mencintai Mentari. Namun tidak dengan Mentari, jadinya aku sangat marah saat itu," kata William dengan nadanya yang lemah.
"Justru belakangan ini baru tahu, cinta Mentari jauh lebih besar dari cinta Willi sendiri," aku William dengan nada penuh keyakinan.
"Aku sungguh sangat bodoh, karena tidak percaya sama istri sendiri. Padahal hubungan suami istri dapat terjalin dengan sangat erat karena adanya rasa saling percaya." William menundukan kepalanya, karena menyadari kesalahannya itu sudah sangat fatal.
__ADS_1
Ja'far dan Sinar saling memandang, dan mereka memberikan kode dengan menganggukan kepalanya. Dilihatnya William yang masih menundukan kepalanya.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Ja'far sambil memperhatikan William.
"Ingin kembali membangun rumah tangga dengan Mentari. Kali ini Willi akan menebus semua kesalahan yang dilakukan kemarin," jawab William dengan mengangkat kepalanya, dan melihat ke arah ayah mertuanya. "Serta tidak akan membuat kesalahan seperti itu lagi."
Ja'far dan Sinar melihat kesungguhan dari William. "Ingat saat kamu melakukan ijab qobul dulu. Berarti kamu sudah membuat janji dengan Allah. Kamu jangan sepelekan perkataan saat itu. Jangan karena emosi langsung memutuskan hubungan dan menyuruhnya pergi," kata Ja'far sambil menatap tajam William.
"Nak Willi, kalau terjadi suatu masalah dalam keluarga. Sebaiknya dibicarakan secara baik-baik. Bila saat itu kita merasa sangat marah, dan tidak bisa menghindari emosi yang berlebihan. Sebaiknya jangan bertemu dulu, sampai berhasil menguasai hati dan akal kalian." Sinar menasehati William dengan suaranya yang lembut. William pun mengangguk tanda setuju.
"Jika masalah yang dihadapi terasa buntu dan tidak ada titik temunya. Boleh minta saran atau perantara orang terdekat yang bisa menjaga rahasia masalah kalian. Ingat ada nama baik dua keluarga yang harus dijaga," kata Sinar sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya. William pun menganggukkan kembali kepalanya sambil meneteskan air matanya.
"Iya Bunda, Willi mengerti." William pun menghambur ke pelukan Sinar dan menangis tersedu-sedu.
Sementara Ja'far melotot karena William melewati dan memeluk istrinya. Ja'far sudah akan menarik menantunya itu, tapi Sinar memberikan isyarat. Jadinya Ja'far mendengus kesal.
"Maafkan Willi, Bunda. Karena tidak bisa mengendalikan emosi jadi melakukan hal bodoh," kata William di sela tangisannya.
"Sudah ayo kita makan! Nanti keburu malam," kata Ja'far dengan nada kesalnya, karena William belum juga melepaskan pelukannya.
Mereka pun pergi ke ruang makan. Berbagai macam hidangan sudah di siapkan di sana oleh Mentari dan Bi Eneng tadi.
"Mentari, mana ya? Kok dia belum turun," kata Sinar sambil melihat ke arah pintu masuk ke ruangan meja makan.
"Biar Willi panggil, Bun!" William pun akan beranjak dari kursinya.
"Mau kemana kamu?" tanya Ja'far dengan nada bicara ketus kepada William.
"Memanggil Mentari, Yah." William tangannya menunjuk ke atas.
__ADS_1
"Kamu duduk saja! Biar bi Eneng yang panggilkan," perintah Ja'far sambil menunjuk kursi yang tadi di duduki oleh William.
William pun duduk kembali ke kursinya, dengan wajah kecewa. Sinar yang melihat kelakuan suami dan menantunya itu, hanya tersenyum geli.
Tidak lama Mentari pun datang ke ruang makan. William langsung berdiri ingin menyambut Mentari. Namun di urungkan olehnya, saat Ja'far melototi dirinya. Jadinya dia hanya tersenyum bahagia karena dapat melihat Mentari dengan dekat.
Mentari pun duduk di samping William sambil tersenyum tersipu malu. Kelakuan mereka berdua tidak luput dari perhatian Ja'far dan Widuri. Keduanya terlihat menahan diri, dan saling menatap malu seperti pengantin baru yang mau melakukan malam pertama.
"Sudah saling tatapannya, kita mau makan!" Ja'far mengganggu momen romantis antara William dan Mentari.
Mentari sangat malu mendengar ucapan ayahnya itu. Kini wajahnya merona karena menahan malu. Mentari pun melayani makan malam William seperti yang biasa dia lakukan.
"Oppa mau makan sama apa?" tanya Mentari sambil memegang piring untuk William.
"Apa saja, asal itu masakan Baby, akan aku makan!" William tersenyum hangat ke arah Mentari dan mengedipkan matanya. Sontak itu membuat Mentari malu sampai mukanya merah.
Mereka berempat pun makan dengan tenang. Termasuk William yang dengan lahap dan ingin cepat-cepat selesai makannya. Agar bisa cepat-cepat mengajak Mentari berduaan saja di kamarnya.
Setelah selesai makan Mentari dan William membereskan bekas makan malam barusan. Walau nanti semua piring dan wadah kotor akan dicuci oleh Bi Eneng.
"Baby, ayo kita pergi ke kamar!" ajak William dengan berbisik di telinga Mentari. Mentari pun hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tersipu malu.
******
TEMAN-TEMAN ... KALI INI AKU MAU KASIH TAHU KALIAN. ADA KARYA MILIK SAHABATKU , NAMA AUTHOR : ALYSSA RYUU,
JUDUL: A CUP OF REVENGE
YUK RAMAIKAN LAPAKNYA. BACA DAN KASIH LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1